"""Dari sekian banyak cewek, kok lu mau sih nikahin Lina yang cacat itu?""
Sekujur tubuh Lina menegang saat itu juga. Namun, yang ia dengar selanjutnya bukan pembelaan sang suami tapi gelak tawa yang disertai cibiran.
Saat itu juga, Lina tertawa miris. Padahal kakinya seperti ini karena menolong Rizky, mimpinya sebagai penari profesional sirna karena menolong Rizky, semuanya karena Rizky. Namun, semua itu tidak ada apa-apanya di hadapan kekasih pertama Rizky, Siti.
Satu kata: Cerai. Kemudian, di pertemuan berikutnya, keduanya hadir di pengadilan sebagai pihak yang berlawanan. Lina menuntut Siti dan perusahaan Rizky dengan pencemaran nama baik!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 021
Origami Bangau
Malam itu Rayven pulang sebelum tengah malam.
Keira mendengarnya dari suara mobil di halaman, lalu langkah di tangga. Ia sedang duduk di sisi ranjang, membuka brosur kecil yang diberikan Bu Surya. Di dalamnya ada daftar kota, jadwal workshop, dan nama beberapa teater kecil di Eropa.
Belanda.
Jerman.
Inggris.
Tiga kata itu membuat kamar Oen terasa lebih sempit.
Keira baru saja menyelipkan brosur ke dalam buku ketika pintu kamar terbuka.
Rayven masuk.
Ia tidak memakai jas. Kemejanya terbuka satu kancing di leher. Ada bau alkohol tipis di tubuhnya, tetapi langkahnya masih stabil. Matanya lebih merah dari biasa, bukan mabuk, lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu dan akhirnya tidak tahu harus menaruhnya di mana.
Keira menatapnya sebentar.
"Kamu minum?"
"Sedikit."
Rayven menutup pintu.
Biasanya, setelah pulang malam, ia akan langsung mandi atau masuk ke ruang kerja. Malam ini ia berjalan ke sisi ranjang, duduk di ujungnya, lalu diam.
Diam itu berbeda dari biasanya.
Tidak dingin.
Lebih berat.
Keira tidak bertanya.
Ia sudah terlalu lama hidup dengan semua jenis diam Rayven. Ia tahu ada diam yang berarti jangan ganggu, ada diam yang berarti aku marah, ada diam yang berarti aku sedang memikirkan Chenya.
Malam ini, diam itu seperti pintu yang tidak sengaja terbuka.
Rayven menunduk, menatap kedua tangannya.
"Oma pernah dirawat lama di rumah sakit waktu aku SMA."
Keira membeku.
Satu kalimat itu datang terlalu tiba-tiba.
Rayven jarang membicarakan Oma Oen.
Dalam rumah ini, Oma Oen lebih sering hadir sebagai foto lama di ruang kerja, nama di dokumen keluarga, dan cerita yang berhenti sebelum benar-benar dimulai.
"Aku tahu," kata Keira pelan.
Rayven seperti tidak mendengar. Atau mungkin ia memang tidak membutuhkan jawaban.
"Waktu itu aku masih kelas dua SMA. Aku pikir semuanya bisa selesai kalau punya uang cukup. Tapi uang tidak selalu membuat orang tetap hidup."
Ia tertawa pendek.
Tidak ada senang di sana.
"Dokter bilang kondisinya naik turun. Kadang Oma sadar, kadang tidak. Aku masih sekolah, masih kerja paruh waktu di toko kue, masih pura-pura kuat karena tidak ada orang lain di rumah."
Keira memegang ujung selimut.
Ia pernah melihat Rayven versi itu.
Bukan di rumah ini.
Bukan sebagai suaminya.
Di lorong rumah sakit bertahun-tahun lalu.
Anak laki-laki SMA dengan seragam sedikit kusut, mata keras, dan tangan yang selalu menggenggam kantong plastik berisi roti murah karena takut Oma Oen bangun dan lapar.
Saat itu, Keira belum tahu bahwa kesepian bisa membuat seseorang terlihat jauh lebih tua daripada usianya.
Rayven tidak tahu Keira pernah melihatnya seperti itu.
"Ada satu relawan," lanjut Rayven.
Keira tidak bernapas selama satu detik.
"Dia datang hampir setiap sore. Aku tidak tahu namanya. Kadang aku hanya melihat punggungnya dari ujung lorong. Dia duduk di samping Oma, membacakan doa pendek, kadang cerita tentang sekolah, kadang hanya diam. Oma suka suaranya."
