Indonesia
NovelToon NovelToon
TERGODA SUAMI SAHABATKU

TERGODA SUAMI SAHABATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Pelakor / Disfungsi Ereksi / Saling selingkuh
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Yovan Gunardio Darmawan

Nara tidak pernah menyangka satu video panas akan menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
Semuanya bermula ketika Maya—sahabat yang paling ia percaya—memperlihatkan rekaman hubungan intimnya dengan sang suami, Adrian. Nara seharusnya langsung memalingkan wajah. Namun tubuh telanjang Adrian, gerakan liarnya di atas ranjang, dan desahan yang memenuhi video itu justru tertanam kuat dalam pikirannya. Lebih buruk lagi, tubuh Nara ikut bereaksi.
Sejak saat itu, ia tidak bisa lagi memandang Adrian sebagai sekadar suami sahabatnya.
Terjebak dalam pernikahan dingin bersama Dimas yang posesif dan gemar mengontrol, Nara semakin mendambakan tatapan, sentuhan, dan gairah yang ia lihat dalam video tersebut. Ketika Adrian mulai membalas perasaannya, godaan terlarang itu berubah menjadi ciuman panas—lalu satu malam penuh hasrat yang tidak mungkin mereka tarik kembali.
Nara tahu Adrian adalah milik Maya. Adrian juga tahu perempuan yang dipeluknya adalah sahabat istrinya.
Namun setelah merasakan satu sama lain, mampukah mereka benar-benar berhenti? Atau video panas itu hanyalah awal dari pengkhianatan yang akan menghancurkan dua pernikahan dan sebuah persahabatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yovan Gunardio Darmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21 — Jangan Jawab untuk Dia

Maya menunggu di ambang pintu. Nara masih memegang tepinya. Ia tidak bisa menyuruh sahabatnya pergi, tetapi mempersilakannya masuk berarti harus duduk bersama Adrian dan menjawab semua pertanyaannya.

“Gue yang minta dia datang hari ini,” katanya akhirnya.

Maya menatapnya, lalu masuk tanpa menunggu dipersilakan. Nara mundur. Ia baru hendak menutup pintu ketika sahabatnya berbalik.

“Kemarin gue duduk di depan lo. Gue tanya baik-baik. Lo jawab nggak pernah ketemu lagi.”

Nara menutup pintu perlahan. Di bawah, mesin cetak masih bekerja. Orang-orang tetap sibuk sementara ia berdiri di depan perempuan yang baru dibohonginya sehari lalu.

“Gue tahu.”

“Tahu?” Maya tertawa pendek. “Jadi pas gue pulang, lo langsung atur kapan bisa ketemu suami gue lagi?”

“May, aku yang menghubungi Nara,” Adrian menyela.

Maya mengangkat telapak tangan tanpa menatapnya.

“Aku belum tanya kamu.”

Adrian berhenti. Maya kembali memandang Nara.

“Jangan tunggu dia menjawab untuk lo. Kemarin lo bisa ngomong sendiri waktu bilang gue nggak perlu khawatir.”

Nara merasakan wajahnya panas. Ia ingin mengatakan bahwa Adrian mengirim pesan lebih dulu, bahwa hari ini mereka memang perlu bicara. Tetapi itu tidak mengubah apa yang Maya lihat.

“Iya. Gue bohong.”

Maya diam. Pengakuan itu rupanya tidak membuatnya lega. Bibirnya justru bergetar sebelum ia menekannya rapat-rapat.

“Kenapa?”

Nara melirik Adrian. Hanya sebentar, tetapi Maya melihatnya.

“Lihat gue, Na. Gue ada di sini.”

Nara segera mengembalikan pandangannya. Ia bahkan masih mencari pertolongan dari laki-laki itu di depan istrinya sendiri. Menyadarinya membuat tenggorokannya terasa sempit.

“Karena gue masih ingin ketemu dia.”

Adrian bergerak sedikit di dekat kursi, lalu berhenti. Nara tidak melihatnya lagi.

Maya menunduk ke meja. Dua cangkir kopi berada di sana; di salah satu pegangannya ada noda tipis cat dari jari Nara.

“Gue pernah takut lo tersinggung,” katanya pelan. “Waktu minta kalian berhenti ngobrol. Gue pikir lo sudah cukup menderita di rumah, masa gue ikut-ikutan mencurigai lo.”

Nara membuka mulut, tetapi Maya terus bicara.

“Terus lo kasih lihat ponsel. Gue malu sudah bertanya macam-macam. Kemarin juga begitu. Gue pulang sambil mikir mungkin gue yang terlalu takut kehilangan suami.”

