H-3 pernikahan yang disusun dari keringatnya, Kalea Mahika mendapati kenyataan pahit. Reno, kekasih 8 tahunnya, menghamili Gisel, kakak kandungnya sendiri. Bukannya membela, orang tuanya justru memaksanya menyerahkan gaun, dekorasi, hingga calon suaminya demi menutup aib.
Dianggap anak durhaka karena menolak, Mahika memutus hubungan total, menjual rumah impiannya, lalu pergi merantau.
Di tanah rantau, Mahika bangkit menjadi pengusaha sukses dan bertemu Reagan Baskara, pria tegas yang menghargainya. Ketika mantan dan keluarganya kembali memohon maaf dalam kehancuran, Mahika hanya tersenyum dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGANTIN YANG DITUKAR
Pagi hari di kawasan Dago Atas, Bandung, menyuguhkan pemandangan yang begitu menenangkan. Kabut tipis tipikal dataran tinggi masih menggantung di antara dahan-dahan pohon pinus, sementara sinar matahari keemasan perlahan menembus kaca jendela studio privat milik Mahika.
Setelah dua hari beristirahat total dan merapikan perlengkapan kerjanya, hari ini adalah jadwal resmi pertemuan pertama Mahika dengan sosok yang digadang-gadang oleh Bu Aura sebagai mentor sekaligus pilar utama dalam pendirian brand busana barunya.
Pukul sembilan pagi tepat, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam legam terparkir rapi di halaman depan studio Mahika.
Pintu pengemudi terbuka, menampilkan Ricky asisten kocak berkaos kemeja floral yang menjemputnya di bandara kemarin keluar sambil membawa sebuah map dokumen. Namun, bukan Ricky yang menarik perhatian Mahika saat pintu penumpang belakang ikut terbuka.
Seorang pria jangkung melangkah keluar dari kabin mobil.
Mahika, yang berdiri di ambang pintu studio menyambut kedatangan mereka, seketika tertegun di tempatnya.
Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap berpotongan tajam tanpa dasi, memperlihatkan aura profesional yang amat kuat. Tubuhnya tinggi tegap, bahunya bidang, dengan postur tegap sempurna layaknya model papan atas. Wajahnya dipahat dengan garis rahang yang tegas, hidung mancung, serta sepasang mata tajam kelam yang memancarkan ketegasan mutlak.
Seketika, deskripsi puitis yang sempat diucapkan Bu Aura di telepon tempo hari berputar kembali di kepala Mahika. "Pria tampan, tinggi, berwibawa, dan sedikit kaku..."
Kali ini, Mahika tahu persis bahwa ucapan Bu Aura tidak mengandung unsur halusinasi sedikit pun. Deskripsi itu seratus persen akurat.
Pria itu berjalan mendekati teras studio, melangkah dengan gestur kaku, tanpa senyum sedikit pun di bibirnya. Dingin. Sangat dingin. Aura intimidatif yang menguar dari sosoknya membuat udara pagi di Dago Atas mendadak terasa turun beberapa derajat.
"Selamat pagi, Mbak Mahika," sapa Ricky dengan senyum lebar, memecah ketegangan yang tercipta di udara. Ricky lalu menoleh ke samping bosnya. "Nah, Mbak... kenalin. Ini bos saya yang asli, yang kemarin saya bilang mirip kulkas tujuh pintu. Namanya Pak Reagan Baskara."
Mahika mengerjap pelan, lalu menarik napas pendek untuk menguasai diri. Ia menatap pria jangkung di hadapannya yang kini berdiri tegak menatapnya lurus-lurus.
Reagan Baskara.
Pria itu tidak mengulurkan tangan untuk bersalaman sebuah gestur yang menunjukkan batasan profesional yang sangat ketat dan kaku. Ia hanya mengangguk kecil, dingin, dan mengunci tatapannya pada Mahika.
"Kalea Mahika," ucap Reagan dengan suara bariton yang dalam, berat, dan amat irit bicara. Kalimatnya pendek, lugas, tanpa basa-basi berbunga. "Saya Reagan Baskara. Bibi saya, Bu Aura, meminta saya mengawasi dan membimbing pendirian brand baru Anda dari nol di Bandung."
Mahika merespons dengan anggukan kepala yang sopan, meski ia bisa merasakan gelombang kaku yang menguar kuat dari diri sang pengusaha muda.
