....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu bus
RUMAH BESAR MAHENDRA - MALAM ITU.
Kamar di rumah itu besar. Ukuran yang terlalu besar untuk satu orang.
Cheyrin tiduran di atas ranjang king size, memainkan ponselnya tanpa tujuan.
Di sampingnya, seekor kucing abu-abu kesayangannya meringkuk. Tangan kirinya sesekali mengelus bulu lembut itu, mencari ketenangan.
Sunyi.
Tiba-tiba notifikasi grup bergetar.
Cheyrin membuka pesan itu.
[INFO PENTING]
GATHERING WAJIB MAHASISWA.
DALAM RANGKA: PENGUATAN SOLIDARITAS & PERSIAPAN MAGANG
2 HARI 2 MALAM
LOKASI: VILLA PINGGIR PANTAI.
Cheyrin terdiam sejenak.
Sebenarnya ia malas untuk ikut.
Sejak kejadian beberapa hari lalu, ia bahkan belum bicara sepatah kata pun dengan Jayden. Sengaja menghindar.
Tapi membayangkan gathering nanti...
Berarti akan ada banyak kesempatan bertemu.
Bertemu dengan Jayden.
Bertemu dengan Steven.
Cheyrin meletakkan ponselnya. Menatap langit-langit.
Keesokan harinya, suasana kampus tampak ramai. Beberapa bus telah berjejer rapi di halaman, bersiap untuk keberangkatan. Mahasiswa berlalu lalang membawa barang bawaan, sebagian berkumpul dalam kelompok sambil bercanda dan tertawa.
Cheyrin baru saja turun dari mobil ayahnya.
"Pulangnya kabarin ya," ucap Mahendra dari dalam mobil.
Cheyrin hanya mengangguk. Ia terpaksa mengikuti kegiatan ini karena tidak ingin mempertaruhkan nilainya.
Cheyrin mengedarkan pandangan. Semua orang tampak antusias. Masing-masing sudah berada dalam kelompoknya, berbincang dan tertawa. Sementara itu, Cheyrin masih berdiri di tempatnya. Tanpa menunggu lebih lama, ia masuk ke bus sesuai kelompok yang telah dibagikan.
Ia memilih duduk di dekat jendela. Dari balik kaca, Cheyrin melihat Steven sedang berbicara dengan Lisa sambil tertawa. Namun, Cheyrin tidak terlalu memedulikannya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah ketenangan. Ia tidak ingin ada masalah dengan siapa pun.
Cheyrin memasang earphone, lalu membuka novel yang dibawanya. Tak lama kemudian, mahasiswa lain mulai masuk ke dalam bus untuk mencari tempat duduk. Cheyrin tidak menoleh sedikit pun. Ia tetap membaca dan mendengarkan musik dari earphonenya.
Tiba-tiba seseorang duduk di kursi di sebelahnya. Pintu bus telah tertutup dan bus bersiap untuk berangkat.
Cheyrin melirik, lalu segera melepas earphonenya.
Jayden.
Orang yang duduk di sebelahnya adalah Jayden. Cheyrin menoleh ke sekeliling untuk memastikan bahwa ia tidak salah menaiki bus. Ia melihat Dara duduk di bagian depan. Berarti ini bus yang benar. Tapi Jayden... ia yang masuk ke bus yang salah. Dan Jayden terlihat tidak peduli sama sekali. Ia menyandarkan kepala di sandaran kursi dengan kacamata hitam masih menempel di wajahnya.
Cheyrin akhirnya bertanya, suaranya pelan:
"Lo gak salah bus?"
Jayden hanya diam. Tidak menjawab pertanyaan itu.
Bus mulai berjalan meninggalkan kampus.
Di luar jendela pemandangan berganti, sementara di dalam, keheningan menyelimuti kursi nomor 4. Antara Cheyrin dan Jayden.
Ketua tim berdiri di depan, lalu mulai mengabsen satu per satu nama yang ada di dalam bus.
Ketika nama "Lisa" disebut, Jayden hanya mengangkat tangannya.
Cheyrin langsung paham.
Berarti Lisa dan Jayden sudah sepakat bertukar tempat duduk.
"Lo sengaja?" tanya Cheyrin.
Jayden menjawab, "gue males aja satu bus sama Steven."
Alasannya terdengar masuk akal, tapi juga bisa dibilang sengaja.
Cheyrin mengerutkan dahi. "Kenapa harus duduk di samping gue?"
Jayden menoleh sekilas, lalu menjawab, "terus di mana lagi, tempat duduk udah penuh."
Dan itu benar. Kursi di dalam bus memang sudah sesuai jumlah kelompok. Jayden memang menempati slot milik Lisa.
Cheyrin menghela napas kesal, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.
Perjalanan berjalan lancar. Cheyrin kembali melanjutkan bacaannya. Ia sengaja menutupi wajahnya dengan buku agar tidak perlu menoleh ke arah Jayden. Sementara itu, Jayden hanya memainkan ponselnya.