Suara Rayven melembut.
Keira menatap lantai.
Di kepalanya, bau disinfektan lama kembali hidup.
Koridor sempit.
Kursi plastik hijau.
Jam dinding yang selalu terlambat lima menit.
Dan seorang perempuan tua di ranjang rumah sakit, kulitnya tipis, tangannya dingin, tetapi matanya tersenyum setiap kali Keira datang membawa kertas warna.
"Dia melipat origami bangau," kata Rayven.
Kata itu jatuh pelan.
Origami Bangau.
Keira merasakan ujung jarinya mendingin.
"Setiap hari satu, kadang dua. Kertasnya kecil. Warna-warni. Oma bilang kalau bangau itu penuh satu toples, ia akan cepat pulang."
Rayven menatap ke depan, tetapi jelas ia tidak melihat kamar itu.
Ia melihat tempat lain.
Masa lalu yang selama ini ia simpan.
"Aku dulu tidak percaya hal seperti itu. Tapi Oma percaya. Jadi aku pura-pura percaya juga."
Keira ingat toples kaca itu.
Toples bekas biskuit, tutup merahnya sedikit retak. Oma Oen meminta Keira menaruh setiap bangau di sana dengan sangat hati-hati, seolah kertas kecil itu benar-benar bisa menahan hidup seseorang.
Keira juga ingat tulisan kecil yang ia selipkan di beberapa lipatan.
Semoga Oma tidur nyenyak malam ini.
Semoga cucu Oma tidak terlalu sedih.
Semoga hari ini tidak terlalu sakit.
Ia menulis semuanya dengan pulpen hitam karena hanya itu yang ada di tas sekolahnya.
"Hari terakhir Oma..." Rayven berhenti.
Keira mengangkat mata.
Rahang Rayven mengeras.
"Hari itu relawan itu tidak datang. Oma menunggu sampai sore. Ia terus bertanya, anak itu belum datang? Aku bilang mungkin macet. Mungkin sekolahnya belum selesai. Aku bahkan pergi ke lorong beberapa kali untuk melihat."
Keira menelan ludah.
Hari itu hujan besar.
Ia ingat.
Yulia mengunci pintu rumah karena marah Keira pulang terlambat beberapa hari berturut-turut. Hendra menyuruhnya berhenti mengurus orang lain. Brandon menangis minta dibelikan sesuatu. Keira berdiri di balik jendela, melihat hujan menutup gang, menggenggam kertas warna yang sudah ia potong rapi.
Ia tidak datang.
Esoknya, ketika ia kembali ke rumah sakit, ranjang itu sudah kosong.
Perawat hanya berkata, Oma sudah pergi.
Tidak ada nama keluarga yang bisa ia hubungi.
Tidak ada alamat.
Hanya toples kaca berisi origami bangau yang sudah tidak ada di meja.
"Aku menyesal tidak pernah bertanya namanya," kata Rayven. "Aku pikir suatu hari pasti bertemu lagi."
Keira membuka bibir.
Suaranya tidak keluar.
Rayven menoleh padanya.
Mata mereka bertemu dalam cahaya lampu kamar yang redup.
Untuk sesaat, Keira hampir berkata.
Itu aku.
Aku yang datang setiap sore.
Aku yang melipat bangau itu.
Aku yang mendengar Oma Oen berkata Rayven anak baik, hanya terlalu keras pada dirinya sendiri.
Aku yang gagal datang di hari terakhir.
Tetapi sebelum kata-kata itu keluar, Rayven berkata, "Lalu aku menemukan Chen."
Keira diam.
Rayven tidak melihat perubahan kecil di wajahnya.
Atau mungkin ia melihat, tetapi menafsirkannya sebagai hal lain.
"Dia tahu detail yang hanya mungkin diketahui orang itu. Toples kaca. Bangau warna biru yang sayapnya pernah robek. Oma yang suka meminta doa pendek sebelum tidur." Suara Rayven menjadi lebih rendah. "Aku pikir, akhirnya aku menemukannya."
Keira menatapnya.
Di dalam dadanya, sesuatu yang dulu masih lunak akhirnya menjadi dingin.
Chenya tahu.
Tentu saja Chenya tahu.
Mungkin dari cerita yang Rayven berikan sedikit demi sedikit. Mungkin dari kesempatan yang terbuka karena seseorang terlalu ingin percaya. Mungkin dari satu kebohongan kecil yang cukup manis untuk diterima oleh laki-laki yang sedang mencari masa lalunya.
