Alya Pramesti kehilangan segalanya dalam satu hari karier sebagai dokter yang dibangunnya bertahun-tahun hancur karena fitnah, dan tunangannya sendiri memilih berpaling ke pelukan wanita lain di depan matanya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, dia justru bertemu Raka Wirawan CEO dingin dan misterius yang menawarkan kesepakatan tak masuk akal: menjadi istri kontrak selama satu tahun. Bukan karena cinta, tapi demi memenuhi permintaan terakhir sang nenek yang sekarat.
Alya menerima, tanpa ekspektasi apa pun selain bertahan hidup dan membuktikan diri.
Namun semua berubah saat sebuah malam krisis memaksa Alya mengambil alih sebagai dokter menyelamatkan nyawa nenek Raka saat semua orang panik. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tanpa emosi itu melihat Alya bukan sekadar "istri di atas kertas", melainkan seseorang yang nilainya jauh lebih besar dari yang pernah disadari siapa pun termasuk orang-orang yang dulu membuang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris yang Tak Dikenal
Ruang rapat darurat kembali dipenuhi ketegangan, hanya beberapa minggu setelah keluarga Wirawan berhasil melewati badai skandal sebelumnya. Kali ini, tim hukum keluarga duduk mengelilingi meja panjang, menganalisis dokumen gugatan yang baru saja diterima dengan seksama.
"Menurut klaim penggugat," jelas kepala tim hukum, menyesuaikan kacamatanya sambil membaca berkas di tangannya, "Bagas Wirawan Pradana mengaku sebagai anak dari hubungan mendiang ayah Anda dengan seorang wanita lain, sekitar tiga puluh lima tahun lalu, sebelum pernikahan Bapak dengan Ibu Wirawan. Dia memiliki dokumen yang mengklaim adanya pengakuan tertulis dari mendiang ayah Anda, beserta hasil tes DNA yang katanya sudah dilakukan secara independen."
Ibu Raka duduk kaku mendengar penjelasan itu, wajahnya pucat namun berusaha keras mempertahankan ketenangannya. "Itu... tidak mungkin. Aku mengenal suamiku selama lebih dari tiga puluh tahun. Dia tidak pernah menyebutkan hal semacam ini."
"Bisa jadi memang benar tidak pernah ada hubungan itu, Bu," kata kepala tim hukum hati-hati, "atau bisa jadi ini rahasia yang sengaja disembunyikan mendiang suami Ibu, mengingat kita baru saja mengetahui betapa banyak hal yang beliau rahasiakan demi melindungi nama baik keluarga, termasuk soal Om Bayu."
Raka duduk diam, mencerna semua kemungkinan itu dengan kepala dingin, meskipun jelas terlihat beban baru mulai membebani pundaknya. "Apa pun kebenarannya, kita perlu verifikasi menyeluruh sebelum mengambil sikap apa pun. Aku tidak ingin gegabah menuduh atau menerima klaim ini tanpa bukti yang benar-benar kuat."
Alya, yang duduk di samping Raka sepanjang rapat itu, menggenggam tangannya erat sebagai bentuk dukungan diam-diam. Dia bisa merasakan betapa lelahnya suaminya menghadapi gelombang masalah yang datang bertubi-tubi sejak pernikahan mereka dimulai.
Setelah rapat panjang itu selesai, keluarga kembali berkumpul di ruang keluarga, mencoba mencerna kemungkinan kehadiran anggota keluarga baru yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Oma Ratna, meski terkejut, tampak jauh lebih tenang dibanding ibu Raka yang masih terlihat gemetar menahan emosi.
"Kalau memang benar dia anak dari suamiku," kata Oma Ratna pelan, suaranya penuh kebijaksanaan yang datang dari usia dan pengalaman panjang, "maka dia tetaplah bagian dari keluarga ini, terlepas dari bagaimana pun cara kelahirannya. Yang perlu kita cari tahu bukan hanya soal keabsahan klaim warisannya secara hukum, tapi juga niat sesungguhnya di balik gugatan ini."
"Maksud Oma?" tanya Alya, penasaran dengan sudut pandang itu.
"Kalau dia memang benar putra kandung mendiang anakku," jelas Oma Ratna, "kenapa dia tidak pernah muncul sebelumnya untuk sekadar mengenal keluarganya, dan baru muncul sekarang, tepat setelah badai skandal besar mereda, dengan tuntutan hukum sekaligus, bukan dengan niat baik mengenal keluarga? Itu yang mencurigakan bagiku."
Perkataan Oma Ratna itu membuat semua orang di ruangan terdiam, mempertimbangkan kemungkinan bahwa gugatan ini bukan sekadar soal pengakuan keluarga yang tulus, melainkan mungkin ada motif tersembunyi yang jauh lebih rumit di baliknya — apakah benar-benar murni soal hak waris, atau ada pihak lain yang memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan yang lebih besar.
Malam itu, setelah semua orang kembali ke kamar masing-masing, Alya dan Raka berbaring berdampingan, keduanya masih terjaga meski lampu kamar sudah dipadamkan.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alya pelan, menyentuh lengan Raka dalam gelap.
Raka menghela napas panjang. "Aku merasa seperti baru saja bisa bernapas lega sebentar, dan sekarang badai baru sudah menanti lagi. Aku mulai bertanya-tanya, apakah keluarga ini memang ditakdirkan untuk terus menghadapi masalah tanpa henti."
"Kita sudah melewati badai sebelumnya bersama-sama," kata Alya lembut, mendekat memeluknya dari samping. "Dan kita akan melewati ini juga, apa pun kebenarannya nanti. Aku akan selalu di sampingmu, Raka. Apa pun yang terjadi."
Raka membalas pelukan itu erat, menemukan ketenangan di tengah kekhawatiran yang menggantung di benaknya. "Aku bersyukur memilikimu, Alya. Entah bagaimana caranya menghadapi semua ini tanpamu di sisiku."
Di tengah kegelapan malam itu, jauh dari kehangatan kamar mereka, sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Seorang pria muda keluar dari dalam mobil, wajahnya memiliki kemiripan samar namun jelas dengan wajah mendiang ayah Raka, tersenyum tipis penuh perhitungan sambil menatap gedung Wirawan Tower yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Bersiaplah, Kakak," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, senyumnya semakin melebar. "Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai."