Menceritakan kisah cinta yang sederhana namun menyimpan sesak yang tidak kalah perih.
mengisahkan sebuah drama kecil namun selalu memiliki makna tersendiri.
Kisah cinta antara Selin, Billy dan Seam yang berujung melukai satu dengan yang lain tapi selalu memiliki akhir yang menimbulkan goresan memiluhkan.
sebuah kisah yang sering kita baca, dengar dan bahkan temukan namun membekas begitu dalam.
Saat seorang lelaki bermata teduh itu berkata, "Close your eyes then hope" disaat yang bersamaan Selin sadar bahwa ketika dia menutup mata harapan itu benar-benar tidak ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Gomes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 20. (Day After Day)
Ternyata hari ini datang.
Bukan hanya ada sepasang tangan yang siap terlipat untuk menutup mata lalu berdialog singkat dengan sang kuasa.
Hari ini, Ada aku, gadis kecilmu, dan Seam yang tidak pernah lepas dari sisimu barang sebentar. Dia memang pantas disana, karna aku sadar tidak ada yang benar-benar bisa digantikan. Jadi, wajar saja kalau kedatanganku hanya sebagai penonton.
Menatapmu dari balik kaca, bagaimana alat-alat aneh itu menyiksamu rasanya membuatku hancur. Meskipun aku paham itu akan membantumu tapi aku sedikit tidak tega.
Dulu, kau selalu bilang "rumah sakit itu membosankan" sayangnya, sampai detik ini ternyata masih sama dan mungkin akan lebih lagi.
Saat angka jarum menunjukan pukul 03.00 wib. Seam keluar dari sana, awalnya kupikir dia akan meminta agar aku mengerti situasi tapi ternyata salah.
"Kau dokternya kan?" Mataku hanya mengamati, lalu dia melanjutkan "Kenapa tidak menjenguknya?
Aku kedepan sebentar. titip Selin" katanya.
Tanpa menunggu dan mungkin tidak berniat mendengar jawabanku, dia melenggang saja pergi.
beberapa detik aku hanya diam. Aku sedikit tidak paham akan dirinya terlebih bagaimana caranya berpikir akhir-akhir ini.
Aku masuk dengan jas putih kebangganku yang tidak pernah lepas sejak 16 jam berlalu. Mungkin ini rekor terlama Selin tidak sadarkan diri. Terlalu banyak yang membuatku takut dan detik ini aku sedikit menyesal untuk menjadi seorang dokter. Tahu kenapa?
Karena aku lebih mudah paham dibandingkan orang awam.
Aku sudah pernah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengontrol dan juga ikut ambil ahli dalam setiap operasi dibidangku. Banyak kemungkinan yang terjadi, berharap Selin hanya akan mendapat kemungkinan baik dari beberapa yang terburuk diantaranya.
Bermenit-menit berlalu hanya ku habiskan dengan menatapnya dan membiarkan hatiku berbicara didalam sana. Perlahan, kusentuh tangannya.
"Selin...Aku rindu," dari ribuan kata yang berkutat dikepalaku hanya kalimat itu yang mampu ku katakan.
Saat jarum pendek hampir menyentuh angka 3 dan jarum panjang diangka 11. Tepat pukul 3.55 WIB Selin sadar.
matanya masih sayu. saat pandangan kami saling beradu dia mulai berkaca.
Perlahan aku paham, ku genggam tangannya berniat agar dia tidak berpikir terlalu banyak.
"Jangan menangis, kepalamu bisa sakit" mungkin aku terlalu sering mengatakan ini tetapi Selin memang keras kepala tidak pernah mau mendengarkan.
"How should I do for you?" Suaranya pelan dan lemah. Sama seperti hatinya saat ini.
Kupaksakan untuk senyum, "nothing"
Mungkin terdengar naif tapi kubiarkan perasaan sialan ini hancur terdahulu sebelum Selin yang akan lebih. tidak peduli dengan seberapa banyak luka yang aku terima. It's easy to come but so hard to leave. Bukankah begitu cara kerja cinta?
"Billy, give me a little strength" tatapannya memohon.
Selinku menangis.
Aku tidak menjawab. kubiarkan tubuhku memangkas jarak antara aku dan Selin. Sehingga dalam se-detik dia sudah dalam dekapanku.
Pintu bergeser diwaktu yang tidak pernah pengertian. Sadar diri, aku menjauhkan tubuhku dari Selin.
Seam memang tidak bicara tapi aku tahu dia hanya mencoba menutupi amarahnya.
