Hampir 3 tahun menikah, Alina yang dulu keguguran tak kembali dikaruniai anak. Dikira menikah dengan pria yang dicintai akan terasa indah, nyatanya ibu mertua dan adik iparnya memperlakukannya dengan buruk. Suatu ketika, ia menyadari perubahan pada diri sang suami, hingga akhirnya Alina menyadari bahwa Gio telah berpaling kala dirinya tengah hamil. Alina pun berusaha mencari tahu soal perselingkuhan suaminya, hingga akhirnya ia malah mendapat celaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mata Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APAKAH MATAHARI TERBIT DARI BARAT?
Kenapa Axel cuma bisa membuat masalah? Yoshia sampai dipanggil ke hadapan Shinta setelah sebuah kabar tentang Axel merebak di internet. Berita itu memuat bahwa Axel tengah berduaan dengan seorang wanita beristri di sebuah restoran. Terlampir juga bukti foto Axel bersama dengan wanita yang dimaksud, tapi wajahnya sengaja di-blur.
"Apa kau tahu siapa wanita ini?" tanya Shinta, penat seusai melihat artikel itu.
Yoshia menggeleng memelas. "Axel tak pernah berhubungan dengan wanita manapun, Presdir," jawabnya gugup dan terbata-bata.
Shinta mendengus, merenung dengan mata memandangi gedung-gedung yang terpampang di jendela. "Apa dia berhenti berakting karena ini?" serunya geram menyimpulkan.
Pertanyaan ini entah buat siapa, jadi Yoshia hanya bergeming seraya menunduk. Teringat olehnya ucapan Axel yang terus mendesaknya untuk melakukan perintahnya. Hanya saja, ia ragu untuk melakukannya, dan ia rasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahasnya.
"Apa dia masih keras kepala mau keluar dari agensi?"
Kebetulan yang tepat, sampai Yoshia mengangkat wajahnya dan tercengang. "Iya, Presdir. Dia terus mendesak saya untuk mengurus hal ini," jawabnya, tak perlu ragu lagi untuk mengatakannya.
"Jika itu memang maunya, katakan padanya bahwa aku menyetujui permintaannya. Segera urus berkasnya, aku sudah pusing dengan tingkahnya itu!" umpat Shinta ketus, lalu memijat keningnya.
Sebenarnya, berat bagi Yoshia untuk melakukan perintah itu. Sangat disayangkan jika Axel memang benar-benar keluar dari agensi. Ia setengah hati menjawab perintah Shinta itu, lalu keluar ruangan dengan wajah muram.
Tidak bisa begini, ia harus mencegahnya! Pikirnya, lalu langkahnya terhenti dan ekspresi penuh tekad muncul di wajahnya. "Iya! Belum terlambat untuk mengubah arah pikirannya. Aku harus membujuknya lagi," gumamnya.
...***...
Pekerjaan sudah dilakukan oleh Kumala, jadinya Alina tak melakukan apa pun selain duduk di kamar. Jika senggang begini rasa kantuk menyerang. Alina menguap terus, tapi tak mau berbaring. Kepingin mengerjakan sesuatu meski ringan, tetap dilarang.
Apa jalan-jalan saja di taman? Tapi, matahari bersinar terik. Bermain ponsel juga bosan. Alina juga tidak hobi nonton TV. Jadi, yang dilakukannya adalah berdiri di dekat balkon seraya memandangi langit biru dan taman di bawahnya.
Menguap lagi! Mata sepat. Apa berbaring sebentar saja di ranjang? Tertatih Alina menghampiri ranjang, tetapi pintunya diketuk sesaat ia akan menyentuh ranjang.
Siapa, ya? Tidak mungkin Gio, pikir Alina mengernyit. "Siapa? Masuk aja," serunya kemudian.
Apa matahari terbit dari barat? Grace ke kamarnya, bahkan tersenyum padanya. Alina waspada dan heran, apalagi ketika gadis itu masuk ke kamarnya sambil membawa nampan berisi roti panggang dan susu cokelat.
"Kak, lagi apa?" tanya Grace sambil masuk ke dalam kamar.
"Aaaaa ... nggak ngapa-ngapain sih?" jawab Alina grogi.
"Ngemil, yuk! Aku lagi bosen di kamar." Nada ceria Grace terdengar aneh di telinga Alina, apalagi ketika dia meletakkan nampan berisi makanan di dekatnya.
Alina menatap Grace dan nampan itu bergantian, mematung ketika dia menyodorkannya. "Katanya orang hamil laperan, ya? Karena aku lagi bosen, ngemil bareng sambil nonton drakor, yuk!" cerocos gadis itu, riang.
Diam-diam Alina tersenyum, tapi tetap masih menduga. Apa roti bakar dan susunya diberi sesuatu semisal racun? Grace menyadari bahwa keengganan yang terlihat di wajah Alina menandakan bahwa dia mencurigainya.
Tentu saja, Grace punya rencana cadangan soal itu. Roti bakar itu ia bagi dua, begitu juga dengan susu cokelatnya. Ia sudah mempersiapkan piring dan gelas kosong untuk menjalankan rencana b itu.
"Ayo, dimakan, Kak," ajak Grace, menyuapkan sepotong roti ke dalam mulutnya.
