Indonesia
NovelToon NovelToon
Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Bu Gubernur Bar-bar Pilihan Hati Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.

Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.

Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.

Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.

Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?

Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inspeksi Mendadak

Setelah memastikan kondisi atap rumah warga yang bocor sudah dicatat untuk segera ditindaklanjuti.

Zea kembali berdiri di tengah beberapa warga yang sejak tadi berkumpul. Tatapannya menyapu wajah mereka satu per satu sebelum ia bertanya, “Kalau bantuan dari pemerintah bagaimana? Sembako, bantuan uang, atau program bantuan lainnya, apakah semuanya sudah diterima?”

Suasana yang sebelumnya cukup ramai mendadak hening. Beberapa warga saling pandang, sebagian lainnya menundukkan kepala, seolah takut mengatakan sesuatu di hadapan gubernur mereka sendiri.

Zea mengerutkan kening. “Kenapa semuanya diam?”

Intan yang berdiri tidak jauh dari Zea langsung maju sedikit. “Ayo, bilang saja yang sebenarnya. Mumpung Bu Gubernur ada langsung di depan mata kalian, jangan takut. Katakan sejujurnya apa yang kalian alami.”

Beberapa warga kembali saling pandang. Akhirnya, seorang ibu yang rumahnya baru saja diperiksa dan atapnya akan diperbaiki mengumpulkan keberanian untuk maju.

“Maaf, Bu Gubernur,” ucapnya pelan. “Sebenarnya kami tidak pernah menerima bantuan apa pun dari pemerintah.”

Zea langsung terdiam. “Tidak pernah?”

Ibu itu mengangguk. “Iya, Bu. Sembako juga tidak pernah. Bantuan uang juga tidak pernah kami terima.”

Zea menatap beberapa warga lainnya. “Apakah hanya Ibu yang tidak menerima, atau yang lain juga mengalami hal yang sama?”

Satu per satu warga mulai mengangguk. Bahkan beberapa orang terdengar menghela napas sebelum akhirnya mengaku bahwa mereka juga tidak pernah menerima bantuan yang seharusnya diperuntukkan bagi keluarga kurang mampu.

“Kalau begitu, saya mau bertanya,” ujar Zea dengan suara mulai tegas. “Selama ini siapa yang menerima bantuan tersebut?”

Tidak ada yang menjawab.

Zea kembali menatap mereka. “Tidak ada yang tahu?”

Seorang bapak akhirnya berkata, “Kami juga tidak tahu, Bu. Setiap kali kami bertanya, katanya bantuan belum turun atau nama kami tidak masuk daftar penerima.”

Mata Zea langsung menyipit. “Padahal data warga kurang mampu di sini seharusnya ada.”

Ia menoleh kepada Intan. “Di mana lurah dan kepala desanya?”

Intan menggeleng. “Tadi aku sempat mampir ke kantor mereka, Bu. Tapi saya tidak melihat kedua orang itu di sana.”

“Tidak ada?”

“Tidak ada. Bahkan aku juga tidak melihat mereka di kantor.”

Zea menarik napas panjang. “Baik. Kita tunggu.”

Sagara yang sejak tadi berdiri di samping Zea hanya mengamati keadaan. Ia dapat melihat perubahan ekspresi gubernur muda itu, dari yang sebelumnya santai menjadi semakin serius.

Sekitar lima belas menit kemudian, terdengar suara kendaraan berhenti tidak jauh dari lokasi. Dua orang pria paruh baya turun dengan tergesa-gesa, kemudian berjalan terbirit-birit menuju tempat Zea berdiri.

Keduanya memiliki tubuh yang cukup besar dengan perut buncit, wajah berkeringat, dan napas sedikit terengah-engah.

Mereka sama sekali tidak menyangka gubernur akan datang secara mendadak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

“Selamat pagi, Bu Gubernur!” sapa salah satu pria dengan senyum kaku. “Mohon maaf kami baru bisa datang. Tadi kami sedang banyak tugas di kantor.”

“Benar, Bu,” sambung pria lainnya. “Ada beberapa pekerjaan administrasi yang harus kami selesaikan.”

Zea menatap keduanya tanpa tersenyum. “Banyak tugas?”

Kedua pria itu langsung mengangguk cepat. “Iya, Bu.”

“Tapi ketika asisten saya datang ke kantor tadi, kalian justru tidak ada.”

Senyum kedua pria itu langsung membeku.

Zea melanjutkan, “Bukan hanya tidak ada. Dari pengecekan yang asiste saya lakukan, kalian juga tidak melakukan absensi.”

Kedua pria tersebut saling melirik. Wajah mereka yang semula berusaha terlihat sopan kini mulai tegang.

“Bu, mungkin ada kesalahan pada sistem absensi,” ujar salah satu dari mereka dengan suara terbata-bata.

“Kesalahan sistem?” Zea mengangkat sebelah alis. “Menarik. Jadi, kalian tidak berada di kantor, tetapi absensinya juga tidak ada. Lalu sekarang baru muncul setelah saya datang ke wilayah ini?”

Kedua pria itu tidak mampu menjawab.

Para pegawai kantor lurah dan kantor desa yang ikut datang pun mendadak diam. Tidak ada seorang pun yang berani menyela, apalagi setelah melihat tatapan Zea yang semakin tajam.

Zea kemudian menunjuk ke arah kedua pejabat tersebut. “Sekarang saya mau bertanya. Bagaimana dengan bantuan pemerintah untuk warga di sini?”

“Bantuan, Bu?” tanya lurah dengan wajah gugup.