"Aku ada operasi jam 6. aku pergi dulu," kataku pada Selin.
Awalnya dia sempat menatap Seam lalu kembali menatapku hanya untuk menjawab pertanyaan ku dengan anggukan lemah.
"Datanglah jika ada waktu, " bukan Selin yang mengatakanya.
"Jangan sungkan denganku, lagi pula kau dokternya kan?" Seam mengulanginya lagi. Dokternya.
Aku terkekeh, "apa aku tidak boleh kesini sebagai temannya?"
Seam berbalik menatapku. "Kurasa sudah cukup. 2 tahun bukan waktu yang singkat" suaranya tenang tapi kata-katanya tidak pernah setenang itu.
Kalau saja ini bukan rumah sakit mungkin wajah tampannya akan berakhir babak beluk. Aku benar-benar tidak mengerti dengannya. Mengapa menyuruhku tadi untuk masuk kalau faktanya dia tidak pernah suka jika aku dekat dengan Selin?
"Datanglah sebagai dokter dari teman SMA Ku dulu, " Potong Selin.
Seam menoleh lebih awal, wajahnya tidak berubah sama sekali. Aku masih diam. Menunggu bagaimana meledaknya Seam tapi tidak ada komentar satupun yang keluar dari mulutnya. Apa dia waras?
"Aku pergi, " lalu aku menghilang dari sana.
...🍁🍁🍁...
Seam merapatkan kursi ke pembaringan ku dengan semangkok bubur disebelah tangan kanannya, dia menyapa dengan senyuman.
"Dimana valery?" Tanyaku sambil melahap bubur pemberiannya.
"Sebentar lagi pulang," katanya.
Aku menatapnya tidak enak, "kau marah?"
Sendok kedua berhasil lolos kedalam mulutku tapi Seam masih tidak menjawab. Dalam hatiku berkata dia pasti marah.
"Aku tidak memihak pada Billy, " lalu mencoba menjelaskannya agar Seam tidak salah paham.
Dia hanya diam dan sesekali menyuapiku dengan bubur yang entah sudah keberapa kalinya. Sampai pada suapan terakhir barulah dia angkat bicara.
"Aku tidak marah," tangannya sibuk merapikan sisa bubur yang tumpah dibajuku.
"Lalu?,"
Dia menaruh mangkok diatas nakas sambil berkata "aku mengerti perasaanmu selin," sempat ada jeda beberapa detik sebelum dia melanjutkan "tapi bisakah kau juga mengerti perasaanku?"
Aku diam.
"Maaf, " lalu aku bisa rasa tanganku hangat.
"Kau tidak salah," katanya.
Perlahan air mataku jatuh. Aku egois, terlalu banyak memikirkan Billy sedang Seam kubiarkan hancur. Aku lupa kalau dia juga manusia yang seharusnya bisa lelah. Terlebih mengenai perasaannya.
"Maafkan aku, " berakhir Seam yang menenangkan dan memelukku .
Pundaknya sangat nyaman sampai aku lupa mengucapkan perpisahan dengan benar. Pagi itu kita berpisah secara utuh tanpa harus bersusah payah bertemu dimeja hijau. Karena aku sudah lebih dulu menyerah.
...🍁🍁🍁...
Dari 31.536.000 detik dalam setahun yang kita lewati bersama. tidak pernah terpikir untuk bagaimana caranya menghilangkanmu disana.
Selin yang senyumnya secerah matahari kini meredup bagai langit yang mendung menandakan turunnya hujan. Sore ini ICU berduka sebab pergimu tidak akan pernah kembali. Jadi izinkan aku menangis untuk pertama kalinya, biarkan sejenak aku lupa bahwa lelaki itu katanya kuat.
Masih dalam dekapanku, aku menahan diri untuk tidak terisak. Takut kalau nanti menganggumu. Saat Billy membuka pintu dengan tidak karuan aku tahu bahwa detak jantungmu tidak lagi berbunyi dan nafasmu sudah tidak berhembus.
"Waktu kematian Selin Priska Tresya pukul 10.30wib. Senin, 30 Desember 2019." Billy melakukan tugasnya sebagai dokter dengan baik hingga akhir. Setelah melaporkan lelaki yang sering dibanggakan Selin itu, rahangnya mengeras seiring dengan air mata yang berjatuhan.
Hari itu banyak suara tangis yang mendominasi. Perkara merelakan ternyata memang tidak mudah.
...~TAMAT~...
kalo ada waktu luang mampir yuk ke novel aku