Sejak kematian ibunya, hidup Kayla berubah menjadi neraka. Diambil oleh keluarga paman yang serakah demi warisan yang menjadi haknya, gadis kecil itu tumbuh bukan sebagai keponakan, melainkan sebagai budak, samsak tinju, dan sasaran hinaan selama bertahun-tahun. Dunianya hanyalah ruang bawah tanah yang gelap dan lembap.
Lalu takdir mengetuk lewat cara yang paling kejam. Untuk menyelamatkan diri, keluarga itu menukar Kayla sebagai pengantin—menyerahkannya kepada Arkan Pratama, bos mafia paling ditakuti di kota, sebagai pengganti putri kandung mereka yang sesungguhnya. Malam pertama mereka mengungkap sebuah kebenaran yang mengubah segalanya: gadis rapuh penuh luka ini bukanlah perempuan yang Arkan kira.
Lelaki yang datang untuk membalas dendam justru menemukan sesuatu yang tak pernah ia cari—seseorang yang ingin ia lindungi dengan segenap kegelapannya. Sementara Kayla perlahan belajar mengeja dunia, tertawa, dan mencintai, roda pembalasan mulai berputar. Dan mereka yang pernah memadamkan cahayanya… akan segera menuai ganjaran setimpal.
Bisakah cinta menyembuhkan jiwa yang telah remuk? Dan seberapa jauh seorang mafia rela melangkah demi perempuan yang menangis air mata jiwa untuk sampai kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Terakhir — Epilog
Kayla memasuki vila yang dulu menjadi milik para penyekapnya, ditemani Arkan dan Bu Marni yang khawatir keadaannya memburuk. Arkan sebenarnya enggan mengizinkannya datang, tapi karena tak berhasil membujuk, ia mengalah dengan satu syarat: mereka akan langsung pergi begitu Kayla merasa tak enak badan.
Namun itu tak terjadi. Kayla menyusuri setiap sudut dengan saksama, sesuatu yang tak pernah bisa ia lakukan dulu. Tetapi yang benar-benar ingin ia lihat adalah ruang bawah tanah, tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya.
Arkan mengepalkan tinju membayangkan istrinya pernah berada di tempat sesempit dan segelap itu, dengan bau lembap yang menyengat. Tapi melihat Kayla menelusuri tiap sudut bilik buruk itu, ia hanya bisa menatap, tak mengerti. Dinding-dindingnya sudah tak jelas lagi apakah dahulu pernah berwarna.
"Aku hanya sedang mengingat-ingat," ujar Kayla, menjawab tatapan bingung suaminya sambil menepikan kesedihannya. "Bakar semuanya, jangan sisakan satu kenangan pun."
Kayla hanya ingin tahu apa yang akan ia rasakan saat kembali ke tempat yang telah merampas masa mudanya. Namun kenyataannya, ia telah benar-benar melampaui masa lalu itu.
Barulah Arkan paham bahwa Kayla melakukannya semata untuk membuka jalan menuju hidup barunya.
Arkan telah mengembalikan semua yang dirampas dari Kayla, mulai dari seluruh warisannya hingga sebuah dana perwalian yang diserahkan Pak Gunawan, yang berhasil ia selamatkan sebelum ia disekap dulu.
Arkan menaruh semua itu di sebuah rekening pribadi yang hanya Kayla yang tahu dan bisa ia gunakan sesuka hati. Lagi pula, segala yang dimiliki Arkan kini juga menjadi milik Kayla.
Ia menawari Pak Gunawan untuk menjadi pengelola bisnisnya. Namun mantan agen itu melangkah lebih jauh: ia mulai mendekati Bu Marni, yang seperti dirinya, pernah kehilangan segalanya.
"Bakar," perintah Arkan. "Jangan sisakan satu bata pun berdiri, jangan sisakan satu kenangan pun dari tempat ini." Ia menggandeng tangan Kayla dan melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang. Semuanya akan terkubur dalam kobaran api, bersama seluruh kenangan.
Dari dalam mobil mereka mendengar ledakan demi ledakan, dan api membumbung bagai neraka yang memang pernah ada di tempat itu. Kayla menyandarkan kepalanya di dada Arkan, tempat yang selalu terasa seperti perlindungan paling aman baginya.
"Aku punya kejutan untukmu, sayangku," ujar Arkan sambil menatapnya, tersenyum.
"Beri tahu aku, aku harus tahu," desaknya.
"Sudah kubilang ini kejutan," ia menolak memberitahu sambil tertawa.