"Selamat pagi, Pak Reagan. Terima kasih sudah meluangkan waktu datang ke studio saya," jawab Mahika tenang. "Dan... terima kasih atas fasilitas rumah serta dukungan penuh dari keluarga besar Baskara."
Reagan tidak membalas ucapan terima kasih itu dengan senyuman. Ia hanya melirik sekilas ke arah dalam studio Mahika yang bernuansa minimalis modern, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah sang desainer. Sejauh ini, pria itu belum terlihat menyebalkan seperti tipikal bos arogan pada umumnya ia lebih menyerupai patung es yang sangat efisien dan taat aturan jauh berbeda dari Ricky yang kemarin sempat membuat salah paham di bandara.
"Mari kita masuk," ajak Reagan datar, langsung berbalik melangkah masuk ke dalam studio tanpa menunggu jawaban Mahika.
Ricky yang berdiri di sebelah Mahika sempat meringis kecil, lalu berbisik pelan. "Maklumin ya, Mbak. Bos saya emang baterai sosialnya minus kalau ketemu orang baru. Kalau ngomong sehari paling cuma keluar sepuluh kata, tapi aslinya baik kok... dalam bentuk lembar kontrak kerja sama yang sangat rinci."
Mahika terkekeh pelan. "Iya, aku paham, Pak Ricky. Silakan masuk."
Di dalam ruang kerja lantai satu studio yang tertata rapi, mereka bertiga duduk mengelilingi meja diskusi kayu jati. Ricky dengan sigap membuka laptop dan membagikan beberapa berkas legalitas, laporan analisis pasar, serta draf perencanaan bisnis kepada Mahika dan Reagan.
Reagan duduk dengan punggung bersandar sempurna di kursi, kedua tangannya terlipat di atas meja. Tatapan matanya tajam meneliti setiap lembar dokumen, seolah tidak ingin melewatkan satu detail kecil pun.
"Tante saya bilang, Anda punya bakat besar di bidang desain busana," buka Reagan langsung ke intinya, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan. "Tapi mendirikan sebuah brand independen dari nol di kota baru bukanlah hal yang mudah. Persaingan ketat, rantai pasok harus bersih, dan hak cipta harus dikunci rapat agar tidak ada celah hukum yang bisa dimanfaatkan oleh pihak luar."
Mendengar kata hak cipta, jemari Mahika di atas meja sedikit mengepal. Ingatannya seketika melayang pada Reno pria parasit yang selama bertahun-tahun mengeruk keuntungan dari hasil keringat dan hak ciptanya di Jakarta.
"Saya sangat mengerti soal itu, Pak Reagan," jawab Mahika dengan suara jernih dan penuh keyakinan. "Seluruh draf rancangan koleksi perdana saya sudah didaftarkan atas nama kepemilikan pribadi secara mutlak. Tidak ada satu pun celah bagi pihak luar untuk mengeksploitasi karya saya lagi."
Reagan mengamati perubahan sorot mata Mahika. Pria itu menangkap kilatan ketegasan dan luka terpendam yang disembunyikan rapi di balik senyum tenang sang desainer. Sebagai seorang pebisnis kawakan yang terbiasa membaca karakter manusia, Reagan tahu persis bahwa wanita di depannya ini sedang memikul beban masa lalu yang berat, namun di saat yang sama memiliki tekad baja untuk bangkit.
"Bagus," ujar Reagan singkat. "Prinsip saya dalam berbisnis hanya ada dua: efisiensi mutlak dan perlindungan aset yang ketat. Selama Anda fokus pada kreativitas dan produksi desain, saya dan tim investasi saya di Bandung yang akan membereskan seluruh urusan legalitas, perizinan, distribusi, hingga ekspansi pasar dari nol."
Ricky yang duduk di samping bosnya langsung menimpali dengan senyum lebar. "Betul itu, Mbak Mahika! Pak Reagan udah siapkan tim khusus buat branding dan pabrik konveksi mitra eksklusif di Bandung yang steril dari campur tangan pihak luar. Jadi Mbak tinggal fokus jadi ratu desainer di sini."
Mahika menatap Reagan dengan rasa hormat yang kian mendalam. Walaupun pria ini dijuluki kulkas tujuh pintu dan irit bicara, cara kerja Reagan sangat profesional, terstruktur, andal dan langsung memberikan rasa aman bagi Mahika.
