Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: GUDANG PELABUHAN UTARA
Udara di Gudang Nomor 4 Pelabuhan Utara berbau amis ikan asin dan karat besi yang pekat. Bau itu menempel di dinding semen yang lembab, bercampur dengan oli solar yang tumpah di sudut-sudut lantai.
Suhu malam merosot tajam. Angin laut utara menusuk masuk lewat seng-seng bolong. Membuat napas membentuk kepulan uap tipis di udara yang remang-remang, hanya diterangi satu bohlam kuning yang bergoyang-goyang ditiup angin.
Di tengah ruangan yang luas dan kosong itu, sebuah kursi kayu tua berdiri rapuh. Kakinya sudah miring sebelah.
Di atasnya, Luo Chen terikat erat dengan tali tambang kasar.
Tali itu diikat dengan teknik simpul jangkar — sengaja dibuat menyiksa. Pergelangan tangannya yang kecil sudah lecet dan memerah, berdarah kecil di beberapa titik akibat gesekan saat ia mencoba meronta. Atau lebih tepatnya, saat ia mencoba menghitung waktu dengan menggesekkan simpul ke paku karat di belakang kursi.
Tiga belas jam, dua puluh menit.
Itu adalah durasi sejak Vane menyeretnya keluar dari mobil di parkiran bawah tanah Crown Tower. Membekap mulutnya dengan sapu tangan ber-kloroform, lalu melemparnya ke bagasi seperti karung beras.
Mata Chen terasa berat. Sangat berat. Dinginnya malam mulai menembus jaket tipis seragam sekolahnya, memicu gejala awal hipotermia ringan. Sekujur tubuhnya menggigil tak terkendali. Bibirnya pucat pasi, nyaris membiru. Ujung jarinya sudah mati rasa.
Tapi matanya tidak tidur.
Di sudut ruangan, dua anak buah Vane sedang asyik menenggak botol bir murah sambil tertawa-tawa mengejek. Meja mereka penuh bungkus rokok dan kulit kacang.
"Boss Vane benar-benar gila," kata si brewokan, si botak berjaket kulit, meludah ke lantai semen dengan bunyi _cuh_. "Menculik anak asuh kesayangan Shen Mo? Kita bisa mati dibantai kalau bos besar itu tahu kita sentuh anak ini. Kau lupa gimana Shen Mo menguliti anak buah Jacko bulan lalu?"
"Tenang saja," sahut temannya yang berparut di pipi, menyalakan sebatang rokok kretek dengan korek zippo. Asapnya mengepul. "Vane sudah atur semuanya. Shen Mo tidak akan tahu kita di sini sebelum bocah ini jadi es batu beneran. Lagipula, siapa yang peduli sama anak kecil ingusan? Paling-paling cuma anak pungut."
Mereka tertawa lagi. Keras.
Chen menunduk. Rambut depannya yang basah oleh keringat dingin menutupi matanya. Matanya yang sayu tidak menampakkan ketakutan sedikit pun, melainkan dingin yang menakutkan. Dingin yang tidak seharusnya dimiliki anak 14 tahun.
Di dalam kepalanya yang jenius, ingatannya merekam setiap detail kecil seperti sebuah komputer.
Sudut kemiringan kamera CCTV di langit-langit barat laut: 37 derajat, yang kebetulan kabelnya terkelupas separuh dan lampunya mati setengah. Titik buta: di bawah rak besi nomor 3.
Pola kedipan lampu neon rusak di atas pintu keluar darurat: panjang 2 detik, pendek 0,5 detik.
Dan jadwal jaga pelabuhan. Ia sudah menghafal dari papan pengumuman di luar tadi saat diseret masuk.
_Mereka pikir aku cuma bocah yang bisa disekap,_ batin Chen, giginya bergemeletuk menahan dingin sampai rahangnya sakit. _Tapi mereka lupa, jam jaga pelabuhan ini berganti setiap tepat pukul dua belas malam. Pergantian shift butuh 4 menit 30 detik kekosongan patroli._
Dengan sisa tenaga yang ada, Chen menggeser posisi duduknya perlahan. Kursi kayu bergeser sedikit, menciptakan bunyi berderit pelan.
_Kriet..._
Suara itu langsung menarik perhatian si brewokan.
"Heh, bocah! Jangan banyak bergerak kalau tidak mau rasakan bogem mentahku!" bentak si brewokan sambil melangkah mendekat, mengayunkan tinjunya yang sebesar kepala Chen mengancam. Bau bir menyengat dari mulutnya.
Chen mendongak pelan.
Di balik tatapan sayunya karena demam dan hipotermia, matanya menatap tajam tepat ke mata pria dewasa itu tanpa gentar sedetik pun. Tatapan itu membuat si brewokan berhenti selangkah.
"Kalian... salah memilih musuh," bisik Chen dengan suara serak namun tegas. Suaranya hampir hilang, tapi setiap katanya jelas. "Kalian tidak menculik anak asuh Shen Mo... kalian menculik pelacaknya."
Si brewokan mengernyit. "Apa katamu, bocah tengik?"
Chen tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis. Bibir birunya merekah. Lalu ia menatap lurus ke arah kamera CCTV yang kabelnya terkelupas itu.
Di dalam kancing kedua jaketnya — kancing yang terlihat biasa — tertanam chip pelacak darurat berukuran 2 milimeter yang ia buat sendiri. Chip itu tidak mengirim sinyal GPS, terlalu berisiko dilacak balik. Chip itu hanya melakukan satu hal: meng-hack arus pendek CCTV terdekat dan memaksanya mengirimkan sinyal kedip.
Brak!
Satu tendangan keras mendarat di kaki kursi hingga Chen hampir terguling bersama kursinya, kepalanya membentur lantai semen. Darah segar menetes dari pelipisnya.
"Gaya-gayaan kau!" maki si brewokan.
Namun ia tidak melihat.
Tepat saat itu, jarum jam dinding pabrik tua yang berkarat di atas pintu menunjukkan pukul 00.00.
Teng.
Lampu neon di atas pintu darurat yang tadinya mati, tiba-tiba berkedip.
Panjang, pendek, pendek, panjang...
Panjang, pendek...
Pola berulang.
Di ruang kendali utamanya yang berjarak belasan kilometer, di penthouse Crown Tower yang gelap gulita, Shen Mo yang baru saja mendobrak brankas rahasia dan menemukan tablet pemantau yang retak, membanting setir mobil sport hitamnya dengan kecepatan penuh.
Sepuluh jam ia mencari seperti orang gila. Seluruh kota ia balik. Vane menghilang. Hingga ia ingat tombol jaket Chen yang pernah ia belikan chip di tukang jahit.
Layar monitor di dasbornya yang tadinya gelap, tiba-tiba berkedip liar, menerjemahkan kedipan lampu kode Morse dari CCTV Gudang Nomor 4 yang berhasil dibajak Chen.
C-H-E-N.
N-4.
Dua huruf dan satu angka. Nama dan lokasi.
"Dua belas jam terlambat," gumam Shen Mo, urat-urat di lehernya menonjol, matanya memerah karena amarah yang membara dan rasa bersalah yang menumpuk. Tangannya mencengkeram setir sampai buku-bukunya putih. "Tunggu aku, Nak. Ayah datang."
Di Gudang Nomor 4, Chen yang tergeletak di lantai dingin dengan darah di pelipis, mendengar deru mesin jauh di luar pelabuhan, samar-samar menembus badai angin laut. Ia tahu sinyalnya berhasil.
Ia memejamkan mata sejenak, menahan gigil hipotermia yang semakin parah.
Bertahan. Tinggal sedikit lagi.