"Itulah kenapa Chen berbeda," kata Rayven. "Dia bukan cuma orang yang kusukai. Dia pernah menemani Oma di hari-hari terakhirnya. Dia... semacam utang hidup."
Utang hidup.
Keira hampir tertawa.
Tetapi tenggorokannya seperti tertutup kertas.
Selama lima tahun, Rayven membayar utang kepada orang yang salah.
Dibayar dengan perhatian.
Dibayar dengan rumah.
Dibayar dengan cincin.
Dibayar dengan pernikahan yang dingin.
Dibayar dengan Keira.
"Kamu mengerti sekarang?" tanya Rayven.
Keira menatap tangannya sendiri.
Ada bekas lipatan samar di ingatan jari-jarinya. Kertas warna yang terlalu kecil. Ujung sayap bangau yang harus ditekan dengan kuku. Suara Oma Oen yang berkata, "Anak baik, kamu sekolah di mana?"
Keira tidak pernah menjawab lengkap.
Ia hanya tersenyum dan berkata, "Dekat sini, Oma."
Karena saat itu, ia datang bukan untuk dikenal.
Ia datang karena Oma Oen terlihat kesepian.
Karena Rayven terlihat seperti anak laki-laki yang tidak tahu cara menangis.
Karena Keira, sejak dulu, selalu terlalu mudah menyayangi orang yang tidak pernah tahu.
"Keira?"
Rayven memanggilnya.
Keira mengangkat wajah.
Kata-kata itu sudah ada di lidah.
Itu aku.
Sangat pendek.
Sangat mudah.
Jika ia mengatakannya, mungkin Rayven akan terkejut. Mungkin ia akan bertanya. Mungkin untuk pertama kalinya, mata Rayven akan melihatnya bukan sebagai istri yang selalu ada, tetapi sebagai bagian dari masa lalu yang ia cari.
Dulu, Keira mungkin akan mengatakan semuanya.
Dulu, ia akan memberikan rahasia paling lembut miliknya hanya agar Rayven menoleh.
Sekarang tidak.
Rahasia itu terlalu bersih untuk diserahkan ke tangan orang yang baru menggunakannya sebagai alasan mencintai Chenya.
"Aku mengerti," kata Keira.
Rayven menunggu beberapa detik.
Mungkin ia mengira Keira akan bertanya lebih banyak.
Mungkin ia mengira setelah mendengar cerita itu, Keira akan memahami kenapa Chen tidak bisa dilepas.
Keira tidak bertanya apa-apa.
Rayven akhirnya berbaring di sisi ranjangnya. Punggungnya menghadap Keira. Dalam beberapa menit, napasnya menjadi lebih teratur.
Ia tidur.
Keira tetap duduk.
Lampu kamar masih menyala redup.
Di luar jendela, malam Jakarta tidak benar-benar gelap. Ada cahaya dari taman, dari jalan, dari kota yang tidak pernah berhenti.
Keira mematikan lampu.
Gelap turun.
Dalam gelap itu, ia membuka mata.
Ia melihat lagi toples kaca bertutup merah.
Melihat bangau-bangau kecil memenuhi ruang kosong.
Melihat seorang perempuan tua tersenyum sambil berkata, "Kalau cucuku pulang, kamu jangan langsung pergi, ya."
Namun Keira selalu pergi sebelum Rayven masuk.
Dulu karena ia malu.
Sekarang karena ia sudah terlambat.
Keira berbaring pelan.
Di sampingnya, Rayven tidur dengan tenang setelah menyerahkan satu lagi alasan untuk memilih Chenya.
Keira menatap langit-langit yang tidak terlihat.
Rahasia itu tetap berada di dalam dirinya.
Tidak karena ia takut kehilangan Rayven.
Tetapi karena ia sudah berhenti ingin dimenangkan.
Move on yg elegan😍😍😍
jangan cuma jadi penonton di hidup mu
tapi ternyata dampak nyanluar binasa😁
kadang kebenaran itu seperti membuka pintu ke dimensi lain bukan?
aku dimana???
aku siapa??
🤣🤣🤣
mau kasian tapi puas bgt aku ngetawain nya
Oma analoginya😁🫠
Arvin juga
CK.. menjijikan
bangga bet jadi j4l4ng 😒
bukan juga pertanggungjawaban
hanya ada rasa lega
bahwa yg perlu diselamatkan...itu selamat
mereka udah memainkan oen
dia aja yg bodoh atas nama utang Budi yg salah alamat