Indonesia
NovelToon NovelToon
Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Diremehkan Sebagai Guru Honorer, Aku Punya Penghasilan Yang Fantastis

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Menikah dengan Dr. Revan Aditya adalah impian Alya Gumaisya. Namun, sejak hari pertama, Alya sadar bahwa dirinya hanyalah istri pajangan yang dinikahi demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta.

Bertahun-tahun hidup dalam pengabaian dan penghinaan, Alya akhirnya memilih pergi dan membangun hidupnya sendiri. Saat ia tak lagi mengharapkan cinta Revan, justru pria itu mulai menyadari bahwa wanita yang selama ini diabaikannya adalah satu-satunya yang benar-benar ia butuhkan.

Sayangnya, penyesalan selalu datang terlambat. Kini, Alya tak lagi ingin menjadi istri yang menunggu, sementara Revan harus berjuang menghadapi balas dendam paling menyakitkan—kehilangan wanita yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehangatan di Balik Tangan Wanita yang Tidak Aku Pilih

POV Revan

Siang hari, sepulang dari rumah sakit, aku melihat Alya yang sedang duduk di taman belakang, ditemani layar laptop yang berada di pangkuannya.

Melihat keadaannya sudah membaik, aku sedikit merasa lega. Itu berarti aku sudah tidak lagi harus memberi perhatian kepada Alya untuk meminum obat. Tugasku sebagai dokter untuk mengobatinya sudah selesai.

Aku masih mematung di halaman setelah memarkirkan mobil. Sorot mataku masih tertuju pada posisi tempat duduk Alya. Wanita itu terlihat tenang dalam diamnya. Tidak banyak drama yang ia ciptakan, hidup sewajarnya, secukupnya, dan sesuai kemampuannya.

Semalam bahkan ia menyuruhku untuk segera beristirahat setelah mengobatinya.

“Duduk santai di depan laptop seperti itu, apa bisa membuat profesimu itu lebih tinggi? Bisa setara dengan Revan?”

Bude Arum, kakak dari ibu. Dia sangat tidak menyukai Alya di rumah ini karena hanya melihat dari status sosial.

Alya tidak menjawab apa-apa. Sorot matanya terus tertuju pada layar laptop dengan jemarinya yang menari lincah di atas keyboard-nya.

“Apa kamu budek, Alya? Tidak sopan sekali, tidak merespons perkataan dari orang yang lebih tua. Oh, orang rendahan seperti keluargamu memang kurang pendidikan akhlak, ya.”

Bude Arum duduk di sebelah Alya. Aku bisa menangkap kekesalan pada wajahnya.

“Bude Arum. Saya duduk di sini hanya sedang menikmati waktu senggang saja. Bukan sedang bekerja keras untuk menyetarakan hidup dengan keluarga berstatus tinggi. Tenang saja, Bude Arum. Aku sedang tidak mengejar itu semua.”

Seperti biasa, Alya akan menampilkan guratan senyum halus pada wajahnya. Wajahnya yang terbingkai sempurna dengan hijab semakin mendukung sifatnya yang lemah lembut, tetapi tidak dapat dipatahkan.

“Aku tidak percaya ucapan wanita sepertimu. Penampilan saja religius, tapi hatinya itu penuh dengan siasat buruk. Jujur saja, apa yang sedang kamu incar dari Revan dan Rahayu?”

Bude Arum menatap tegas ke arah Alya. Tatapan merendahkan tetap ia tunjukkan di hadapan Alya.

Alya menutup laptopnya perlahan. Pergerakannya begitu singkat, tetapi teratur. Wajahnya tetap berseri walau masih terlihat pucat.

“Sebuah kepercayaan tidak dapat dibeli, Bude. Terserah saja, Bude mau percaya atau tidak. Yang pasti, aku tidak berharap lebih dengan pernikahan ini. Yang aku lakukan kini hanyalah sebuah balas budi karena Bu Rahayu yang terlampau baik dengan keluarga saya.”

Bude Arum tampak tidak mau kalah dengan perkataan Alya. Rahangnya mengatup rapat. Aku akui, Alya ini selalu tampak tenang dan jawabannya selalu terlihat cerdas.

“Revan sudah punya kekasih. Saya dengar kamu menyukai Revan. Jangan harap Revan akan membalas perasaanmu, Alya. Karena Revan sudah sangat mencintai Aira, wanita yang sangat cantik dan modis. Pekerjaannya bagus. Ya... bisa dikatakan sangat setara dan cocok jika disandingkan dengan Revan.”

Sepertinya Bude Arum belum juga puas untuk membuat hati Alya sakit.

Hari ini, entah mengapa, melihat Bude yang kembali merendahkan Alya membuatku sedikit kesal.

“Bude, perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Kak Revan memang memiliki kekasih, tapi aku yang sudah ditakdirkan menjadi istrinya. Semua sudah berjalan dengan skenario yang sudah ditetapkan. Bahkan jam, hari, dan tahun aku dan Kak Revan menikah itu sudah ditetapkan.”

Deg.

Seketika denyut jantungku meningkat untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tepukan di bahuku membuatku menoleh.

Dona, sepupuku yang memiliki mulut tajam seperti Bude Arum.

“Aku lihat akhir-akhir ini Kak Revan sering memperhatikan wanita rendahan itu. Padahal kalian baru menikah satu bulan lebih. Apa kelembutannya sudah meluluhkan hatimu?”

“Kamu bicara apa, Dona?” Suaraku naik satu oktaf. Aku masih kesal padanya.

“Aku hanya mengingatkan, Kak. Hubungan kamu dan Aira itu sudah sangat lama. Kalian sangat mencintai. Jangan sampai hati kamu luluh dengan kelembutannya. Dia memang berkata tidak menginginkanmu, tapi dari tingkah lakunya, perhatiannya, serta kelembutannya itu akan perlahan menelusup ke dalam hati kamu, Kak.”

Aku berpikir sejenak, mencoba mencerna apa yang dikatakan Dona. Benar, aku dan Aira sudah menjalin hubungan sangat lama.

Aku harus hati-hati. Jangan sampai Aira kembali cemburu dan sakit hati lagi.

“Jangan sampai aku membocorkan pada Aira. Jika kalian tinggal satu kamar. Kak, kamu jangan bodoh-bodoh banget jadi pria. Wanita seperti dia itu seperti racun yang terlalu pekat pada air yang bening. Wanita itu... munafik.”

“Diam, Dona! Kamu tidak usah menasihati kakak. Kakak tahu dan sudah membatasi diri. Bahkan kakak tidak pernah menyentuhnya, walaupun kami suami istri. Karena apa? Saya masih sangat menghargai posisi Aira.”

Aku terlalu fokus berbicara pada Dona sampai tidak sadar keberadaan Alya dan Bude Arum sudah berada di samping kami.

“Kak Revan, sudah pulang?”

Ya Tuhan, Alya pasti mendengar perkataanku. Lagi-lagi aku harus menggoreskan luka di hatinya.

“Kamu dengar apa yang dikatakan Kak Revan, kan, Alya? Kak Revan sangat mencintai Aira. Jadi, untuk apa kamu bertahan di sini? Lebih baik kamu pulang saja ke kampungmu. Kemudian, lebih cocok tinggal di sana dan cari saja pria yang setara dengan kamu, penggembala kerbau misalnya, atau ustaz kampung.”

“Hahah... kamu bisa saja, Dona.”

Bude Arum yang mendukung perkataan Dona tertawa. Tawanya terdengar renyah, tetapi merendahkan.

Aku melirik Alya sekilas. Ia tampak menekukkan wajah, seperti sedang menahan pening di kepalanya. Wajahnya terlihat semakin pucat.

“Permisi, aku pamit masuk. Kak Revan, makan siang sudah tersedia di meja makan.”

🌸🌸🌸

Aku memasuki kamar setelah makan siang. Alya sedang duduk di lantai dengan beralaskan karpet. Wanita itu tengah fokus dengan pekerjaan sekolah.

“Kalau belum benar-benar sembuh, istirahat yang cukup, Alya. Aku tidak mau melihatmu sakit lagi.”

Alya mendongakkan wajahnya. Senyum tipis terukir di wajahnya. Apa dia salah menangkap maksud dari perkataanku?

“Aku paham alasanmu, Kak. Karena jika aku jatuh sakit lagi, otomatis kamu akan merasa punya kewajiban untuk menyembuhkan aku. Dan hal itu akan membuat Aira, kekasihmu itu, cemburu.”

Aku menghela napas pelan. Posisiku kini sangat serba salah. Rasanya kepala ini pening dan ingin pecah.

Hari ini, begitu banyak beban yang masuk ke dalam pikiranku.

Aira, semalam pulang sampai larut malam dalam keadaan mabuk.

Dona melaporkan pada Aira jika aku mengurus Alya yang sedang sakit.

Masalah di rumah sakit kini juga sangat banyak. Para dokter harus memerlukan evaluasi lebih lanjut karena kinerja mereka yang sangat buruk.

Satu lagi yang semakin membuatku khawatir, kondisi ibu semakin melemah. Aku takut jika tiba-tiba saja ibu meninggalkanku untuk menyusul ayah. Beberapa kali ibu bergumam bahwa ia sangat merindukan ayah.

Rasanya kepala ini ingin meledak saja.

Aku menghempaskan tubuh di atas ranjang. Ingin saja aku tenggelam dalam ketidaksadaran. Ingin saja aku tertidur sampai semua masalah dan beban hidup ini hilang.

“Kak, kenapa...?”

Sampai pada akhirnya, tangan Alya yang kupegang erat.

“Aku sangat lelah, Alya....”

Bersambung.

Jangan lupa like komen dan subscribe

1
Arabella07
lanjut
Lembayung Bercerita: baik..ditunggu ya kak
total 1 replies
Ria Leilyhani
lanjutkan thor 😁
Ria Leilyhani: oke, makasih ya 😊
total 2 replies
Rian Moontero
mampiiirr
Lembayung Bercerita: makasih kak..
total 1 replies
Ria Leilyhani
cari yg lain aja Alya, ga usah ngarepin Revan lg, bikin nyesek. thor, Zara temennya Alya Zara Ayleen bukan?
Lembayung Bercerita: betul kak, kisah cinta ayleen dan Ar gak bisa paling gak bisa di lupain😍
total 3 replies
Ria Leilyhani
nyesek banget jadi Alya 😭 lanjut thor
Lembayung Bercerita: sama kak uthor juga sesak banget nulis nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!