Indonesia
NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Perang yang Tak Akan Ada Pemenangnya

Dua minggu berlalu sejak kejadian penyerangan terhadap Bagas. Perang antara keluarga Saraswati dan Viktor Reinhard meletus secara terbuka dan brutal. Agung tidak lagi main aman. Tim intelijennya bekerja siang malam menggali setiap lubang kelam dalam sejarah bisnis Viktor, dan satu per satu kejahatan pria Jerman itu terbongkar ke publik: penipuan investasi di negara-negara berkembang, perusakan lingkungan demi keuntungan semata, hingga keterlibatan dalam penggusuran paksa ribuan warga demi proyek tambang ilegal.

Berita-berita itu menghantam reputasi Viktor seperti hantaman palu godam. Harga saham perusahaannya anjlok di bursa Eropa, mitra bisnis mulai memutus kerja sama, dan pihak berwenang di beberapa negara mulai membuka penyelidikan terhadap aktivitasnya. Agung berhasil memukul mundur musuhnya dengan telak, setidaknya di medan perang bisnis.

Namun kemenangan itu terasa hampa dan pahit.

Viktor tidak tinggal diam. Ia membalas dengan cara yang jauh lebih kejam dan kotor. Ia menyebarkan berita bohong yang dirancang sedemikian rupa untuk merusak nama baik keluarga Saraswati secara pribadi: isu bahwa Agung pernah menyakiti istrinya di masa lalu, isu bahwa Larasati menikahinya hanya demi harta, isu bahwa mereka memanfaatkan program sosial yayasan hanya untuk pencucian uang. Berita-berita itu tidak benar, tapi disebarkan dengan bukti palsu yang begitu meyakinkan sehingga sebagian masyarakat mulai ragu dan menyoraki mereka.

Malam itu, setelah seharian menghadapi wawancara pers yang penuh pertanyaan menjurus dan tidak adil, Agung pulang ke rumah dengan tubuh yang lelah luar biasa dan hati yang penuh luka. Ia melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya ke sofa ruang tamu seolah benda itu adalah sumber dari semua penderitaan mereka. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur dan amarah yang terus dipendam.

Larasati mendekat perlahan, berusaha menyentuh lengan suaminya untuk menenangkannya. Tapi Agung mundur selangkah, menghindari sentuhan itu tanpa sengaja karena terlalu tenggelam dalam emosinya sendiri.

“Mereka berani bicara begitu tentangmu, Laras,” suaranya parau dan bergetar menahan amarah yang mendidih. “Mereka berani mengatakan bahwa kau… bahwa kau menikahiku hanya demi uang. Seolah-olah mereka tahu apa yang kita lalui bersama. Seolah-olah mereka ingat malam-malam kita tidur berdesakan di kasur busa kontrakan karena tidak punya uang untuk membeli yang baru. Seolah-olah mereka lupa bahwa kau yang menopang hidupku saat aku bahkan tidak sanggup membeli sebungkus nasi goreng untukmu.”

Agung memukul meja kayu di sampingnya dengan kepalan tangan keras sampai buku-buku di atasnya berjatuhan. Air mata akhirnya menetes juga dari matanya yang lelah — air mata bukan karena takut kalah perang bisnis, tapi karena harga diri dan cinta istrinya diinjak-injak oleh orang yang tidak tahu apa-apa tentang perjalanan mereka.

“Aku benci ini, Laras. Aku benci harus membiarkan namamu ternoda karena perang yang aku mulai. Aku benci melihat anak-anak kita harus mendengar teman-teman sekolah mereka membicarakan orang tua mereka dengan kata-kata kotor seperti itu. Mungkin… mungkin aku salah menyerang balik. Mungkin seharusnya kita menyerah saja, menjual perusahaan, pergi jauh dari sini dan hidup tenang sebagai keluarga biasa.”

Larasati tidak marah karena Agung menghindari sentuhannya. Ia justru melangkah maju lagi, menarik tubuh suaminya yang tinggi dan tegap itu masuk ke dalam pelukannya erat-erat. Ia membiarkan Agung menenggelamkan wajahnya di bahunya, membiarkan pria itu menangis dan melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul sendirian sebagai kepala keluarga.

“Jangan pernah bicara soal menyerah, Yang. Jangan pernah,” bisik Larasati lembut namun tegas di telinga suaminya. Tangannya membelai punggung pria itu berulang kali, gerakan yang sama yang ia lakukan belasan tahun lalu saat Agung pulang kerja serabutan dengan wajah hancur karena merasa gagal memberikan kehidupan yang layak bagi istrinya yang sedang hamil muda.