Suasana yang tadinya ramai perlahan menjadi tenang. Beberapa mahasiswa tertidur. Sebagian lagi sibuk dengan ponselnya. Keheningan mulai menyelimuti bus.
Tak lama kemudian, tangan Cheyrin yang memegang buku mulai melemah. Jelas sekali ia sedang menahan kantuk.
Hingga akhirnya buku itu terjatuh di pangkuannya. Kepalanya bersandar di sandaran kursi menghadap jendela. Matanya terpejam.
Jayden menoleh ke samping. Ia tersenyum kecil.
Dengan hati-hati, Jayden memindahkan posisi kepala Cheyrin ke bahunya. Agar tidak terbentur ke jendela.
Bus terus melaju.
Bus berjalan dengan baik, sementara di dalamnya, Cheyrin tertidur bersandar di bahu orang yang paling ingin ia hindari.
.
.
.
Bus mulai melambat lalu berhenti di depan villa. Suara pintu terbuka.
Satu persatu mahasiswa mulai turun secara bergiliran sambil membawa barang.
Dari luar, Dara sempat menoleh ke dalam bus.
Langkahnya terhenti. Matanya melihat Cheyrin masih menyandarkan kepala di bahu Jayden.
Tangannya mengepal. Tapi Dara tidak berkata apa-apa. Ia tetap keluar bersama yang lain.
Tak lama kemudian, semua orang sudah turun.
Suasana di dalam bus menjadi sunyi. Hanya tersisa Jayden dan Cheyrin.
Sebenarnya Jayden bisa saja membangunkan Cheyrin.
Tapi ia sengaja membiarkan gadis itu meminjam bahunya sebentar.
Beberapa saat kemudian, Cheyrin mengerjap. Ia bergerak. Matanya mulai terbuka.
Ia menoleh ke samping.
Cheyrin terkejut. Ia tidak ingat kalau tadi tertidur di bahu Jayden.
Sementara Jayden hanya fokus pada ponselnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan cepat Cheyrin menarik tubuhnya. Ia melihat ke sekeliling.
Bus sudah berhenti. Orang-orang sudah turun. Hanya tinggal mereka berdua di dalam sana.
"Lo ngapain, kok gak turun?" tanya Cheyrin.
Jayden menoleh, santai. "gimana gue mau turun, bahu gue lo pake."
Cheyrin melirik ke sana kemari, wajahnya mulai panas. "ya kenapa lo gak bangunin gue?"
Jayden menjawab tanpa dosa, "gue udah bangunin tapi lo aja yang kayak kebo."
Wajah Cheyrin langsung memerah. Alisnya mengerut.
Ia langsung berdiri dan menyampirkan tasnya. "minggir minggir"
Dengan cepat Cheyrin turun, dan dengan sengaja menabrak kaki Jayden yang masih duduk di kursi.
Cheyrin langsung kabur keluar bus tanpa menoleh lagi.
Sementara Jayden di dalam masih duduk. Ia menatap punggung Cheyrin yang pergi, lalu tersenyum kecil sambil mengusap kakinya yang ketabrak.
Mereka berdua pun keluar dari bus. Cheyrin yang keluar lebih dulu, disusul Jayden.
Udara sore langsung menyambut begitu pintu bus terbuka.
Villa itu berdiri di atas tanah yang agak tinggi, menghadap langsung ke laut. Langit mulai jingga, matahari hampir tenggelam.
Rumput di halaman hijau rapi, ditata dengan tanaman tropis dan bunga warna merah muda. Di sisi kanan ada kolam renang kecil yang memantulkan cahaya langit.
Teras villa panjang dengan atap kayu dan lampu-lampu kuning gantung sudah menyala. Dari dalam terdengar suara tawa dan musik pelan. Aroma garam laut bercampur wangi bunga kamboja.
Di halaman, semua orang sudah berkumpul. Ada yang duduk di kursi rotan, ada yang sibuk foto-foto, ada juga yang menurunkan barang dari bus.
Begitu melihat Cheyrin dan Jayden turun paling terakhir, Juno langsung bersiul keras.
"woooii yang terakhir turun nih~ se-bus berdua doang? Romantis banget sih"
Semua orang langsung melirik.
Termasuk Dara dan Steven.
Beberapa orang ikut tertawa. Suasananya jadi riuh.
Cheyrin hanya menunduk. Wajahnya memerah. Ia tersenyum malu dan pura-pura merapikan tali tasnya.
Sementara Jayden... wajahnya langsung datar. Ia melirik ke arah Juno dengan tatapan mengancam.
Juno yang tadinya pede langsung kikuk. Tawanya berhenti di tengah jalan.
"eh.. becanda doang bang... santai" katanya sambil mengangkat kedua tangan dan tersenyum canggung.
Keheningan canggung menggantung selama 2 detik, sampai ketua tim akhirnya bertepuk tangan.
"Oke oke cukup. Kita bagi kamar ya!"
Cheyrin langsung berjalan cepat ke arah kelompok perempuan, tanpa menoleh ke belakang.
Jayden menghela napas, memasukkan kedua tangan ke saku, lalu ikut berjalan ke arah kelompok laki-laki.