Indonesia
NovelToon NovelToon
Penjara Cinta Roxena

Penjara Cinta Roxena

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Reinkarnasi / CEO / Chicklit
Popularitas:60k
Nilai: 5
Nama Author: Nila Wati

Gerald, seorang dokter bedah kardiovaskular yang tiba-tiba mengalami penculikan hingga pernikahan paksa di kala ia sudah menikah dengan pilihannya. Pernikahan paksa itu dilakukan oleh seorang wanita pewaris keluarga konglomerat, Roxena Lawrence.

Kerumitan terjadi di antara hubungan mereka. Benci mendominasi, terlebih saat sang istri tercinta Gerald yang kini sudah menjadi mantan istri, Elisa meregang nyawa di tangan Roxena.

"Aku akan membalas semuanya, Gerard!"ucap Roxena.

"Sebenarnya apa salahku padamu? Mengapa kau begitu membenci dan menghancurkan kebahagiaanku?!"teriak Gerald.

"Aku membencimu, sangat membencimu sampai kapanpun bahkan sampai aku mati!"ucap Gerard.

Akankan hubungan itu menemukan akhir yang baik?

Dan alasan apa di balik pernikahan paksa itu?

Akankah kebencian hingga tulang itu berubah menjadi cinta?

Simak kisahnya di Penjaga Cinta Roxena!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Keputusan Kepala Keluarga

Biasanya posisi kepala keluarga diturunkan kepada anak laki-laki. Namun, berbeda dengan keluarga Lawrence. Posisi kepala keluarga diwariskan kepada anak pertama yang lahir dari pernikahan sah, tak peduli laki-laki atau perempuan. Dan biasanya, posisi kepala keluarga diwariskan setelah sang pewaris dilantik menjadi Presdir Lawrence Group. Oleh karenanya, Roxane datang untuk meminta hal tersebut.

Tuan Lawrence yang sebenarnya belum memasuki usia pensiun, tak punya alasan untuk menolak hal tersebut. Karena, putrinya ini pasti akan semakin keras jika haknya tidak diberikan.

Namun, tentu ada ganjalan untuk itu. Tidak Roxane menjadi kepala keluarga, maka semakin kecil kesempatan Benjamin untuk mewarisi keluarga Lawrence. Keinginannya akan semakin dipadamkan oleh sepak terjang wanita.

"Tapi, Kakak. Mana mungkin kau jadi kepala keluarga sementara kau punya suami. Apa kau memandang rendah derajat suamimu?" Dengan masih tak tahu malu menyanggah ucapan Roxane.

Roxane menaikkan alisnya. Gerald tersentak pelan. Ia lantas menatap Roxane. Matanya sudah memicing tidak senang.

Tuan Lawrence menanti jawaban sang putri. Roxane kemudian tersenyum tipis. "Siapa yang mengatakan demikian? Yang kuminta adalah posisi kepala keluarga Lawrence, bukan kepala keluarga dalam rumah tanggaku!"jawab Roxane tegas.

Tuan Lawrence tertawa senang. Benjamin, wajahnya memerah padam.

Wanita ini, menjaga harga diriku?

"Inilah yang membedakanmu dengan Xena, Ben. Kau itu ceroboh, tak bisa menempatkan dirimu dengan baik. Kau penuh dengan kecemburuan. Andai kata aku memberikan posisi kepala keluarga padamu, kau tidak akan puas kan? Lebih tepatnya kau tidak akan pernah puas. Darah yang mengalir di tubuhmu adalah darahku dan ibumu, karakter ibumu, aku tahu benar. Jadi, lebih baik kau bersiap baik dan kau akan aman di bawah nama keluarga Lawrence."

"Ayah! Bukan inginku lahir di luar pernikahan. Bukankah ini kesalahanmu dan ibu? Mengapa aku yang menanggung akibat perbuatan kalian?" Benjamin berdiri. Sorot matanya penuh kecewa menatap Tuan Lawrence.

"Apa yang katakan, Ben?"tanya Tuan Lawrence dingin. Gerald memperhatikannya. Pria tua itu tercekat dan terlihat gemetar.

