Safira, wanita yang sudah menjadi istri orang ternyata jatuh cinta pada teman kerjanya Eka. Mungkin karena terbiasa bersama cinta itu tumbuh tanpa dia sadari. Sebenarnya Eka pun memiliki rasa yang sama tetapi Eka memilih diam dan memendam semua rasa yang ada.
Suatu hari suami Safira mengalami kecelakaan dan meninggal. Di saat Safira terpuruk Eka yang selalu berada di sampingnya. Tetapi sejak kepergian orang yang dicintainya, Safira memilih menutup hati untuk siapa pun termasuk Eka.
Saat Safira mulai bisa menerima keadaan. Hadir sosok Rio, lelaki yang sama sama kehilangan orang yang sangat dicintai. Siapa yang akan Safira pilih?? Eka yang selama ini mendampinginya atau Rio yang baru hadir dalam hidupnya
NB: Sebagian cerita ini diambil dari kisah nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivana Indrawijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22
Sejak aku melepas topengku, pandangan Eka hanya tertuju padaku. Mba Ipeh sampai menepuk lengan Eka. Begitu kami turun panggung dan bergabung dengan warga. Banyak warga yang meminta foto bersama dengan kami. Mba Ipeh dan Susan pun tidak ketinggalan. Setelah puas berfoto, Susan mengambil kamera yang berada di tangan Eka kemudian mendorong Eka mendekat kepada ku. Melihat Eka mendekati ku, tim ku langsung bubar dan meninggalkan aku dengan Eka berdua.
Susan langsung mengambil foto kami berdua. Eka sedikit salah tingkah saat berfoto denganku. Aku dengan cueknya merangkul Eka dan tersenyum menghadap kamera. Setelah cukup banyak foto kami, aku langsung ijin kembali ke balai desa untuk mengganti pakaianku.
Aku langsung kembali ke lapangan dengan pakaian kerjaku. Aku mulai memutari lapangan untuk mengecek satu per satu lomba. Lomba selesai saat adzan dzuhur berkumandang. Pengumuman pemenang akan dibacakan setelah waktu istirahat. Aku, Eka, Mba Ipeh dan Susan makan siang bersama. Setelah selesai makan kami langsung kembali ke lapangan. Para pemenang mulai dibacakan satu per satu.
Saat pengumuman lomba dance aku berdebar debar. Aku sempat pesimis karena sampai juara 2, nama desa ku belum disebut. Aku sudah membalikan badan saat juara 1 di umumkan. Aku mendengar nama desaku di sebut yang langsung disambut dengan sorak sorai warga. Aku masih tidak percaya kalau aku dan tim ku meraih juara 1 untuk lomba dance. Eka, Mba Ipeh dan Susan mengucapkan selamat kepada ku.
Aku beserta tim ku naik ke panggung untuk menerima piala dan hadiah lomba. Setelah itu kami berfoto foto dengan piala. Lomba hari itu ditutup dengan desaku yang memenangkan 4 kejuaraan. Aku pun bangga dengan orang orang yang sudah mewakili desa kami.
Hari sabtu tiba, aku mengajak anak ku berjalan jalan tapi mereka malah sibuk sendiri. Karena bosan di rumah aku memutuskan untuk berjalan jalan sendiri. Aku sudah menghubungi Eka, Mba Ipeh dan Susan tapi mereka bertiga sedang sibuk dengan urusan masing masing.
Aku menuju mall untuk berjalan jalan. Setelah berputar putar aku memutuskan untuk membeli minum. Di sebelah stand minuman sedang ada obral pakaian. Tempat itu sangat penuh dengan ibu ibu. Aku tidak berniat untuk bergabung dalam kerumunan itu. Aku pun memilih untuk duduk di ujung dan menghabiskan minumanku.
Belum sempat duduk aku mendengar ada suara tangisan anak kecil. Aku langsung mencari ke sumber suara tersebut. Aku menemukan anak perempuan yang cantik dan berumur sekitar 5 tahun sedang berjongkok ketakutan. Aku menuntunnya dan mengajaknya untuk duduk. Aku bertanya pelan pelan ke gadis itu. Tapi dia masih terisak. Aku menawarkan untuk membeli minuman. Gadis itu mengangguk. Akhirnya aku mengajak gadis kecil itu membeli minuman.
Setelah agak tenang, aku mulai menanyainya pelan pelan. Aku bertanya namanya, anak kecil itu menjawab namanya Renata. Aku bertanya dengan siapa dia datang ke mall dan bagaimana dia bisa sendirian. Renata mulai menjelaskan pelan pelan kalau dia datang bersama ayah dan neneknya. Ketika melihat toko mainan dia segera berlari meninggalkan neneknya yang sedang memilih milih pakaian. Kemudian dia tersesat dan menangis di pojokan. Dia mengatakan kalau takut tidak bisa bertemu dengan ayah dan neneknya.
Aku memutuskan untuk membawa Renata ke pusat informasi agar segera bertemu dengan ayah dan neneknya. Sambil berjalan aku bertanya ke Renata kenapa ibunya tidak ikut. Renata menjawab kalau ibunya sudah pergi ke tempat Allah berada. Raut muka Renata langsung berubah menjadi sedih. Aku yang melihat itu berusaha bertanya hal yang lain. Aku menanyakan nama ayahnya dia menjawab Rio.
Salam dari :
- Janji Palsu Tuan Muda -