Indonesia
NovelToon NovelToon
ROSETA

ROSETA

Status: tamat
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Tamat
Popularitas:52.6k
Nilai: 5
Nama Author: odipee

"Wanita murahan."

Roseta terdiam, ditatapnya nanar pria yang baru saja membuatnya bungkam bak menelan duri dan tersangkut ditenggorokan.

Ada apa ini?

Kenapa?

Walau bagaimanapun, Roseta mampu melihat betapa frustasinya seorang Matheo Ranu Pandega disamping perkataan kotornya. Roseta juga tahu di dalam mata berang pria itu menyimpan kegundahan. Roseta mengenal Theo, lebih dari siapapun.

Roseta sungguh ingin penjelasan, namun seolah mulut yang akan mengaga kembali dihentikan olehnya.

"Aku mendengar dari seseorang, kau membawa putrimu? Ah, jika boleh aku tebak, apa itu buah dari perbuatanmu dengan pria itu? Jay?"

Satu tamparan mendarat di pipi Theo.

Roseta merasa panas ditelapak tangannya, ia seperti tertusuk belati di ulu hati. Bagaimana bisa pria yang paling dicintainya berkata dengan tuduhan sedemikian rupa.

"Jangan berbicara lebih atau kau akan menyesal di setiap ucapanmu Matheo Ranu Pandega!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odipee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vante

Suasana riuh dari balik ruang VIP restoran Barat yang dipenuhi tanda tawa dan lemparan argumen kekanakan dari dua keluarga yang saat ini sedang melakukan temu kangen. Terlebih ungkapan laki-laki kecil dengan gelagat dewasa itu sangat menggelikan untuk Bryna yang berada di sampingnya.

"Aku akan segera tumbuh dewasa, menjadi pria keren dan melamarmu dengan caraku. Aku yakin kamu tidak akan menolak sweety."

Bryna memincingkan matanya, tatapan itu lebih ke arah kejengahan. "Swan, berhenti sok dewasa dan berbicara omong kosong," pintanya dengan nada dingin.

Ya, bocah cilik yang menjelma sebagai roman picisan itu adalah Swan. Sepeti yang sudah-sudah, laki-laki terlewat tampan itu sudah sangat kebal medapat bantahan kasar dan tatapan sedingin kutub utara dari Bryna. Para orang dewasa hanya terkikik melihat pertikaian kecil yang sebenarnya sangat menggemaskan untuk dijadikan tontonan.

Diakui, melihat tingkah absurd Swan dipadukan dengan sikap dingin khas Bryna membuat mereka merasa terhibur dari penatnya urusan dunia.

Liliana yang baru saja bertolak dari Negara A menjadi pencetus utama terjadinya perkumpulan di sore hari ini, dengan alasan lama tidak makan bersama dan rindu bergurau sampai tertawa. Kalau di ingat-ingat, momen terakhir mereka berkumpul saat sebelum Roseta, Jay beserta Bryna menetap di Negara ini.

Canda gurau masih berlangsung dengan cerianya mengisi secara penuh kebahagiaan yang tiada tara. Sedangkan disaat semua sibuk dengan dengan ocehan berseling dengan suapan, Jeko diam-diam mencuri pandang pada sosok yang membuatnya mati penasaran sejak tempo hari.

Lamat-lamat, pria bernama belakang Aditama sekaligus ayah Swan itu menatap lekat Bryna yang menampilkan berbagai ekspresi saat putranya menjahili. Seakan hatinya tergelitik oleh sesuatu yang tergambar jelas di depannya. Sorot mata yang sangat tajam saat merasa kesal disadarinya sangat mirip sekali dengan Theo. Juga, gelagat untuk membuat orang mati kutu hanya dengan retorika yang spontan keluar dari mulutnya bisa menguatkan praduga seorang Aditama untuk mengatakan bahwa Bryna berhasil menyalin tanpa cacat segala kecerdasan dari Theo jika memang mereka benar-benar sedarah.

"Swan, apa kau merasa cukup keren hanya dengan tampan saja?" tanya Bryna.

Beyna yang sedari tadi mendengar perihal ketampanan dari mulut Swan dengan ekstra kepercayaan diri yang sangat tinggi praktis dibuat kesal. Swan memandang Bryna dengan mata berbinar, terharu mengerubungi kepalanya, secara tidak langsung sang pujaan hati mengakui parasnya yang sangat rupawan.

