Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Koper yang Tetap Kosong
Koper kecil berwarna cokelat itu masih terbuka di lantai kamar ketika malam turun.
Alya belum memasukkan satu helai pakaian pun ke dalamnya.
Ia hanya duduk di tepi ranjang, memandangi koper tersebut sambil memeluk lutut. Di sebelahnya, ponsel masih tergeletak dengan layar gelap. Tidak ada balasan dari Arga. Tidak ada panggilan. Tidak ada pertanyaan mengapa ia tidak menjawab pesannya sore tadi.
Barangkali Arga bahkan tidak menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Alya memilih diam.
Di luar jendela, langit Jakarta berubah kelabu. Awan menggantung rendah, menahan hujan yang sepertinya akan turun lagi. Kamar itu luas dan mewah, dipenuhi furnitur mahal yang dipilih oleh desainer interior sebelum Alya menikah. Dinding berwarna krem, lampu gantung kecil, lemari kayu jati, serta tirai panjang yang menjuntai hingga lantai.
Semuanya indah.
Semuanya terasa asing.
Alya mengusap punggung tangannya yang dingin. Sejak pulang dari klinik, pikirannya tidak berhenti mengingat wajah dokter tadi siang. Tenang, hati-hati, tetapi menyimpan sesuatu yang membuat Alya takut.
*Ada beberapa nilai dalam darah yang perlu kita telusuri lebih jauh.*
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Ia mencoba membayangkan kemungkinan-kemungkinan buruk, lalu segera menghentikannya. Mungkin hanya anemia. Mungkin karena ia terlalu sering terlambat makan. Mungkin stres. Mungkin tubuhnya hanya butuh istirahat.
Namun jauh di dalam hati, ada rasa cemas yang tidak bisa ia singkirkan.
Ia menunduk dan membuka laci meja rias. Surat rujukan rumah sakit itu masih berada di sana, terlipat rapi di antara kotak perhiasan dan parfum yang jarang ia gunakan. Alya menarik kertas tersebut perlahan.
Namanya tertera di bagian atas.
**Alya Pramesti Mahendra.**
Membaca nama itu selalu membuat perasaannya aneh.
Pramesti adalah nama keluarganya—nama yang mengingatkannya pada rumah kecil dengan halaman penuh bunga melati, suara ayah yang selalu memanggilnya “Putri”, dan ibunya yang setiap malam duduk menemaninya membaca novel. Sedangkan Mahendra adalah nama yang diberikan lewat pernikahan, nama yang terlihat indah ketika ditulis di undangan, tetapi tidak pernah benar-benar terasa menjadi miliknya.
Dulu ia merasa bangga menggunakan nama itu.
Kini, ia tidak yakin.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Alya segera melipat surat tersebut dan menyimpannya kembali.
“Masuk,” ucapnya.
Pintu terbuka. Mbok Sari muncul membawa secangkir teh hangat dan sepiring biskuit. Perempuan tua itu menatap koper yang terbuka di lantai, lalu memandang Alya dengan hati-hati.
“Non belum makan dari tadi siang,” katanya lembut.
“Aku belum lapar, Mbok.”
“Minum teh sedikit saja. Biar badan Non hangat.”
Alya mengangguk. “Taruh situ saja, Mbok.”
Mbok Sari meletakkan nampan di atas meja kecil dekat sofa. Namun alih-alih segera keluar, ia berdiri diam beberapa saat. Jemarinya saling bertaut di depan perut, seperti seseorang yang sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Non Alya…” panggilnya pelan.
“Iya?”
“Maaf kalau Mbok lancang.” Mbok Sari menunduk. “Non mau pergi?”
Alya menatap koper itu lagi.
Pertanyaan sederhana tersebut membuat tenggorokannya terasa tercekat.
“Aku nggak tahu,” jawabnya jujur.
Mbok Sari menarik napas panjang. “Rumah ini sepi kalau Non tidak ada.”
Alya tersenyum kecil, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Yang tinggal di rumah ini banyak, Mbok. Ada Mbok, ada Pak Darto, ada asisten rumah tangga lain. Nggak akan sepi.”
“Bukan begitu maksud Mbok.” Suara perempuan tua itu mulai bergetar. “Sejak Non datang, rumah ini terasa hidup. Ada yang memperhatikan bunga di taman, ada yang tanya Pak Darto sudah makan atau belum, ada yang masak kalau Tuan Arga pulang. Dulu rumah ini cuma besar. Tapi sejak ada Non, baru terasa seperti rumah.”