Ia menarik wajah Agung untuk menatap matanya, jemarinya mengusap air mata di pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.

“Ingat tidak dulu saat kita membuka warung kecil-kecilan di pinggir jalan? Ada orang yang iri lalu menyebarkan isu bahwa makanan kita beracun. Orang-orang percaya, warung kita sepi pengunjung hampir bangkrut. Saat itu kau bilang apa padaku?”

Agung menelan ludah keras, mengingat masa lalu yang pahit itu.

“Aku bilang… kebenaran akan bersinar sendiri. Kita tidak perlu berteriak membela diri. Kita hanya perlu terus melakukan hal yang benar, dan waktu yang akan menjawab semua tuduhan itu.”

“Benar,” Larasati mengangguk pelan, tersenyum tipis penuh kekuatan. “Dan lihat apa yang terjadi? Orang-orang akhirnya tahu siapa yang berbohong. Warung kita malah semakin ramai karena orang-orang tahu kejujuran kita. Sekarang pun sama. Orang mungkin percaya kebohongan itu sekarang. Tapi cepat atau lambat, mereka akan tahu siapa kita sebenarnya. Kita tidak perlu membuktikan apa pun pada mereka. Kita hanya perlu membuktikannya pada diri kita sendiri dan pada Tuhan. Bahwa kita tetap orang yang sama seperti dulu — yang saling mencintai apa adanya, yang saling menjaga dalam suka maupun duka.”

Agung menutup matanya rapat, menarik napas dalam-dalam menghirup aroma melati yang selalu menempel di tubuh istrinya — aroma yang selalu berhasil menenangkan jiwanya yang kacau. Ia tahu Laras benar. Perang ini bukan hanya soal bisnis atau harta. Ini perang mempertahankan jati diri mereka, mempertahankan nilai-nilai yang mereka bangun dari nol bersama-sama. Menyerah berarti mengkhianati semua perjuangan masa lalu mereka.

“Terima kasih,” bisik Agung pelan, mencium kening istrinya dalam-dalam. “Terima kasih selalu ada untuk mengingatkanku siapa aku sebenarnya saat aku mulai lupa.”

 

Sementara itu, di kamar Bagas, anak laki-laki itu duduk sendirian di lantai kamarnya, dikelilingi oleh tumpukan kertas dan buku catatan. Ia masih merasa bersalah mendalam atas apa yang terjadi pada Reno. Di kepalanya terus terbayang bagaimana tubuh Reno menghantam aspal untuk melindunginya, bagaimana bahu pria itu hancur terkena tongkat besi demi menyelamatkan nyawanya. Ia merasa dialah penyebab semua penderitaan itu. Jika saja dia tidak berjalan pulang sendirian, jika saja dia tidak menemukan celah strategi musuh yang membuat mereka marah… Reno tidak akan terluka seperti sekarang.

Pintu kamar terbuka pelan. Lala masuk membawa segelas susu hangat untuk adiknya. Ia melihat wajah Bagas yang murung dan penuh rasa bersalah, dan langsung paham apa yang sedang dipikirkan anak laki-laki itu.

“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, Bagas,” kata Lala lembut sambil duduk di samping adiknya. “Ini bukan salahmu. Yang salah adalah orang-orang jahat yang berani menyakiti orang lain demi keuntungan mereka sendiri. Kak Reno melakukan itu karena dia sayang padamu. Karena dia menganggap kita keluarganya.”

Bagas menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi aku merasa tidak berguna, Kak. Aku hanya bisa duduk diam di rumah merumuskan angka-angka sementara kalian semua berjuang di luar sana. Dan karena aku… Kak Reno harus menderita seperti ini.”

Lala menarik adiknya ke dalam pelukan hangat. Ia mengusap rambut Bagas yang lembut, berusaha menenangkan hati adiknya yang terluka.

“Kau tidak tidak berguna, Bagas. Angka-angka yang kau temukan itu menyelamatkan perusahaan kita dari kehancuran. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun. Dan sekarang… kita bisa membantu Kak Reno dengan cara lain. Kita bisa menjaganya saat dia pulih, kita bisa belajar darinya, dan kita bisa memastikan bahwa pengorbanannya tidak sia-sia dengan memenangkan perang ini bersama-sama.”

 

Beberapa hari kemudian, saat kondisi Reno mulai membaik dan diperbolehkan pulang ke rumah untuk pemulihan, keluarga Saraswati berkumpul di ruang keluarga untuk menyambutnya. Mereka menyiapkan kamar khusus di lantai bawah agar Reno tidak perlu naik turun tangga, menyediakan perawat khusus, dan memastikan semua kebutuhan pemuda itu terpenuhi dengan baik.

