Indonesia
NovelToon NovelToon
Sentuhan Terlarang CEO Alergi Pada Dunia, Kecuali Kamu

Sentuhan Terlarang CEO Alergi Pada Dunia, Kecuali Kamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Dark Romance / Tamat
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: hopipahnp

Dark romentis• Drama • Komedi • Healing • Sedikit Misteri, mengandung🌶️🌶️ anak 20 kebawa jangan.

> Hadila Nur Padilah (25), gadis sederhana asal kampung Cipongkor, Bandung Barat, rela meninggalkan keluarganya demi bekerja di Jakarta sebagai perawat pribadi untuk seorang ibu lansia. Ia ceria, jujur, ceplas-ceplos dengan logat Sunda yang khas, dan selalu berusaha bertahan meski hidup tak pernah mudah.

Segalanya berjalan biasa… hingga ia dipertemukan dengan anak laki-laki sang majikan—Feiden Girfani (32), seorang CEO tampan dan sukses yang jarang pulang ke rumah ibunya. Pria ini bukan hanya dingin dan tertutup, tapi juga memiliki penyakit langka: tubuhnya alergi terhadap sentuhan manusia. Sekali disentuh, kulitnya bisa muncul bintik-bintik merah ekstrem. Dermatographic urticaria.

Tapi ketika Dila secara tak sengaja menyentuhnya... tak terjadi apa-apa.

Sejak saat itu, segalanya mulai berubah.
Feiden jadi penasaran. Dila jadi gelisah. Dunia di antara mereka perlahan mulai membentuk c

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hopipahnp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Sadar dan Tidak

Semua selesai.

Salep penenang kulit telah dioleskan dengan hati-hati ke seluruh bagian tubuh yang terlihat merah, membengkak, dan berbekas garis-garis nyata—tanda jelas alergi kulitnya yang kumat parah. Obat antialergi sudah diminum sesuai dosis. Napas Feiden perlahan makin teratur, meskipun kulitnya masih terasa panas menyengat, gatal yang tak terlukiskan, dan seluruh tubuhnya terasa lemah tak berdaya akibat reaksi berlebihan itu.

Ini bukan sakit biasa. Ini penyakit yang dia sembunyikan mati-matian: Dermatographic Urticaria. Kulitnya terlalu sensitif—sedikit saja tergesek, tersentuh, atau dia stres berlebihan, langsung muncul garis merah, bengkak, panas, dan rasa gatal yang bikin dia hampir gila. Selama ini dia benci disentuh orang, selalu jaga jarak, pakai baju longgar, semua cuma buat menahan gejala ini supaya tidak ketahuan siapa pun.

Dan malam ini, tekanan kerja, rasa marah, dan kepenatan batin bikin gejalanya meledak habis.

Dila menarik napas lega sesaat, bahunya yang selama berjam-jam tegang akhirnya sedikit rileks. Ia bangkit pelan dari tepi ranjang, niatnya jelas—memberi ruang, menjaga jarak seperti yang seharusnya selalu dilakukan. Ia tahu betul Tuan mudanya ini benci sekali kalau ada orang terlalu dekat, apalagi saat kondisi begini.

Namun baru saja melangkah satu langkah kecil—

Sebuah tangan kekar menyambar dan meraih pergelangan tangannya.

Cepat. Refleks. Kuat. Tapi anehnya... tidak ada reaksi alergi sedikit pun.

Dila tersentak kaget.

“Tu—Tuan?”

Feiden menatapnya. Tatapannya tajam seperti biasa… namun jelas terlihat kabur dan lelah. Kulit wajahnya masih ada sisa garis merah samar, tapi matanya yang sayu itu fokus hanya padanya.

Dila secara refleks mencoba menarik tangannya kembali. Dia takut sekali—takut sentuhannya ini malah bikin kulit Feiden makin parah.

“Tuan, saya mau pergi dulu... takut kulit Tuan makin reaksi kalau kena sentuhan...”

“Duduk.”

Satu kata saja. Pendek. Tidak ada nada marah, tapi tekanannya berat dan tidak memberi celah untuk dibantah.

Dila terdiam sejenak, bingung luar biasa. Biasanya dia paling marah kalau ada orang pegang-pegang dia.

“Sa-saya tidak bisa, Tuan, ini tidak ba—”

Kalimatnya terpotong mendadak. Feiden mengangkat tangan satunya, menahan dagu Dila dengan lembut—tidak terlalu kuat, namun cukup membuatnya membeku di tempat.

Dan yang paling bikin Dila kaget: Kulit Feiden sama sekali tidak bereaksi. Tidak merah, tidak bengkak, tidak ada garis apa pun. Padahal dia tahu betul penyakit majikannya itu. Kenapa cuma sama dia begini?

