Gadis tomboy itu dipaksa ibunya untuk mengikuti sekolah tari. Ia pun bersikeras menolaknya karena tidak mempunyai minat di bidang itu. Tapi akhirnya sang gadis jatuh hati kepada guru tarinya sendiri.
Seiring berjalannya waktu ia pun mengerti mengapa ibunya meminta menari. Namun, perasaan terhadap sang guru tari ternyata harus tersimpan di dalam hati. Lalu apakah ia mampu mendapatkan cintanya nanti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gaharu Wood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlibur Di Pantai
"Em, baiklah. Aku setuju. Kalau begitu besok saja. Hari Minggu pasti ramai di pantai. Kau keberatan?" tanya Jim ke Mira.
Mira menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia tidak keberatan. Ia malah senang jika besok berjalan-jalan.
"Tentu saja aku mau. Tapi Kak Jim jemput aku di rumah ya?" Mira meminta.
Saat itu juga Jim berubah roman wajah. Ia seperti berat untuk mengatakannya. "Em, bisakah ... bisakah kita janjian di sini saja? Aku belum siap untuk ke rumahmu." Jim bersedih.
Mira pun tampak mengerti. "Em, baiklah." Ia akhirnya tidak memaksa Jim.
"Kau jangan khawatir. Aku akan mengembalikanmu dalam keadaan selamat, Mira. Kalau perlu pegang identitas milikku. Aku hanya belum sanggup jika untuk ke rumah seorang wanita lagi." Jim mengatakan kembali.
Mira mengangguk-angguk. "Ya, aku mengerti. Kalau begitu besok pagi kita janjian di sini."
Dan akhirnya keputusan bulat dibuat Mira dan Jim. Mereka akan bertemu esok pagi di mini market ini kembali. Tentunya dengan mempersiapkan peralatan untuk berlibur bersama di pantai. Mereka akan mengundang keceriaan. Agar tidak ada lagi duka lara di hati.
Esok harinya...
Pagi hari yang cerah telah datang. Tiba saatnya bagi Mira dan Jim liburan. Tapi liburan kali ini bagai ngedate pertama untuk Mira. Bagaimana tidak, ia dijemput Jim dengan menaiki motor besar. Mira pun merasa bahagia.
Sepanjang perjalanan menuju pantai, Mira diam saja dan tidak berkata apa-apa. Ia juga tidak berpegangan pada Jim karena masih ragu melakukannya. Alhasil Jim sampai mengarahkan kaca spionnya ke Mira demi melihat wajah sang gadis. Jim pun tertawa di balik helmnya. Ia merasa lucu dengan sikap Mira. Hingga akhirnya mereka tiba di pantai. Jim pun segera membayar karcis masuknya.
Hari ini Mira berdandan lebih dewasa. Mengenakan sweter panjang dan juga levis hitam. Ia tidak menunjukkan jika usianya masih belia. Mungkin karena ingin menyesuaikan dengan Jim yang berbeda sepuluh tahun darinya. Dan ya, Jim pun tak henti-hentinya memerhatikan Mira. Namun, semakin lama diperhatikan, semakin tumbuh sebuah rasa di hatinya.
Mereka kemudian segera memulai petualangan di pantai hari ini. Mira menyerahkan beberapa tiket permainan yang ia punya. Dari banana boat, snorkling sampai memancing. Mereka menghabiskan waktu bersama di pantai. Dalam perasaan yang tertanam di hati. Terutama Mira yang memang menyukai Jim, guru tarinya sendiri.
Pukul dua siang waktu pantai dan sekitarnya...
"Kakak, kau hitaman." Mira melihat Jim yang lebih hitam dibanding saat mereka baru datang ke pantai.
"Oh, ya? Benar, kah?" Jim pun melihat tubuhnya dengan peralatan snorkling yang masih di badan. "Kau juga." Jim berkata seperti itu.
"Apa, iya?" Mira segera melihat dirinya. "Eh, iya. Hahahaha." Mira pun tertawa karena dirinya ikut hitam.
Sinar mentari yang terik membuat Mira dan Jim terpapar cahaya lebih kuat dari biasanya. Ditambah mereka sedari pagi bermain di air laut. Tentu saja tubuh mereka lebih cepat menghitam. Dan akhirnya mereka segera membersihkan diri dengan mandi di tempat pemandian pantai. Mereka bergantian mandi sambil menjaga barang-barang yang dibawa. Yang mana sebelumnya dititipkan.
Entah mengapa aku merasa senang hari ini.
Jim pun sampai terlupa jika sedang ada duka di hatinya. Mira berhasil menghiburnya. Jim pun merasa lebih dekat dengan Mira.
"Kak Jim aku duluan."