GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ranjau, Resepsionis Palsu, dan Misteri Mayat yang Menolak Mati
Malam Minggu di kawasan pegunungan Puncak seharusnya diisi dengan udara dingin, secangkir wedang ronde, dan obrolan santai di bawah selimut hangat. Namun, bagi pasangan pengantin baru Gala dan Senja, malam Minggu kali ini dihabiskan dengan mengenakan jubah mandi putih berbulu lembut di atas rompi anti-peluru Kevlar kelas militer, menyusup ke dalam Sanctuary of Serenity & Spa—sebuah resor kesehatan super mewah yang ternyata menjadi markas operasional baru sisa-sisa komplotan Vanguard.
“Gue bener-bener mau nuntut agen lo ke pengadilan ketenagakerjaan, Sis,” gerutu Gala dengan suara tertahan. Ia berjalan pincang di koridor marmer mengkilap, mengenakan jubah mandi putih sambil menyembunyikan senapan serbu MPX di balik handuk besar yang melingkar di lehernya. “Ini tanggal merah, dan kita malah disuruh nyamar jadi tamu pasutri yang mau couple massage di sarang teroris!”
Di depan mereka, Siska berjalan dengan langkah senyap tanpa suara. Agen elit itu mengenakan setelan jas abu-abu ketat berlapis rompi taktis, tampak bagaikan auditor pajak dari neraka yang siap mengaudit nyawa siapa saja.
“Berhenti mengeluh, Gala. Keluhan Anda tidak mengurangi biaya operasional misi,” bisik Siska dingin tanpa menoleh ke belakang. “Target kita, Antonius, menyewa seluruh sayap VIP lantai tiga resor ini untuk kegiatan konsolidasi data ilegal. Menurut algoritma saya, dia sedang menikmati hot stone massage saat ini.”
Senja, yang berjalan di sebelah kanan Siska, meraba bilah khukri di balik lipatan jubah mandinya. Matanya tajam mengawasi setiap sudut koridor yang dipenuhi patung pualam kuno dan lampu gantung kristal raksasa.
“Jangan lengah,” bisik Senja memperingatkan suaminya. “Resor ini kelihatannya sepi, tapi sensor termal di kacamata taktis gue nunjukkin ada setidaknya dua belas penjaga bersenjata lengkap di balik dinding kayu ukir itu.”
Tepat saat mereka berbelok di tikungan lorong utama menuju lift pribadi VIP, dua orang pengawal bertubuh kekar berjas hitam—yang sama sekali tidak cocok dengan tema resor spa—menghadang jalan mereka dengan ekspresi mengancam.
“Maaf, area ini tertutup untuk umum. Tamu VIP sedang melakukan terapi eksklusif,” ujar pengawal pertama sambil merogoh saku jasnya, bersiap menarik pistol.
Gala menghela napas panjang, melangkah maju dengan senyuman paling menyebalkan yang ia miliki. “Ah, syukurlah! Mas-mas sekalian penjaga di sini, kan? Tolong sampaikan ke manajemen, massage punggung bini saya tadi kurang menekan di bagian belikat. Padahal saya udah bayar paket sultan!”
Pengawal itu mengerutkan dahi, bingung setengah mati menghadapi pria berjubah mandi yang protes soal pijatan di tengah markas rahasia. “Hah? Apa-an lo—?”
BAM!
Belum sempat pengawal itu menyelesaikan kalimatnya, Siska melesat secepat kilat. Tangan besi Siska menghantam rahang pengawal pertama hingga terpental membentur dinding pualam, sementara sikut kanannya mendarat telak di ulu hati pengawal kedua, membuat pria berbadan besar itu langsung ambruk mencium lantai karpet tanpa sempat mengeluarkan suara.
Gala bertepuk tangan pelan. “Gerakan yang efisien, Sis. Tapi sayangnya nggak estetik buat konten Instagram gue.”
“Simpan sarkasme Anda untuk nanti,” kata Siska sambil menyeret kedua tubuh pengawal itu ke balik pilar besar. “Kita masuk ke ruang utama.”
Dengan menggunakan kartu akses biometrik yang dicuri Siska dari saku pengawal tadi, pintu lift pribadi terbuka tanpa suara. Mereka bertiga meluncur naik ke lantai paling atas—penthouse pribadi Antonius.
Suasana di dalam penthouse itu sangat kontras dengan keributan di luar. Ruangannya sangat luas, beraroma minyak aromaterapi lavender, dan diterangi temaram lampu gantung mewah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja kayu mahoni raksasa yang dikelilingi layar komputer holografik yang menyala terang.
Namun, tidak ada suara pertempuran. Tidak ada prajurit bersenjata yang siaga.
Di kursi kulit putar eksekutif yang menghadap langsung ke jendela kaca besar dengan pemandangan lembah berkabut, duduk seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan kepala pelontar dan tato naga melingkar di lehernya. Antonius.
Pria itu duduk sangat tegak, mengenakan jubah kimono sutra merah. Di sampingnya, secangkir teh hijau masih mengepulkan uap tipis.
Siska langsung mengangkat senapannya, mengunci pergerakan target. “Antonius! Angkat tanganmu perlahan dan berbalik badan!”
Tidak ada respons. Antonius tetap diam mematikan di kursi kerjanya.
Gala menyipitkan mata, melangkah mendekat dengan hati-hati sambil memegang handuk mandinya layaknya perisai. “Sis... kok kayaknya ada yang aneh, deh? Itu orang tidur apa pingsan?”