Bukan rasa sakit yang membuatnya tak bergerak.

Melainkan keanehan itu, dan sejenis peringatan lembut yang menyentuh hati.

“Diam,” ucap Feiden dengan suara rendah serak, nyaris patah di tengah kalimat. “Aku tidak mau sendirian. Rasanya... kalau kamu pergi, gatal dan panas ini makin menjadi-jadi.”

Itu bukan perintah seorang tuan kepada bawahannya.

Itu pengakuan seorang lelaki yang sedang terpuruk, yang hanya merasa tenang dan aman—bahkan gejala penyakitnya berkurang—hanya kalau ada Dila di dekatnya.

Dila menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya kembali menegang, pikirannya berantakan tak bisa berpijak. Ini salah. Ini tidak seharusnya terjadi. Ia tahu batasan. Ia tahu penyakit Feiden. Tapi dia juga sadar satu hal: Dia pengecualian. Hanya sentuhannya yang tidak menyakiti Feiden.

Namun genggaman di pergelangan tangannya tidak sedikit pun melemah. Tangan Dila yang lain tanpa sadar mencengkeram kain celana tidurnya sendiri, meremasnya hingga kusut karena rasa gugup.

“Tuan, ini… ini tidak pantas,” ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Saya hanya ART di rumah ini. Dan… saya takut menyentuh kulit Tuan.”

Feiden menghela napas berat, dadanya naik turun pelan. Tangannya yang menggenggam tangan Dila sedikit mengendur—tetapi tidak pernah benar-benar melepaskan.

“Aku tahu,” katanya dengan nada lirih.

Lalu ia menambahkan, hampir seperti gumaman yang hanya bisa terdengar jika mendekat,

“Dan justru karena itu… jangan pergi. Kamu satu-satunya yang bisa kutahan begini tanpa kulitku terbakar rasa sakit.”

Dila terpaku. Ragu, takut, dan bingung menyelimuti dirinya sepenuhnya. Akhirnya, dengan napas pendek dan terengah-engah karena tekanan batin, ia duduk kembali di tepi ranjang.

Namun tangan Feiden tetap menggenggamnya erat. Suhu tubuhnya yang masih hangat merembes melalui kain baju, terasa nyata di kulit Dila—dan anehnya, rasanya menenangkan, bukan menyakitkan.

Dila mencoba menarik tangannya perlahan-lahan.

“Tuan… saya mohon maaf.”

Feiden menggeleng pelan, matanya sudah mulai terasa berat untuk tetap terbuka. Rasa gatal dan panas perlahan mereda seiring dia memegang tangan Dila.

“Diam,” katanya lagi, kali ini lebih seperti permintaan putus asa. “Aku hanya… perlu ada seseorang di sini. Kamu saja.”

Keheningan mendalam menjelma di antara mereka berdua.

Dila menunduk, jemarinya masih meremas kain celana sendiri, mencoba menahan campuran emosi yang berkecamuk di dadanya—takut, kesal, kasihan, dan bingung kenapa hanya dia yang diizinkan masuk ke sisi paling rapuh majikannya ini.

Perlahan, Feiden melemah.

Napasnya semakin dalam dan tenang.

Kelopak matanya turun… dan akhirnya tertutup. Gejala alerginya perlahan hilang, diganti rasa damai.

Ia tertidur.

Masih menggenggam tangan Dila.

“Ya Allah…” Dila berbisik, matanya berkaca-kaca. “Tuan ini… kenapa harus begini… kenapa cuma sama saya…”

Ia mencoba melepaskan tangannya sekali lagi.

Tidak bisa.

Bahkan dalam tidur, Feiden menggenggamnya seperti seseorang yang takut tenggelam jika ia dilepas. Seolah-olah tangan Dila itu satu-satunya obat yang bisa menenangkan penyakitnya yang tak ada obatnya itu.

Malam itu berlalu tanpa suara.

Lampu tidur di sisi ranjang memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, cukup untuk memperlihatkan wajah Feiden yang akhirnya tenang—tidak lagi mengernyit menahan gatal, tidak lagi gelisah menahan panas. Kulitnya sudah kembali halus, bersih dari bekas merah, seolah penyakit itu hanya muncul saat dia jauh dari Dila.

Sementara itu, Dila duduk kaku di tepi ranjang.

Punggungnya tegang. Bahunya pegal. Lehernya sedikit tertunduk, dan tangan kirinya… masih terjebak.

Masih digenggam.

Bahkan kini, genggaman itu tidak lagi sekadar di pergelangan—Feiden, tanpa sadar dalam tidurnya, telah menarik tangan Dila lebih dekat, menjadikannya seperti guling penyejuk. Lengannya melingkar setengah, bukan memeluk erat, tapi cukup untuk membuat Dila tak bisa bergerak bebas sedikit pun. Dan yang paling aneh: tidak ada satu pun bekas merah muncul di kulit Feiden.

