Indonesia
NovelToon NovelToon
Marry (To) Me

Marry (To) Me

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Perjodohan / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:60.1k
Nilai: 5
Nama Author: Far Choinice

Will you marry me, miss Marry?


'Sorry, No'

Sebuah pertanyaan dan jawaban yang mengubah segalanya. Marry menolak Sean tanpa jeda.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan di suatu RS. Perlahan, mereka menguraikan benang merah masalalu. Tapi, disisi lain, mereka juga harus menghadapi banyak kisah rumit yang membuat Marry berada di satu pertanyaan yang sama tentang pernikahan, apakah dia bisa menerima lamaran itu atau menolaknya. Lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kotak Pandora II

          Serius. Marry harus melalui momen seperti ini lagi? Ditetapkan dengan sorotan mata tajam. Kali ini, Sean yang secara intens, melempar pandangan kesal pada Marry. Ia sudah berganti pakaian bersih dan duduk di kursi kerjanya. Marry terombang-ambing bak perahu layar. Setelah terhubung di ruang kerja Ravendra. Sekarang, dia terhubung di ruang kerja Sean. Kini, aroma Ravendra dan Sean berbaur, membuat kepalanya semakin pusing. Ini jam  tujuh malam, hei... jam pulangnya sudah terlewat!

          “Kenapa lo bisa seceroboh itu, sih?” omel Sean.

          Marry memutar bola matanya bosan, “Gue Cuma ngelakuin tanggungjawab sebagai dokter.”

          “Jangan konyol.”

          “Oke. Itu hanya refleks. Gue hanya melakukan intuisi aja. Bukan hanya sebagai dokter tapi juga sebagai sesama manusia. Masa gue diam aja ngelihat kejadian itu? Masa gue harus nunggu sampai itu gunting nancep di leher dia? Jleb. End!” omel Marry, “Udah telat. Gak mungkin, khan? Lebih baik mencegah secepet mungkin.”

          Sean melihat tangan di dada sambil menatap Marry datar, “Lo gak pernah sepeduli itu.”

         “Yah... sejak jadi dokter, naluri gue udah terasah.”

         “Cih.”

         Marry mendengus melihat ekspresi Sean yang setengah meremehkan. Sudahlah, Maryy sudah lelah. Dia sungguh butuh tidur dan makan. Ravendra dan Sean hanya tahu mengomel tapi tidak pernah memikirkan perut Marry. Benar-benar perhatian dan omelan palsu. Siapa yang drama?

          “Belum ada seminggu setelah kejadian lo pingsan. Dan, sekarang... lo udah cari gara-gara. Lagi.”

         “Hmmm... lo lupa penyebab kejadian gue pingsan, lo juga ikut andil.”

        “Paham. Maka dari itu, gue gak bisa begini terus.”

         Marry mengernyit bingung, “Gak ada yang minta lo gini. Atau gitu.” Sahut Marry asal.

          “Tapi, perasaan gue yang bikin gue gini. Gue gak bisa cemas tanpa kejelasan. Gue gak bisa terus kepikiran dalam diam. Gue gak bisa khawatir... tanpa status.”

         “Maksud lo?”

          “Ayo kita mulai lagi semua dari awal. Gue mau kita coba lagi. Menjadi pacar.”

 

-oOo-

 

        Marry terdiam di atas kursi balkon rumahnya. Ia menerawang menatap langit malam di atas sana. Ia baru saja melalui hari panjang yang melelahkan. Tidak hanya menguras tenaga tapi juga pikiran dan perasaannya. Dia kembali mendapat pengakuan dari dua laki-laki yang membuatnya berdiri di persimpangan akhir-akhir ini. Sean dan Ravendra.

         Dia sungguh ingin meluapkan semuanya. Dia ingin bercerita banyak pada Zara. Dia ingin menceritakan semua detailnya. Tapi, ia masih ragu. Sampai sekarang,  Zara juga belum menghubungkan sama sekali. Ponselnya mati sejak dia terbang ke bali. Ini seperti bukan Zara yang biasanya. Dia serasa sedang menghindari Marry.

