Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Pernikahan Sang Duches

Kontrak Pernikahan Sang Duches

Status: tamat
Genre:Obsesi / Lari dari Pernikahan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: ldya ambar

sela tak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya karena telah disalahkan atas kematian ibunya saat ia lahir. namun suatu hari ia dipaksa oleh ayahnya untuk menikah kontrak dengan seorang Duke. apakah sela akan mendapatkan kebahagiaan atau tidak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ldya ambar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penculikan bayi

Disore hari yang seharusnya menjadi hari yang bagus untuk bersantai putri thedore malah berpikir untuk merencanakan sesuatu pada sela. Ia ingin sela merasakan kehilangan seseorang yang berharga bagi hidupnya.

"Ais, tolong panggilkan amida kemari," pinta putri thedore pada pelayan pribadi nya.

"Baik tuan putri."

Pelayan itu pun pergi keluar dari kamar tuan putri. Tak beberapa jam kemudian seorang wanita paru bayah memasuki kamar tuan putri seraya memberi hormat.

"Amida, aku ingin kau menjadi pengasuh anak duches dan duke quers," pinta sang putri seraya menatap gelas berisi wine yang telah ia genggam.

"Maaf tuan putri, kenapa anda meminta saya untuk mengasuh anak duke?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah amida, pelayan tuan putri yang selalu berpihak padanya.

"Aku ingin kau membunuh bayinya segera," pinta putri thedore seraya meneguk gelas berisi Wine digenggaman nya.

"Tapi kenapa saya harus melakukan nya!?" Tanya amida terkejut.

"Aku dengar kau punya adik, apa adik mu baik-baik saja?" Putri thedore tersenyum menatap amida dengan penuh arti yang seharusnya ia tidak boleh bertanya tentang itu.

Glek

Amida menelan ludahnya sambil menunduk, ia menutup mulut nya setelah ia menyadari bahwa ia tidak seharusnya bertanya tentang hal itu pada sang putri.

"Jika kau sudah mengerti maka kau boleh pergi, aku berharap kau akan melakukan nya dengan baik," bisik sang putri ketika berjalan mendekati amida.

Amida yang mendengar itu tubuhnya mendadak gemetar ketakutan dan ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui nya.

"B-baik tuan putri."

Keesokan harinya amida pergi ke kastil quers untuk menemui duches. Ia menghembuskan napas nya dengan berat ketika menatap kastil quers. Rasa takut menggerogoti tubuhnya yang kecil hingga tangannya gemetar.

"Selamat pagi tuan," sapa amida ketika melihat pelayan pria yang merupakan kepala pelayan atau butler yang berdiri di depan kastil. Ia seperti nya sedang menunggu kedatangan nya.

"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu nyonya?"Tanya hans.

"Saya amida, saya yang akan mengasuh anak duke."

"Ternyata begitu, duches sudah menunggu anda. Mari saya tunjukkan jalan nya."

Mereka masuk kedalam kastil dengan amida yang berjalan dibelakang hans. Ia memperhatikan seisi dalam kastil yang terlihat bagus dan rapi. Beberapa bunga yang diletakan divas sudut kastil terlihat segar, jendela yang besar menampakkan taman bunga dari luar.

Mereka terus berjalan hingga berhenti disebuah ruangan dengan pintu kayu yang cukup besar.

Hans mencoba mengetuk pintu tersebut dengan amida yang berdiri dibelakang nya.

"Nyonya, pengasuh nya sudah datang."

"Suruh dia masuk."

Hans membukakan pintu lalu mempersilahkan amida untuk masuk kedalam ruangan itu. Amida dengan rasa gelisah masuk kedalam ruangan itu yang mendapati clara duduk di ranjangnya sambil menggendong bayi.

"Selamat pagi nyonya duches quers," sapa amida seraya memberi hormat.

"Selamat pagi, apakah tuan putri yang telah meminta mu untuk menjadi pengasuh anak ku?" Tanya clara tersenyum tipis.

"Benar nyonya, saya amida. Saya yang akan menjadi pengasuh anak anda untuk seterusnya mohon bantuannya."

"Aku senang karena kau bersedia bekerja disini, hans dan nia akan membantu mu. Kau bisa minta kepada mereka jika kau membutuhkan sesuatu."

"Baik nyonya. "

"Bisakah kau membantu ku menggendong nya?"

"T-tentu saja."

Amida mengambil sang bayi dari ibunya lantas menggendong bayi itu di pelukan nya. Rasa ketakutan nya muncul ketika melihat sang bayi terlihat begitu kecil di gendongan nya. Tangan nya gemetar dan keringat dingin bercucuran dari balik pakaian nya. Rasanya ia menyesal karena telah menyetujui perintah sang putri tapi jika ia menolak maka adik nya akan dalam masalah. Belum lagi beberapa hari ini adik nya mengalami nasib buruk karena telah kehilangan anak nya, ia tidak ingin menambah masalah bagi adik nya.

