Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.
Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.
Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21.
Ravian tiba di sebuah restoran yang berada tidak terlalu jauh dari pusat kota.
Tempat itu bukan restoran mewah yang biasanya dipilih keluarga Arkatama untuk makan malam keluarga ataupun untuk pertemuan formal. Justru sebaliknya, bangunan restoran itu tidak terlalu besar dengan latar belakang musik klasik. Setiap meja dipisahkan tanaman hijau dalam pot tinggi.
Tempat yang cukup jauh dari perusahaan dan cukup sepi untuk dua orang yang ingin berbicara tanpa banyak telinga yang mendengar.
Sudah lebih dari lima belas menit Ravian menunggu, netranya menatap pintu, tetapi yang ia tunggu tak kunjung datang. Sampai akhirnya, saat Ravian baru akan mengeluarkan ponsel dari saku celananya, Savera muncul.
Ravian bangkit dari duduknya, menarik kursi untuk wnaita itu, kemudian kembali duduk di kursinya sendiri.
Savera meletakkan tasnya di kursi sebelah. "Apakah kamu menunggu lama?"
"Tidak juga," jawab Ravian.
Pelayan datang membawa menu sebelum mereka memulai percakapan. Tak banyak waktu yang mereka habiskan untuk memlih. Ravian menyebutkan beberapa menu yang menjadi favorit Savera tanpa bertanya, kemudian menyebutkan menu untuk dirinya sendiri. Sesaat kemudian pelayan itu pergi.
Savera menopang dagu dengan satu tangan. “Kamu masih ingat?”
“Kamu tidak pernah mengganti pesanan jika datang kemari,” jawab Ravian.
Savera sedikit menerawang. “Sudah beberapa bulan kita tidak ke sini-”
“Dan selama beberapa bulan itu seleramu tidak akan tiba-tiba berubah menjadi makanan pedas," Ravian menyambung kalimat Savera sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya.
“Siapa bilang?”
Ravian menatap Savera dengan alis terangkat. Tatapan keduanya tertahan selama beberapa saat sebelum akhirnya Savera terkekeh.
“Oke. Tidak berubah,” angguk Savera.
Pembicaraan mereka kembali terhenti saat pelayan datang, meletakkan semua menu yang mereka pesan, lalu pergi.
Jeda keheningan yang sempat terbentuk diisi dengan suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Percakapan kembali mengalir saat Savera iseng menceritakan bagaimana Raksa sempat memergoki Ravian tidur di sofa ruang keluarga beberapa hari lalu dan mengeluh cucunya mulai tidak berguna karena hanya bisa tidur setelah pulang kantor.
“Aku tidak tidur,” protes Ravian.
Savera menyuap makanan ke mulutnya. “Kamu mendengkur.”
“Aku tidak pernah mendengkur,” sanggah Ravian dengan wajah mulai memerah
“Aku punya rekamannya,” sahut Savera santai.
Garpu Ravian berhenti di udara. Tatapannya mengikuti gerakan tangan Savera saat wanita itu mengambil ponsel.
Ravian bergerak cepat meraih benda itu. “Jangan macam-macam.”
Savera tertawa sambil menjauhkan tangannya dari jangkauan Ravian. “Kenapa? Takut harga dirimu sebagai pewaris Arkatama runtuh?”
“Berikan!”
“Tidak.”
Ravian bangkit sedikit dari kursinya dan berhasil menangkap pergelangan tangan Savera. Wanita itu masih tertawa ketika akhirnya menyerah.
“Tidak ada rekamannya. Aku hanya bercanda, Kakek bahkan tidak pernah mengeluh begitu.”
Ravian berhenti.
Savera tersenyum lebar. “Kamu gampang sekali ditipu.”
Ravian perlahan kembali duduk. “Kamu sengaja mengundangku makan hanya untuk mempermalukanku?”
“Tidak.” Savera kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya. “Aku cuma kangen. Salah?”
Tubuh Ravian membeku sepersekian detik. Savera mengucapkan kalimat itu begitu saja tanpa nada menggoda seperti sebelumnya, seolah kalimat itu adalah hal paling biasa di dunia.
Ravian menunduk, menyembunyikan senyum yang tanpa sadar muncul. “Bilang dari awal.”
Savera mendengus. “Kalau bilang dari awal, kamu akan besar kepala.”
Ravian tertawa pelan.
Beberapa menit berlalu lebih tenang, mereka menikmati makanan masing-masing sampai Savera kembali membuka suara. "Ravi."
"Hm?"
Senyum Savera perlahan memudar. “Kadang aku berpikir... sampai kapan kita seperti ini.”
Wajah Ravian terangkat cepat, membat tatapan keduanya bertemu.
“Di depan semua orang kita masih seperti dulu,” lanjutnya. “Masih dianggap dua anak yang tumbuh bersama dan terlalu dekat sejak kecil.”
Ada jeda sejenak sebelum Savera kembali melanjutkan setelah helaan napas panjang. “Aku tidak keberatan sebenarnya. Hanya saja... kadang... aku ingin bisa duduk di sampingmu tanpa harus berpura-pura semuanya biasa.”
Kalimat itu tidak terdengar menuntut, tapi justru itu yang membuat Ravian semakin sulit menjawab. Tangannya bergerak pelan di atas meja, meraih jemari Savera untuk ia genggam.
“Kamu tahu jika aku tidak main-main bukan?”
