Sebuah kecelakaan besar membuat hidup Ajeng berubah total. Karena sebuah balas budi dan intrik dari keluarga Demian dan Mahesa dia harus menikah dengan Raka, laki-laki yang diselamatkannya dengan seorang anak kecil.
Ajeng harus terjebak dalam konflik keluarga kaya. Kehadiran Ajeng membuatnya harus menjadi seorang mama untuk anak kecil yang dia selamatkan.
Apakah Ajeng bisa menemukan kebahagiaan dengan menjadi Mama anak itu. Atau dia justru terperangkap masalah dan konflik keluarga kaya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van Theglang Town, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiss Mark
Sampai di ruangan Fisioterapi Ajeng tak melihat Dokter Friska yang menangani Raka. Dia melihat Raka sedang seorang diri sedang berdiri dan berjalan menggunakan pegangan khusus terapi berjalan.
Ajeng melihat Raka yang sedang berusaha untuk bisa melangkahkan kakinya dengan susah payah. Ajeng pun iba melihat usaha dan semangat Raka. Dia jadi teringat pertemuan keluarga kemarin. Mereka meminta waktu pernikahan jika Raka sudah dapat berjalan dengan normal lagi. Karena tidak lucu jika di pelaminan pengantin pria menggunakan tongkat. Jadi Raka sepertinya sedang berusaha agar dia bisa berjalan lagi.
Ajeng merasa kasihan dan terharu dengan perjuangan Raka itu. Kemudian Ajeng pun masuk ke ruangan terapi dan mendekati Raka.
Raka melihat kedatangan Ajeng langsung mengomel.
"Kamu dari mana saja sih?" tanya Raka sedikit kesal karena Ajeng malah menghilang tadi.
"Aku tadi habis cari udara segar, oh ya barusan aku lihat Randy di sini. Kayak habis nengok seseorang yang sakit." Ajeng memberi sekilas info.
"Randy, serius, mungkin sedang jenguk teman atau anggota keluarga nya." Jawab Raka disusul dengan percobaan dia melangkah tanpa pegangan menuju Ajeng yang berjarak beberapa langkah.
Ajeng pun diam tak bergerak menunggu Raka sampai di depannya. Terlihat wajah Raka yang berkeringat pertanda dia sedang berusaha keras untuk bisa sampai. Selangkah demi langkah dia mulai bisa melangkah. Ajeng pun dalam hatinya sedang menyoraki dan menyemangatinya dan berharap Raka bisa berjalan dengan normal kembali.
Terlihat sepertinya Raka menahan sakit karena dia meringis. Ajeng pun dengan segera menghampiri Raka untuk memegang tangannya dan menopang tubuhnya. Raka kemudian menghempaskan berat badannya ke pelukan Ajeng. Sesaat tubuh Ajeng oleng menahan berat badan Raka yang hampir dua kali lipat dari berat badannya.
Raka terdengar mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Napasnya membuat kepala Ajeng seperti dikipasi. Kepala Ajeng terbenam dalam dada Raka yang bidang. Harum tubuh Raka membuat Ajeng merasa betah berada dalam posisi ini.
Setelah Raka mengatur normal kembali napas dan syaratnya dia pun perlahan melepaskan pelukannya kemudian menatap wajah Ajeng yang tampak memerah. Raka pun menarik sudut bibirnya ke atas dan membuat sebuah lesung di pipinya. Sangat tampan. Benar- benar membuat dirinya tak mampu mengontrol degup jantungnya.
Mereka cukup lama juga saling menatap tanpa mampu berkata. Sampai pada akhirnya suara deheman menyadarkan mereka.
"Maafkan aku yang menganggu keromantisan kalian." Dokter Friska sudah berada di belakang mereka rupanya. Buru buru Ajeng menghalau kedua tangan Raka di pundaknya.
"Dokter baru selesai teleponannya?" tanya Raka.
"Maaf ya sesi fisioterapi kita tadi terganggu, soalnya suamiku baru pulang dari London dan begitulah dia nyampe ke Jakarta langsung nyamperin aku kesini." Kata Dokter Friska sambil tersenyum. Ajeng melihat kemeja pink di balik jas dokternya sedikit terbuka malah sepertinya terkancing sekenanya. Ajeng pun memperhatikan Raka, dia sepertinya tidak nyaman malah melihat ke arah yang lain selain Dokter Friska. Ajeng yang sesama wanita kemudian memberi kode dengan telunjuk tangan pada dokter Friska kalau kemejanya kancingnya terbuka. Buru-buru Friska membalikkan badannya dan memperbaiki posisi kancingnya yang salah akibat dia terlalu terburu-buru mengancingkannya.
Ajeng pun mulai mempunyai penilaian buruk dengan dokter itu.
Dokter macam apa. Jam kerja malah enak wikwik sama suaminya sampai meninggalkan pasien.
Ajeng tahu kalau Dokter Friska sudah melakukan sesuatu di ruangan pribadinya bersama suaminya terlihat jelas dengan tanda kiss mark dilehernya.
Dokter Friska pun gugup karena ketahuan tidak profesional dengan pekerjaaannya. Dia berulang kali meminta maaf pada Ajeng dan Raka setelah sesi terapinya selesai.
Ajeng dan Raka pun pulang dari rumah sakit itu. Di dalam mobil Ajeng tak berhenti mendumel tak jelas di depan Raka.
"Ada apa sih kok kayak yang kesel?" tanya Raka melihat Ajeng yang uring-uringan.
"Kira-kira perkembangan terapi kamu bagaimana, ada kemajuan gak?" tanya Ajeng membuat alis Raka bergerak ke atas.
