Indonesia
NovelToon NovelToon
SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

SEBATAS KONTRAK DI ATAS RANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Orang Disabilitas / Nikah Kontrak
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.

Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.

Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.

Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Jangan Pergi

Ares baru saja menyelesaikan rapat ketika Reki masuk membawa beberapa dokumen tambahan.

“Tuan, ada satu masalah dari pihak Kencana Group.”

Ares mengangkat wajah. “Mereka menolak pembatalan kerja sama?”

“Bukan sekadar menolak," jawab Reki. "Mereka minta pertemuan ulang, tapi saya sudah bilang kalo keputusan Tuan gak bisa diganggu gugat.”

“Kalo begitu, selesai.”

Reki mengangguk dan hendak keluar ketika suara gaduh terdengar dari luar.

“Tuan Ares harus mendengarkan penjelasan saya!”

Pintu ruang kerja terbuka. Seorang perempuan masuk dengan wajah tegang. Seorang staf keamanan berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Maaf, Tuan. Nona ini memaksa masuk.”

“Karena gak ada cara lain!” sela perempuan itu.

Reki mengernyit. “Nona, Anda gak bisa masuk seperti ini.”

“Saya sudah tiga kali minta pertemuan, tapi selalu ditolak.” Ia menatap Ares. “Tuan membatalkan kontrak kami dua hari sebelum pelaksanaan. Perusahaan kami sudah mengeluarkan biaya besar. Kalau keputusan ini gak diubah, kami bisa kehilangan proyek utama tahun ini.”

Ares tetap tenang. “Keputusan itu dibuat setelah tim saya menemukan pelanggaran dalam laporan perusahaan Anda.”

“Pelanggaran itu bisa dijelaskan!” Nada suara wanita itu meninggi.

“Sudah dijelaskan," tegas Ares.

“Tapi Tuan gak mau dengar penjelasan kami!” Perempuan itu meletakkan berkas di meja. “Saya hanya minta satu kesempatan.”

Ares melirik dokumen tersebut. “Saya sudah memberikannya.”

“Tuan Ares—”

“Reki," potong Ares.

Reki langsung maju. “Ya, Tuan.”

“Antarkan dia keluar.” Nada suara Ares datar, bahkan sedikit dingin.

Perempuan itu langsung menggeleng. “Nggak. Saya belum selesai.”

Ia maju beberapa langkah.

Ares masih duduk, tetapi sejak perempuan itu mendekat, aroma parfumnya mulai memenuhi ruangan. Awalnya hanya membuatnya tidak nyaman.

Ares mengabaikannya. Ia mengambil berkas lain. Namun beberapa detik kemudian, tenggorokannya terasa kering. Ia berhenti membaca. Aroma itu semakin kuat.

Ares menarik napas pendek melalui mulut. Kepalanya mulai terasa berat.

“Tuan?” Reki memerhatikan perubahan wajahnya.

Ares mengangkat satu tangan. “Buka jendela.”

Reki segera melakukannya.

Perempuan itu masih belum menyadari apa yang terjadi. “Tuan, kalau masalahnya hanya soal laporan, kami siap melakukan audit ulang. Bahkan kalau perlu—”

“Jaga jarak.”

Perempuan itu terdiam.

Ares menekan dua jarinya ke pelipis. Rasa mual perlahan naik dari perutnya, disusul denyutan yang semakin terasa di kepalanya.

“Keluar.”

“Tapi saya—”

“Sekarang.”

Nada suara Ares membuat Reki langsung bergerak mendekati perempuan itu.

“Silakan, Nona.”

“Nggak!” tolak perempuan itu. “Saya belum selesai bicara dengan Tuan Ares.”

“Reki.” Suara Ares terdengar lebih berat.

“Iya, Tuan.” Reki menatap perempuan itu dengan wajah yang kali ini tak lagi ramah. “Nona, keputusan Tuan Ares sudah final. Kalau Anda masih membuat keributan di sini, saya tidak segan minta keamanan ngantar Anda keluar.”

Tatapannya beralih kepada dua staf keamanan yang masih menunggu di depan pintu.

