Indonesia
NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dikhianati

Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Kebangkitan pecundang / Menjadi Pengusaha / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Alfa Rizky Pradana mengalami nasib yang sangat malang. Tak hanya dikhianati istrinya, tetapi juga oleh sahabatnya sendiri -- orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Keduanya bersekongkol merampas seluruh harta dan mencuranginya habis-habisan. Namun, yang lebih menyakitkan dari semua itu, anak yang dibesarkannya ternyata hasil perselingkuhan mereka.

"Segera pergi dari sini! Aku sudah muak melihat tampang polosmu itu!" usir Ammar

"Hanya itu harta milikmu, setidaknya aku masih bermurah hati memberikannya padamu!" ujar Davina pongah.

Diusir seperti sampah, setelah dikhianati serta dicurangi hanya diberi sedikit harta sisa, Alfa pergi tanpa apa-apa lagi selain luka dan dendam. Mampukah Alfa bangkit setelah apa yang terjadi padanya?

Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Bangkit Setelah Dikhianati" karya Moms TZ, bukan yang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21.

“Menjodohkan...?” Bu Mala mengulang ucapan Pak Danu dengan pandangan tak percaya.

Ia menatap pria paruh baya itu dan putrinya bergantian, berusaha mencerna maksud perkataan tersebut.

Pak Danu mengangguk mantap. “Benar, Bu Mala. Saya ingin menjodohkan Alfa dengan Ayudia.”

“Maaf, Pak Danu. Bukannya kami menolak, tapi bukankah sebaiknya kita tanyakan dulu kepada anak-anak? Bagaimanapun, merekalah yang akan menjalani rumah tangga nantinya,” ujar Pak Ikhsan hati-hati.

Beliau tidak menyangka pertemuan yang awalnya hanya untuk menghadiri peresmian toko putranya akan berujung pada pembicaraan perjodohan.

“Tentu, Pak Ikhsan. Saya tidak bermaksud memaksa. Saya hanya ingin menyampaikan niat saya terlebih dahulu kepada kalian sebagai orangtua Alfa. Selebihnya, biar mereka yang mempertimbangkannya.”

Kemudian Pak Danu mengalihkan pandangan kepada Alfa yang sejak tadi hanya terdiam dan tampak kebingungan.

“Alfa, saya ingin kamu tahu bahwa niat ini bukan karena siapa dirimu sekarang atau seberapa besar usahamu. Sebab, saya tidak sedang mencari menantu yang kaya raya,” tuturnya dengan tenang.

“Saya mengenalmu sejak kamu mulai bekerja di proyek. Saya mengikuti perkembanganmu, bagaimana kamu belajar dari bawah, menghadapi kesulitan, lalu membangun usahamu sedikit demi sedikit. Saya melihat sendiri bahwa kamu seorang lelaki yang jujur, pekerja keras, dan bertanggung jawab. Menurut saya, sifat-sifat itulah yang paling penting dimiliki seorang suami.”

Alfa mengangkat wajahnya menatap Pak Danu mendengarkan penjelasan itu. Dia tidak pernah menyangka beliau memperhatikan perjalanan hidupnya sedetail itu.

“Dan saya pikir, kamu adalah lelaki yang tepat untuk Ayudia. Namun, saya juga tidak ingin kalian menikah hanya karena keinginan orangtua. Kalau memang ada kesempatan, saya berharap kalian bisa saling mengenal pribadi masing-masing," lanjut Pak Danu.

Bu Mala melirik putranya. Sebagai seorang ibu, ia tentu berharap Alfa bisa kembali menemukan kebahagiaan setelah pengkhianatan yang pernah menghancurkan rumah tangganya. Namun, ia tidak ingin putranya mengambil keputusan besar hanya karena merasa sungkan kepada orang lain.

“Kalau boleh tahu, bagaimana pendapat Nak Ayudia sendiri?” tanyanya sambil menoleh kepada gadis itu.

Ayudia yang sejak tadi mendengarkan percakapan tersebut akhirnya mengangkat wajah. Ia sempat melirik ayahnya sebelum menjawab.

“Sebelumnya Papa memang sempat membicarakan hal ini dengan saya, Tante. Saya tidak keberatan untuk mengenal Mas Alfa lebih jauh. Namun, saya juga tidak ingin Mas Alfa merasa harus menerima hanya karena Papa yang menginginkannya.”

Jawaban itu membuat Alfa sedikit lega. Setidaknya, Ayudia bersikap bijak dengan mempertimbangkan perasaannya.

Pak Ikhsan mengangguk. “Kalau begitu, biarlah Alfa memikirkannya. Saya yakin dia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan untuk hal ini."

