Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Penyesalan Suami: Mengejar Mantan Terindah

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Berbaikan / Tamat
Popularitas:891k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.

Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.

Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.

Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Suasana ruang tamu rumah Kanaya terasa tenang, setelah banyak keterkejutan yang terjadi sejak siang tadi di rumah itu. Bu Winda duduk berdampingan kanan Kanaya dan Bu Cantika di kiri. Mereka duduk di sofa panjang. Sementara Pak Adjie duduk bersama Shaka di sebrangnya.

Arkana duduk tidak jauh dari mereka. Sesekali pandangannya mengarah kepada Abinaya dan Anaya yang sedang bermain puzzle di atas karpet ruang keluarga. Melihat kedua anak itu tertawa dan saling bercanda membuat hati Arkana terasa hangat sekaligus nyeri. Lima tahun yang hilang tidak akan pernah bisa kembali.

Bu Winda masih beberapa kali menatap Kanaya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hingga saat ini ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa perempuan yang dikaguminya selama beberapa waktu terakhir ternyata adalah menantunya sendiri. Sementara dua anak yang begitu cepat merebut hatinya ternyata adalah cucu kandungnya.

"Jujur saja, sampai sekarang saya masih merasa seperti sedang bermimpi," ucap Bu Winda sambil tersenyum tipis.

Pak Adjie tertawa pelan. "Saya juga tidak menyangka semua ini akan terungkap dengan cara seperti ini."

Bu Winda menoleh kepadanya. "Pak Adjie, kalau boleh tahu, sejak kapan Kanaya tinggal bersama Bapak dan Ibu? Saya penasaran karena sepertinya hubungan kalian sangat dekat."

Pak Adjie dan Bu Cantika saling berpandangan sejenak. Seolah tanpa perlu berbicara, keduanya sama-sama teringat pada kejadian lima tahun lalu yang mengubah hidup mereka.

Pak Adjie mengembuskan napas perlahan sebelum mulai bercerita. "Sebenarnya kami bertemu Kanaya secara tidak sengaja. Waktu itu sekitar lima tahun yang lalu, saat saya sekeluarga dalam perjalanan pulang dari liburan keluarga."

Mendengar cerita itu, Kanaya perlahan menundukkan kepala. Ia tahu persis kejadian yang akan diceritakan.

"Di tengah perjalanan mobil kami mengalami kecelakaan," lanjut Pak Adjie. "Mobil keluar jalur lalu terguling di pinggir jalan."

Mata Bu Winda langsung membesar. "Ya Allah ...."

"Jalan waktu itu sangat sepi," sambung Bu Cantika. "Tidak ada kendaraan yang lewat. Kami bertiga terjebak di dalam mobil dan tidak bisa keluar."

Suara wanita itu mulai bergetar saat mengingat kejadian tersebut. "Saya masih ingat betul bau bensin yang menyengat waktu itu," lanjutnya. "Kami panik karena takut mobil meledak."

Shaka yang sejak tadi diam ikut mengangguk. "Api bahkan sudah mulai muncul dari bagian depan mobil."

Bu Winda spontan menutup mulutnya. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding.

"Kami berteriak minta tolong," kata Pak Adjie. "Tapi tidak ada siapa-siapa."

"Lalu muncul Mbak Kanaya," sambung Shaka.

Semua mata langsung tertuju kepada Kanaya yang hanya tersenyum kecil dan terlihat tidak nyaman menjadi pusat perhatian.

"Waktu itu Mbak Kanaya jalan kaki di waktu malam sampai dikira hantu," lanjut Shaka sambil tertawa kecil.

"Dan tanpa pikir panjang dia menolong kami," kata Bu Cantika.

Bu Winda menatap Kanaya penuh takjub. "Sendirian?"

Kanaya mengangguk pelan. "Kebetulan saja saya lewat di sana, Bu."

"Kebetulan yang menyelamatkan nyawa kami," timpal Pak Adjie.

Bu Cantika tersenyum haru. "Kanaya sampai memecahkan kaca mobil untuk mengeluarkan kami. Tangannya terluka karena pecahan kaca."

"Itu cuma luka kecil, Bu," sahut Kanaya pelan.

Namun Bu Cantika langsung menggeleng. "Bagi kami itu bukan luka kecil."

Arkana yang mendengarkan cerita itu hanya bisa diam. Dadanya terasa semakin sesak. Ia memandang Kanaya tanpa berkedip. Selama lima tahun ini ia tidak pernah tahu kehidupan seperti apa yang dijalani Kanaya setelah meninggalkannya.

"Setelah membawa kami ke rumah sakit, Kanaya tidak pergi begitu saja," lanjut Pak Adjie. "Dia malah menjaga kami."

Bu Winda terlihat semakin penasaran. "Menjaga?"

"Iya," jawab Bu Cantika. "Dia membantu mengurus semuanya. Membelikan makanan, membantu administrasi rumah sakit, bahkan menunggui kami selama di rumah sakit."

Kanaya tersenyum malu. "Waktu itu saya hanya membantu semampunya."

Sebenarnya, ada alasan lain. Selain memastikan kesembuhan Pak Adjie sekeluarga, Kanaya juga bingung mau pergi ke mana. Karena kejadian itu sehari setelah pertengkaran hebat dirinya dengan Arkana.

"Tapi bantuan itu sangat berarti," kata Pak Adjie tegas. "Kalau bukan karena Kanaya, mungkin keadaan kami saat itu jauh lebih sulit."

Bu Winda mengangguk pelan. Kekagumannya terhadap Kanaya semakin bertambah.