"Jangan gugup, anggap lah dia seperti anak mu sendiri," ujar clara tersenyum setelah melihat tangan amida yang gemetar.

Amida yang mendengar hal itu membeku karena terkejut dengan perkataan clara. Bagaimana bisa ia menganggap nya sebagai anak nya sendiri sedangkan ia berniat untuk membunuh sang bayi. Itu tidak mungkin,batin amida tapi ia berusaha untuk menyembunyikan nya.

"Tentu saja nyonya," balas amida seraya tersenyum menatap clara.

Di sore hari amida sedang menidurkan sang bayi di sebuah kamar kecil dengan cat dinding berwarna warni dengan beberapa mainan yang di letakan diatas meja. Sebelum bayi nya lahir, duke dan duches telah menyiapkan kamar untuk sang bayi dengan suasana yang menyenangkan bagi bayi nya agar terlihat nyaman.

'Aku tak tahu bagaimana melakukan nya,' batin amida gelisah.

Ia menyentuh pipi bayi yang sedang tertidur pulas diranjang kecil. Rasanya ia tidak bisa melakukan nya dan itu bukan lah keahlian nya. Pertanyaan demi Pertanyaan terus terlintas dibenak nya apakah dia harus melakukan nya atau tidak.

Tiga hari setelah amida datang ke kastil. Bayi clara terus menempel pada amida dan tidak ingin melepaskan gendongan nya dari amida. Jika bayi nya digendong oleh orang lain maka ia akan menangis terus menerus, dan hanya amida yang dapat menghentikan tangisan sang bayi.

"Amida! Tolong aku, bayi nya gak mau berhenti menangis," teriak clara panik sambil menggendong bayi yang terus menerus menangis.

"Nyonya berikan saja pada saya."

Clara memberi kan bayi nya pada amida dan tangisan bayi nya berhenti ketika telah dipelukan amida.

Clara menghela napas lega. "Dia terus menangis ketika aku gendong tapi tidak dengan mu," gerutu clara.

"Maafkan saya nyonya."

"Tidak perlu minta maaf, mungkin bayi nya merasa nyaman dengan mu makanya ia bertingkah seperti itu. Aku malah bersyukur karena kalian sudah dekat."

"Terima kasih karena anda berkata seperti itu," ucap amida tersenyum menatap bayi di gendongan nya.

...----------------...

Sudah seminggu lamanya sejak amida datang ke kastil, dan malam ini ia akan melancarkan aksinya ketika semua orang tertidur lelap. Sehari sebelumnya ia telah menerima surat dari sang putri yang isinya ancaman jika amida tidak melakukan nya maka adik nya akan segera di bunuh, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui nya.

Amida membuka pintu kamar sang bayi dengan perlahan sambil membawa belati di dalam saku nya. Ia menutup kembali pintu nya dengan rapat agar rencana nya tidak di ketahui oleh orang lain. Ia berjalan mendekati bayi itu dengan hati hati, ia melihat bayi itu sedang tertidur pulas. Rasa nya tidak tega untuk membunuh sang bayi itu tapi ia tak punya pilihan lain.

Ia merogoh saku nya dan mengambil belati lalu mengarahkan nya pada bayi tersebut namun bayi itu tiba-tiba terbangun. Bayi itu tersenyum ketika amida ada didepan nya sambil mengarahkan belati dihadapan sang bayi.

'Tidak, aku tidak bisa melakukan,'  batin amida sontak tangis nya pecah dan memeluk erat sang bayi.

Ia mengambil bayi itu dan menutupi nya dengan jubah yang ia kenakan dan bergegas keluar dari pintu belakang kastil. Nada nya tersengal sengal menembus gelap nya kota malam itu. Rasa takut tak henti henti nya hilang dan keringat terus bercucuran. Langkah nya cepat berjalan menuju ujung kota hingga berhenti di sebuah gubuk kecil tak terawat.

Ia mengetuk pintu gubuk itu dengan tak sabaran. Seorang wanita berumur dua puluhan membuka pintu gubuk tersebut dengan raut wajah terkejut.

"Anida, aku mohon pergi lah ke pelabuhan menuju desa seatro membawa bayi ini."

"Apa!? Kenapa?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah adik amida yaitu anida.

"Ku mohon pergilah! Jika kau terus disini kau akan dalam masalah. Bawalah bayi ini juga dan pergi dari kota yang menyesakan ini," pinta amida dengan nada tersengal sengal dengan tubuh yang gemetar.

...----------------...

...----------------...

1
Surati
bagus ceritanya 👍🙏🏻
Santi Lestari
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!