Perempuan itu mengepalkan tangan. “Tapi perusahaan kami bisa rugi besar.”

“Itu bukan lagi wewenang kami.” Reki memberi isyarat kepada petugas keamanan.

Akhirnya perempuan itu berbalik dan meninggalkan ruangan bersama mereka. Wajahnya masih menunjukkan ketidakpuasan.

Begitu pintu tertutup, Reki kembali menatap Ares. “Tuan?”

Ares tidak menjawab.

Tangannya masih menekan pelipis, sementara napasnya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya.

Ares berdiri dari kursinya dan berjalan ke jendela. Udara malam menyentuh wajahnya. Namun kepalanya masih berdenyut. Perutnya terasa semakin tidak nyaman.

Ia menunduk sambil menarik napas panjang, lalu mengambil ponsel. Jarinya bergerak tanpa banyak pertimbangan.

> Datang malam ini.

Ia menatap pesan itu sebentar, kemudian menambahkan:

> Jangan terlambat.

Ponselnya kembali diletakkan. Ares bersandar pada meja. Ia tidak suka kenyataan bahwa ketika tubuhnya mulai bereaksi seperti tadi, orang yang langsung muncul dalam pikirannya adalah Alisha.

 

Kembali ke saat ini.

Alisha mengangguk meski tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia belum sempat bertanya lagi ketika Ares duduk di sampingnya. Tanpa banyak bicara, pria itu menarik tubuh Alisha ke dalam pelukannya.

Alisha sempat terkejut. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan tubuh Ares yang perlahan mengendur.

Ares memejamkan mata. Aroma yang biasanya membuatnya sesak seharusnya masih melekat di kepalanya. Namun yang tercium hanya aroma Alisha, dan napasnya perlahan kembali teratur.

Ares menarik napas dalam-dalam. Untuk beberapa saat, ia hanya diam dalam pelukan itu.

Alisha yang awalnya kaku akhirnya mengangkat tangannya. Jemarinya sempat menggantung ragu sebelum perlahan menyentuh punggung Ares.

“Alisha.”

Suara Ares terdengar rendah. Tidak sedingin biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di dalamnya, sesuatu yang membuat Alisha ikut menahan napas.

“Ya?”

Ares tidak langsung menjawab. Tangannya masih melingkar di pinggang Alisha. Wajahnya tetap berada di dekat bahu perempuan itu.

Alisha semakin cemas. “Apa Tuan baik-baik saja?”

Ares menarik napas panjang. “Aku hanya…”

Kalimatnya terputus. Alisha menunggu.

Beberapa detik kemudian, Ares akhirnya melanjutkan. “Aku butuh kamu di sini.”

Dada Alisha terasa mengencang. Ini pertama kalinya Ares terdengar seperti sedang mengakui butuh seseorang.

Alisha tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya, tangannya mengusap punggung Ares dengan gerakan perlahan.

“Saya di sini.”

Tak ada jawaban dari Ares, namun pelukannya sedikit mengerat.

Tangan Alisha masih mengusap punggung Ares perlahan. Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya, “Tuan kenapa? Tadi waktu masuk kamar...” Alisha berhenti sebentar. “Tuan kelihatan gak baik-baik saja.”

“Aku cuma sedikit pusing.”

“Karena parfum perempuan?”

Tubuh Ares mendadak sedikit menegang. Ia menarik kepalanya dari bahu Alisha. “Kamu tau dari mana?”

Alisha mengernyit. “Dari pakaian Tuan.”

“Pakaianku?”

“Iya.” Alisha mengangguk kecil. “Pas Tuan mendekat, aromanya kecium.”

Ares menunduk, seolah baru menyadarinya. Ia memang belum sempat mengganti pakaian setelah meninggalkan kantor.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ares perlahan melepaskan pelukannya. Alisha langsung merasa kehilangan kehangatan yang tadi membuat tubuhnya nyaman.

Ares berdiri.

“Tuan?”

“Aku mandi dulu.”

Alisha mengangguk.