"Kalau begitu seharusnya kau tak usah bilang. Aku tak tahan dengan rasa penasaran. Jadi, katakan."
Arkan menyerah. Mustahil melawan Kayla; gadis itu begitu meyakinkan dengan caranya yang polos.
"Baiklah, sayangku," ia mengalah, merasa lebih baik memberitahunya. "Dulu kau bertanya seperti apa laut itu. Aku sudah memutuskan mengambil libur beberapa hari untuk mengajakmu melihatnya langsung."
Kayla girang bukan main. Ia teringat ibunya, yang di tengah sakit parahnya pernah menceritakan seperti apa ombak, cakrawala, bahkan senja. Ia tak bisa menahan segurat kesedihan, tetapi di sisinya ada Arkan dan bayi dalam kandungannya, sehingga ia pun tak kuasa menahan senyum.
Untuk sementara, Arkan membawanya ke Bali. Ia tak ingin pergi terlalu jauh mengingat kehamilan Kayla dan keharusan menempuh perjalanan udara. Ia berjanji dalam hati akan mengajak Kayla mengelilingi dunia setelah bayi mereka lahir.
BERTAHUN-TAHUN KEMUDIAN
Hari itu ulang tahun keempat Arkan Jr. kecil, nama yang Kayla pilih untuk pangeran kecilnya, kebanggaan sang ayah. Bu Marni menyiapkan sebuah pesta untuk merayakannya. Meski masih kecil, anak itu sangat cerdas dan luar biasa sopan, tetapi wataknya sama persis dengan ayahnya. Ia bahkan sudah pernah bermasalah di sekolah gara-gara membela seorang teman perempuan sekelasnya.
Seorang anak lelaki menindas gadis itu, dan Arkan Jr. sudah belajar bahwa perempuan tak boleh disakiti. Ia mendengarnya dari sang ayah. Dan ia ingin menjadi seperti ayahnya.
Setiap kali pihak sekolah menelepon sang ibu untuk melaporkan insiden, Kayla menyerahkan urusan itu kepada suaminya, dan dengan begitu masalah pun selesai. Sebab Arkan akan mengancam seluruh sekolah, membeli tempat itu dan membuat semua orang kehilangan pekerjaan. Begitulah mereka belajar untuk takut sekaligus menghormati seluruh keluarga itu.
"Sudah waktunya memotong kue," kata sang ibu sambil mengelus perutnya yang mengandung tujuh bulan, calon adik perempuan. Anak itu mendekat sambil bertepuk tangan.
"Kau harus membuat permohonan, Sayang," kata Bu Marni. Anak itu mengangguk lalu mendekat, berdiri di depan kue sambil memejamkan mata mungilnya, mengucapkan permohonan di hadapan para tamu.
"Apa yang tadi kauminta, sayang?"
"Mama, itu rahasia," jawab Jr. Tapi Kayla terus mendesak, membuat suaminya tergelak sambil menghitung berapa menit lagi si kecil akan luluh, sebab semua orang memang selalu menyerah pada bujukan Kayla.
"Baiklah, Mama." Akhirnya ia menyerah di tengah tawa ayahnya; butuh sepuluh menit sampai ia mau bicara.
"Aku minta, kalau nanti aku sudah besar, gadis cantik di kelasku menjadi pacarku, karena aku akan menikahinya."
"Itu tidak mungkin, Sayang," Kayla tampak bimbang. "Kau masih terlalu kecil untuk memikirkan pernikahan."
"Kalau begitu, seharusnya Mama tak usah bertanya," sahutnya sambil menjauh, berbaur dengan anak-anak seusianya.
"Ada apa, sayangku?" tanya Arkan saat menghampiri Kayla yang tampak termenung.
Lelaki itu tergelak begitu Kayla menceritakan apa yang baru saja diucapkan putra mereka.
Ia menggenggam tangan Kayla, lalu duduk di sisinya.
"Apa yang kaupikirkan?"
"Bahwa takdir bukan kita yang menggariskannya."
"Benar sekali, cintaku. Kaulah buktinya. Dulu aku sudah membayangkan akan terikat pada perempuan lain, tapi takdirku ternyata berkata lain… Ternyata kau, sayangku. Aku mencintaimu dengan segenap diriku."
"Dan kaulah takdirku… meski aku menangis air mata jiwa untuk sampai padamu." Ia dipeluk sang suami. "Tak akan pernah lagi, cintaku. Aku takkan membiarkanmu terluka lagi."
TAMAT