Jadi merasa bersalah karena mencurigainya yang tidak-tidak. Mungkin Grace memang sudah berubah seperti Gio karena ada calon keponakan di dalam rahimnya. Alina tersenyum. Syukurlah anak ini membawa keberkahan.
Grace tersenyum sambil memperhatikan Alina memakan roti bakar dan susu yang disediakannya. Rencananya berhasil. Kini, langkah selanjutnya. Ia meninggalkan separuh rotinya, lalu melompat ke depan TV sambil berseru.
"Oiya! Aku kan janji mau nonton drakor bareng. Kak, mau nonton drakor yang mana?" tanya Grace, memperhatikan aplikasi streaming untuk nonton film dan series.
Jangankan nonton drakor, nonton sinetron saja tidak penah. Kalau ditanya judul drakor apa yang mau ditonton, jelas saja Alina bingung sambil meringis.
"Terserah kamu aja deh, yang mana aja boleh," jawab Alina, cari aman saja.
Grace menayangkan drama korea pilihannya di aplikasi, yang kemudian ia sambungkan ke TV. Karena tak terlalu akrab dan canggung, keduanya menonton tanpa mengobrol. Hanya roti dan susu yang menjadi dalih agar tidak memulai percakapan.
Tapi, Alina tak begitu suka menonton drama. Ia juga tidak nyaman hening terus. Mungkin ia bisa memulai hubungan baik dengan Grace lewat obrolan ringan. Siapa tahu mereka akan akrab setelah ini?
"Gimana sekolahmu, Grace? Apa berjalan lancar?" tanya Alina, grogi dan ragu.
Mood boster Grace langsung turun, di dalam hati menggerutu karena sekolah adalah hal yang paling tidak disukainya. "Biasa aja, kok. Lancar, Kak," jawabnya tanpa menatap Alina, menyembunyikan kejengkelannya.
"Syukur deh. Tapi, kalau kamu kesulitan belajar atau ada PR yang susah, kamu bisa tanya aja sama aku, ya."
Ketulusan Alina dicibir oleh Grace dalam hati. Minta bantuan sama wanita bodoh macam dia? Mana sudi! Yang ada nilainya tambah jeblok! "Iya, Kak. Nanti kalau ada PR aku minta ajarin ke Kakak," jawab Grace, nyengir tapi terpaksa.
Tapi, pembicaraan mereka cuma sampai situ, Alina tidak tahu mau mengobrol apalagi. Sisa roti bakar di piringnya ia lahap sebagai dalih sambil memikirkan topik pembicaraan selanjutnya.
Pintu kamar ini kebetulan terbuka, Betrand tak sengaja lewat di depan kamar. Namun, ia berhenti saat melihat Grace dan Alina tertawa dan makan roti bakar bersama sambil menonton sebuah drama. Pemandangan yang aneh dan tak biasa. Grace yang selalu frontal menunjukkan kedengkiannya pada Alina, kini terlihat akrab dengannya. Apa gadis itu memiliki maksud terselubung?
Apalagi ini, Grace tiba-tiba menyapa ketika menyadari keberadaannya. Bukannya gadis itu tak menyukainya sama sekali? "Abang baru pulang kuliah?" tanya Grace, sok akrab.
Tak mungkin ia membalas sapaan halus dengan ucapan sarkas, 'kan? Jadi, Betrand menyahutinya dengan senyum setengah canggung. "Ya, baru aja."
"Udah makan belum? Nonton bareng, yuk!" seru Grece lagi, lebih riang.
Apa yang masuk ke dalam mulutnya sampai sikapnya begitu? Tumben sekali dia mau mengajaknya bergabung. Baru ia ingat betapa sinis tatapan yang ditujukan Grace padanya kemarin.
"Nggak usah, aku mau istirahat, capek. Kalian lanjutin aja nontonnya," jawab Betrand sungkan, lalu beralih tatapannya pada Alina. "Kak, aku permisi dulu, ya."
Alina mengangguk dan tersenyum. Dengan langkah kaku dan bingung, Betrand meninggalkan tempat itu. Kini, fokusnya Grace kembali pada Alina. Kadang, ia curiga pada Alina dan Betrand ini—keduanya saling melindungi, terlebih lagi Betrand. Dugaannya, mungkinkah mereka saling memiliki rasa?
Grace menatapnya cukup intens dengan mata menyipit. Alina tak sengaja memergoki, Grace sontak memalingkan wajah dan panik. Dalam hati, Grace bergumam waswas, cemas jika Alina sampai melihat ekspresinya itu.
Akan tetapi, Alina tak terlalu memikirkan meski sempat melihatnya. Ia teralihkan oleh dering notifikasi yang masuk ke dalam ponselnya. Gio mengirimkan Whatsapp! Hati Alina langsung berbunga-bunga dan senyumnya terkembang. Buru-buru ia membuka pesan itu, lalu membacanya dengan hati berdebar.
"Sayang, aku mau mengajakmu makan malam. Jadi, dandan yang cantik, ya. Aku akan menjemputmu sekitar jam 7 malam." Itu isi pesan dari Gio.
Makan malam? Ini adalah kali pertama Gio mengajaknya, setelah 2 tahun mereka tak lagi makan malam di luar bersama. Grace mengamati sejenak, lalu tersenyum licik sambil menatap layar TV.
Alina, tamatlah riwayatmu! Gumamnya dalam hati.[]