Ares mengambil pakaian bersih dari lemari, lalu berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, ia sempat berhenti.

“Jangan pergi.”

Alisha sedikit terkejut.

Ares tidak menjelaskan lebih lanjut. Ia hanya masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Beberapa saat kemudian, suara air terdengar dari balik pintu.

Alisha masih duduk di tepi ranjang. Ia menatap lurus ke depan meski matanya tertutup penutup kain.

Entah kenapa, permintaan sederhana itu ("Jangan pergi") terus terngiang di kepalanya.

Alisha menarik napas perlahan. “Tuan Ares sebenarnya kenapa?”

Tidak ada yang menjawab, dan ia hanya bisa menunggu.

 

...✨“Ada kalanya hati lebih dulu mengenali tempat yang membuatnya tenang, jauh sebelum pikiran bersedia mengakui bahwa tempat itu adalah seseorang.”✨...

.

To be continued

1
Dek Sri
lanjut
Cicih Sophiana
lumayan bagus dan masuk akal alasan Aisha kerja...biar ada bohong nya lumayan🫢 😂
Cicih Sophiana
Alisha seperti nya tdk seperti cewek lain yg mendekati Ares... yg matre, celamitan minta ini minta itu... bukti nya Alisha anteng anteng aja tuh gak macam...
Ass Yfa
rencana Arga berhasil menyakiti Ares
Cicih Sophiana
klo semua orang takut menikah Res dunia sepi dong... gak ada anak untuk penerus manusia... orang jg mungkin malas kerja dan beraktifitas untuk apa?
abimasta
puas yaa kamu arga
Cicih Sophiana
klo udah cemburu berarti udah ada rasa ya Res... jujur aja napa Res gapapa kok klo jujur jg Alisha seperti nya jg suka kamu deh...
Puji Hastuti
kamu selamat alisha
Cicih Sophiana
cie cie ada yg cemburu nih yeh... tp gak berani bilang cemburu... padahal jujur aja gak usah malu mas Ares 🫢
Cicih Sophiana
betul kak Nana bukan tempat yg membuat tenang tp seseorang yg tulus...
Cicih Sophiana
Ares kamu sdh ketergantung aroma tubuh Alisha...klo Alisha pergi meninggalkan kamu gimana coba..
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
kasian yah Alisha masa mata dan kuping nya harus di tutup... itu maksud nya Alisha gak boleh liat Ares takut Alisha jatuh cinta gitu yah 🫢
Fadillah Ahmad
Hoooh, sekarang aku tau kenapa Ares tidak ingin terlalu drkat dengan Alisha atau sampai mencintai Alisha. Karena Ares tau, bahwa itu bisa menjadi kelemahan terbesarnya uang bisa di manfaatkan oleh Pesaing bisnis seperti Arga... 😂😂😂 Karena, tidak di dunia ataus ataupun dunia bawah sekalipun, kelemahan terhadap Wanita itulah yang paling di cari oleh lawan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Cicih Sophiana
Ares nyaman yah memeluk Alisha... sape di lepas aja gak mau
Fadillah Ahmad
Hahaha, itulah bodohnya kau Arga! 😂😂😂 mungkin selama ini, Ares sudah terlalu baik padamu. Membuatmu berada di atas angin. 😁😁😁 Tapi sekarang? Lihatlah langkah yang di ambil Ares? 😂😂😂 Kau sendiri pun lengah kan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Itu adalah langkah yang bagus Alisha... 😂😂😂 Maka, untuk selanjutnya berhati-hatilah... 😂😂😂 Karena, sesungguhnya dunia bisnis itu amatlah kejam. Tidak sesederhana seperti yang terlihat di permukaan... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benar sekali Alisha... 😂😂😂 maka, berhati-hatilah pada setiap Pertanyaan Arga yaaa 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Arga itu, terlalu lihai dalam menyusun kalimay Alisha... 😂😂😂 Hingga kamu sendiri pun nggk nyadar, bahwa jawaban kamu itu membawa lerugian bagi perusahaan suamimu sendiri... 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!