“Ya Allah…” gumam Dila nyaris tak bersuara.

Dadanya naik turun pelan. Ia tidak berani menarik tangannya kasar. Takut Feiden terbangun dan gejalanya kembali kumat. Takut suasana jadi lebih canggung. Takut… ia sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana jika itu terjadi.

Ini salah.

Ia tahu itu.

Sejak awal, ia tahu batasnya. Ia hanya ART. Ia ada di rumah ini untuk bekerja, bukan untuk terlibat dalam emosi rumit majikannya—apalagi anak tuan rumah yang punya penyakit rahasia, dingin, berkuasa, dan biasanya nyaris tak tersentuh siapa pun.

Namun malam ini, semua aturan dan batasan itu terasa runtuh begitu saja.

Dila melirik wajah Feiden sekali lagi.

Lelaki itu terlihat berbeda saat tertidur. Tidak ada aura dingin yang menusuk. Tidak ada tatapan tajam yang menghakimi. Tidak ada rasa benci disentuh yang selalu dia tunjukkan.

Waktu berjalan.

Detik jam berdetak pelan.

Rasa kantuk menyerang tanpa ampun.

Akhirnya, dengan posisi kaku dan jarak aman yang ia jaga sekuat mungkin, Dila ikut terlelap, kepala sedikit menunduk ke depan, tangan masih terjebak dalam genggaman yang tidak ia minta—namun juga tidak sanggup ia lepaskan, karena sadar dia satu-satunya penenang lelaki itu.

Malam itu berlalu dalam sunyi.

Dan tanpa mereka sadari,

batas yang selama ini dijaga dengan ketat…

baru saja retak—

bukan karena keinginan,

melainkan karena rahasia besar, kelemahan, dan pengecualian yang tak pernah diizinkan muncul ke permukaan.

Beberapa jam kemudian—

Kepalanya bergoyang cukup keras hingga ia tersentak bangun.

“Hah—!”

Dila terengah kecil, jantungnya berdetak cepat. Matanya berkeliling panik, mencoba memahami di mana ia berada.

Kamar.

Kamar Feiden.

Lampu tidur masih menyala remang.

Pandangan Dila naik ke meja kecil di sisi ranjang, dan matanya langsung tertuju pada jam digital yang ada di sana.

04.25

Sudah subuh.

“Ya ampun…” napasnya terengah-engah, penuh kekhawatiran.

Rasa panik langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia menoleh ke samping—dan kekhawatirannya bertambah besar saat menyadari bahwa tangannya masih digenggam. Bahkan lebih erat dari sebelumnya. Feiden dalam tidurnya tampak sedikit memiringkan tubuhnya ke arahnya, membuat lengan Dila tertarik lebih dekat ke dada bidang lelaki itu. Kulit mereka bersentuhan, mulus, bersih, aman—bukti nyata lagi-lagi dia pengecualian.

“Ini gawat banget,” batinnya berdesah kalut. “Kalau sampai ada yang tahu aku semalaman di kamar tuan muda… dan lihat dia begini sama aku…”

Ia bisa membayangkan bisik-bisik yang akan muncul, tatapan aneh dari orang rumah lain, pertanyaan yang tidak akan pernah bisa ia jawab dengan tenang. Tidak. Ia tidak boleh berlama-lama di sini.

Dengan hati-hati luar biasa, Dila mulai menggerakkan jarinya satu per satu dengan sangat pelan. Mencoba melonggarkan genggaman Feiden tanpa mengejutkannya. Tiba-tiba Feiden bergumam pelan dalam tidurnya, membuat Dila langsung membeku seketika, napasnya tertahan.

Beberapa detik berlalu tanpa ada gerakan lain. Feiden tetap tertidur lelap, tenang, kulitnya tetap mulus.

“Sedikit lagi… tinggal sedikit saja…” Dila berbisik dalam hati.

Ia mencoba lagi, kali ini lebih sabar dan pelan dari sebelumnya. Hingga akhirnya—dengan usaha yang membuat jemarinya gemetar karena ketegangan—genggaman itu perlahan mengendur. Lepas.

Dila hampir mengeluarkan napas lega terlalu keras, namun segera menahannya. Ia bangkit perlahan dari tepi ranjang, setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati seolah lantai akan mengeluarkan suara keras jika ia melakukan kesalahan satu pun. Kakinya menyentuh lantai yang dingin, membuatnya sedikit menggigil.

Ia menoleh sekali lagi ke arah ranjang. Feiden masih tertidur dengan tenang. Wajahnya tampak damai, bersih dari segala jejak penyakitnya, tidak ada tanda-tanda ia akan segera terbangun atau sadar telah kehilangan "obat penenang"-nya semalaman.