“Tentu. Saya bisa memahami itu,” sahut Pak Danu.

Sebelum akhirnya memberanikan diri berbicara, Alfa menarik napas panjang.

“Maaf, Pak. Terus terang, saya sama sekali belum memikirkan pernikahan lagi. Bukan berarti saya menolak niat baik Bapak, tapi ada beberapa hal yang perlu saya pertimbangkan sebelum memberikan jawaban.”

Pak Danu tersenyum. “Tidak perlu meminta maaf. Saya justru menghargai keterusteranganmu. Ambillah waktu yang kamu butuhkan.”

“Terima kasih, Pak. Saya harap Bapak dan Bu Ayudia bisa memahami keputusan saya.”

Ayudia mengangguk. “Saya mengerti, Mas Alfa. Silakan pikirkan baik-baik. Saya juga tidak ingin kita menjalani sesuatu hanya karena merasa tidak enak kepada orang lain.”

Hingga acara selesai, pembicaraan itu berakhir tanpa jawaban pasti dari Alfa. Akan tetapi, meskipun Pak Danu tidak mendesaknya, tawaran perjodohan tersebut masih menyisakan banyak pertimbangan di benaknya.

***

Malam harinya, setelah pulang dari toko material miliknya, Alfa duduk bersama Pak Ikhsan di ruang tamu. Bu Mala datang membawa tiga cangkir teh hangat.

“Sejak tadi kamu diam saja. Apa masih memikirkan perkataan Pak Danu?” tanya Bu Mala sambil meletakkan cangkir di atas meja.

Alfa mengangguk. “Iya, Bu. Aku benar-benar tidak menyangka beliau akan membicarakan perjodohan.”

Pak Ikhsan yang duduk di seberangnya menatap putranya. “Bagaimana menurutmu tentang Ayudia?”

“Dia gadis yang baik, Yah. Selama ini aku juga melihat bagaimana dia bersikap kepada orang lain. Aku tidak punya alasan untuk meragukan dirinya.” Alfa mengusap wajahnya sebentar. “Tapi, persoalannya bukan sesederhana itu.”

“Lalu, apa yang membuatmu ragu?” tanya sang ayah.

Alfa terdiam beberapa saat, kemudian mengemukakan pendapatnya. “Aku bukan tidak ingin menikah lagi, Yah. Aku juga ingin punya keluarga yang utuh, punya pasangan yang bisa diajak berbagi suka dan duka. Tapi, ada kemungkinan aku tidak bisa memberikan keturunan.”

Bu Mala yang hendak menyeruput tehnya langsung meletakkan cangkir kembali. “Apa maksudmu, Nak?”

Alfa menunduk. Ingatannya kembali pada masa lalu, yang mana Davina pernah mengakui bahwa ia sengaja memberinya obat penurun kesuburan. Pengakuan itu masih meninggalkan ketakutan yang sulit dihilangkan, meskipun hubungannya dengan wanita tersebut telah lama berakhir.

“Dulu, tanpa aku sadari ternyata Davina memberiku obat penurun kesuburan selama beberapa tahun pernikahan kami, Bu. Aku tidak tahu seberapa besar pengaruhnya terhadap tubuhku. Aku juga belum pernah memeriksakan diri untuk mengetahui apakah kondisiku sudah kembali normal atau belum.”

Bu Mala dan Pak Ikhsan tertegun. Hati mereka terasa nyeri membayangkan putranya harus menanggung akibat dari perbuatan wanita yang dahulu pernah dipercayainya.

“Tapi setelah Pak Danu membicarakan pernikahan, hal itu kembali terlintas di pikiranku.”

Alfa mengembuskan napas panjang, lalu kembali melanjutkan, “Setiap orang yang membangun keluarga tentu punya harapan untuk memiliki keturunan. Bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa memberikan itu, Yah...Bu?"

Pak Ikhsan tidak langsung menjawab. Beliau memahami bahwa ketakutan putranya bukan sekadar persoalan memiliki anak, melainkan juga rasa takut akan mengecewakan seseorang yang telah mempercayainya.

“Alfa, kamu tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa dirimu tidak bisa memiliki keturunan hanya karena perbuatan Davina dulu." sang ayah akhirnya berkata bijak.

“Kamu sendiri belum tahu bagaimana kondisimu sekarang. Jadi, jangan menghukum dirimu atas sesuatu yang bahkan belum pasti.”

“Tapi, Yah, bagaimana kalau ternyata kekhawatiranku benar?”

