Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 CROSSFIRE AT SENTUL
Langit di atas perbatasan Krajan Timur, tepatnya di wilayah Sentul, mendadak dipenuhi oleh hawa yang sangat menyesakkan.
Suara derap langkah kaki ratusan orang mulai terdengar bergemuruh dari arah utara. Itu adalah koalisi dari Wirasaba: Fraksi Gamusi, Utara Clan, dan Daborija.
Mereka datang bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk menegaskan bahwa wilayah Utara tidak akan membiarkan siapa pun, baik OKOM maupun Slonong Boys, menginjakkan kaki di tanah mereka tanpa pertumpahan darah.
Zela berjalan paling depan, namun langkahnya sangat santai. Di belakangnya, tiga monster Utara—Gani, Bram, dan Bagas—memancarkan haus darah yang sangat pekat.
Begitu mereka tiba di garis perbatasan Sentul, pemandangan di depan mereka sudah dipenuhi oleh segerombolan Crows dalam jumlah besar.
Di tengah kerumunan itu, berdiri Dimas, pemimpin Masdim19, penguasa sah Krajan Timur sekaligus penjaga gerbang perbatasan ini.
"Gak usah banyak bacot! HABISI MEREKA!!" teriak Bram tanpa basa-basi.
"SERANGGGGG!!!"
Pertempuran pecah seketika di Sentul! Bram memimpin barisan depan Gamusi, menerjang barikade Masdim19 bagaikan banteng yang lepas dari kandang.
Zela? Dia justru menepi. Dengan tenang, ia menyulut sebatang rokok, menyandarkan tubuhnya di sebuah tembok bangunan tua yang retak, dan menonton kekacauan itu dengan mata dinginnya.
Baginya, ini hanyalah pembersihan jalur sebelum menghadapi ancaman yang lebih besar.
BUGHH! BRAKK! DUAGH!
Benturan tulang dan logam menggema di seluruh penjuru Sentul.
Sementara pasukan Utara Clan di bawah pimpinan Gani dan pasukan Daborija di bawah pimpinan Bagas sibuk meratakan para Crows kroco milik Krajan Timur, fokus utama tertuju pada pusat arena.
Bram akhirnya berhadapan satu lawan satu dengan Dimas. Keduanya saling mengunci pandangan dengan tatapan penuh kebencian.
"Lu gak bakal bisa lewat dari Sentul, Bram!" teriak Dimas sambil melayangkan pukulan swing yang keras.
Bram menangkisnya dengan lengan kekarnya—TAK!—lalu membalas dengan uppercut yang membuat Dimas terhuyung mundur. "Sentul bakal jadi kuburan lu malam ini, Dimas!"
Keduanya langsung terlibat duel maut. Sementara itu, Gani dan Bagas benar-benar menjadi monster; setiap pukulan mereka menjatuhkan dua hingga tiga orang sekaligus.
Zela masih diam di pojok, menghembuskan asap rokoknya ke udara malam yang dingin.
VROOMM! VROOMM! VROOMM!!
Tiba-tiba, suara raungan mesin motor dari arah belakang gerbang perbatasan memekakkan telinga. Pendar lampu sorot yang sangat terang menyapu area pertempuran.
Itu adalah Aliansi Slonong Boys (SB) yang datang dengan cara yang paling gila!
STTTTT... DUARRRR!! DUARRRR!!
Bukannya menyerang dengan tangan kosong, pasukan SB yang dipimpin oleh Friza langsung menyalakan ratusan petasan.
Namun, mereka tidak mengarahkannya ke atas. Mereka menembakkan petasan itu secara horizontal, tepat ke arah badan dan muka semua orang yang ada di perbatasan!
"AGHHH!! MATA GUA!!"
"SIALAN! SB DATANG!!"
Situasi yang tadinya sudah chaos kini berubah menjadi neraka. Ledakan-ledakan kecil dari petasan membuat semua orang kocar-kacir.
Memanfaatkan kekacauan itu, rombongan motor dari fraksi TOP, WARJO, Georgia, dan CS Youth menerobos masuk melewati barikade, menggilas apa pun yang menghalangi jalan mereka menuju jantung Krajan.
Sisa pasukan SB lainnya turun dari motor dan ikut bergabung dalam pertempuran yang kini resmi menjadi Pertempuran Tiga Arah.
Friza turun dari motornya dengan gaya yang sangat angkuh. Ia memukul roboh dua Crows dari Utara dan Krajan secara bersamaan.
Saat ia menyapu pandangan ke pojok arena, matanya mendadak membelalak. Ia melihat sosok yang sangat familiar sedang duduk santai sambil merokok di tengah hujan petasan.
"Zela..." gumam Friza. Senyum liar terukir di wajahnya. Semangat bertarungnya mendadak meledak. "ZELA! AKHIRNYA LU MUNCUL JUGA, BANGSAT!!"
Friza berlari kencang menuju arah Zela. Namun, sebelum ia sampai, dua sosok monster Utara menghalanginya. Gani dan Bagas berdiri tegak dengan kuda-kuda bertarung mereka.
"Langkahin dulu mayat kita, Slonong Boys!" gertak Gani.