"Terima kasih banyak, Pak Reagan," ucap Mahika tulus. "Saya beruntung mendapatkan dukungan sebesar ini dari Bu Aura dan Anda."
Reagan mengangguk pelan. Pria itu menegakkan duduknya, lalu menatap manik mata Mahika lekat-lekat.
"Satu hal lagi," kata Reagan serius. "Sebagai investor dan mentor Anda di sini, saya butuh satu jawaban pasti sebelum kita men Tanda Tangan kontrak kerja sama final hari ini."
Mahika mengerjap, menatap pria itu penuh tanya. "Silakan, Pak."
"Apa nama brand resmi yang akan Anda gunakan untuk label busana independen ini?" tanya Reagan, jemarinya sudah bersiap mengetik di atas papan ketik laptop.
Tanpa ragu sedikit pun, Mahika menjawab dengan suara tegas dan penuh kebanggaan yang membuncah di dadanya.
"Mahika Atelier."
Reagan terdiam sejenak, mengulang nama tersebut di dalam kepalanya. Mahika Atelier. Nama yang elegan, mencerminkan identitas sang pencipta sekaligus menyiratkan sebuah karya seni busana tingkat tinggi yang dibuat dengan ketulusan dan ketajaman visi.
"Nama yang bagus," puji Reagan singkat sebuah pujian langka yang langsung diketiknya ke dalam draf dokumen resmi perusahaan. "Mulai hari ini, Mahika Atelier secara resmi berada di bawah payung perlindungan investasi Baskara Group di Bandung. Studio ini sepenuhnya milik Anda dan fasilitas produksi akan kita dorong mulai minggu depan."
Ricky bertepuk tangan kecil penuh semangat. "Wah, selamat ya, Mbak Mahika! Sebentar lagi Mahika Atelier bakal jadi salah satu brand fesyen paling diperhitungkan di Bandung."
Mahika tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan, tekanan toksik keluarga, dan rasa sakit di Jakarta, dadanya terasa sangat longgar. Lembaran hidupnya yang baru benar-benar resmi dimulai hari ini.
Setelah pembahasan teknis dan penandatanganan berkas kerja sama selesai, Reagan dan Ricky bersiap pamit untuk kembali ke kantor pusat investasi mereka di pusat kota Bandung.
Sebelum melangkah keluar pintu studio, Reagan menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap Mahika dengan tatapan datarnya yang khas.
"Jika ada pihak dari Jakarta siapa pun itu yang mencoba mengganggu proses kerja atau mengusik ketenangan Anda di sini," ucap Reagan dengan nada suara dingin bagai es namun sarat akan perlindungan mutlak, "laporkan langsung pada Ricky atau saya. Di Bandung, di bawah teritori saya, tidak ada seorang pun yang bisa merusak karya Anda."
Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa bumbu gombalan atau rayuan murahan. Sederhana, kaku, namun terpancar perlindungan yang begitu nyata.
Mahika terpaku sejenak, lalu mengangguk hormat dengan senyuman hangat. "Baik, Pak Reagan. Saya ingat."
Setelah kepergian Reagan dan Ricky, Mahika kembali berdiri sendiri di tengah studionya yang luas. Ia memandang ke luar jendela kaca, menatap hamparan hijau Kota Bandung yang tersapu cahaya pagi.
Di Jakarta sana, Reno, Gisella, Bu Maya, dan Pak Bambang mungkin sedang sibuk tertawa, menyebar undangan baru atas nama Gisella Aurora, dan merayakan kemenangan semu mereka di atas penderitaan orang lain.
Namun biarlah mereka menikmati hari-hari terakhir kebohongan itu. Karena di Bandung ini, bersama Mahika Atelier yang baru saja dibangun dari nol di bawah benteng kokoh sang kulkas tujuh pintu Reagan Baskara, Kalea Mahika sedang menempa dirinya menjadi badai yang siap menghantam balik hidup mereka tanpa ampun.
mkanya jgn hobi jdi BENALU...
hadueh ren.... org tuamu kaya... org berada... tpi kok km jdi laki mokondo🤔🤔🙄
jgn apa" morotin dwit mahika.... tpi mahika g punya hak tinggal di rmh itu...
msih ingat dunk bu maya.... saat mahika pergi... dgn tak punya hati ibu mmbuang barang" mahika yg ada di kamarnya..... anda itu ibu macam apa 🤔🤔🤔🤔🤔🤔🙄🙄
😂😂😂😂😂😂