Indonesia
NovelToon NovelToon
Agen Harper: Operasi Mexico

Agen Harper: Operasi Mexico

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Chicklit
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elsa safitri

Zoe Harper, seorang agen rahasia elit dari Norwegia, menerima misi rahasia dari mentornya, Johan Jensen, untuk mencuri "Scriptum Mortis", sebuah buku rahasia yang berisi informasi tentang operasi kartel terbesar di Meksiko. Buku tersebut berada di tangan Axel von Bergen, seorang pengusaha kaya dan berpengaruh.

Namun, misi ini diwarnai dengan kehadiran Axelrod River (Maverick), pemimpin kartel berbahaya yang menguasai jalanan Meksiko. Axelrod River dikenal sebagai pria yang kejam, cerdas dan memiliki jaringan yang luas. Mentor Zoe memperingatkan bahwa Axelrod River adalah musuh yang tidak terduga dan harus diwaspadai.

Dengan kecerdasan, keberanian dan kemampuan analisis yang tajam, Zoe harus menghadapi Axelrod River dan mengungkap kebenaran tentang buku tersebut. Sementara itu, dia juga harus menghadapi konflik internal tentang motifnya sendiri dan moralitas misinya.

Apakah Zoe berhasil menyelesaikan misinya dan mengungkap kebenaran tentang "Scriptum Mortis"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsa safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Teman

Pria asing itu dengan cepat berpaling dan pergi dari sana, tidak ingin mengganggu momen yang dia pikir sangat intim antara Maverick dan Zoe. Namun, dia tidak menyadari bahwa kesalah pahamannya telah membuatnya melewatkan sesuatu yang lebih besar. Maverick dan Zoe tidak sedang melakukan apa yang dia pikirkan, tapi mereka sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih kompleks dan berbahaya.

Kemudian, Zoe berhasil menjauh dari Maverick dan mulai membuka pintu kamar mandi. Untungnya di sana tidak ada siapapun saat ini. Yang tersisa hanya Maverick yang masih tergeletak di lantai basah kamar mandi. "Maafkan aku, Maverick. Aku tidak tahu kau ada di bawah sini."

Maverick bangun perlahan dan memijat dahinya berkali-kali. "Aku kemari karena melihat Miguel berjalan ke arah kamarmu," katanya dengan suara yang masih sedikit keras. Sambil berbicara, dia mulai membuka satu demi satu kancing kemejanya, yang basah dan lekat di tubuhnya. Setelah itu, dia berjalan pergi dari kamar mandi yang sempit.

Zoe menyusul Maverick, yang terus berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang. "Miguel? Apa pria tadi bernama Miguel? Dari mana kau tahu itu?"

Maverick berhenti dan menoleh ke belakang, mata mereka bertemu dalam sekejap. Zoe yang berjalan dengan buru-buru langsung berhenti, seolah-olah waktu itu sendiri yang terhenti. Maverick memandangnya dengan tatapan yang dalam, sebelum akhirnya menjawab, "Aku pernah menyelidikinya. Dia salah satu kerabat Bergen." Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Zoe merasa bahwa ada lebih banyak lagi yang di ketahui pria itu tentang keluarga Bergen.

Zoe mengangkat alisnya dan memandang Maverick dengan rasa penasaran yang terlihat jelas di wajahnya. Dia berdiri tegak, menatap Maverick dengan mata yang tajam. "Sepertinya kau benar-benar bertekad untuk menghancurkan keluarga Bergen, ya?" katanya dengan suara yang santai, namun dengan nada yang sedikit ingin tahu.

Dia memiringkan sedikit kepalanya, menunggu Maverick menjawab. "Kau bahkan sampai menyelidiki hal-hal kecil seperti itu," tambahnya, suaranya tetap santai, tapi dengan rasa penasaran yang semakin besar.

Maverick tersenyum miring, lalu dengan santai duduk di ranjang Zoe, seolah-olah itu adalah tempatnya sendiri. Kemeja putihnya yang sudah basah masih tergenggam di tangannya. "Tentu saja," katanya dengan nada yang santai. "Seharusnya seorang agen sepertimu juga melakukan hal yang sama, agar kau tahu siapa saja keluarga Bergen." Matanya bertemu dengan Zoe, dan senyumnya semakin lebar, seolah-olah menantangnya untuk bereaksi.

Zoe terkejut melihat Maverick yang tiba-tiba duduk di kasurnya yang bersih dan nyaman, seolah-olah telah menjadi bagian dari ruangannya sendiri. Dia tetap berdiri di depannya, tidak bergerak untuk duduk di sampingnya. "Mencari tahu keluarga Bergen tidak sulit," katanya dengan suara yang santai, namun dengan nada yang sedikit defensif. "Lagipula, aku kemari untuk mencuri, bukan balas dendam," tambahnya, matanya tetap memandang Maverick dengan ekspresi yang tidak terlalu ramah.