“Iya, bantuan sembako, bantuan uang, dan program bantuan lainnya,” jawab Zea tegas. “Kenapa warga yang jelas-jelas kurang mampu justru mengatakan mereka tidak pernah menerima bantuan?”

Kades langsung menggeleng. “Tidak begitu, Bu. Bantuan sudah kami berikan kepada warga.”

“Sudah diberikan?”

“Iya, Bu.”

“Kalau begitu, bagus.”

Kedua pria itu tampak sedikit lega.

Zea segera melanjutkan, “Ambilkan data warga yang menerima bantuan.”

Keduanya kembali menegang.

“Data penerima bantuan, Bu?” tanya lurah.

“Iya. Saya ingin melihat sendiri siapa saja yang menerima bantuan, kapan bantuan diberikan, dan berapa jumlah yang diterima,” jawab Zea. “Kalau memang sudah disalurkan, tentu datanya ada, bukan?”

Lurah dan kades kembali saling pandang.

“Bu, mungkin datanya masih di kantor,” ujar kepala lurah dengan senyum kaku.

“Kalau begitu, ambil sekarang.”

Keduanya terdiam.

Zea menoleh kepada seorang staf pria yang berdiri agak jauh. “Kamu, tolong ambilkan seluruh data penerima bantuan. Saya ingin melihatnya sekarang juga.”

Staf itu langsung terkejut. Ia melirik lurah dan kades, tetapi kedua atasannya hanya diam.

“Baik, Bu Gubernur,” jawabnya akhirnya.

Staf tersebut segera berbalik dan berjalan cepat menuju kantor. Zea tetap berdiri di tempat, sementara Sagara memperhatikan wajah lurah dan kades yang mulai pucat.

Intan mendekat kepada Zea dan berbisik, “Zea, lihat wajah mereka. Kayaknya data yang kamu minta itu lebih menakutkan daripada kedatangan kita sendiri.”

Zea menahan senyum tipis. “Kalau memang semuanya benar, seharusnya mereka tidak perlu takut.”

“Betul juga.”

Beberapa menit kemudian, staf pria tersebut kembali sambil membawa beberapa map tebal dan sebuah berkas yang cukup besar. Ia berjalan cepat menuju Zea dengan wajah serius.

“Bu Gubernur, ini data penerima bantuan yang tersimpan di kantor.”

Zea menerima map tersebut. “Baik. Sekarang kita lihat apakah benar bantuan itu sudah sampai kepada warga.”

Ia membuka halaman pertama dan mulai membaca nama-nama penerima bantuan. Namun, baru beberapa baris dibaca, dahi Zea langsung berkerut.

“Sebentar,” gumamnya..

Tubuh mereka langsung merasa tegang seolah sedang menunggu hukuman.

1
ryuka
lanjuutttthooorrr
ryuka
yeeeeeyyy ditemuin sma zheeeaaaa 😍😍😍😍😍
cilla
dan aku yakin zea bahkan sudah tau tapi diam aja dia kan manusia yg sulit di tebak kek emaknya🤣🤣🤣😍😍🤭 sagara jujur aja sama zea
Tiara Bella
makasih thor up nya banyak....love you/Kiss//Kiss//Kiss/
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
Mei Mei
jangan Mako pusing Sagara pergi ko pasar aj cari bajabu biar otak mu encer berpikir jalan keluar gimn caranya, sebaiknya km cerita aja ke Zea dan keluarga Zea tentang masalah mu biar Zea dan keluarga nya bisa membantu km Sagara,,
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
waduh jadi keluarga sagara dii jdiin sandra apalah itu namanya ancaman yaa nehh smacam itu suapaya sagara melakukan pembunuhan terhadap zea ya
wehhh piye iki jal
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
nahh ini dia
sat set tnpa drama keren
KLO kek gini rasanya negara ini akan damai2 saja
tp kbnykan pada komen dlu sblm tau faktanya
alahhh mboh lah mumet AQ
AQ ora tau melu2 komen ini itu JD tak tau lah
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
gimna g di jaga orang udah jatuh cintrong duluan weeeekkkkk🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Mama Hasby
zeaa...zeaa...🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
rayuan maut zea bilang tampan
mempan 🤣🤣🤣🤣🤣
💜⃞⃟𝓛 🆈🅰🆈🆄🅺🍒⃞⃟🦅🏡s⃝ᴿ
wehhhh sama2 mengumi tp kenapa pada gengsi sih gessss tobat2

kiro2 piye yoooo
Suci Dava
Jangan2 msh ada hubungan nya dgn masa lalu orangtuanya Zea
ryuka
adduuhhh kapteeennn.. siapa yg di sandera??
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
apa keluarga Sagara di sandera trus yg nyandranya menekan Sagara untuk bunuh Zea agar keluarga Sagara selamat 🤔😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus hajar trus Zea yg kata" mutiaramu biar pimpinan direksi itu th kamu bkn orang yg mdh di senggol 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kok saya curigation ya kl Zayn dan Zayden itu th niat terselubung Sagara 😏😏
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
yg dikhawatirkan lg manggang ayam dan ribut unfaedah yg gak selesai" 😂😅
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
tenang Zea nanti jg kamu sumber kebahagiaan Sagara yg akan membuatnya tersenyum sendiri 😉☺️
ryuka
ciiieee zheeaaaa 🤭🤭🤭🤭🤭🤭

apa


ciieeee kapteennnn 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
Tiara Bella
cie....cie ciuman pertama zea tuh....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!