Maira adalah seorang gadis yang bekerja disebuah perusahaan swasta ,saat ini usia maira menginjak 26 tahun namun maira belum juga ingin menikah. pengalaman kelam nya tentang cinta membuat nya tak ingin jatuh cinta lagi, dia tidak Berani membuka hati nya untuk lelaki mana pun.
Hal fatal apa yang sebenarnya pernah dilewati oleh maira? dan akan kah maira memutuskan untuk tidak menikah selama nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di tempat yang ku inginkan
Tanpa banyak bicara dan juga bertanya apapun kepada Amar, aku pun menyimpan koper dan mengeluarkan pakaian yang kubawa kedalam lemari, begitu juga dengan Amar.
Siang itu kami pun memutuskan untuk beristirahat saja di apartemen terlebih dahulu. Aku pun memang merasa sangat lelah, walaupun di pesawat hanya duduk saja.
"Apa kita makan siang disini saja?" tanya Amar.
"Terserah, aku Dimana saja bisa." jawab ku singkat.
Namun dalam hati tentu saja aku berharap kami makan di kamar apartemen saja, aku lelah, dan ingin beristirahat saat itu. Sebenarnya pikiran ku juga sangat lelah, banyak pertanyaan yang sedang ku simpan saat itu sendiri.
Sebenarnya aku ingin bertanya tentang keraguanku saat itu, tapi aku takut akan merusak suasana hati Amar, dan aku juga tidak ingin menyimpan semuanya di hati. Pernikahan ku dan Amar sah di mata hukum dan agama, aku tidak ingin merusak pernikahan yang telah kami setujui saat ini.
Karena pernikahan bukanlah sebuah permainan saja, tapi adalah hal suci yang telah disepakati oleh dua keluarga. Aku tak ingin pernikahan ku kandas walaupun kami Taka saling mencintai. Aku pun larut dalam lamunan ku sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Amar.
Dan otomatis pertanyaan itu membuyarkan lamunanku .
"Tidak ada." jawab ku singkat.
"Oke lah."
"Mau pesan apa untuk makan siang?"
"Terserah ,apa saja boleh."
Dan aku tak lagi mendengar pertanyaan apapun dari Amar, dia pun terlihat meraih handphone nya dan mungkin sedang memesan makan siang untuk kami.
Aku lanjut ke kamar mandi untuk membersihkan wajahku, dan sejenak aku bersandar di pintu kamar mandi, entah kenapa aku berpikir, apa pernikahan kami ini sudah benar? Menikah tanpa saling kenal dan saling mencintai?
Mungkin aku harus bicara dengan Amar, sebelum rumah tangga kami jauh berjalan. Begitulah yang ada dipikiran ku saat itu, aku pun keluar dari kamar mandi, dan aku berencana untuk bicara dengan Amar.
Namun belum pun sempat aku mengajak Amar bicara, makan siang kami pun datang, dan kami langsung menikmati makan siang, mungkin aku harus mencari waktu lain, tidak hari ini.
Setelah makan siang , Amar izin untuk pergi sebentar, dan aku hanya mengiyakan saja, mungkin dia sedang ada keperluan pikir ku.
Dan sudah hampir satu jam, aku menunggu Amar, namun tak juga Amar kembali ke kamar, aku jadi bertanya-tanya kemana Amar pergi, bukan karena aku sedang cemburu atau apapun, tapi itu semua karena Amar bilang hanya akan pergi sebentar.
Dan karena terlalu lelah menunggu, aku pun ketiduran, dan aku baru terbangun saat azan ashar saat itu terdengar dikumandangkan. Aku pun bangun dengan sedikit malas, meraih handuk yang sudah ada disana, dan menuju kamar mandi untuk bisa membersihkan diri dan juga sholat ashar.
Namun aku belum.juga melihat Amar dikamar, apa Amar memang belum kembali? Ataukah terjadi sesuatu kepada nya? Kedua pertanyaan ini tak aku dapatkan jawaban nya, aku hanya meraba dan menduga-duga saja apa yang sedang dilakukan Amar.
Setelah sholat aku hanya mondar mandir dikamar, sampai akhirnya ku putuskan untuk ke balkon, tempat di mana paling aku sukai, untuk menenangkan pikiran .
Waktu terus berputar, aku jadi berpikir kalau Amar benar-benar terpaksa untuk kami berangkat bulan madu, karena setelah kami datang, dia meninggalkan ku seorang diri, tanpa memberi kabar, kemana Amar sebenarnya?