"Benar, kan? Di mata Kak Xena, aku hanyalah pengganggu. Di mata Ayah, aku hanyalah anak laki-laki yang hidup di sini karena aku bermarga Lawrence. Sama sekali tak Ayah pandang sebagai anak laki-laki yang mampu menggantikanmu!"

"Aku ingin diakui. Aku ingin kalian pandang sebagai orang yang mampu. Aku ingin diberi kepercayaan. Tapi, Ayah sama sekali tidak berpihak padaku!"

Mata Benjamin memerah. Semua kekesalan hatinya berubah menjadi sebuah keputusasaan. Dia tahu. Jika Roxane menjadi kepala keluarga, ia akan semakin menjadi serpihan debu. Serpihan debu yang akan terhempas karena hembusan angin pelan. Tatapan mata Roxena, akan semakin sinis padanya.

Benjamin takut. Ia takut. Tak akan ada yang membelanya lagi. Sang Ayah? Keputusan kepala keluarga tak bisa ditentang.

"Sekarang, Ayah memberikan posisi keluarga pada Kakak. Apa Ayah memikirkan perasaanku? Tidak, kan? Ayah hanya peduli pada Kak Xena. Sekalipun Kak Xena dingin pada Ayah. Ayah sama sekali tidak berpaling. Ayah, pernahkah Ayah sekali saja melihatku? Tidak, bukan?"

Roxane menatap Tuan Lawrence yang kembali tercekat. Sorot matanya rumit. Ingatannya kembali ke masa lalu. Memang, ia yang salah. Ia yang melakukan angkara dengan wanita lain.

Lahir di luar nikah, tak ada anak yang ingin seperti itu. Benjamin dibawa ke rumah ini tanpa sang ibu. Kematian istri sah sang ayah membawa duka mendalam. Membuat semua perhatian Tuan Lawrence tertuju pada Roxane meskipun semakin hari ditanggapi dingin dan sekadarnya saja. Ia butuh perhatian, mencoba menjadi penurut namun tak mengubah posisi Roxena di hati sang ayah. Mencoba dekat dengan sang kakak, tatapan sinis dan tajam Roxena membuatnya takut.

Ketakutan tidak akan dianggap dan dilupakan, menaburkan benih kebencian. Perlahan menggunung dan berubah menjadi keinginan untuk menyingkirkan Roxena.

Akan tetapi, seberapa keras ia berusaha, termasuk melakukan upaya pembunuhan terhadap Roxena. Sayangnya, gagal dan ia semakin jauh dari tujuan.

"Apakah aku benar-benar tidak pantas?"tanya Benjamin lirih.

"Kakak, apa kau benar-benar membenciku?"

Benjamin tampak begitu rapuh. Bahunya bergetar.

Sebagai ayah, Tuan Lawrence merasa bersalah. Ia ingin adil. Tapi, ia tak bisa. Semuanya, adalah salah dirinya sendiri. Petaka itu, ia yang membuatnya.

Roxena tetap pada ekspresinya. Tak tergugah sedikitpun. Gerald, ia tak ada keinginan ikut campur. Meskipun, ia kasihan pada Benjamin.

"Ayah, apa aku sudah jadi kepala keluarga?"tanya Roxane.

"Xena-"

"Ya atau tidak?!"

Tuan Lawrence mengangguk pelan. "Kalau begitu, aku akan mengambil keputusan pertama."

Tuan Lawrence refleks menatap Roxena, begitu juga dengan Benjamin yang sebelumnya menunduk.

"Benjamin, kau tidak cocok berada di keluarga Lawrence." Kata-kata itu mengalir bak petir di siang bolong. Tubuh Benjamin menegang.

"Xena?" Tuan Lawrence memanggil pelan. Tapi, putrinya itu tak bergeming sedikitpun.

"Kau ingin diakui bukan? Dengan nama keluarga, apa yang bisa kau buktikan? Tidak ada. Kau ingin dihargai? Kau ingin dipandang. Aku akan memberikan apa yang kau mau. Mulai malam ini, kau angkat kakilah dari rumah ini. Marga Lawrence di belakang namamu, aku melepasnya. Kau, bukan lagi bagian dari keluarga Lawrence!!" Roxena berkata dengan lantang di akhir.

