Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.
Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Hinaan di Tepi Jalan
Derum mesin mobil sport open-top berwarna merah menyala itu akhirnya mati, menyisakan suara keheningan yang mencekam di area pemukiman padat tersebut. Kehadiran kendaraan mewah itu sangat kontras dengan sisa-sisa genangan air dan tanah lumpur yang mengepung kawasan Perumahan Asri serta pemukiman warga sekitar. Pintu mobil terbuka, dan dua orang melangkah keluar dengan tatapan penuh cemooh.
Leon melangkah dengan gaya angkuh, merangkul pinggang Eri yang mengenakan pakaian serba mahal namun tampak sama sekali tidak cocok dengan kondisi lingkungan sekitar. Warga yang tadinya berkumpul di sekitar halaman rumah tua Dirga seketika terdiam. Sebagian dari mereka mundur beberapa langkah, merasa minder dan enggan berurusan dengan dua orang kaya yang datang membawa aura ketidaksukaan tersebut.
Eri menatap sekeliling dengan ekspresi jijik, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke arah Dirga yang berdiri tenang di ambang pintu rumahnya. Pakaian Dirga memang sederhana, namun sorot matanya teramat tajam dan dingin.
"Aduh, Leon, kamu lihat deh," ujar Eri dengan suara sengaja dikeras-kaskan agar didengar warga sekitar. "Ternyata mantan aku sekarang banting setir. Dari tukang bersih-bersih kantor, terus jadi tukang ojek, sekarang malah jadi dukun gadungan di kampung orang."
Eri tertawa mengejek, sebuah tawa manis yang kini terdengar teramat hampa di telinga Dirga. "Kasian banget ya hidup kamu, Dirga. Dulu waktu sama aku, kamu beliin aku tas murah aja harus utang sana-sini. Sekarang buat makan aja kamu harus bodohi warga pakai ramalan-ramalan nggak jelas begini?"
Dirga tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak, kedua tangannya bersedekap di dada. Tidak ada raut kemarahan, tidak ada kegelisahan. Sikap diamnya justru menebarkan aura ketenangan yang membuat suasana terasa makin berat.
Leon terkekeh sinis, melangkah mendekat dua langkah hingga mengikis jarak antara dirinya dan Dirga. Ia menaikkan lengan kemeja mewahnya, dengan sengaja memamerkan sebuah jam tangan bersepuh emas dengan kilauan kristal yang mencolok di bawah sinar matahari pagi.
"Lihat ini, Dirga," kata Leon seraya mengetuk kaca jam tangannya dengan jari telunjuk. "Jam tangan ini harganya ratusan juta rupiah. Nilai jam ini saja bisa buat beli rumah reyot kamu yang hampir roboh ini beserta isinya. Ini baru namanya status sosial, ini baru namanya kesuksesan. Bukan modal omong kosong dan ilmu gaib palsu buat nakut-nakutin warga desa."
"Leon, udah ah," potong Eri sambil menggamit lengan Leon, pura-pura bergidik. "Nanti baju kamu kotor kena lumpur dari tempat ini. Lagian, ngapain sih kamu ngelayanin orang gila yang hidupnya makin nggak jelas begini? Nanti level kamu turun."
"Aku cuma mau kasih tahu dia kenyataan, Eri," sahut Leon dengan senyum lebar yang meremehkan. "Biar dia sadar diri. Orang kelas bawah kaya dia ini kalau nggak ditampar kenyataan bakal terus halusinasi. Hei, Dirga! Kalau kamu memang betul-betul bisa meramal, coba kamu ramal berapa sisa uang di dompet kamu sekarang? Cukup nggak buat beli makan siang, atau kamu harus ngemis dulu sama warga di sini?"
Beberapa warga bersungut-sungut mendengar ucapan Leon, tetapi mereka tidak berani bersuara karena melihat kemewahan mobil dan pakaian pria itu. Pak RT yang berdiri tak jauh dari sana sempat hendak melangkah maju untuk menengahi, namun Dirga memberikan isyarat pelan dengan jemarinya agar Pak RT tetap di tempatnya.
Dirga perlahan menurunkan tangannya. Ia melangkah turun dari tangga kayu rumahnya, berjalan perlahan hingga berdiri persis di hadapan Leon dan Eri. Sepatunya menginjak lumpur tanpa ragu sedikit pun.
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Dirga pendek. Suaranya datar, tanpa nada tinggi, namun mengandung bobot wibawa yang membuat tawa Eri seketika terhenti.
Leon mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan keberanian dan ketenangan Dirga yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau rasa malu. "Apa kamu bilang? Kamu nggak dengar aku bilang apa?"
"Aku mendengar setiap kata yang kamu ucapkan," balas Dirga pelan. "Kamu datang ke sini hanya untuk menunjukkan jam tangan itu, bukan?"