"Kamu baru saja mengatakan aku tampan!! Waah, kamu mengakui aku tampan? Aku memang tampan Bryna, jadi kamu tidak rugi jika menikah denganku."

Jay yang berada tepat di sebelah kanan Swan terpaksa menepuk jidatnya, seakan teringat pada masa dulu saat dirinya menggoda Roseta dengan cara yang sama. Aah, tapi itu hanyalah dulu, sekarang mari lupakan itu.

Sedangkan Bryna memutar bola matanya lelah, bersamaan itu, ekor matanya menangkap presensi piring yang berada di sebelahnya dengan isi yang masih menumpah ruah, mungkin masih termakan dua suapan saja.

Bryna mendengus kesal, tangannya meraih benda bundar berbahan beling itu untuk digeserkan tepat di depannya, mengambil sendok untuk membubuhkan nasi beserta lauk didalamnya.

"Buka mulutmu," pinta Bryna saat ujung sendok yang dibawanya itu tepat di depan bibir milik Swan.

Swan yang tadinya terkikik dengan tingkahnya sendiri berubah total menatap polos seorang Bryna yang menodongnya dengan sorotan dingin. Perlahan namun pasti, mulut Swan terbuka dan disaat itu juga gadis itu melesatkan asupan makanan untuk ditelan sebelum dikunyah terlebih dahulu oleh deretan penggelas berwarna putih yang biasa di sebut gigi.

"Kau terlalu banyak bicara sampai lupa pada makananmu. Bagaimana kau bisa menjadi pria keren yang mampu membawa tanggung jawab besar, jika hal kecil saja kau abaikan."

Makanan yang harusnya terasa nikmat karena hasil suapan dari Bryna seakan berubah menjadi sekumpulan kerikil yang bahkan sulit untuk dikunyah apalagi untuk di telan. Serentetan kalimat gadis itu talak menohok sampai jantung, Swan merasa nyawanya terangkat ke angkasa hingga sulit kembali ke asalnya.

Pemandangan itu tentu saja tak luput dari para orang tua, Liliana dan Roseta saling pandang dengan melempar senyum. Jay yang ternganga karena sikap dewasa Bryna yang biasanya merengek hanya karena sebuah papan skateboard. Sedangkan Jeko yang mulai yakin menumpuk segala kemungkinan besar bahwa Bryna memang benar-benar turunan dari seorang Theo Ranu Pandega.

Bryna yang tidak mendapat respon dari Swan nampak putus asa, menghela napas perlahan serta tangan yang menyuapkan nasi kedua untuk Sean.

"Setidaknya kau harus menempati peringkat satu untuk menggantikanku di evaluasi selanjutnya. Saat kau berada di posisi itu, mari kita bermain seharian. Aku janji. Right!!" Kali ini Bryna mengatakan dengan lembut ditemani senyum yang tulus.

Mau tahu bagaimana reaksi Swan?

Bocah pemilik gigi kelinci persis seperti ayahnya itu bahagia minta ampun. Jika tadi nyawanya hilang dari raga karena mati akibat tusukan kata. Kali ini, tubuhnya dibuat melayang sampai lupa daratan, terlalu senang akibat lembut tutur Bryna.

Dengan berani Swan mengecup pipi Bryna dengan cepat, sedetik kemudian laki-laki itu berujar, "Tidak salah aku memilih calon istri. Kamu memang yang terbaik Bryna." Diakhiri kekahan lebar dengan cahaya terang bagai matahari yang memberi warna untuk bumi.

Bryna?

Gadis itu melotot tidak percaya, ini sudah keberapa kalinya Swan mencuri kecupan darinya. Bryna jengkel, kesal dan segala umpatan yang Bryna ingin ungkapkan terpaksa hanya tertahan dan pada akhirnya harus tertelan.

Hingga semua yang ada disana tertawa melihat tingkah mereka yang dari awal sampai akhir membuat geleng kepala. Sepertinya mereka mendapat gambaran untuk masa depan.

Dering ponsel yang tiba-tiba menerobos masuk membuat galak tawa spontan berhenti bersama. Ternyata Jeko pemilik panggilan itu. Liliana sebagai istrinya tentu saja penasaran, menggunakan gestur mengangkat dagu sebagai simbol bertanya.

"Vante," jawab Jeko.