Siska mendekati kursi tersebut dengan langkah waspada. Dengan ujung laras senapannya, Siska memutar kursi eksekutif itu menghadap ke arah mereka.
Senja, Gala, dan Siska sontak terkesiap.
Antonius memang duduk di sana. Namun, di tengah dadanya, tertancap sebuah belati perak kecil berukir lambang burung rajawali—simbol rahasia yang tidak asing lagi. Pria itu sudah tidak bernyawa. Kulit wajahnya sudah membiru, menandakan ia telah tewas setidaknya enam jam yang lalu akibat racun saraf beraksi cepat.
“Dia... sudah mati?” geming Gala, menurunkan senapannya dengan ekspresi ngeri. “Terus siapa yang dari tadi ngaktifin layar komputer holografik ini?!”
Layar komputer di atas meja mahoni mendadak berkedip. Jendela pop-up otomatis terbuka lebar, menampilkan sebuah video rekaman pra-tayang beresolusi tinggi.
Di layar itu, muncul sosok pria berjas abu-abu klimis dengan mata biru pucat yang menatap tajam menembus layar—Victor “The Architect”.
“Selamat malam, Siska. Selamat malam juga untuk mantan agen cilik kita, Senja, beserta suami jurnalisnya yang cerewet,” suara Victor menggema dingin dari pengeras suara ruangan, tersenyum sinis seolah ia sedang duduk di hadapan mereka secara langsung.
Siska langsung melangkah mundur, matanya membelalak lebar. “Itu rekaman terjadwal! Bagaimana mungkin? Bunker Gunung Salak sudah hancur total tiga bulan lalu!”
Video di layar melanjutkan monolognya:
“Kalian pikir Sersan Broto berhasil menghancurkan seluruh jaringan Vanguard sendirian? Bodoh. Arsitek sejati tidak pernah menaruh seluruh telurnya di satu keranjang yang sama, dan Bunker Alpha-Zero hanyalah fasilitas umpan murahan untuk menyingkirkan pengkhianat tua seperti Broto. Antonius mencoba berkhianat dan mencuri sisa server daruratku... jadi aku harus membereskannya lebih dulu.”
Victor menyeringai tipis, menyesap anggur merah dari dalam videonya.
“Tapi, permainan baru saja dimulai. Kalian mengira kalian datang untuk menyergap Antonius? Sayang sekali... pintu lift dan seluruh jalur keluar dari penthouse ini telah dikunci secara hermetis oleh protokol sandi otomatis. Dan di bawah lantai yang kalian pijak saat ini... terdapat lima puluh kilogram bahan peledak C-4 yang terhubung langsung dengan detak jantung mayat Antonius.”
BIP! BIP! BIP!
Seketika, lampu-lampu di dalam penthouse berubah menjadi warna merah darah yang berkedip cepat. Di bawah meja kerja, sebuah layar penghitung waktu mundur menyala terang benderang:
WAKTU MENUJU DETONASI: 02:00... 01:59... 01:58...
Gala langsung memucat pasi. Jubah mandi putihnya mendadak terasa seperti kain kafan. “Buset dah! Mayat aja masih sempat-sempatnya jadi timer bom?! Ini orang dendam apa kurang piknik sih?!”
Senja tidak panik. Ia langsung meraba panel kendali di dinding menggunakan gagang khukri-nya, mencari celah sirkuit manual. “Sistem kuncinya dienkripsi menggunakan algoritma kuantum! Nggak bisa diretas biasa dalam waktu dua menit!”
Siska, dengan ekspresi paling pucat sepanjang sejarah hidupnya sebagai agen elit, membuka ransel taktisnya dan mengeluarkan gergaji laser portabel. “Mundur! Kita potong dinding baja kaca ini sekarang juga!”
Namun sebelum Siska sempat menempelkan laser ke kaca, layar komputer di meja kerja Antonius kembali berubah. Kali ini, bukan lagi rekaman Victor, melainkan sebuah panggilan video langsung (live video call) dari nomor yang tidak dikenal.
Di layar, muncul wajah seseorang yang membuat Senja dan Siska membeku di tempat.
Seorang wanita paruh baya berambut perak rapi, mengenakan seragam panglima tertinggi intelijen independen internasional—sosok yang selama ini dikabarkan telah tewas dalam insiden sepuluh tahun lalu di Berlin.
Ibu kandung Siska. Mentor pertama Vanguard yang legendaris, Madam Elena.
Madam Elena menatap putrinya melalui layar dengan senyuman tipis yang sangat misterius.
“Jangan teriak-teriak, Siska,” suara Madam Elena terdengar tenang, menembus deru alarm bom yang memekakkan telinga. “Victor bukan dalang sesungguhnya. Dan ayah Senja... tidak pernah berniat menghancurkan Vanguard sendirian. Selamat datang di babak penentuan, anak-anakku. Pertanyaannya sekarang... siapakah di antara kalian yang akan mengkhianati yang lain sebelum hitungan mundur itu habis?”
KLAIK!
Pintu rahasia di belakang dinding perpustakaan tiba-tiba terbuka otomatis, memperlihatkan sebuah lorong gelap gulita yang mengarah ke bawah tanah, memancarkan bau bahan kimia aneh dan cahaya biru misterius.
Waktu tersisa: 00:45... 00:44...