Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Bisa Mengontrol
"Astaga Tuhan ..." gumam Kevin pelan.
Mendapat balasan, kening Norman langsung berkerut kuat. "Apa?"
Kevin mengangkat wajahnya dan menatap Norman dengan tenang. "Orang ini ternyata sangat pintar."
Norman langsung berdiri dari kursi dengan mimik wajah terlihat kesal. "Apa maksudmu?"
Kevin menutup laptop perlahan. "Dia bukan orang biasa."
"Jadi kau tahu siapa dia?!" tanya Norman dengan nada tinggi.
Kevin menggeleng cepat. "Tidak tahu, orang ini terlalu pintar."
Norman semakin emosi. Tangannya menghantam meja dengan keras dengan wajah tampak memerah. "Katanya kau hacker handal, mengapa kau tidak bisa menemukannya, hah?!"
Kevin tetap tenang. Tidak ada perubahan berarti pada wajahnya. "Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah hacker paling andal di dunia, Tuan."
Norman menatap Kevin dengan sangat tajam sekarang.
"Orang-orang mempekerjakanku karena mereka membutuhkan kemampuan yang kumiliki. Dan aku akan melakukan apa yang mereka minta," lanjut Kevin.
Kevin kemudian kembali membuka laptop.
Namun, sebelum kembali bekerja, dia menatap Norman.
"Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan orang ini? Apa yang dia inginkan dari Anda?" tanya Kevin, tanpa menunjukkan ekspresi.
Norman terdiam, matanya mulai bergerak ke sana kemari.
"Aku perlu tahu itu untuk membantu penyelidikan," kata Kevin lagi.
"Kau tidak perlu tahu, kerjakan saja apa yang aku perintahkan," balas Norman dengan nada ketus.
Kevin mengangkat alisnya sedikit.
"Tugasmu hanya mencari tahu siapa orang itu," lanjut Norman.
Kevin menatap Norman beberapa detik, lalu mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Kevin kembali melihat layar laptopnya. "Aku akan mencoba menemukannya."
Norman masih terlihat tidak puas. "Berapa lama?"
Kevin berhenti mengetik. "Dalam waktu satu minggu, aku akan menemukan siapa yang berada di balik semua ini."
Norman tidak menjawab. Dia hanya mengambil jasnya, lalu berjalan meninggalkan ruangan.
Tidak ada ucapan selamat tinggal. Bahkan pintu ruangan itu dibiarkan terbuka begitu saja.
Kevin hanya menatap kepergian Norman beberapa saat.
Setelah itu, dia benar-benar menutup laptopnya.
Kevin tiba-tiba beranjak, lalu berjalan perlahan menuju pintu penghubung yang berada di sisi ruangan. Tangannya meraih gagang pintu.
Klik.
Pintu itu terbuka. Di baliknya, Grace berdiri dengan wajah sangat terkejut.
Untuk sesaat, keduanya hanya saling menatap.
Grace segera berusaha menguasai ekspresinya.
"Aku hanya ingin mengambil sesuatu," ucap Grace cepat.
Kevin menatap wanita itu tanpa berkata apa-apa.
Tatapan pria itu membuat Grace semakin tidak nyaman. Sebenarnya, Grace datang ke ruangan itu karena ingin memastikan apakah alat perekam yang biasa digunakannya sudah berada di sana atau belum.
Namun, setelah melihat sekeliling, Grace baru menyadari sesuatu. Dia belum meletakkan benda tersebut.
Sungguh sial.
Grace menarik napas pelan sejenak.
Selama ini, Grace sudah menggunakan alat perekam kecil yang diletakkannya di bawah meja kerja Norman. Alat itu terhubung dengan ponselnya, sehingga Grace bisa mendengarkan percakapan yang terjadi di ruangan tersebut melalui headset.
Itulah bagaimana Grace mengetahui bahwa Norman sebelumnya menghubungi Fallen dan memintanya datang ke kantor. Namun, kali ini dia lupa membawa alat tersebut ke ruangan ini.
Karena itulah Grace memilih untuk mendengarkan percakapan Norman dan Kevin dari balik pintu penghubung. Dan sekarang, dia justru tertangkap basah.
Kevin masih berdiri di hadapannya. Kemudian, sebuah senyum penuh arti muncul di wajah pria itu.
Sebuah senyuman yang sangat sulit diartikan.
"Jadi, kau mendengar semuanya?" tanya Kevin.
Grace mengernyitkan kening. "Tidak."
Kevin tersenyum tipis lagi. "Benarkah?"
Grace menatap Kevin tajam. "Aku sudah bilang tidak."
Kevin tidak membalas. Dia hanya menatap Grace dengan tenang.
Tatapan pria itu justru membuat Grace merasa semakin terintimidasi. Pria ini terlalu berbahaya. Bukan karena dia mengancam dengan suara keras atau menunjukkan kekerasan.