“Kalau memang demikian, kamu harus jujur. Namun, jangan mengambil keputusan berdasarkan ketakutan sebelum mengetahui kenyataannya.”

Bu Mala meraih tangan putranya. “Ibu tahu kamu pernah terluka. Ibu juga tahu kamu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Tapi, Nak, Jangan biarkan masa lalu menghalangimu meraih kebahagiaan.”

Alfa menatap ibunya. Ada kehangatan dalam genggaman itu, tetapi hatinya belum sepenuhnya tenang.

“Bu, keluarga Pak Danu itu bukan orang sembarangan. Ayudia dibesarkan dalam keluarga yang berkecukupan. Dia bisa mendapatkan lelaki mana pun yang mungkin jauh lebih baik dariku. Aku takut suatu hari nanti dia merasa salah memilih pasangan.”

Pak Ikhsan menggeleng. “Jangan merendahkan dirimu sendiri hanya karena keadaanmu sekarang berbeda dari keluarga mereka. Pak Danu mengenalmu bukan hanya dari apa yang kamu miliki, melainkan juga dari sikap dan tanggung jawabmu. Itu sebabnya dia sampai berniat menjodohkan putrinya denganmu.”

“Tapi, Yah, apakah aku pantas menerima kepercayaan sebesar itu?”

“Pantas atau tidak, bukan kamu yang berhak menentukannya sendirian,” jawab Pak Ikhsan tegas. “Ayudia juga punya hak untuk mengenalmu, mengetahui kekhawatiranmu, lalu memutuskan apakah dia bersedia melanjutkan hubungan itu atau tidak.”

Alfa terdiam, mencerna perkataan ayahnya. “Menurut Ayah, apa yang harus kulakukan?”

Pak Ikhsan menepuk bahu putra sulungnya pelan. “Pertama, periksakan dirimu agar kamu mengetahui kondisi kesehatanmu yang sebenarnya. Jangan terus hidup dalam dugaan. Kedua, kalau kamu memang bersedia mengenal Ayudia, bicarakan semuanya dengan jujur kepada mereka. Jangan menyembunyikan sesuatu yang kelak bisa menjadi persoalan dalam rumah tangga kalian.”

Bu Mala mengangguk menyetujui perkataan suaminya. "Pikirkan baik-baik sebelum kamu mengambil keputusan,” ujarnya lembut.

Alfa menunduk, menatap teh yang mulai dingin. Dia tahu kedua orangtuanya tidak akan memaksanya menerima perjodohan itu. Justru karena itulah, dirinya merasa harus memikirkan semuanya dengan sungguh-sungguh.

1
Nar Sih
alfa...niat yg baik harus di segera kan nih ,biar sgra halal☺️
〈⎳ FT. Zira
🤭🤭
〈⎳ FT. Zira: /Shhh//Shhh/
total 10 replies
vania larasati
lanjut
Patrick Khan
bener pelan tp pasti aja..👏👏
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huumm
total 1 replies
Patrick Khan
ahhh ayudia sat set ya..takut alfa di gondol wadon liyo👏👏👏🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sekarang jaman emansipasi wanita 🤭
total 1 replies
Nar Sih
tuh alfa udah dilamar duluan sama ayudia ,terima aja yaa mungkin dgn menikah kmu akan sgra tau tentang kesehatan mu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
vania larasati
lanjut
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
wadidaw
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤔🤔🤔🤔🤔
total 1 replies
Nar Sih
hukuman dan balasan yg pas untuk suami mu davina ,dan bntr lgi kmu yg dpt hukum karma nya🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭😥🤭😥🤭😥🤭
total 1 replies
Patrick Khan
wihhh serem jg hukumannya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dihhh... gimana sih, 🤭😥🤭😥🤭
total 1 replies
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
huh hah!!!
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: dilema 😥
total 3 replies
Nar Sih
amar sdh mulai kena karma nya ,jgn,,dia punya musuh nih selain dgn alfa
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Esther
Siapa yg memanggil Ammar ?
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: entah lah🤭
total 1 replies
vania larasati
lanjut
Nar Sih
momz kasih juga hukuman buat si davina yg sombong 🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: gantian mam
total 1 replies
Patrick Khan
bu jgn anaknya terus yg sakit..gantian emak ato buapaknya..kasian klo anaknya terus😭😭😭gk tega q..klo emak buapaknya tega q🤣🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: ya gantian
total 1 replies
Esther
Belum tahu aja Davina kalau Alfa skrg sudah kembali berjaya
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: lha iyo
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mommmmm masih kurang karmanya inih
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: hahaha.... 🤭
total 3 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
cusss periksa alfa
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siap kak🫰
total 1 replies
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!