        Lagi, dia juga kepikiran tentang Anggara. Ravendra dan Alvian adalah Anggara. Tapi, Marry tidak tahu Anggara yang mana yang dijodohkan dengan Zara.

         “Ah, ini seperti teka-teki untuk membuka kotak pandora. Gue bisa gila. Lagi.”

        Marry butuh pelampiasan! Persetan dengan kotak pandora!

 

-oOo-

 

        Sebuah pemandangan gemerlap lampu nan jauh terbentang di hadapan Marry. Setelah cukup gila, dia memutuskan untuk naik ke puncak. Duduk di satu sudut yang menghadirkan pemandangan malam di atas puncak yang indah dan dingin. Cukup gila bagi seorang perempuan untuk berada di sana sendirian. Tapi, ini lebih baik bagi Marry daripada harus memendam kegilaan di atas balkon rumahnya. Di sini, dia bisa memberi ruang otaknya untuk rehat.

        Marrh mengangkat tangannya, membentuk sebuah kotak dan memicingkan matanya sejenak. Sebuah pemandangan yang indah. Alangkah indah jika ia bisa menyimpan pemandangan ini dalam satu lukisan di atas kanvas. Dia membayangkan jari jemarinya memoles kanvas putih dnegan warna-warna, membentuk satu lukisan yang indah.

"Ah, betapa indah dan menyenangkannya... ."

          Marry menghela napas panjang sambil menggosok bahunya, sedikit menepis hawa dingin yang menusuk seiring perasaannya yang kembali merindukan sensasi itu. Sensasi melukis di atas  kanvas putih. Ia tersenyum  perih. Banyak hal yang terjadi sepanjang hidupnya. Dan, ia pernah melalui masa terberat dalam hidupnya. Menghancurkan separuh impiannya. Sean benar, kejadian lamaran yang penuh tragedi itu membawa banyak titik balik tidak terduga dalam hidup mereka. Siapa sangka, hanya kata 'tidak' bisa membuat hidup mereka berubah dalam hitungan detik.

        Marry termenung dan perlahan ia mulai menggulung ujung lengan jaketnya hingga area siku. Selama ini, ia selalu memakai kaos atau pakaian berlengan panjang. Bukan karena mode tapi karena menyembunyikan rahasia kelasnya.  Ia mengelus pergelangan tangannya dengan getir. Ada banyak luka goresan di sana. Luka sayatan yang banyak. Luka yang sama seperti pada tangan Tania. Luka percobaan bunuh diri. Tidak sekali, tapi berkali-kali, Marry mencoba mengakhiri hidupnya. Dan, tragisnya, luka sayatan itu juga memberi bekas pada Zara. Luka sayatan di leher Zara, adalah karena dia.

 

-oOo-

 

         Marry melajukan kemudinya di antara sepintas malam. Pukul satu dini hari dan badannya cukup gigil setelah mengenang kisah kelamnya di atas puncak. Gila! Dia mungkin bersedih, tapi dia justru merasa hampir mati karena hipotermia. Dia memang sudah gila. Bisa-bisanya,  dia kepikiran untuk melampiaskan keruwetan pikirannya di sana.

          Marry semakin dalam menginjak pedal gas mobilnya. Suasana jalanan tampak lengang. Sungguh berbeda dengan saat jam kerja yang luar biasa padat. Untung, rumahnya dan RS Medica Utama tidak terlalu jauh. Jadi, dia tidak harus gila karena bergelut dengan kemacetan.  Marry mulai mengurangi kecepatan saat tiba di rumahnya. Ia memikirkan kendaraannya dan hendak masuk ke dalam rumah saat ia menemukan Ravendra sedang duduk terlelap di kursi teras rumahnya.

          Perlahan, Marry menghampiri Ravendra lalu berjongkok menatap Ravendra yang nampak mendengkur halus dalam tidurnya. Marry menggeng kecil, mau apa lagi sih, laki-laki ini? Masih posisi berjongkok menatap Ravendra, laki-laki itu membuka matanya. Marry yang terkesiap lalu terjatuh duduk. Sialnya, ia menahan tubuhnya yang terjatuh menggunakan tangannya yang terluka.