“Maaf ya, Tuan…” bisik Dila lirih, entah apakah kata itu ditujukan pada Feiden atau pada dirinya sendiri.

Ia melangkah perlahan menuju pintu, meraih gagang dengan hati-hati, membukanya sedikit mungkin agar tidak berdecit. Lorong di luar kamar masih gelap gulita dan sunyi. Rumah besar ini masih terlelap dalam mimpi, tidak ada satu pun lampu utama yang menyala.

Dila melangkah keluar dengan gerakan nyaris tak bersuara, menutup pintu kembali dengan sangat pelan hingga terkunci rapat.

Ia berjalan menyusuri lorong, langkahnya ringan seperti pencuri—bukan karena niat buruk, tapi karena rasa takut berlebihan. Jantungnya terus berdetak kencang saat ia menuruni tangga dari lantai atas. Setiap anak tangga terasa terlalu keras di telinganya.

Namun rumah itu tetap sunyi.

Saat akhirnya ia sampai di lantai utama yang luas, Dila tidak berhenti. Ia langsung berbelok menuju arah dapur dan kamar para ART yang terletak tak jauh dari sana.

Kamarnya.

Sesampainya di depan pintu kamar yang ia tempati bersama Mbak Reni, Dila menahan napas lagi. Ia membuka pintu perlahan dan mengintip ke dalam.

Mbak Reni masih tidur pulas.

“Syukurlah…” Dila menghembuskan napas lega.

Tanpa menyalakan lampu utama, ia segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Ia memilih mandi lebih cepat daripada berbaring kembali—takut kalau pikirannya keburu liar, takut kalau wajahnya masih memerah karena kejadian semalam, dan takut mengingat fakta besar itu: Hanya dia yang aman menyentuh Feiden.

Air dingin subuh menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit tersentak. Namun justru itu yang membuatnya kembali sadar. Mengingatkannya akan kenyataan yang harus diterima.

Apa pun yang terjadi malam ini… tidak boleh terulang lagi tanpa ada kejelasan yang jelas. Tapi satu hal tak bisa diubah: penyakit Feiden, rahasianya, dan fakta bahwa dia butuh Dila.

“Aku harus lebih hati-hati menjaga jarak,” batinnya bersikeras dengan tegas, meskipun hatinya masih berantakan seperti ombak yang menerjang pantai. “Aku tidak boleh pernah lupa siapa diriku… dan siapa dia. Dan rahasia besar apa yang dia simpan.”

Usai mandi, Dila segera bersiap bekerja seperti biasa. Mengenakan seragam kerja yang rapi, mengikat rambutnya dengan benar, dan menata wajahnya kembali menjadi datar—seolah tidak ada apa-apa yang terjadi. Seolah malam itu tidak pernah ada dalam hidupnya.

Namun jauh di dalam dadanya, Dila tahu satu hal yang tak bisa disangkal—

Malam ini mungkin telah berakhir.

Tetapi retakan pada batas, rahasia penyakit, dan kenyataan bahwa dia pengecualian… sudah terlanjur ada.

Dan cepat atau lambat, hal itu pasti akan terasa kembali. Bahkan makin besar, makin nyata.

1
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
tenang feid, gak usah takut, istri kamu lagi ke dapur, dia nggak bakalan hilang kok🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
begini nasibnya jones, cuma bisa nyengar nyengir lihat kemesraan Dila feiden🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
rumahnya besar kalau bisa anaknya harus banyak 🤣🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
selamat datang di rumah baru, dila🥳
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jangan lama lama buat hadirkan feiden kecil thor🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
emang ya pacaran setelah menikah itu surga dunia banget 🤭🤭🤭🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
Dila beruntung banget bisa punya mertua baik kayak mamanya feiden
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
jangan buat fender villain dalam rumah tangga Dila dan feiden, Thor.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kasihan fender, masa kalah sama feiden🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
kenapa mas fender jadi sadboy Thor, tolong kasih jodoh juga dong.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
nurut aja dil, yang penting suami kamu gak neko neko🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
gak usah ditanya lagi, kamu itu obatnya feiden, dil🤭🤭🤭🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
bisa aja rayuan mautmu feid, ngomong aja kl kamu pengen Deket sama dila🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
udah Nikah maka bajunya harus couple juga😄
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
romantisnya pasangan pengantin baru ini, lengket banget kayak perangko 🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
cari kesempatan dalam kesempitan 🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
udah kasih cepat ke Dila feid, kasihan Dila gak bisa ambil, karena badannya yang mungil kayak botol Yakult 🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
seger banget pasti, habis mandi berdua🤭
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
resiko punya suami kelakuan kayak bocil ya begini🤣🤣🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️
selesai juga Thor😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!