Savera mengangkat pandangan, mengangguk pelan.
“Aku akan bicara pada Kekek, Ayah dan Ibu. Tapi... beri aku sedikit waktu.”
Savera tidak langsung menanggapi. Ia tahu jelas seperti apa Ravian. Pria itu tidak sedang berbohong, hanya belum cukup berani untuk mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan kepada keluarganya.
Pria itu cenderung mengikuti apa yang keluarganya minta tanpa bantahan, tidak bisa mengambil keputusan yang bisa membuat dia berdiri berseberangan dengan keluarga.
Savera akhirnya membalik telapak tangan mereka lalu menyelipkan jemarinya di antara jemari Ravian.
“Sedikit waktu?”
Ravian mengangguk. “Sedikit.”
“Kalau kamu terlalu lama, aku cari pria lain. Misalnya saja... pria yang menyelamatkan Om, dia terlihat tampan.”
Genggaman Ravian langsung mengerat. “Coba saja.”
.
.
.
Di tempat berbeda, Elang baru saja keluar dari ruang kerja Daneswara saat sambil menguap Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, meja kerjanya benar-benar kosong dari berkas Arkatama, dan tidak alasan baginya untuk kembali bagadang malam ini.
Seolah menjadi kebiasaan, ia membawa langkahnya menuju pantry untuk mengambil air minum. Namun, begitu ia mencapai area pantry, aroma kopi segera menyambutnya bersama seseorang yang berdiri membelakangi pintu sambil menunggu mesin kopi selesai bekerja.
Elang berhenti melangkah. "Bu Keira?"
Wanita itu menoleh. “Kamu belum pulang?”
"Saya mau ambil air minum sebentar sebelum pulang," jawab Elang.
"Oh."
Jawaban singkat seperti itu sudah biasa Elang terima. Ia hanya mengangguk, berjalan menuju meja di mana gelas berada, lalu mengisinya dengan air yang tersedia sebelum meneguknya.
"Ibu selalu minum kopi di jam seperti ini?" tanya Elang saat melihat cairan hitam pekat sudah memenuhi cangkir di tangan sang atasan.
"Ya," jawab Keira.
Tatapan Elang turun ke cengkir atasannya sesaat sebelum kembali menatap wajah sang atasan. “Kelihatannya pahit.”
Keira menyesap kopinya perlahan. “Memang.”
“Kenapa diminum?”
“Karena aku suka,” jawab Keira.
Elang hanya mengangguk sebagai tanggapan.
Keira menarik kursi yang tersedia. "Apakah kamu keberatan menemaniku sebentar?"
"Tidak sama sekali." jawab Elang seraya menarik kursi yang berseberangan dengan Keira.
Selama beberapa saat, keduanya hanya diam. Keira menyesap kopinya, lalu menurunkan cangkir dan meletakkannya di meja dengan pandangan tak lepas dari Elang.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ucap Keira memecah keheningan.
"Tentu, Bu."
"Apakah kamu selalu ingin bekerja dibidang seperti ini?" tanya Keira begitu Elang sudah duduk berseberangan dengannya.
Elang terdiam sejenak sebelum menjawab, "Yang saya pikirkan hanyalah saya memiliki pekerjaan agar ibu saya tidak perlu memikirkan soal uang."
Alis Keira terangkat tipis. "Tidak memiliki cita-cita aneh saat masa kecil?"
Elang tersenyum, dalam benaknya cita-cita itu ada, keinginan itu ada, tetapi semua yang sudah ia perjuangkan dirampas sebelum ia sempat menyentuhnya, dan ia tidak mungkin mengatakan itu pada wanita di hadapannya.
"Sepertinya tidak," jawab Elang dengan nada santai.
Keira mendengus tidak percaya, tetapi tidak ingin mendesak pria di depannya untuk berbicara lebih jauh.
"Masa kecilmu sepertinya membosankan," komentar Keira.
Elang terkekeh. "Kenapa kesimpulannya begitu?"
"Anak-anak biasanya ingin menjadi pilot, dokter, pemain bola..." Keira mengangkat bahu. "Atau sesuatu yang terdengar hebat."
"Kalau Bu Keira?"
Keira terkekeh, hal yang sangat jarang terjadi. "Aku pernah ingin menjadi penyanyi."
Elang menahan senyum.
"Silakan tertawa," ucap Keira.
"Saya tidak berani."
"Tapi wajahmu sudah tertawa," sahut Keira.
Keduanya saling pandang selama beberapa saat sebelum akhirnya tertawa. Ringan, pendek, namun membuat keduanya merasa lebih dekat tanpa diminta.
Keira menatap cairan hitam di cangkirnya. "Saat aku masih kecil, aku suka saat seseorang memanggilku 'Kei', tetapi tidak ada lagi yang menggunakannya saat aku dewasa."
Wajah Keira terangkat, membuat pandanganya bertemu dengan Elang. "Kalau kita sedang berdua, bisakah kamu menggunakan panggilan itu dan berhenti memanggilku 'Bu Keira'?"
"T-tapi, Bu-"
"Tidak ada tapi." potong Keira cepat, berusaha menahan senyum di bibirnya. Ia kembali mengangkat cangkir kopinya. "Atau... gajimu aku tahan." lanjutnya seraya menyesap kopi dengan santai.
"Eehhh....?"
.
.
.
To be continued...
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????