Cerita ringan
###
Seperti halnya Tasydid atau Syaddah yang terdapat dalam hukum Gunnah Musyaddadah, yang melambangkan penekanan pada suatu konsonan yang dituliskan dengan symbol konsonan ganda. Tak ubahnya hatiku padamu yang selalu terikat serta penuh penekanan.
-Ghibran Naufal Rizal
~
Bercerita tentang cinta seorang pemuda badboys pada gadis bercadar.
Datang dari dunia yang berbeda membuat kisah cinta mereka penuh lika liku.
Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maju selangkah
"Assalamu'alaikum,"
"Waalaikum salam."
Hafsha terdiam sejenak, matanya mengerjap beberapa kali saat ia membuka pintu. Di sana sudah ada mang Ucup serta Ghibran yang terang-terangan melambaikan tangannya pada Hafsha.
"Abinya ada, Neng?" tanya Mang Ucup menyadarkan Hafsha dari keterkejutannya.
"Eh ada, Mang. Mari silahkan masuk." Hafsha bergeser membiarkan kedua laki-laki berbeda generasi itu masuk.
"Silahkan duduk. Hafsha panggil Abi dulu." Mang Ucup mengangguk kemudian ia duduk diikuti Ghibran.
"Mang," Ghibran menoleh melihat mang Ucup.
"Bismillah, semoga Allah memperlancar rencana kita," ucap Mang Ucup seraya menepuk lengan Ghibran yang saat ini tengah menunduk gugup.
"Loh ada Mang Ucup sama Ghibran, sudah lama, Mang?" tanya Kiai Hasyim dan menyalami kedua laki-laki itu.
"Belum lama, Kyai," jawab Mang Ucup, ia kembali duduk setelah bersalaman dengan Kyai Hasyim.
"Ini teh tumben, aya naon, ada apa?" tanya Kiai Hasyim lagi. Ia menegakkan duduknya menatap lebih serius pada mang Ucup.
Namun, saat mang Ucup hendak berbicara tiba-tiba Umi datang diiringi Hafsha yang datang dengan nampan berisi beberapa cangkir teh.
"Diminum dulu atuh, Mang, Nak, Ghibran," ucap Umi, kini ia ikut duduk bersama suaminya.
Ghibran mengangguk pelan, seraya tersenyum pada Umi. Ia bahkan masih menyempatkan melirik Hafsha yang duduk di samping Uminya.
"Sok diminum dulu, biar lebih rileks bicarana." Pinta Kiai Hasyim.
Mang Ucup dan Ghibran pun meminum teh yang disajikan oleh Hafsha.
"Jadi begini Kiai, mungkin saya langsung saja ya. Ghibran ini bermaksud ingin mengenal lebih dekat, Neng Hafsha. Jika diizinkan, Ghibran ingin berta'aruf dengan, Neng Hafsha," ucap Mang Ucup pada akhirnya ia berbicara langsung pada intinya.
"Masya Allah," sahut Kiai Hasyim serta istri secara bersamaan.
Namun, berbeda dengan Hafsha, gadis itu tak mengucapkan apapun dari bibirnya. Ia hanya menunduk dengan tangan saling meremas. Detak jantungnya semakin cepat.
Sejak kedatangan Ghibran tadi saja perasaannya sudah dibuat tak karuan, ia tak menyangka jika Ghibran serius dengan perkataannya tadi sore. Ditambah lagi sekarang pemuda itu datang dengan niat baik, ingin berta'aruf dengannya.
"Saya tahu Ghibran ini memang minim dalam masalah agama, tetapi yang saya kagum karena dia mau belajar. Sejak dia mengatakan bahwa ia menyukai, Neng Hafsha. Dia semakin gencar mendekati saya, bertanya tentang apapun yang penting berhubungan dengan Agama Islam. Katanya hanya jika berbicara tentang Agamalah, Neng Hafsha, mau berbicara dengannya. Tadi selepas magrib, dia meminta saya untuk meminta izin kepada Kyai, bahwa Ghibran ingin mengenal Neng Hafsha lebih jauh. Tapi, keputusan saya kembalikan lagi pada Kyai sekeluarga." Jelas Mang Ucup panjang lebar.
Kyai Hasyim mengangguk-angguk paham mendengar penuturan mang Ucup barusan. Begitu juga Umi, ia hanya mengangguk mendengarkan dengan setia. Sementara Hafsha sudah tidak bisa dijabarkan lagi bagaimana perasaannya.
"Allahu akbar. Masya Allah, saya senang mendengar seorang anak muda yang mau mendalami ajaran agama Islam. Saya bangga mendengarnya, jangan pernah menyerah ya, Nak, tetap semangat. Insya Allah saya juga siap membantu hijrahmu. Tapi, mengenai ta'aruf, saya tidak punya hak untuk mengambil keputusan. Biar Hafsha sendiri yang menjawab, saya dan istri hanya ikut saja. Karena saya beserta istri tidak bisa memaksakan kehendak, Hafsha ini punya pendirian yang kuat. Dan itu tidak bisa digoyahkan walau dengan orang tuanya sendiri," tutur Kiai Hasyim.
"Betul itu, Mang. Kemarin saja Ustaz Fikri dia tolak." Umi menggeleng pelan, "saya tidak tahu calon suami seperti apa yang Hafsha inginkan. Katanya sih dia sudah punya calon seperti keinginannya sendiri," imbuh Umi, menimpali ucapan suaminya.
Mendengar itu, Mang Ucup menoleh pada Ghibran. Bukan ingin mematahkan semangat pemuda di sampingnya, tetapi selevel Ustaz Fikri saja tidak berhasil mendapatkan hati Hafsha bagaimana dengan Ghibran yang bak kertas kosong.
bawangnya thor q jadi mewek
bawangnya thor q jadi mewek
q jd mewek