Indonesia
NovelToon NovelToon
Reingkarnasi Naraya

Reingkarnasi Naraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Keluarga & Kasih Sayang / Fantasi Wanita
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: leasena

Naraya seorang gadis muda berumur 20 tahun sedari dulu ia diperlakukan seperti anak tiri, tak pernah merasakan kasih sayang. Sepulang ia dari toko entah bus dari arah mana yang menabrak nya, antara perasaan senang karna ia bisa beristirahat atau sedih karna ia tak bisa bertemu teman nya lagi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leasena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kota hujan

Hujan turun pelan di pagi yang dingin. Butiran air menetes di kaca jendela kamar Rara, memantulkan bayangan dirinya yang sedang bersiap-siap. Hari ini bukan hari biasa hari ini ia akan pindah ke kota hujan, tempat Pandu memulai studio desain barunya. Setelah sekian lama menempuh jarak, mereka akhirnya memutuskan untuk hidup di kota yang sama, bukan karena ingin selalu bersama setiap waktu, tapi karena keduanya sama-sama ingin membangun masa depan yang searah.

Pandu sudah menunggunya di depan rumah, dengan mobil penuh barang. Ia mengenakan jaket hitam dan tersenyum lebar ketika Rara keluar membawa koper terakhirnya.

“Sudah siap, Nona Pustakawan?” candanya.

Rara terkekeh, “Siap, Tuan Desainer.”

Perjalanan ke kota baru itu diisi dengan tawa kecil dan obrolan ringan. Tentang masa lalu, tentang rencana, bahkan tentang ketakutan kecil yang mereka simpan. Pandu menatap jalan di depannya dengan tenang, sementara Rara sesekali memandang ke luar jendela, melihat pepohonan yang basah dan jalanan yang berkilau.

“Lucu ya,” ujar Rara pelan.

“Apa yang lucu?”

“Dulu aku selalu takut hujan. Tapi sekarang, aku malah merasa tenang setiap hujan turun.”

Pandu tersenyum. “Mungkin karena kali ini kamu nggak sendirian.”

Setibanya di kota, udara terasa lebih sejuk dan lembab. Pandu mengantar Rara ke rumah kontrakan kecil yang sudah ia siapkan. Tidak besar, tapi hangat dan penuh cahaya dari jendela besar di ruang tamu. Di pojok ruangan, sudah ada rak buku yang Pandu buat sendiri — terisi separuh oleh buku-buku Rara dan separuh lagi oleh sketchbook miliknya.

Rara memandangi ruangan itu sambil tersenyum. “Kamu ingat semua yang aku suka, ya?”

“Kalau soal kamu, aku nggak pernah lupa,” jawab Pandu ringan.

Hari-hari pertama mereka di kota baru berjalan sederhana namun hangat. Pagi diisi dengan sarapan seadanya, siang dengan pekerjaan masing-masing, dan malam dengan cerita. Kadang mereka bertengkar soal hal kecil — siapa yang lupa menutup toples gula, atau siapa yang terlalu lama di kamar mandi — tapi semuanya selalu berakhir dengan tawa.

Suatu malam, saat hujan deras mengguyur kota, listrik tiba-tiba padam. Rara menyalakan lilin, dan mereka duduk berdua di ruang tamu. Pandu mengambil gitar dan mulai memetik lagu yang lembut.

“Masih inget lagu ini?” tanyanya.

Rara mengangguk. Itu lagu yang dulu sering mereka nyanyikan di taman sekolah.

“Lucu ya,” katanya, “dulu kita nyanyi lagu ini waktu masih malu-malu. Sekarang…”

“Sekarang kita cuma malu kalau suara fals,” seloroh Pandu.

Mereka tertawa bersamaan.

Namun di balik semua tawa itu, Rara masih menyimpan sedikit rasa takut — takut kehilangan, takut semuanya berubah lagi. Suatu malam ia menatap Pandu yang tertidur di sofa, lampu lilin hampir padam. Dalam hati ia berkata, “Kalau nanti aku takut lagi, aku cuma perlu ingat… bahwa dia tetap di sini.”

Pandu membuka matanya perlahan dan melihat Rara menatapnya.

“Kenapa belum tidur?”

Rara tersenyum kecil. “Aku cuma pengen ngelihat kamu sebentar.”

Pandu bangkit, lalu menggenggam tangan Rara. “Ra, kita nggak perlu sempurna buat bahagia. Kita cuma perlu saling percaya, kayak dulu waktu semua hampir hilang.”

Rara menunduk pelan, lalu menjawab, “Aku tahu, Du. Dan kali ini, aku nggak akan melepaskan apa yang udah aku perjuangkan.”

Malam itu hujan berhenti. Mereka duduk berdua di balkon kecil, menatap langit yang mulai cerah. Pandu merangkul Rara, dan Rara bersandar di bahunya. Tidak ada janji besar, tidak ada kata romantis yang berlebihan — hanya dua orang yang akhirnya mengerti arti kesetiaan setelah melalui banyak badai.

Rara menatap bintang samar di balik awan dan tersenyum. “Ternyata, kebahagiaan itu bukan tentang punya segalanya. Tapi tentang punya seseorang yang tetap bertahan, meski segalanya bisa berubah.”

Pandu menatapnya dan berbisik, “Dan aku tetap di sini, Ra. Selalu.”

Dan malam itu, di kota hujan yang sejuk dan sunyi, cinta mereka terasa sederhana — tapi nyata, hangat, dan tumbuh seperti pagi yang selalu datang setelah hujan reda.

1
Murni Dewita
👣
Moh Rifti
up
Moh Rifti
lanjut 💪💪
Moh Rifti
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Moh Rifti
up👍
Arabelle Arinne
Menghanyutkan banget.
🌹Yuukidarkness🥀✨
Masukin ke list favorite aku deh, seru banget pokoknya.
Fannya
Aduh, kelar baca cerita ini berasa kaya kelar perang. Keren banget! 👏🏼
liasena: terimakasih sudah dibaca, novel ini menjadi novel pertama saya jadi mohon maaf jika ada yang kurang pas
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!