Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
***
Setibanya di Mansion Elard, atmosfer di dalam kediaman megah itu berubah drastis. Kepulangan Alana tidak lagi disambut oleh isak tangis, jeritan keputusasaan, atau tatapan hampa seperti saat ia pertama kali dilarikan ke rumah sakit beberapa hari lalu. Sebaliknya, Alana melangkah keluar dari mobil dengan gaun terusan simpel bernuansa pastel, wajahnya tersapu riasan tipis yang rapi, dan seulas senyuman sopan yang terukir simetris di bibirnya—sebuah senyuman kaku tanpa ada kehangatan di dalamnya.
Tidak ada lagi sikap apatis. Tidak ada lagi helaan napas penderitaan. Alana bangkit, menyapa kepala pelayan dan jajaran asisten rumah tangga dengan nada suara yang teratur dan ramah. Ia kembali menempati kamar utama, langsung mengambil alih tugas-tugas rumah tangga. Mulai dari mengoreksi daftar menu makan malam, mengatur tata letak bunga di ruang tamu, hingga memeriksa jadwal pertemuan pribadi Kenzo—Alana menjalankannya dengan kecermatan yang sempurna, layaknya seorang Nyonya Muda Elard yang profesional dan terlatih.
Di ruang makan, Alana duduk dengan tegak. Di hadapannya tersaji mangkuk berisi ramuan herbal pemulihan dan deretan kapsul vitamin yang dianjurkan oleh dokter pasca-pendarahan parah yang dialaminya. Tanpa mengeluh, tanpa meminta dituntun atau ditenangkan, Alana meminum ramuan pahit itu hingga tandas. Ia meneguk air putih, lalu menelan satu per satu kapsulnya tanpa ekspresi berlebih.
Kenzo, yang duduk di ujung meja lain, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan dada yang bergemuruh heboh. Makanan di piringnya terasa hambar. Kehadiran Alana yang kini begitu patuh, anggun, dan teratur justru terasa seribu kali lebih mengerikan daripada saat wanita itu memaki atau menolak kehadirannya.
"Alana..." panggil Kenzo pelan, suaranya parau menahan kecemasan yang menggantung di udaranya. "Kamu... tidak perlu memaksakan diri minum ramuan itu kalau rasanya terlalu pahit. Biar aku minta dapur buatkan racikan baru."
Alana mengelap sudut bibirnya dengan serbet kain halus, lalu menoleh ke arah Kenzo. Matanya jernih, namun tidak ada riak emosi apa pun di sana. "Tidak perlu, Mas Kenzo. Dokter bilang herbal ini sangat bagus untuk mempercepat pemulihan rahim dan stamina saya. Sebagai istri yang baik, sudah kewajiban saya untuk segera pulih agar tidak merepotkan orang-orang di rumah ini lagi."
Kenzo mematung, tenggorokannya tercekat mendengar penggunaan kata 'kewajiban' dan 'merepotkan'.
"Kamu tidak pernah merepotkan saya, Alana," potong Kenzo cepat, pandangannya menggebu-gebu penuh penyesalan. "Tolong, jangan bicara seolah-olah kamu sedang menjalankan tugas dinas di rumah ini."
Alana menyunggingkan senyum tipis yang amat formal. "Bukankah memang ini peran saya, Mas? Menjadi Nyonya Muda Elard yang patuh, menjaga martabat keluarga ini, dan memastikan seluruh kebutuhan suaminya terpenuhi sesuai perjanjian yang telah kita sepakati? Saya hanya berusaha menjalankan peran saya dengan baik dari sekarang."
Sebelum Kenzo sempat membalas, Alana berdiri perlahan, membungkukkan badan sedikit secara sopan. "Saya permisi ke kamar lebih dulu untuk merapikan berkas laporan pengeluaran rumah tangga bulan ini."
Kenzo meremas sendok di genggamannya hingga jarinya memutih. Dinding transparan yang dibangun Alana terasa jauh lebih tebal dan tak tertembus dibanding tembok benteng mana pun di dunia.
Malam semakin larut. Jarum jam di ruang kerja utama menunjukkan pukul sebelas malam. Kenzo masih terduduk di balik meja kerjanya, menatap berkas-berkas bisnis tanpa sanggup fokus pada satu kata pun. Pikirannya dipenuhi oleh Alana—oleh senyum palsunya, oleh kepatuhannya yang dingin, dan oleh jarak tak kasat mata yang kini memisahkan mereka.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan teratur di pintu kayu jati menghentikan lamunan Kenzo.
"Masuk," sahut Kenzo berat.
Pintu terbuka perlahan. Sosok Alana berdiri di sana. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih gading yang jatuh anggun menutupi tubuhnya yang masih tampak kurus. Rambut panjangnya terurai rapi, memancarkan aroma wangi bunga kamelia yang lembut.
Kenzo tersentak, berdiri refleks dari kursi kerjanya. "Alana? Ada apa? Kenapa belum tidur? Kamu butuh sesuatu?"