Alya menatap Mbok Sari dalam diam.
Ia tidak menyangka ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil yang ia lakukan.
Selama ini, semua usahanya terasa seperti jatuh ke ruang kosong. Ia merawat rumah itu bukan karena ingin dipuji. Ia hanya ingin menciptakan kehangatan di tempat yang sejak awal terasa dingin. Ia ingin Arga memiliki alasan untuk pulang. Ia ingin suaminya melihat bahwa ada seseorang yang menunggunya.
Namun mungkin yang ia lakukan hanya berarti bagi orang-orang yang memang mau melihat.
“Terima kasih, Mbok,” ucap Alya lirih.
Mbok Sari mendekat sedikit. “Kalau Non sedang ada masalah, jangan dipendam sendiri. Cerita sama Mbok, ya?”
Alya mengangguk.
Tetapi ketika Mbok Sari akhirnya keluar dari kamar, air mata Alya jatuh tanpa bisa ditahan.
Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
Selama ini ia selalu berusaha kuat karena tidak ingin dianggap lemah. Ia tidak ingin keluarga Mahendra melihatnya sebagai perempuan yang terlalu sensitif. Ia tidak ingin ayah dan ibunya merasa bersalah karena telah menjodohkannya. Terlebih lagi, ia tidak ingin Arga merasa bahwa pernikahan ini adalah beban yang semakin berat karena keberadaannya.
Jadi Alya memilih diam.
Diam ketika Arga pulang dengan wajah dingin.
Diam ketika Keisya menelepon di tengah malam.
Diam ketika suaminya lupa hari ulang tahun pernikahan mereka.
Diam ketika ia harus makan sendiri di meja panjang.
Diam ketika tubuhnya mulai memberi tanda bahwa ia tidak baik-baik saja.
Terlalu lama diam membuat seseorang lupa bagaimana cara meminta pertolongan.
Ponselnya bergetar.
Alya buru-buru menghapus air mata dan meraihnya. Bukan pesan dari Arga.
Pesan itu datang dari Dinda, sahabatnya sejak kuliah.
**Dinda:** *Ly, kamu sibuk? Aku dari tadi kepikiran kamu. Bisa telepon?*
Alya menatap pesan tersebut cukup lama. Dinda adalah satu dari sedikit orang yang tahu pernikahannya tidak berjalan seperti yang orang-orang bayangkan. Tidak sepenuhnya, tentu saja. Alya tidak pernah cukup berani mengaku bahwa Arga masih berhubungan dengan perempuan lain. Ia hanya berkata bahwa mereka berbeda dan belum saling memahami.
Ia tidak ingin sahabatnya membenci suaminya.
Aneh, pikir Alya. Bahkan ketika hatinya sendiri disakiti, ia masih berusaha menjaga nama Arga.
Alya mengetik balasan.
**Alya:** *Bisa.*
Tidak sampai lima detik, panggilan masuk.
Alya menekan tombol terima dan meletakkan ponsel di telinganya.
“Ly?” suara Dinda terdengar cemas. “Kamu kenapa? Dari siang aku chat baru dibalas sekarang.”
“Aku nggak apa-apa.”
“Jangan bohong. Suara kamu beda.”
Alya terdiam.
Di ujung sana, Dinda menghela napas. “Arga lagi-lagi bikin kamu sedih?”
Satu pertanyaan itu hampir meruntuhkan pertahanan Alya.
Ia memejamkan mata. “Din… kalau seseorang menikah sama kita, tapi sebenarnya hatinya masih buat orang lain, kita harus bagaimana?”
Dinda tidak langsung menjawab.
“Aku tahu jawaban yang pengin kamu dengar bukan ini,” katanya akhirnya. “Tapi kamu nggak bisa terus menunggu orang yang tidak mau memilih kamu.”
Alya menggigit bibir.
“Aku sudah coba, Din.”
“Mencoba apa?”
“Mencoba jadi istri yang baik. Mencoba nggak menuntut. Mencoba ngerti kesibukannya. Mencoba nggak mempermasalahkan hal-hal kecil.” Suaranya mulai bergetar. “Aku pikir kalau aku sabar, kalau aku nggak menyusahkan, kalau aku selalu ada waktu dia butuh, mungkin suatu hari dia akan lihat aku.”
“Dan selama tiga tahun, apakah dia melihat kamu?”
Keheningan menjadi jawaban yang terlalu jujur.