Justru sebaliknya. Kevin terlalu tenang dan sulit ditebak. Dan yang paling membuat Grace tidak nyaman, pria itu seolah sudah mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak dia ketahui.
Kevin melangkah sedikit mendekat. "Apa suamimu berselingkuh?"
Mata Grace langsung membulat. "Apa maksudmu?"
Kevin tetap memasang wajah datar. "Norman, suamimu berselingkuh."
Grace menatap pria itu tajam. "Lalu apa urusanmu?"
Kevin mengangkat bahu. "Aku hanya bertanya."
"Kalau kau sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya?!" Grace merasa aneh pada dirinya. Sebab ini pertama kalinya dia tidak bisa mengontrol emosi di hadapan orang asing.
Senyum tipis kembali muncul di wajah Kevin.
Grace semakin kesal melihat ekspresi pria itu.
"Aku bisa membantumu," kata Kevin tiba-tiba.
Grace mengerutkan kening. "Membantuku?"
Kevin mengangguk. "Kita bisa menyakiti Norman."
Grace terdiam.
Kevin menatap Grace lurus. "Kita berselingkuh."
Mata Grace langsung melotot. "Apa kau sudah gila?!"
Untuk pertama kalinya, suara Grace terdengar lebih tinggi.
Kevin tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dia hanya menatap Grace dengan wajah tenang.
Malah Grace yang mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi.
"Aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak akan membalas perselingkuhan dengan perselingkuhan."
Kevin hanya diam.
"Kalau aku melakukan hal yang sama, apa bedanya aku dengan orang yang mengkhianatiku?" sambung Grace.
Kevin tersenyum tipis.
Senyum itu kembali membuat Grace merasa pria tersebut sedang mengujinya.
Grace mengembuskan napas dengan amat kasar lalu berkata, "Kalau tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku pergi."
Grace berbalik. Namun, baru beberapa langkah, suara Kevin terdengar dari belakang.
"Kalau kau pergi, aku akan mengatakan kepada Norman bahwa kau adalah orang yang selama ini menerornya."
Langkah Grace langsung berhenti. Tubuhnya menegang. Perlahan, Grace membalikkan badan lagi.
"Kau ..."
Kevin masih berdiri di tempatnya.
Kini, tatapan Grace semakin tajam. "Silakan, beritahu saja Norman, aku tidak peduli. Sekarang pergi kau dari sini!"
Kevin justru tersenyum tipis. "Aku berada di ruangan ini."
Grace mengerutkan kening. "Ini ruanganku."
Kevin menatap pintu penghubung di belakangnya. "Dan kau sedang menguping pembicaraan kami tadi."
"Aku tidak menguping!" Grace membantah dengan cepat.
Kevin mengangkat alis. "Lalu kenapa kau terkejut ketika aku membuka pintu?"
Grace terdiam. Dia tidak bisa langsung menjawab.
Kevin melangkah mendekat.
Untuk pertama kalinya, Grace merasa kesulitan mengendalikan emosinya. Selama ini, dia selalu mampu menjaga ekspresi dan pikirannya tetap tenang, bahkan ketika berhadapan dengan orang-orang yang mencoba menjatuhkannya. Namun, pria di hadapannya berbeda.
Setiap perkataannya seperti sengaja diarahkan untuk membuat Grace kehilangan kendali.
Grace berbalik dan hendak meninggalkan ruangan. Namun, Kevin tiba-tiba meraih tangan Grace.
Grace langsung menoleh dengan mata melotot. "Lepaskan tanganku!"
Kevin masih memegang tangannya, dengan tatapan mereka bertemu.
Grace semakin geram. "Lepaskan!"
Kali ini Grace benar-benar berteriak.
Suara itu terdengar lebih keras dari sebelumnya. Grace sendiri bahkan terkejut dengan suaranya. Dia hampir tidak pernah kehilangan kendali seperti ini.
Namun, entah kenapa, pria ini mampu membuat emosinya meledak hanya dalam waktu singkat.
Kevin akhirnya melepaskan tangan Grace.
Senyum tipis kembali terlihat di wajahnya.
Senyum penuh arti yang membuat Grace semakin tidak nyaman.
Grace menatapnya tajam. Pria ini benar-benar berbahaya. Bukan hanya karena dia seorang hacker. Tetapi karena Kevin seolah mampu melihat sesuatu yang selama ini berusaha Grace sembunyikan.
Dan Grace tidak menyukai kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, dia merasa tidak sepenuhnya memegang kendali.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar ruangan.
"Sayang?"
Grace dan Kevin sama-sama menoleh ke arah pintu.
Suara Norman kembali terdengar.
"Sayang, kau di sini?"
Grace membeku. Kevin hanya diam.
Kemudian suara Norman terdengar sekali lagi.
"Grace, ada apa?"
Bersambung ~
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