Air matanya jatuh. Maya menyekanya cepat, marah pada dirinya sendiri karena mulai menangis.

“Dan kalian duduk minum kopi di sini.”

“Ini salahku juga,” kata Adrian. “Aku yang mengajak Nara bertemu lagi setelah kalian bicara di kedai itu.”

Maya menoleh tajam.

“Lagi? Jadi bukan baru hari ini?”

Nara menggenggam ujung kausnya. Ia mendengar sendiri betapa cepat kebohongan yang dibangunnya runtuh begitu salah satu dari mereka menjelaskan sedikit lebih banyak.

“Pernah ketemu sebelumnya,” jawab Adrian.

“Kapan?”

“Setelah pameran.”

Maya menatap Nara lagi. “Sementara gue sibuk bantu lo pindah dan milih bingkai?”

“May, gue…”

Ia berhenti. Ia tidak tahu apakah menjelaskan urutan hari akan terdengar seperti pembelaan. Tidak ada jawaban yang bisa membuat Maya merasa lebih baik sekarang.

Pandangan sahabatnya berhenti pada lukisan terang di dekat dinding. Bungkusnya sudah rapi, dengan nama Maya pada label pengiriman sementara.

Maya menghampiri karya itu.

Nara hampir memintanya berhati-hati, lalu malu pada dirinya sendiri. Tangannya yang tadi ingin melindungi bingkai segera turun.

“Ini yang gue pilih?”

“Iya.”

Maya menyentuh label bertuliskan namanya. Kali ini ia tidak menangis. Ia membaca tulisan itu lama, lalu berbalik kepada Adrian.

“Aku mau pasang di kamar kita. Nara yang bantu memilih. Aku cerita ke dia aku ingin kita baik lagi.”

Adrian menunduk tanpa menjawab. Maya kembali menatap Nara.

“Jangan kirim,” kata Maya kepada Nara. “Gue nggak mau lukisan itu.”

Nara mengangguk. Ia ingin meminta Maya tetap duduk, membiarkannya menjelaskan betapa ia tidak pernah menganggap kebaikan sahabatnya tak berarti. Tetapi ia juga tahu, jika Maya benar-benar duduk, ia harus mengakui sesuatu yang jauh lebih buruk daripada pertemuan siang ini.

Ia takut pertanyaan berikutnya.

Maya meraih ponsel dari tas.

“Sabtu malam.”

Adrian mengangkat kepala.

“Kamu bilang di kantor. Rapat klien, laporan sama tim, mungkin tidur di sana. Masih ingat?”

Nara tidak bergerak. Ia melihat tangan Maya yang memegang ponsel, lalu teringat suara sahabatnya pada Minggu pagi. Ada bubur menunggu di rumah, sementara dirinya mengeluarkan telur untuk laki-laki yang sama.

“May, kita bicara di rumah,” kata Adrian.

“Oh, sekarang rumah kita tempat yang tepat untuk bicara?”

Ia menghadap Nara.

“Kantornya tutup Sabtu malam. Gue sudah tanya orang kantornya. Rapatnya sudah selesai Jumat.”

Nara memejamkan mata sebentar. Maya sekarang tahu lebih banyak daripada yang ia kira.

“Lo bilang di studio malam itu,” lanjut Maya. “Gue tanya sampai malam, lo mengingatkan gue kalau sekarang lo tinggal di sini. Lancar sekali jawabnya.”

Nara merasakan matanya panas. Ia tidak ingin Maya menyebut satu per satu kalimat yang telah diucapkannya. Semuanya terdengar jauh lebih kejam ketika diulang oleh orang yang mempercayainya.

“Maya,” Adrian memanggil lagi.

“Jangan sebut namaku seperti aku yang bikin keadaan ini jadi buruk.” Suaranya meninggi. “Aku menunggu kamu pulang. Aku belikan sarapan. Kamu duduk di depan aku dan bilang kerjaannya sudah selesai.”

Adrian menatap istrinya. Kali ini ia tidak mencoba mendekat.

Maya mengusap pipi dengan punggung tangan.

“Aku nggak mau pulang lalu dengar kalian sudah menyiapkan cerita yang lebih rapi. Jawab sekarang.”

Ia menunjuk lantai tempat mereka berdiri.

“Sabtu malam kamu menginap di sini?”

Nara ingin Adrian menatapnya sekali saja, dan sekaligus takut Maya melihat keinginan itu. Ia terus memandang sahabatnya.

Adrian menarik napas.

“Iya. Aku di sini sampai Minggu pagi.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!