"Sejak saat itu kami mulai dekat," lanjut Bu Cantika. "Kami baru tahu kalau Kanaya hidup sendirian dan dibesarkan di panti asuhan."

Arkana menunduk sesaat. Ia masih ingat pertama kali Kanaya mengajaknya berkunjung ke panti asuhan tempat ia dibesarkan. Saat itulah ia mulai jatuh cinta kepada perempuan itu. Bukan karena wajahnya, melainkan karena hati dan akhlaknya.

"Kami sempat meminta Kanaya tinggal bersama kami," kata Pak Adjie.

"Tapi dia menolak," sambung Bu Cantika sambil tertawa kecil.

Kanaya ikut tersenyum. "Saya tidak enak merepotkan orang lain."

"Itulah Kanaya," ujar Bu Cantika. "Selalu berusaha kuat sendirian."

Akhirnya Pak Adjie menghela napas panjang sebelum melanjutkan cerita yang lebih dalam.

"Karena dia ingin mandiri, saya dan Bu Cantika meminjamkan modal usaha sebesar sepuluh juta rupiah."

Bu Winda terlihat terkejut. "Untuk membuka usaha?"

Pak Adjie mengangguk. "Waktu itu Kanaya ingin membuka warung makan kecil."

"Dia memang pandai memasak sejak dulu," kata Bu Cantika dengan bangga.

Kanaya hanya tersenyum kecil.

"Tapi saat itu ada satu hal yang tidak kami ketahui," lanjut Pak Adjie.

Seketika suasana ruangan berubah hening.

Kanaya menundukkan kepalanya lebih dalam. Jemarinya saling menggenggam di atas pangkuan.

Bu Cantika menggenggam tangan putri angkatnya itu dengan lembut. "Waktu pertama kali memulai usaha, Kanaya ternyata sedang hamil."

Arkana langsung mengangkat kepalanya. Jantungnya berdegup keras.

Bu Winda pun tampak terkejut.

"Awalnya Kanaya juga tidak tahu," lanjut Bu Cantika dengan suara pelan. "Sampai suatu hari dia mengeluh karena merasa ada gerakan aneh di dalam perutnya."

"Kami membawanya ke dokter," sambung Pak Adjie. "Hasil pemeriksaan menunjukkan usia kandungannya sudah empat bulan."

Suasana kembali sunyi.

Bu Winda terbelalak. Arkana membeku di tempat duduknya. Empat bulan, artinya saat Kanaya pergi meninggalkannya, perempuan itu belum mengetahui dirinya sedang mengandung.

Pandangan Arkana perlahan beralih kepada Abinaya dan Anaya yang masih bermain tanpa mengetahui cerita besar yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa di sekitar mereka. Dadanya terasa seperti diremas. Ia membayangkan Kanaya duduk sendirian di ruang pemeriksaan dokter lima tahun lalu. Mendengar kabar bahwa dirinya sedang mengandung. Tidak ada suami yang menemani. Tidak ada tangan yang menggenggam tangannya. Tidak ada tempat bersandar.

Yang ada hanya Kanaya seorang diri.

Perempuan yang saat itu sedang berusaha menyembuhkan luka hatinya, ternyata juga harus menghadapi kehamilan pertamanya sendirian.

Arkana benar-benar merasakan betapa besar penderitaan yang pernah dialami Kanaya karena dirinya. Penyesalan itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada apa pun yang pernah ia rasakan selama lima tahun terakhir.

***

Maaf, update agak lelet karena kondisi kesehatan aku lagi enggak baik. Mau Launching karya baru pun harus aku tunda dulu.

1
v_cupid
💪
Jamayah Tambi
Alhamdulillah ,Tamat.Tq Athur.Ceritanya bagus,hingga berendam air mata,ada kelakarnya juga.Tidak banyak yg menyakitkan hati.Cuma kes Marlina saja Bagus tak buat pembaca sakit kepala.Selamat berkarya
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
Sedihnya kehidupan kamu Kanaya.Padahal kamu daribketurunan yg baik2.Tidak kekurangan apa pun.Macam2 cara Allah mengatur hidup manusia.
Jamayah Tambi
Bawa saja Bu Cintia,Paj Adjre da Shaka je Jakarta.Belikan mereka tempat tinggal yg layak seperti ibu bapa kandung.Urusan Catering di kota ini biarkan diurus oleh pekerja yg kau percaya.Buka cawangan baru di Jakarta.Seperti ini tiada yg terluka dan terlepas pandang.Jaryan catering mu tetap punya pejerjaan dan penghasilan./CoolGuy//CoolGuy/
Jamayah Tambi
Aku rasa di sini bukan Arkana sepenuhnya betsalah.Kabaya degil,kerascjepala,dia tidak mau mendengar luahan Arkana.Diavyg meninggalkan Arkana.Klalau fi kira2 dia boleh dikatakan nusyuz,meninggalkan suami yg belum menalakmu
Jamayah Tambi
Siasat cctv di tempat acara
v_cupid
❤️
Jamayah Tambi
susah klu gini .Macam mana nak sembuh
Ani Kurniati
bagus ceritanya,,, konflik nya gk terlalu berat
Jamayah Tambi
Terbaik Aya.Tentu saja Arkara sangat berterima kasih pada puterinya
Jamayah Tambi
Kalsu dah jodoh tak memana
v_cupid
💪
v_cupid
suka
v_cupid
❤️
Suyati
cakep idenya nih bch
Suyati
ayolah Kanaya buka hatimu
Suyati
jangan begitu dong kanaya ga semuanya slh arkana
Suyati
ayo arkana jangan putus asa
v_cupid
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!