Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Mantan Suami
Diam-diam, Syahzan mengikuti seseorang itu.
Mireya tampak tertawa. “Jangan berlari.” Ia menasihati seorang anak kecil.
"Siapa anak itu? Gumamnya?"
Bahkan Syahzan mengikuti Mireya yang masuk ke dalam toko pertanian. Namun, kali ini ia memilih menunggu dan bersembunyi di luar.
"Kenapa Mireya kembali kurus? Bukan kah Mama dan Luwi sudah ..."
Namun, ucapannya tak ia sambung. "Mireya, aku ingat sekali. Kecantikan dan kelembutanmu itu lah yang membuatku jatuh cinta padamu dulu."
Tak lama kemudia, Mireya keluar. Obrolan mereka terdengar sampai ke telinga Syahzan.
“Nyonya benar-benar tahu soal tanaman.”
"Nyonya? Mireya jadi Nyonya? Apa dia sudah menikah lagi?" Syahzan masih bersembunyi.
Mireya tampak tersenyum. “Sedikit kok, Pak.”
“Sedikit?” Pria paruh baya di dekatnya memegang keranjang belanja.
“Kalau ini sedikit, saya tidak tahu seperti apa kalau Nyonya benar-benar menguasai pertanian.”
Mireya terlihat tertawa kecil.
Anak kecil bersamanya menarik tangan Mireya.
“Ibu!”
Kembali kening Syahzan mengerut. "Ibu? Jadi, sekarang Mireya menjadi ibu anak itu?" Lalu tampak Syahzan menghitung dengan jarinya.
"Perceraian kami belum genap tiga bulan, dia sudah menikah?" Syahzan tampak semakin penasaran dan terus mengikuti mantan istrinya itu.
“Hm?”
“Ada biji semangka!” ucap anak kecil itu.
“Jangan diambil.”
“Kenapa?”
“Kita belum punya tempat untuk menanamnya.”
Anak kecil itu tampak kecewa. “Tapi aku suka semangka.”
“Nanti kita tanam kalau ada lahan yang cocok.”
Anak kecil itu tersenyum. “Janji?”
“Janji.”
Mireya kemudian memasukkan beberapa bibit sayuran ke keranjang.
Setelah itu, ia mengikuti mereka ke toko pupuk. Seperti tadi, dia masih sembunyi dan menunggu untuk memastikan.
Mireya menyerahkan sepasang sarung tangan baru untuk anak kecil tadi.
"Kenapa Mireya begitu perhatian dengan bocah itu?"
“Lihat, Ibu!”
"Bahkan, dia begitu fasih seolah sudah terbiasa memangil itu kepada Mireya," gumamnya lagi.
Perempuan itu kini membungkuk membantu memperbaiki tali sepatu anak itu. Kemudian anak itu berdiri dan menggenggam tangannya.
Mireya tersenyum. Senyum yang dulu sangat sering dilihat Syahzan. Namun entah kenapa sekarang terasa asing.
Setelah memastikan ternyata perempuan itu benar-benar mantan istrinya, akhirnya Syahzan melangkah mendekat.
“Mireya?”
Mireya yang mendengar suara yang tak asing memanggil namanya langsung menoleh.
Matanya membesar. Senyumnya menghilang.
Syahzan berdiri beberapa langkah di depannya.nTatapannya berpindah dari Mireya kepada anak kecil di sampingnya. Kemudian kepada Pak Can.
“Ini…” Ia kembali menatap Mireya.
“Mireya, ini benar-benar kamu?”
Mireya menggenggam tangan Elden sedikit lebih erat.
Pak Can langsung memperhatikan perubahan wajahnya.
Elden mendongak. “Ibu?”
Mireya menarik napas perlahan. “Elden, jangan jauh-jauh dari Ibu.”
Syahzan mendengar panggilan itu. "Ibu?" Tatapannya kembali jatuh kepada anak kecil tersebut.
Kemudian kepada cincin pernikahan yang baru telah melingkar di jari Mireya.
Wajahnya berubah. “Kau…”
Syahzan belum selesai bicara ketika sebuah suara terdengar dari belakang mereka.
“Nyonya Mireya!”
Mireya menoleh. Seorang pria dari toko pertanian tadi tampak berlari kecil membawa sebuah kantong.
“Nyonya, bibit stroberi tadi tertinggal.”
Mireya menerimanya. “Oh, terima kasih.”
Syahzan semakin bingung.
Nyonya?
Bibit?
Anak kecil?
Pria tua?
Dan cincin?
Sementara itu, dari dalam mobil yang berhenti tidak jauh dari sana, seorang pria memperhatikan kerumunan tersebut.
Arven.
Ia akhirnya turun dari kendaraan. Tatapannya langsung tertuju kepada Mireya. Lalu kepada pria yang berdiri di depannya.
Arven tidak mengenalnya. Namun ia melihat jelas cara pria itu memandang Mireya.
Tatapan yang terlalu lama. Terlalu mengenal. Arven melangkah maju.
Dan suara dinginnya terdengar dari belakang Mireya. “Mireya.”
Mireya membeku. Syahzan ikut menoleh. Arven berdiri beberapa meter dari mereka.
Tatapannya berpindah kepada Syahzan.
Dingin.
Tajam.
Tidak ramah.
Kemudian Arven berkata,
“Kau tidak memperkenalkan suamimu padanya?”
Mireya menelan ludah. Syahzan membelalakkan mata. 'Suami? Jadi dia benar-benar telah menikah? Padahal, perceraian kami belum genap tiga bulan?'
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?