          ‘”Aaawww... ,” rintih Marry sambil mengibaskan tangannya perlahan, berharap rasa sakitnya hilang.

          Ravendra yang melihat hal itu, perlahan duduk di depan Marry lalu menoyor kepala Marry dengan gemas, “Bodoh.”

          Marry memicingkan mata kesal seraya mengerucutkan bibir sebaliknya, “Dokter ngingetin, tau!”

         Ravendra mengamit lengan Marry lalu mengangkatnya berdiri dalam sekali tarikan. Marry yang belum siap dengan tarikan itu hanya bisa terhubung kecil. Namun, dengan sigap, Ravendra menahan tubuh Marry. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Marry, menahan agar Marry bisa tegap berdiri. Sesaat, mereka beradu pandang dalam diam. Posisi mereka terasa cukup dekat hingga Marry bisa merasakan aroma panas yang tersebar dari bibir Ravendra. Sangat. Panas ini rasanya tidak wajar. Ini bukan panas karena mereka berada dalam jarak terlalu dekat. Ini demam!

          Marry mengernyit kecil, melepas tangan Ravendra. Ia mengangkat tangan dan menyentuh kening Ravendra. Panas. Benar, Ravendra demam.

         “Panas banget. Dokter sakit?” tanya Marry.

          Detik berikutnya, Ravendra hanya bisa menundukkan kepalanya di pundak Marry. Lemas. Marry mencoba menggoyang pundak Ravendra namun laki-laki itu tak bergeming. Marry bisa merasakan rasa panas dari kening Ravendra yang cukup tinggi. Setidaknya, demam Ravendra mencapai 38,5 lebih derajat celcius. Serius, dia harus menyeret laiki-laki ini? Marry hanya bisa menangis dalam hati. Apalagi sih yang harus terjadi pada dirinya? Tidak bisakah orang-orang membiarkannya bersantai sejenak? Ravendra sungguh sangat berat, tolong.

Ha! Hari sialnya belum berakhir, bung!

 

-oOo-

1
🥑⃟Rɪᷤᴀͣɴᷠᴀ
haha... serius deh,ngakak abis😂😂
Dayu Fabi
penggunaan tanda baca yang cukup bagus, keren banget
Dayu Fabi
penggunaan kata-kata yang bagus! keren! lebih bagus novel Kakak, dibandingkan aku deh kayanya...
Aris Pujiono
terima kasih kak sudah memberi kan koin ... minal aidzin Ealah fa idzin
Aris Pujiono
terima kasih atas tipsnya kakak
Radiah Ayarin
baru mampir nih
❥␠⃝ ͭ🍁💃Katrin📙📖📚❣️🇮🇩
Mampir ya😊
༺❥ⁿᵃᵃ​ꨄ۵​᭄
eemm halo kak salam kenal dri aq...
yg mempir kecerita author menari...
Aris Pujiono
yuk lanjut
ZaaraItsMe
terimakasih buat karya yang bagus ini kak... love it
ZaaraItsMe
Hiks... dah tamaaatttt... seru banget. bagus banget ceritanya. beda... gak ngebosenin. mantap thoorr
Aris Pujiono
next kak
Aris Pujiono
bikin bergetar
🐰⃞⃟° ̥۪͙۪◌ yujin
udah mampir feedback yah
CumaAku
terimakasih untuk novel yg epik kak..... gk mbulet. seru. keren... sukses karya2nya kakkk
CumaAku
udah tamaattt hikes
ZaaraItsMe
astagaaaah dua episode terakhir baca ini bikin emosi lho. kemarin pergi, sekarang udah ada anak aja.
🐰Far Choinice🐰: sabar ya kaaaak ^^
total 1 replies
ZaaraItsMe
Heeee lhooo heeee lhooo.. kok tiba2 pergi. heeeee lhooo apa2an ini thoorrrrrrrr
ZaaraItsMe
Ya ampuunnn semua hal di novel ini berkaitan dan penuh kejutannn.. serruu aslii
🐰Far Choinice🐰: Yuhuuuuuu
total 1 replies
CumaAku
heeeee thooorrr itu gimana ada anak ajaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!