Tuan Lawrence langsung berdiri. Ia terkejut. "Xena!" Kali ini meninggikan suaranya.

"Apa, Ayah?"

"Kesalahanmu tidak hanya mengkhianati ibu. Namun, juga membawa anak ini ke rumah ini. Hari ini, aku akan mengakhirinya. Aku dengan posisiku sebagai kepala keluarga, mengeluarkannya dari anggota keluarga Lawrence!!"

"K-Kakak?" Luruh. Jatuh. Bersimpuh tak percaya. Inikah akhirnya?

"Pada akhirnya kau mengusirku?"

"Aku akan memberikanmu modal. Bersiaplah untuk keluar."

Keputusan itu, tak terbantahkan. Tuan Lawrence menunduk lemah. "Pelayan, kemasin semua barangnya."

"Xena, tidak bisakah menunggu pagi?"pinta Tuan Lawrence.

"Apakah aku harus bersabar lagi?"tanya Roxena.

"Kehadirannya adalah kesalahan. Ayah, kau menentang keputusanku?"

Hah

"Maafkan Ayah." Pria itu menunduk lemas.

Tak berselang lama, kepala pelayan datang dengan membawa barang-barang Benjamin.

Roxane bersiap untuk naik menuju kamarnya. "Ah, Benjamin. Aku masih bermurah hati hanya mengusirmu pergi. Apa kau pikir hal itu setimpal dengan nyawaku? Kau harus berhati-hati karena aku selalu mengawasimu!"

Itu kata perpisahan sebelum Roxane melangkah pergi. Sementara Gerald, langsung menyusul Roxena.

Hatinya dingin sekali.

"Maafkan Ayah, Ben. Ayah, sudah tidak berdaya."

Benjamin menggeleng pelan. Sudahlah. Mungkin ini suratan takdirnya. Dengan gontai, ia melangkah keluar dari rumah itu, menyeret kopernya.

Benjamin menatap lama, bangunan yang selama ini menjadi tempatnya bernaung. Kata-kata Roxena terngiang di kepalanya.

"Kakak, semuanya belum berakhir. Aku akan kembali!"tekadnya sebelum benar-benar meninggalkan kediaman Lawrence.

Para pelayan yang melihat keributan itu, menghela nafas kasar.

Setelah Benjamin pergi, kediaman ini tak lagi memiliki Tuan Muda. Dan juga Nona Muda. Apakah, Roxena akan kembali tinggal di kediaman ini? Setelah bertahun-tahun tinggal di luar?

1
Nayla Nazafarin
ada ap dg xena..sbenarnya ap yg terjd????
Nayla Nazafarin
akhirnya sedikit pencerahan,ada hubungn ap kekasih xena dg gerald??sahabat/saudara??
Nayla Nazafarin
apa Rexona berenkarnasi dr khidupan sebelumnya???
Nayla Nazafarin
apa Elisa dan Rexona ad kesalahpaham dlunya thorrr??
Nayla Nazafarin
Rexona psikopat
Nayla Nazafarin
masih nyimak sampai sini belum paham..
awesome moment
xavier...koplak
Nayla Nazafarin
mampir dlu rexona..
nurul halbia
Hii akumampirr. Semngat terus dalam membuat karyanyaa🤗
axm
ceritanya bagus😍
Eka Arti
jangan ada badai lagi dong kak..
tinggal bahagianya saja
Eka Arti
ayo kak.. update lagi...
makin seru aja...
pigeon
terimakasih kak sudah up lagi 😘 semangat kak untuk menulis nya 💪😘😘
pigeon
thank you kakak ,sudah up 😘😘 selalu merindukan cerita kakak ,, semangat kakak😘
Eka Arti
ditunggu up lagi kak
pigeon
akhirnya up juga kakak ❤️😘
pigeon
akhirnya up juga thank you Thor 😘😘
Veronica Tri Hanavi
ya Allah akhirnya up juga tor
pigeon
kenapa belum up ini sudah bulan mei kakak author, please please up soon🙏🙏
pigeon
kenapa tidak up lagi Thor 😰😰aku selalu menunggu cerita selanjutnya tapi engk pernah up kenapa kenapa , aku merindukan kisah Gerald dan Xena 😰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!