Alana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. Ia berjalan mendekati meja kerja Kenzo, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di hadapan pria itu. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada canggung dalam gerakan fisiknya.
"Saya ke sini untuk menjalankan kewajiban saya, Mas Kenzo," ujar Alana murni tanpa intonasi.
Kenzo mengerutkan keningnya, kebingungan. "Kewajiban? Laporan rumah tangga? Kamu bisa memberikannya besok pagi, Alana. Kamu harus banyak beristirahat—"
"Bukan laporan," potong Alana datar. Pandangan matanya mengunci iris mata Kenzo. "Kewajiban saya sebagai seorang istri di atas ranjang."
Kata-kata itu menghantam Kenzo bagaikan petir di malam sepi. Pria tegap itu terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa... apa yang kamu katakan, Alana?"
Alana mengurai ikatan tali tipis di pinggang gaun luarnya, membiarkan jubah sutra itu meluncur jatuh ke lantai marmer, menyisakan gaun malam berpotongan rendah yang memperlihatkan lekuk bahunya yang indah.
"Dokter sudah menyatakan bahwa pendarahan saya telah berhenti dan kondisi fisik saya sudah aman untuk melakukan hubungan suami istri," lanjut Alana dengan nada tegar, seolah sedang membacakan pasal dalam dokumen legal. "Perjanjian kontrak kita menyatakan bahwa saya harus memberikan keturunan dan melayani suami saya secara penuh. Saya sudah meminum semua vitamin dan herbal pemulihan hari ini. Jadi, malam ini saya siap melayani Mas Kenzo."
Dada Kenzo bergolak hebat. Rasa sakit yang mendalam menyayat hatinya hingga berkeping-keping. Pria itu menggelengkan kepala dengan panik, melangkah maju dan meraih kedua bahu Alana dengan jemarinya yang bergetar.
"Alana, hentikan! Jangan lakukan ini!" bisik Kenzo parau, matanya berkaca-kaca menatap wajah wanita di hadapannya. "Aku tidak pernah meminta ini dari kamu dalam kondisi seperti ini! Aku tidak butuh kepatuhan kaku seperti ini!"
Alana tidak menghindar dari sentuhan Kenzo. Ia membiarkan tangan pria itu memegang bahunya, namun matanya tetap tenang tanpa riak. "Mengapa, Mas Kenzo? Bukankah ini yang Mas inginkan sejak awal? Bukankah ini alasan keluarga Elard membeli saya dari orang tua saya?"
"Alana, demi Tuhan, cukup!" bentak Kenzo pelan dengan suara yang pecah oleh tangis yang tertahan. "Aku mencintaimu! Aku tidak pernah menganggapmu sebagai barang belian! Aku salah... aku akui aku berdosa atas semua yang terjadi pada kehamilanmu dan keluargamu. Tapi tolong, jangan hukum aku dengan cara seperti ini... Jangan perlakukan dirimu seolah kamu tidak memiliki harga diri!"
Alana menyunggingkan senyum tipis—senyuman paling dingin yang pernah Kenzo lihat sepanjang hidupnya.
"Harga diri saya sudah mati sejak hari saya tahu saya dijadikan tumbal, Mas," bisik Alana lembut, namun setiap katanya bagai sembilu yang menguliti batin Kenzo. "Sekarang yang tersisa di tubuh ini hanyalah kewajiban kontrak. Jika Mas Kenzo memang mencintai saya atau merasa bersalah... maka selesaikanlah kewajiban Mas malam ini. Jangan buat pengorbanan saya meminum obat-obatan pahit itu menjadi sia-sia."
Tanpa menunggu balasan Kenzo, Alana meraih tangan Kenzo yang berada di bahunya, lalu menuntun jemari pria itu untuk menyentuh pipinya. Sentuhan kulit mereka bertemu, namun Alana tidak lagi bergidik, tidak lagi merona, dan tidak lagi menahan napas seperti dulu. Ia benar-benar menyerahkan raganya tanpa perlawanan, tanpa hasrat, dan tanpa jiwa.
"Silakan, Mas Kenzo. Kamar utama sudah saya siapkan," ucap Alana tenang, lalu membalikkan badan dan melangkah menuju ranjang utama, meninggalkan Kenzo yang berdiri mematung di tengah ruangan.
Kenzo menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja menyentuh kulit Alana. Hatinya hancur berkeping-keping. Di dalam kamar yang luas dan megah itu, Kenzo akhirnya menyadari kenyataan paling pahit dalam hidupnya: Ia mungkin telah mendapatkan kembali kepatuhan Alana, ia mungkin bisa memiliki raga istrinya kapan saja ia mau... namun jiwa wanita yang amat dicintainya itu telah menghilang, terkunci rapat di dalam benteng kehampaan yang tak akan pernah bisa ia tembus lagi.
Bersambung...