Namun, sebelum bentrokan itu terjadi, dua petinggi Slonong Boys lainnya melompat masuk sebagai tameng bagi Friza. Adrian dari Poesat Crazy dan Dimyat dari Crazy Friends menghadang Gani dan Bagas.
"Urusan pemimpin gak usah diganggu, anjing! Lawan kalian adalah kita!" teriak Adrian sambil melayangkan tendangan ke arah Gani.
Friza terus melesat, matanya terkunci pada Zela yang bahkan belum berdiri dari duduknya. Namun, tepat beberapa meter sebelum Friza sampai di hadapan Zela...
DUAGHHHH!!
Sebuah pukulan yang sangat keras dan bertenaga menghantam samping tubuh Friza. Pukulan itu begitu dahsyat hingga membuat Friza terpental beberapa meter ke samping dan menyeret aspal.
Semua orang di area itu mendadak terhenti. Di tengah kepulan asap petasan, muncul seorang pria dengan wajah yang sangat dingin dan berwibawa. Ia membawa dua fraksi di belakangnya yang mengenakan atribut asing.
"Tirtamulya...?" gumam seorang Intelligence Crows yang sudah memantau pertempuran dari kejauhan.
Pria itu adalah Bagas Nawawi, pemimpin tertinggi dari wilayah Tirtamulya, Karangsinom. Ia dikenal sebagai sosok terkuat di wilayahnya.
Kehadirannya benar-benar di luar nalar karena Tirtamulya letaknya sangat jauh dan biasanya tidak terdampak oleh konflik pusat Cikampek. Di sampingnya, berdiri Gugun, pemimpin dari QB Lads.
"Kenapa lu bisa ada di sini, Bagas?!" teriak salah satu pimpinan SB kaget.
"Tentu saja untuk ngalahin lu semua," jawab Bagas Nawawi datar. "Gua gak bakal biarin kota ini dikuasai oleh bocah-bocah ingusan kayak lu semua."
Kini, pertempuran berubah menjadi Empat Arah: Utara vs Krajan vs Slonong Boys vs Tirtamulya.
Meskipun Bagas Nawawi sangat kuat, Aliansi SB tetap mendominasi karena jumlah massa mereka yang sangat masif dan agresif.
Pusat Kota Cikampek
Sementara di Krajan sedang terbakar, di sebuah sudut Pusat Kota, Ryuka dan Gilang sedang bersiap.
Sebas dan Elisa sudah berkali-kali memperingatkan mereka untuk tetap di rumah karena situasi sudah menjadi total chaos.
"Tuan Muda, ini bukan saat yang tepat! Seluruh kota sedang membara!" peringatan Sebas.
Ryuka tidak peduli. Ia hanya menyeringai sambil merapikan jaketnya. "Justru karena membara, gua harus ada di sana, Sebas."
Gilang hanya bisa mengikuti Ryuka, meski wajahnya tampak tegang.
Saat mereka berjalan menuju arah Krajan, pusat kota sudah dipenuhi oleh para berandalan Crows yang mulai menggila. Mereka ingin ikut tempur di Krajan namun hanya bisa membuat rusuh di tengah kota.
"Pemanasan dulu, Lang!" seru Ryuka.
Ryuka dan Gilang menerjang sekumpulan Crows di tengah jalan. Ryuka menghajar mereka membuat para berandalan itu kabur kocar-kacir dalam hitungan menit.
VROOMM... VROOMM...!!
Tiba-tiba, segerombolan motor Slonong Boys yang tersisa—yang bertugas menjemput sisa pasukan—berhenti di depan mereka.
Pimpinannya adalah Aditya dari fraksi Andul (Cikopo) dan Edu Agustian dari Bastard (Cijalu).
"Woy, lu berdua mau ke Krajan, bukan? Naik gak?" tanya Aditya sambil menepuk jok belakang motornya.
Gilang mengernyitkan dahi. "Bukannya lu semua Aliansi SB? Kita kan bukan bagian dari SB."
Edu dari Cijalu Atas tertawa pelan. "Terus? Kenapa emang nya kalau kita SB? Cuma kasih tumpangan gak bakal bikin kita dianggap pengkhianat. Lagian, gua rasa kalau gak ada kalian berdua di sana, pertempuran ini gak bakal jadi lebih seru!"
Aditya mengangguk, menyeringai ke arah Ryuka. "Hmph, bener. Lagian kalau ada kalian, kalian bisa jadi samsak yang bagus buat Friza!"
PLAK!
Edu memukul kepala Aditya keras. "Bohong dia! Gak usah didengerin, orang ini emang agak gila!"
"Siapa yang lu sebut gila, bangsat?!" sembur Aditya marah, lalu keduanya malah cekcok di atas motor mereka.
Ryuka dan Gilang saling pandang, lalu tertawa lepas. "Hahaha! Ya udah, gas lah berangkat!"
Ryuka melompat ke jok belakang motor Aditya, sementara Gilang naik ke motor Edu.
Raungan mesin motor mereka membelah malam, melaju kencang menuju Zona Merah Krajan untuk bergabung dalam kegilaan yang akan menentukan siapa penguasa sejati Cikampek.