Dinda kembali bicara dengan suara lebih lembut. “Alya, cinta itu tidak seharusnya membuat kamu merasa harus mengecilkan diri supaya pantas dipertahankan.”
Kalimat itu membuat air mata Alya kembali jatuh.
Ia menekan bibirnya agar tidak terdengar menangis.
“Aku takut, Din.”
“Takut apa?”
“Takut pergi.” Alya menatap koper yang terbuka di lantai. “Kalau aku pergi, mungkin itu benar-benar akhir. Mungkin Arga akan lega. Mungkin aku cuma membuktikan kalau aku memang nggak cukup kuat untuk jadi istrinya.”
“Pergi dari sesuatu yang menyakiti kamu bukan berarti kamu gagal.” Dinda berhenti sejenak. “Kadang yang paling berani dilakukan seseorang adalah memilih dirinya sendiri.”
Alya menarik napas terputus-putus.
“Aku juga harus ke rumah sakit besok,” katanya, hampir berbisik.
“Apa?” Nada Dinda langsung berubah panik. “Kenapa? Kamu sakit?”
“Aku belum tahu. Dokter minta pemeriksaan lanjut.”
“Kamu bilang ke Arga?”
“Belum.”
“Kamu harus bilang.”
Alya tertawa kecil, hambar. “Untuk apa? Dia punya rapat. Dia punya pekerjaan. Dia punya Keisya.”
Dinda terdiam beberapa saat.
“Besok aku temani,” katanya tegas.
“Nggak usah, Din. Kamu kerja.”
“Aku bisa izin setengah hari.”
“Jangan. Aku bisa sendiri.”
“Alya.”
“Aku bisa sendiri.” Kali ini Alya mengulanginya lebih pelan, seolah sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Aku sudah terbiasa.”
Di ujung telepon, Dinda tidak membantah lagi. Namun Alya tahu sahabatnya tidak benar-benar setuju.
Setelah percakapan berakhir, kamar kembali sunyi.
Alya meletakkan ponsel di atas kasur, lalu berjalan ke arah jendela. Dari lantai dua, ia bisa melihat gerbang rumah Mahendra yang menjulang tinggi. Lampu-lampu taman menyala kekuningan, menerangi jalan setapak yang basah oleh gerimis.
Dulu, ketika pertama kali pindah ke rumah ini, Alya sering berdiri di tempat yang sama sambil menunggu Arga pulang. Ia akan membayangkan suaminya masuk, tersenyum, lalu memeluknya dari belakang. Mungkin mereka akan makan malam bersama. Mungkin mereka akan membicarakan hari masing-masing. Mungkin Arga akan bertanya tentang lukisan yang sedang ia kerjakan atau tanaman baru yang ia rawat.
Khayalan itu terasa bodoh sekarang.
Bukan karena Alya tidak pantas mendapatkan semua itu.
Tetapi karena Arga tidak pernah memberikan kesempatan bagi semua itu untuk terjadi.
Suara mobil memasuki halaman membuat Alya tersentak.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Arga pulang.
Jantung Alya berdetak cepat, meski ia tidak tahu mengapa. Barangkali kebiasaan. Barangkali karena di dalam dirinya masih ada bagian kecil yang berharap lelaki itu pulang lebih awal karena memikirkannya.
Ia menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
Arga tidak pulang lebih awal.
Arga pulang karena hari sudah terlalu larut untuk berada di tempat lain.
Alya tidak turun.
Ia tetap berdiri di dekat jendela ketika terdengar suara pintu depan dibuka dan ditutup. Beberapa menit kemudian, langkah kaki Arga terdengar menaiki tangga. Semakin dekat. Semakin jelas.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Arga masuk sambil melepas jasnya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi kali ini bukan lelah yang dingin. Ada ketegangan di antara alisnya, seolah sesuatu mengganggu pikirannya.
Tatapannya langsung jatuh pada koper terbuka di lantai.
Arga berhenti.
“Apa itu?” tanyanya.
Alya mengikuti arah pandang suaminya. “Koper.”
“Aku tahu itu koper.” Nada Arga sedikit meninggi. “Kenapa dikeluarkan?”
Alya tidak menjawab seketika.
Ia ingin mengatakan bahwa koper itu tidak berarti apa-apa. Bahwa ia hanya membersihkannya. Bahwa ia hanya sedang mencari sesuatu. Namun ia lelah berbohong untuk membuat orang lain nyaman.
“Aku belum tahu,” jawabnya.
Alis Arga mengernyit. “Maksud kamu?”
