Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.
Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.
Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21
***
Udara di ruang rapat utama Elard Corporation terasa begitu padat dan menyesakkan, seolah seluruh oksigen di dalam ruangan itu tersedot habis oleh ketegangan yang memuncak. Di sekeliling meja rapat mahoni yang panjang, para anggota dewan direksi duduk dengan tatapan tajam menghakimi. Isu keretakan rumah tangga Kenzo dan Alana yang berhembus kencang di media massa dan media sosial telah menjadi duri dalam daging bagi para investor, memperburuk anjloknya saham perusahaan yang kini berada di ambang jurang kebangkrutan.
Kenzo berdiri tegap di ujung meja, kemeja putihnya tampak sedikit kusut di bagian lengan, sementara peluh tipis membasahi pelipisnya. Di hadapan para pemegang saham yang menuntut penjelasan, Kenzo tetap memancarkan wibawa dan ketegangan yang luar biasa kuat. Tatapan matanya menyapu tajam ke seluruh sudut ruangan, membungkam bisik-bisik sinis yang sempat bergeming di antara para direktur senior.
"Dengar baik-baik, Tuan-tuan sekalian," suara bariton Kenzo menggelegar tegas, memecah keheningan dengan otoritas mutlak seorang pemimpin korporasi. "Isu pribadi keluarga saya tidak akan pernah merugikan kepentingan bisnis Elard Corp. Proyek di Sukatani sedang berjalan, dan saya menjamin stabilitas perusahaan akan kembali pulih sebelum akhir kuartal ini. Jika ada di antara kalian yang meragukan kepemimpinan saya, silakan letakkan jabatan kalian sekarang juga!"
Ketegasan Kenzo membuat seisi ruangan terkesiap. Namun, tepat sebelum ada yang sempat membalas ucapan penuh tekanan itu, suara dering ponsel pribadi Kenzo tiba-tiba memecah kesenangan tegang tersebut.
Seketika, seluruh mata di ruang rapat menatap tajam ke arah Kenzo. Aturan korporat melarang keras ponsel berdering saat rapat tingkat tinggi berlangsung, terlebih bagi seorang CEO.
"Ponsel siapa itu? Begitu tidak profesional!" protes Pak Darmawan dengan nada suara sinis, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Di saat perusahaan sedang sekarat dan para pemegang saham gelisah, kamu masih sempat-sempatnya menerima panggilan pribadi, CEO Kenzo?"
Kenzo mengabaikan sindiran tajam itu. Ia melirik layar ponselnya yang menyala terang. Tertera nama kepala pelayan Mansion Elard di sana. Firasat buruk langsung menghantam dadanya dengan keras, membuat jantungnya berdegup tidak karuan. Tanpa memedulikan tatapan murka dari sang kakek, ayahnya, dan para direktur di depannya, Kenzo langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa?!" suara Kenzo terdengar tegas, namun bergetar hebat di ujung kalimatnya.
"Tuan Muda... mohon maaf yang sebesar-besarnya karena mengganggu rapat penting Anda," suara di seberang telepon terdengar sangat panik dan tergesa-gesa. "Nyonya Alana... Nyonya Alana tiba-tiba jatuh pingsan di halaman samping mansion! Kami sudah memanggil dokter pribadi darurat, tapi Tuan harus segera pulang sekarang juga!"
Dunia di sekitar Kenzo seketika berhenti berputar. Ponsel di genggamannya hampir terlepas dari tangan. Tanpa memikirkan ancaman pemecatan dari dewan direksi, tanpa peduli pada teriakan murka Kakek Elard yang memanggil namanya dengan penuh kemarahan, Kenzo langsung menyambar jas kerjanya dan berlari menerobos pintu ruang rapat, meninggalkan para direksi yang terperanjat bingung.
**
Beberapa jam sebelum kepanikan itu melanda kantor pusat, suasana di Mansion Elard sebenarnya tampak begitu asri namun menyimpan ketegangan psikologis yang mendalam di permukaan. Di halaman samping mansion yang dikelilingi oleh deretan bunga mawar putih, Alana sedang duduk di kursi rotan berdampingan dengan ibu mertuanya—Helena.
Bagi Alana, kehadiran Helena bukanlah sumber ketenangan, melainkan bayang-bayang kelam yang terus menghantuinya sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di mansion ini. Helena adalah sosok wanita paruh baya yang sedari dulu selalu obsesif mengatur, mengontrol, dan mengekang setiap detail kehidupan rumah tangga mereka—terutama urusan kesehatan rahim Alana.
Pagi itu, di tengah upaya mereka merangkai bunga hias untuk diletakkan di ruang tamu utama, bayang-bayang kelam itu kembali berkelebat di kepala Alana. Alana mengenakan dress terusan longgar berwarna soft blue, sementara Helena duduk di dekatnya sambil terus mengawasi gerak-gerik menantunya dengan tatapan menilai.
"Alana, wajahmu masih saja terlihat pucat pasi akhir-akhir ini," tegur Helena dengan nada suara dingin dan memerintah, meletakkan tangkai bunga aster di atas meja. Ia menatap menantunya tajam. "Sudah tiga hari ini kamu menolak meminum tonikum penguat rahim yang Mama sediakan di meja makan. Jangan menjadi menantu yang egois, Alana. Keluarga Elard membutuhkan keturunan secepatnya untuk memulihkan kehormatan keluarga kita yang tercemar oleh skandalmu."
Alana merasakan dadanya sesak luar biasa mendengar ucapan itu. Luka lama di hatinya kembali menganga. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meletakkan gunting kecil di tangannya, lalu menatap lurus mata ibu mertuanya tanpa gentar.
"Ibu... apakah bagi keluarga ini, keberadaan saya hanya dihitung dari apa yang ada di dalam rahim saya?" suara Alana terdengar parau namun sarat akan kepedihan yang mendalam.
Helena mengerutkan keningnya, tidak senang dengan perlawanan verbal yang ditunjukkan menantunya. Wajah wanita paruh baya itu mengeras penuh amarah tertahan. "Jaga nada bicaramu, Alana! Kamu hanya gadis biasa yang diangkat derajatnya oleh keluarga Elard! Kewajiban mutlakmu adalah melahirkan anak laki-laki penerus. Jangan membangkang pada aturan yang sudah ditetapkan sejak hari pertama kamu menandatangani kontrak pernikahan itu!"
"Kontrak itu sudah menghancurkan jiwa saya, Mama..." cicit Alana lemah, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Setiap detik di rumah ini terasa seperti neraka. Saya lelah... saya sangat lelah dikontrol dan diatur bagaikan boneka..."
Namun, saat melihat tubuh Alana tiba-tiba melorot dari kursi rotan dengan mata terpejam, kepanikan sesungguhnya mulai merayap di hati Helena. "Ya ampun... Alana?! Wajahmu... kamu kenapa?!"
Alana mencoba bertahan, namun tenaganya sudah menguap tak bersisa. " Ibu... kepala saya... gelap..." bisiknya sangat lirih.
Sebelum tubuhnya sempat menyentuh lantai marmer taman, kegelapan total langsung menelannya. Alana jatuh pingsan di atas rerumputan hijau halaman samping mansion.
Suasana mansion mendadak berubah menjadi lautan kepanikan yang luar biasa. Para pelayan berlarian berhamburan keluar begitu mendengar teriakan histeris Helena. Tidak lama kemudian, Dr. Hartono, dokter pribadi keluarga Elard yang sudah paruh baya, datang tergopoh-gopoh membawa tas medisnya ke kamar utama mansion, tempat Alana dipindahkan dengan penuh kehati-hatian.
Di dalam kamar yang luas itu, Helena mondar-mandir dengan rasa cemas dan gelisah di dekat ranjang, sementara Dr. Hartono sibuk memeriksa tekanan darah, denyut nadi, dan melakukan serangkaian pemeriksaan medis kilat pada tubuh Alana yang masih terkulai lemas di atas seprai putih.
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang mencekam. Dr. Hartono akhirnya merapikan stetoskopnya, lalu menarik napas panjang. Namun, alih-alih ekspresi khawatir atas komplikasi dari trauma pendarahan masa lalu, sebuah senyuman tipis dan kelegaan justru terukir di wajah tua sang dokter.
"Bagaimana keadaan menantu saya, Dokter Hartono?" tanya Helena tidak sabar, mencengkeram lengan jas sang dokter dengan tangan gemetar. "Apakah ada kerusakan fatal pada rahimnya akibat insiden beberapa bulan lalu? Apakah dia tidak bisa hamil?!"
Dr. Hartono menggelengkan kepala perlahan, lalu tersenyum hangat menenangkan. "Tenang, Nyonya Besar Helena. Kondisi fisik Nyonya Alana justru sangat stabil di luar dugaan. Pingsan yang dialaminya tadi murni karena kelelahan fisik, penurunan tekanan darah, dan... ada satu berita besar yang luar biasa mengejutkan yang harus saya sampaikan."
Helena mengerutkan keningnya, semakin bingung. "Berita besar apa, Dok? Jangan bertele-tele."
"Alana!" teriak Kenzo panik, langsung menerobos masuk dan mengabaikan Helena di ruangan itu. Ia menjatuhkan diri berlutut di sisi ranjang, menggenggam erat tangan Alana yang terasa dingin. "Alana, buka matamu... Apa yang terjadi padanya, Dok?! Kenapa dia bisa pingsan sepucat ini?!"
Dr. Hartono menatap Kenzo yang dilanda histeria luar biasa, lalu tersenyum lebar. "Tenang, Tuan Kenzo. Tarik napas dalam-dalam. Anda tidak perlu panik separah ini."
"Bagaimana saya bisa tenang melihat istri saya pingsan tak sadarkan diri seperti ini, Dok?!" bentak Kenzo putus asa, air matanya hampir tumpah di hadapan sang dokter dan ibunya.
"Karena berita yang akan saya sampaikan ini akan mengubah segalanya," ucap Dr. Hartono penuh penekanan, menatap Kenzo dan Helena bergantian dengan mata berbinar. "Hasil pemeriksaan darah lengkap dan tes kehamilan darurat menunjukkan... Nyonya Alana positif mengandung. Usia kehamilannya saat ini sudah menginjak minggu ketiga."
Kalimat itu menggema di dalam kamar yang luas itu bagaikan petir di siang bolong.
Kenzo membeku seketika. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir naik ke kepala, membuat telinganya berdenging. Ia menatap Dr. Hartono dengan mata melotot lebar, sama sekali tidak percaya pada pendengarannya sendiri. "Hamil...? Kamu bilang apa, Dok... Alana hamil ?"
"Ya, Tuan Kenzo," ulang Dr. Hartono tersenyum ramah. "Meskipun kondisi psikologisnya sempat tertekan dan fisiknya lemah beberapa hari ini, janin di dalam rahimnya bertahan dengan sangat kuat. Ini adalah sebuah keajaiban besar bagi kalian."
Helena menutup mulutnya dengan kedua tangan. Alih-alih rasa bahagia yang murni, raut wajah wanita paruh baya itu justru menyiratkan kelegaan bercampur ambisi yang terpenuhi. Ia menatap perut rata Alana dengan tatapan tajam seorang penguasa. "Kenzo... kamu dengar itu? Tuhan mengabulkan doa kita. Pewaris sah keluarga Elard akhirnya hadir kembali..."
Bersambung....