"Lumayan kok, kata dokter hasil rontgen dan xray kaki aku sudah oke, tinggal latihan kekuatan untuk jalan."
"Kalo begitu, bisa tidak terapinya di rumah saja kalau tinggal lancarin jalan doang mah, aku juga bisa jadi terapisnya." Sungut Ajeng membuat Raka heran.
"Kenapa?" tanya Raka melihat wajah Ajeng yang lucu kalau sedang kesal.
"Dokter nya tidak profesional, di jam kerja dia malah gituan sama suaminya. Aduuh please deh dia itu melanggar kode etik seorang dokter gak sih." Cerocos Ajeng tanpa henti membicarakan dokter itu.
Raka yang mendengar itu menjadi tertawa sejadi-jadinya. Apalagi melihat ekspresi Ajeng yang menggemaskan saat bicara.
"Kok kamu malah ketawa?" tanya Ajeng mendengus.
"Kamu ucul, gara-gara itu kamu nyuruh terapi di rumah. Kamu tuh iri ya melihat dokter itu gituan sama suaminya?" kata Raka konyol malah mengira Ajeng iri.
"Bu-bukan begitu, Iihhh kamu kok malah mikir ke situ. Aku kan cuma ga habis pikir pasien di tinggal sendirian dan dia malah enyak-enyak sama...."
"Kamu mau juga kan enyak-enyak, makanya kamu kesal." Raka memotong pembicaraan Ajeng dan langsung dijitak kepalanya oleh Ajeng.
"Otaknya ke situ mulu, dengerin dulu. Coba kalau kejadian kamu jatuh atau celaka di ruangan terapi gak ada yang tahu, untung nya aku ada pas kamu mau jatuh tadi."
Raka mengusap kepalanya yang dijitak Ajeng tadi. Dia merasa baru Ajeng cewek yang pertama berani menjitak kepalanya.
Ajeng kemudian melihat ekspresi Raka yang barusan dijitaknya. Ajeng baru sadar kalau dia reflek melakukan itu. Pasti dia kesal. Apa dia sudah keterlaluan padanya.
"Kok kamu bisa menuduh dia sudah melakukan sex?" tanya Raka.
"Ya tahulah tadi sempat lihat ada bekas kiss mark di lehernya."
Raka kemudian menyorongkan badannya ke badan Ajeng. Sehingga badannya mepet dengan badan Ajeng.
"Ma-mau a-apa kamu?" tanya Ajeng gelagapan melihat wajah Raka yang sudah mendekat sampai hidung mereka pun beradu. Kemudian Raka mencium bibir Ajeng dengan lembut. Tentu saja Ajeng kaget Raka tiba-tiba mencium bibirnya. Hanya lima detik Raka mencium bibirnya. Raka langsung beralih ke leher Ajeng. Dia pun kemudian membuat kiss mark di leher Ajeng yang mulus. Ajeng merasakan geli dan nikmat entah mungkin mulutnya seperti ikan dalam akuarium.
Belum hilang rasa kaget campur enak itu. Raka kemudian menghentikannya dan menatap Ajeng dengan tatapan yang tidak dimengerti Ajeng.
"Kamu udah dapat kiss mark dariku, apa itu tanda kalau kita sudah melakukan hubungan sex?" tanya Raka jahil.
Ajeng menutup mulutnya yang mengganga. Dia mencoba mencerna apa yang barusan terjadi.
Ajeng mengusap tanda merah di lehernya. Dia tidak mampu berkata apa-apa. Mungkin Raka ada benarnya juga.
"Kalau kamu sanggup menjadi terapisku, aku akan nurut saja, yang penting kamu mau?" kata Raka sambil kembali tertawa melihat wajah Ajeng yang serius dan tegang.
Ajeng masih shock dengan ciumannya tadi dengan Raka. Bahkan jantung nya masih berdetak kencang. Ini pertama buatnya. Namun sepertinya tidak untuk Raka. Dia tidak amatir melakukannya. Cukup lihai dan Ajeng merasa. KETAGIHAN.
💋. 💋. 💋. 💋. 💋
Seorang laki-laki berjas rapi Rambutnya cepak bermata tajam, dan wajahnya mirip artis karena ganteng membawa sebuah buket bunga mawar putih berjalan di koridor rumah sakit. Kedatangannya membuat semua orang takjub seperti melihat seorang pangeran. Bahkan para suster atau perawat tampak berdecak kagum melihatnya.
Lalu laki-laki itu tiba di depan sebuah ruangan kamar rawat dan masuk ke dalam ruangan itu.
Laki-laki itu menghampiri seseorang yang terbaring lemah. Lalu menyimpan buket bunga itu di atas nakas brankar . Laki-laki itu terlihat sedih melihat pasien itu.
Nama pasien itu tertulis di brankar "Ny. Alma Nadia". Laki-laki itu pun memegang tangan pasien perempuan itu sambil menitikkan air matanya.
"Kau sudah datang Bayu?"
Terdengar suara datang dari seseorang yang baru juga datang ke ruangan itu. Bayu membalikkan badannya setelah menghapus air matanya.
"Randy?" lirih Bayu.
Bersambung......
Horeeeeee Bayu muncul juga. Author pecah telur juga nih..
Makin penasaran nggak sih. Siapa sebenarnya pasien yang terbaring di sana.
Lanjutin jangan???
Promooin dulu dong Bayu!
"Bayu yang ganteng maksimal ngasih tahu buat reader jangan lupa like, komen, dan vote. Doakan supaya author kere ini eh yang keren nih sehat supaya bisa nulis kelanjutannya."
Author menangis gara gara disebut kere..😂🤣
mungkin dengan raka jujur di awal ajeng akan mengerti tidak salah paham begini