“Mungkin aku mau pergi.”
Hening.
Hujan di luar terdengar semakin deras.
Arga menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan marah sepenuhnya. Bukan pula takut. Lebih seperti seseorang yang tidak menyangka bahwa barang yang selalu berada di tempatnya bisa tiba-tiba berpindah.
“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Arga.
“Aku belum tahu.”
“Karena semalam?”
Alya tersenyum getir. “Bukan cuma karena semalam.”
“Lalu karena apa?”
Pertanyaan itu membuat Alya ingin tertawa. Setelah tiga tahun, setelah semua yang terjadi, Arga masih bertanya karena apa.
“Karena aku capek, Mas.”
Arga terdiam.
“Capek menunggu Mas pulang. Capek pura-pura nggak tahu kalau Mas masih sama Keisya. Capek jadi istri yang hanya diingat kalau ada acara keluarga. Capek tinggal di rumah ini, tapi merasa seperti tamu.” Alya menunduk sebentar, menahan air mata yang kembali menggenang. “Aku capek berusaha sendirian.”
Wajah Arga berubah kaku.
“Kamu tahu dari awal hubungan aku dan Keisya seperti apa,” katanya pelan.
“Aku tahu.” Alya mengangguk. “Tapi aku juga istri Mas.”
“Aku tidak pernah melarang kamu melakukan apa pun.”
Alya mengangkat wajah. “Mas juga nggak pernah benar-benar membiarkan aku jadi istri Mas.”
Kalimat itu menggantung di antara mereka.
Arga menarik napas panjang, lalu berjalan ke arah meja dekat sofa. Ia meletakkan tas kerjanya dengan agak keras. “Jadi sekarang kamu mau mengancam pergi?”
“Aku nggak mengancam.”
“Lalu ini apa?” Arga menunjuk koper di lantai. “Kamu mau bikin aku merasa bersalah?”
Alya memejamkan mata sesaat.
Inilah yang selalu terjadi. Ketika ia mencoba bicara, perasaannya dianggap sebagai serangan. Ketika ia menangis, ia dianggap berlebihan. Ketika ia diam, Arga mengatakan tidak ada masalah.
Tidak ada tempat yang aman untuknya di pernikahan ini.
“Aku nggak mau bikin Mas merasa apa-apa,” jawab Alya dengan suara lemah. “Aku cuma mulai sadar kalau mungkin aku harus menyelamatkan diri aku sendiri.”
Arga menatapnya tajam.
“Dari aku?”
Alya ingin berkata *iya*.
Namun kata itu terlalu berat.
Ia tidak bisa mengucapkannya, bukan karena itu tidak benar, melainkan karena sebagian dirinya masih mencintai Arga. Dan mengakui bahwa orang yang dicintai telah menjadi sumber luka adalah kenyataan yang sulit diterima.
“Dari semua ini,” katanya akhirnya.
Arga tidak menjawab.
Ponselnya kembali bergetar di atas meja.
Layar menyala.
Nama Keisya muncul lagi.
Kali ini Arga tidak langsung meraih ponselnya. Ia melihat layar itu, lalu menatap Alya. Untuk pertama kali, lelaki itu tampak ragu.
Namun ponsel itu bergetar sekali lagi.
Dan di saat itulah Alya tahu, bahkan ketika ia sedang berdiri di depan suaminya dengan hati yang nyaris hancur, masih ada seseorang lain yang memiliki tempat lebih besar dalam hidup Arga.
Alya tersenyum pahit.
“Angkat saja,” katanya.
“Alya—”
“Angkat, Mas. Dia mungkin menunggu.”
Arga mengatupkan rahang. Beberapa detik berlalu. Lalu ia meraih ponselnya dan menerima panggilan tersebut.
Alya tidak perlu mendengar isi percakapannya.
Ia berjalan melewati Arga, mengambil koper dari lantai, lalu mendorongnya ke bawah tempat tidur.
Bukan karena ia batal pergi.
Melainkan karena malam ini, ia terlalu lelah untuk berkemas.
Ia membaringkan tubuh di sisi ranjangnya, membelakangi Arga yang masih berbicara pelan di dekat jendela. Air mata mengalir diam-diam ke bantal, membasahi sarungnya tanpa suara.
Di belakangnya, suara Arga terdengar semakin jauh.
Sementara di dalam diri Alya, sebuah keputusan mulai tumbuh.
Pelan.
Sunyi.
Namun kali ini, mungkin tidak akan bisa dihentikan.