Liliana akhirnya hanya menganguk tak berani bicara lebih. Jika suaminya menyebut nama seseorang dengan julukan, maka sesuatu yang akan dibicarakan menjurus ke hal yang sangat rahasia mengingat pemilik julukan yang tidak lain adalah Theo, seseorang yang sangat penting dan berpengaruh.

Sepertinya praduga Liliana salah kali ini. Jeko melakukan itu lantaran mengingat jika seseorang yang berada diantara mereka pernah ada di masa lalu Theo. Maka, untuk mengurangi kecanggungan terpaksa Jeko tidak bicara sembarangan.

"Halo, Bang," sapanya saat ponsel itu sudah berada di depan daun telinga, terpaksa juga memanggil dengan sopan lawan bicara dibalik ponsel.

Jeko mengerutkan dahinya hinga samar memperlihatkan alisnya yang tertaut menjadi satu. Gestur wajahnya menunjukkan tanda tanya besar. Beberapa detik kemudian panggilan itu diakhiri karena ponsel sudah tidak bertengger lagi di telinga.

"CCTV?" Tanya Jeko penasaran yang hanya mampu dibatin.

"Aku harus pergi, sesuatu mendesak yang memaksaku. Tidak apa 'kan?" pamit Jeko kepada semuanyaaa setelah ia mengantongi ponselnya.

Pandangan Jeko beralih pada istrinya, "Sayang, aku akan menyuruh Pak Abdi untuk menjemputmu. Bagaimana?" tanyanya kepada Liliana.

Tentu saja Liliana mengangguk setuju. Jeko berdiri ingin meninggalkan tempat, namun sesuatu mengoyak akal cerdiknya. Berbalik badan untuk mengelus surai hitam milik Bryna yang tergerai indah, kemudian Jeko berujar. "Terimakasih, kamu gadis manis yang sangat mengagumkan. Jangan mudah menerima Swan.”

“Papa.” Swan berteriak, namun Jeko hanya mengejek putranya itu.

"Terimakasih John Uncle," jawab Bryna tanpa ragu dan mengabaikan pekikan Swan.

Setelah itu telapak yang baru saja di daratkan di kepala Bryna terlihat mengepal lalu dimasukkan ke saku coat coklat yang melapisi tubuhnya, Jeko tersenyum penuh arti yang hanya dirinya sendiri yang mengerti.

Sementara semua bersikap normal-normal saja, berbeda dengan Roseta yang termanung dengan segala presepsi membingungkan.

Jika Jeko mengira Roseta tidak tahu apa-apa dengan julukan pria Pandega itu, maka, Jeko salah besar. Tanpa ada yang tahu, Roseta lah satu-satunya orang pemberi nama yang sampai sekarang melekat pada diri Theo.

Roseta mulai gelisah dengan dentuman jantung yang menggila. Membayangkan betapa membingungkannya raut wajah Jeko saat menerima panggilan dari Theo membuat presepsi negative muncul di benaknya. Jika Theo meninggalkannya karena wanita lain, Roseta masih bisa terima. Tapi, Jika ditinggal Theo untuk mati selamanya, Roseta benar-benar tidak bisa.

Namun, dibalik kegelisahan Roseta, terdapat senyum Bryna yang tersimpan setelah gadis itu mengelus rambutnya sendiri sembari memandang punggung Jeko yang semakin menjauh.

1
Sri Siti
seru
starlaa
lanjut
starlaa
bryna ini jngan jangan jenius ya. awal episode 1 kayaknya dia berhubungan dengan kakak nya Braga deh
🌻Ruby Kejora
Karyanya bagus kk⭐⭐⭐⭐
Dara
Jangan cari penyakit Rose
Dara
Lho....maksudnya gmn sih theo?
Dara
Theo benar2 bodoh dlm urusan asmara
Dara
Benar kata Braga...daddy nya bodoh
Dara
Sgt bagus penyajian konfliknya thor👍👍👍
Dara: Bukan hampir..tp semua🤩
Karena apa cb.....
total 2 replies
Dara
😢
Dara
Aku syuka
Dara
rodelent itu kayaknya mama si theo
Dara
Lihat ketulusan Jay rosita...buka hatimu
Sari Supartini
hai kak jangan lupa mampir yah di karya aku maribsaling dukung
Dara
Keren bgt ceritanya
Fin
Bagus
Fin
Suka sekali
Ella
Bagus bgt
Yana
Wajib baca
Happy
Huwaaa bagus bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!