Sementara itu, Maverick hanya menunjukkan senyum miring yang cukup angkuh. Dia berbaring di kasur Zoe dengan santai, meletakkan tangannya di belakang kepalanya dan menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar ingin beristirahat. Namun, Zoe merasa sedikit terganggu dengan sikap Maverick yang seenaknya itu. Dia dengan cepat mendekat ke arahnya, wajahnya menunjukkan ekspresi keheranan dan sedikit kesabaran yang mulai menipis. "Hei, kembalilah ke kamarmu," katanya dengan suara yang lembut tapi tegas. "Kenapa kau malah berbaring disini?"

Maverick membuka mata kirinya yang tertutup, memandang Zoe dengan ekspresi yang santai dan sedikit menggoda. "Kenapa tidak?" katanya dengan suara yang pelan, namun dengan nada yang sedikit menantang. "Kasurmu cukup besar, kenapa kita tidak tidur bersama saja?" Dia berbaring kembali, menutup mata kirinya dan membiarkan napasnya terdengar pelan, seolah-olah dia benar-benar sudah terlelap dalam tidur singkatnya.

Zoe menghela nafas berat, lalu berjalan ke sisi lain tempat tidur. Dia berbaring di samping Maverick, yang masih terbaring di kasur, dan memakai selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dengan gerakan yang tenang, dia menutup matanya dan mulai tidur, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Maverick membuka matanya yang tertutup, memandang Zoe dengan ekspresi terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Zoe akan berbaring di sampingnya, apalagi dengan cara yang begitu tenang dan santai. Dia memandang Zoe yang sudah tertidur, lalu tersenyum tipis. Maverick juga berbaring kembali, membiarkan napasnya terdengar pelan, dan menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar berniat untuk tidur.

"Zoe, bagaimana jika aku melakukan sesuatu padamu saat kau tidur?"

"Berhenti bicara. Untuk apa kau melakukan sesuatu padaku? Kita kan teman."

Maverick membola terkejut, matanya terbelalak dengan ekspresi yang tidak terduga. Dia beranjak dari kasur dengan cepat, berdiri tegak dengan kaki yang terpisah, dan menatap ke tempat lain dengan mata yang tajam. Bibirnya digigit dengan kuat, seolah-olah dia sedang berusaha menahan emosi yang mendidih di dalam dirinya. Zoe, yang masih bingung dengan tingkah Maverick, mengikutinya dengan beranjak dari tempat tidur. "Maverick? Ada apa?" katanya dengan suara yang lembut, mencoba memahami apa yang terjadi dengan Maverick.

"Aku akan tidur di kamarku."

Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Zoe sendirian di dalam kamar yang luas dan sunyi. Keheningan yang mendadak itu terasa menyesakkan, membuat Zoe merasa seperti terjebak dalam kekosongan yang tidak terjelaskan. Dia masih bingung, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, tapi pikirannya terasa kosong dan tidak bisa menemukan satupun jawaban.

"Ada apa dengan anak itu? Apa aku salah bicara?"

*

*

*

Keesokan paginya, Zoe keluar dari kamar untuk sarapan. Saat dia pergi ke ruang makan dengan arahan pelayan, dia melihat Maverick yang sudah duduk duluan bersama Miguel. Pria itu tidak mengatakan apapun dan hanya makan dengan tenang, seolah tidak melihat kehadiran Zoe. Matanya tidak pernah menatap Zoe, bahkan saat dia duduk di seberang meja. Namun, berbeda dengan Miguel yang langsung menyapa dengan senyum ramah, "Pagi, nona Harper. Apa tidurmu nyenyak?" Miguel memandang Zoe dengan mata yang bersahabat, tidak seperti Maverick yang terlihat dingin dan tidak peduli.

"Pagi, tuan Miguel. Saya tidur dengan sangat baik. Terimakasih atas keramahan anda." Zoe membalas senyuman Miguel dengan senyum yang sama ramah, dan mulai mengambil makanan dari meja. Sambil makan, dia melirik Maverick sesekali, berharap bisa menangkap sedikit perhatian dari pria itu. Namun, Maverick sama sekali tidak pernah membalas tatapannya, seolah-olah dia tidak menyadari kehadiran Zoe di hadapannya. Dia terus makan dengan tenang, tidak mengucapkan sepatah kata pun, dan membuat Zoe merasa semakin penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan pria itu.

"Oh, iya. Nona Harper, mau saya ajak berkeliling Mansion setelah sarapan?" Miguel kembali bertanya dengan nada yang ramah dan penuh harapan. Wajahnya masih penuh dengan senyuman hangat dan mata yang berkilauan dengan antisipasi, seolah-olah dia sangat ingin menunjukkan keindahan mansion kepada Zoe.

Namun, ini adalah kesempatan bagus untuk melihat struktur mansion dengan lebih baik. Dia menatap Maverick seolah mengisyaratkan bahwa mereka bisa lebih mudah mencari Scriptum Mortis dengan berkeliling Mansion dan mengenal strukturnya dengan baik. Namun, pria itu tampak tidak peduli, terus makan dengan tenang tanpa menunjukkan sedikit pun ketertarikan. Zoe merasa frustrasi dan akhirnya menendang kakinya dari bawah meja, berharap bisa membangunkan perhatiannya. Maverick baru menatapnya, dan mengangkat satu alisnya seolah bertanya ada apa?