"Bukan cuma jam tangan ini, Dirga!" tegas Leon, suaranya meninggi karena merasa posisinya yang dominan tidak dihargai. "Aku datang buat memperingatkan kamu! Jangan pernah coba-coba bergaya di depan Eri, apalagi pura-pura jadi orang hebat dengan trik ramalan murahan kamu. Kamu itu cuma sampah yang kebetulan masih bisa bernapas di kota ini!"
"Leon, ayo jalan," bisik Eri, mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Dirga yang lurus dan menusuk. "Nggak usah dilayani lagi. Kita ada janji makan siang di restoran."
"Nanti dulu, Eri. Aku belum puas lihat wajah melasnya," bisik Leon balik, lalu kembali menatap Dirga. "Kenapa kamu diam? Mana kemampuan ramal kamu yang katanya hebat itu? Coba ramal aku! Coba tahu nggak kamu apa yang bakal terjadi sama aku?"
Dirga tidak langsung menjawab. Ia memajukan langkahnya satu tingkat lagi, menyisakan jarak hanya setengah meter dari Leon. Dirga memfokuskan pandangannya, menatap lurus tepat ke dalam manik mata Leon.
Di dalam dada Dirga, aliran napasnya teratur rapi seperti yang telah ia latih selama berhari-hari. Ia memusatkan titik fokus di balik dahinya. Seketika itu pula, rasa hangat menyengat mengalir tajam di area kepalanya. Penglihatannya tidak lagi kabur atau memicu rasa sakit yang menyiksa seperti dulu, kontrol emosinya yang stabil membuat daya batinnya bekerja dengan teramat bersih dan jernih.
Dunia di sekitar Dirga seolah melambat. Suara angin, bisikan warga, dan erangan mesin di kejauhan meredup.
Sebuah gambaran visi masa depan mendadak terbuka di dalam benak Dirga secara gamblang.
Ia melihat sebuah ruangan kantor direksi yang megah berornamen kayu mahal, kantor milik perusahaan kontraktor besar milik ayah Leon. Namun, suasana di dalam ruangan itu teramat mencekam. Ayah Leon terduduk lemas di kursi kerjanya dengan wajah pucat pasi. Di hadapannya berdiri beberapa pria berjas hitam memegang berkas resmi berlogo lembaga keuangan negara dan kejaksaan. Papan penyegelan dan surat pembekuan rekening dipaparkan di atas meja. Dalam waktu persis satu minggu dari hari ini, krisis keuangan dahsyat dan dugaan skandal penyimpangan dana besar-besaran akan meledak, memicu pembekuan total seluruh rekening bank korporasi milik keluarga Leon. Seluruh aset mewah, mobil sport, hingga kartu kredit milik Leon akan dihentikan dan disita seketika.
Penglihatan itu berlangsung selama beberapa detik sebelum akhirnya pudar, mengembalikan kesadaran penuh Dirga ke alam nyata.
Dirga menarik napas dalam-dalam, menyerap seluruh informasi visi tersebut dengan sangat tenang. Tatapan matanya yang tadi tajam mendadak berubah menjadi tatapan penuh keheningan dan sedikit rasa iba. Rasa iba bukan karena ia mengasihani Leon, melainkan karena ia melihat betapa rapuhnya keangkuhan manusia yang berdiri di atas fondasi pasir yang sebentar lagi akan runtuh dihantam gelombang.
Leon yang memperhatikan perubahan raut wajah Dirga justru merasa tersinggung. Ia merasa terintimidasi oleh tatapan yang begitu dingin dan tidak tergoyahkan tersebut.
"Kenapa kamu lihat-lihat aku seperti itu?" bentak Leon dengan nada keras, mencoba menutupi rasa ketidaknyamanannya. "Kamu pikir dengan menatap aku seperti itu, kamu kelihatan seram? Jawab!"
Eri menarik lengan kemeja Leon lebih kuat. "Ayo pergi, Leon! Dia ini makin aneh. Tatapannya kaya orang kesurupan. Ayo kita pergi sekarang!"
Dirga masih bergeming. Bibirnya yang tadinya terkatup rapat kini perlahan membentuk sebuah ukiran senyum yang sangat tipis, sebuah senyum ketenangan yang menyimpan rahasia besar tentang takdir tragis yang sedang merayap mendekati pria kaya di hadapannya tersebut.
Leon mengepalkan tangannya, merasa benar-benar dilecehkan oleh senyuman tenang Dirga. "Kamu ngetawain apa, hantu? Kamu mikir kamu siapa?!"
Dirga tetap mengunci pandangannya pada Leon tanpa membocorkan satu kata pun tentang pembekuan rekening yang baru saja ia lihat dalam visi batinnya. Ia membiarkan keangkuhan Leon berada di puncaknya sebelum takdir sendiri yang akan meruntuhkannya secara total dalam waktu tujuh hari ke depan.