"Tentu, tuan Miguel. Saya akan dengan senang hati mengikuti anda dan berkeliling. Benarkan, Maverick?"

Zoe memberi Maverick senyuman seolah meminta Maverick mengangguk dan menjawab iya. Namun, pria sialan itu malah menyahut, "Saya harus mengurus beberapa program yang baru dikirim oleh bos saya. Nikmati saja waktu kalian berdua." Dia membalas senyuman Zoe dengan senyum tipis yang tidak terlalu tulus, lalu beranjak dari kursinya dan pergi tanpa menunggu respons dari mereka. Keheningan yang tiba-tiba itu membuat Zoe merasa canggung, tidak tahu apa yang harus dikatakan atau dilakukan selanjutnya.

"Hmm.. Sepertinya tuan Maverick terlalu sibuk." Miguel menatap Zoe dengan senyum yang masih terukir di wajahnya. Zoe, yang semakin gugup karena sikap Maverick yang tiba-tiba, menjawab dengan nada yang sedikit terpaksa, "Ah, iya. Dia memang selalu sibuk dengan pekerjaannya, haha.." Zoe berusaha tersenyum, tapi senyumnya terlihat sedikit dipaksakan, tidak seperti senyum Miguel yang terlihat lebih alami dan hangat.

Setelah sarapan selesai, Zoe dan Miguel berkeliling mansion bersama, menelusuri setiap sudut dan ruangan yang ada. Zoe memperhatikan setiap detail kecil, dari ukiran dinding hingga pola karpet, mencari petunjuk tentang ruangan tersembunyi yang mengarah pada sebuah rahasia tentang Scriptum Mortis. Dia berjalan dengan hati-hati, mengamati setiap gerakan Miguel, dan mencoba tidak menunjukkan kegugupannya. Namun, saat dia tiba di ruangan terakhir, suara Kyle tiba-tiba terdengar dari alat komunikasi, "Zoe, apa kau mendengarku? Zoe? Zoe?!" Suara Kyle terdengar panik dan terdesak, membuat Zoe merasa terkejut dan penasaran tentang apa yang terjadi.

"Ada mobil yang datang dari arah hutan! Sepertinya itu Bergen dan keluarganya. Aku takut Axelrod River ada di mobil itu." Kyle melanjutkan, suaranya terdengar semakin panik. Mendengar hal itu, Zoe tampak semakin terkejut. Dia membalik badannya dari Miguel untuk mendengarkan Kyle dengan baik, mencoba memahami apa yang terjadi.

Namun, saat dia hendak menjawab, sebuah kayu tiba-tiba menghantam kepalanya. Alat komunikasi itu terjatuh ke lantai, dan matanya mulai kabur. Dia menoleh ke belakang untuk mencari tahu siapa yang memukulnya, dan dia menemukan Miguel dengan kayu di tangannya. "Kenapa--" Dia terjatuh ke lantai dengan darah yang mulai keluar dari kepalanya. Matanya yang semakin kabur, tiba-tiba menangkap gambaran pria besar dengan kemeja dan cerutu di belakang Miguel. Pria itu terlihat familiar, tapi Zoe tidak dapat melihat dengan benar karena penglihatannya yang mulai kabur. Dia berusaha mengangkat kepala, tapi tubuhnya terasa lemas dan tidak dapat bergerak. Akhirnya, Zoe jatuh pingsan, meninggalkan Miguel dan pria besar itu berdiri di atasnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.

"Zoe? Apa kau mendengarku? Zoe, tolong jawab!" Suara Kyle masih terdengar dari alat komunikasi, tapi tidak ada jawaban dari Zoe. Pria bertubuh besar dengan cerutu itu, yang ternyata adalah Maverick, mendekat dan menginjak alat komunikasi yang terhubung dengan Kyle. Suara Kyle terputus, dan alat itu rusak di bawah sepatunya. Maverick berjongkok di sebelah Zoe yang terkapar tak sadarkan diri, dan mengangkat beberapa helai rambutnya. Dia memandang wajah Zoe dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. "Teman kau bilang?" Dia mengulangi kata-kata Zoe dengan nada yang sinis. "Kita adalah musuh." Maverick mengucapkan kata-kata itu dengan nada yang rendah dan mengancam, membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin tegang dan menakutkan.

1
Lusie
akhirnya up lagi thorrr /Sob/ up terus dongk thorr aku penasaran banget GMN Zoe nanti tau kalo Maverick itu sebenarnya si Axelrod river/Frown/
yoruuu: maaf ya, otor siap deh update terus/Angry/
total 1 replies
Lusie
licik bgt si Maverick! ngeri ngeri
Lusie
jangan mau Zoe!!
Lusie
/Gosh//Gosh/
Lusie
Maverick Maverick mulutmu itu loh
Lusie
menarik aku mampir thor
yoruuu: makasih udh mampir yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!