Reno duduk di kursi roda, wajahnya masih pucat tapi senyumnya sudah kembali tulus saat melihat Lala dan Bagas yang menyambutnya dengan antusias. Ia merasa seperti orang paling beruntung di dunia saat ini. Dulu ia tumbuh tanpa keluarga, hidup dalam hinaan dan kesulitan. Sekarang… ia dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar peduli padanya, yang menganggapnya sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri.

“Terima kasih sudah menerima aku seperti ini,” kata Reno pelan, matanya berkaca-kaca menatap Agung dan Larasati. “Aku tidak tahu harus membalas kebaikan keluarga kalian dengan apa.”

Agung berjongkok di depan kursi rodanya, menatap mata pemuda itu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

“Kau sudah membalasnya dengan melindungi putra kami, Nak. Dan mulai hari ini… kau tidak perlu lagi merasa seperti orang asing. Rumah ini adalah rumahmu juga. Keluarga ini adalah keluargamu juga. Kapan pun kau butuh tempat untuk pulang, kapan pun kau butuh orang untuk bersandar… kita selalu ada di sini.”

Air mata Reno akhirnya menetes juga. Ia mengangguk berulang kali, tidak sanggup berkata-kata lagi karena perasaan haru yang memenuhi dadanya.

Namun kehangatan keluarga itu tidak berlangsung lama. Telepon genggam Agung berdering kencang. Saat ia mengangkatnya, wajahnya yang tadi lembut langsung berubah menjadi dingin dan tegang. Tim intelijennya baru saja menemukan fakta mengejutkan yang mengubah segalanya.

“Pak, kami menemukan dokumen lama di arsip peninggalan kakek buyut Ibu Saras,” suara kepala tim intelijen terdengar serius dari ujung telepon. “Ternyata Viktor Reinhard bukan orang asing yang tiba-tiba datang menyerang kita. Kakek buyutnya… adalah perwira kolonial yang dulu bekerja sama dengan sekretaris pengkhianat keluarga Hardo untuk merebut tanah ini dari leluhur kita. Dulu dia yang memaksa Ratu dan keluarga Hardo terpecah belah. Dulu dia yang hampir membunuh kakek buyut kita demi menguasai emas di bawah tanah. Dan sekarang… cucunya datang untuk menyelesaikan apa yang gagal dilakukan kakeknya seratus tahun lalu.”

Agung menutup telepon perlahan. Ia menatap wajah-wajah keluarganya yang kini menatapnya penuh pertanyaan. Napasnya terasa berat saat menyampaikan kabar itu.

“Ini bukan sekadar perang bisnis. Ini dendam turun-temurun yang sudah berlangsung empat generasi. Viktor datang bukan hanya untuk mengambil tanah dan emas kita. Dia datang untuk menuntut balas atas kekalahan kakeknya di tangan leluhur kita seratus tahun lalu.”

Larasati merasakan dingin menjalar di sekujur tubuhnya. Mereka tidak hanya berperang melawan seorang konglomerat serakah. Mereka berperang melawan kebencian yang sudah tertanam dalam darah satu keluarga selama seratus tahun. Dan orang seperti ini… tidak akan pernah menyerah sampai salah satu dari mereka hancur total.

Reno yang mendengar kabar itu langsung mengerutkan kening dalam. Ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan ayahnya sebelum meninggal. Sesuatu tentang seorang pria kulit putih yang dulu datang ke desa mereka, menawarkan uang besar kepada siapa saja yang mau membantu menghancurkan keluarga Saraswati. Pria itu ternyata adalah kakek Viktor.

“Kalau memang begitu,” kata Reno pelan namun tegas, “dia tidak akan berhenti hanya dengan menyerang bisnis atau reputasi kita. Dia akan mencoba menghancurkan segalanya yang kita cintai. Kita harus bersiap untuk yang terburuk.”

Malam itu, saat seluruh rumah sudah tenang dan semua orang sudah tertidur, Agung dan Larasati berdiri berdua di balkon kamar utama mereka, menatap langit malam yang gelap gulita tanpa bintang. Angin malam berhembus dingin membawa aroma melati dari taman di bawah, tapi kali ini aromanya tidak terasa menenangkan. Malah terasa seperti peringatan akan badai yang jauh lebih besar yang sedang bergerak mendekat.

“Kita sudah melewati begitu banyak, Yang,” bisik Larasati pelan sambil bersandar erat di dada suaminya. “Tapi ini rasanya berbeda. Seolah takdir memaksa kita untuk menyelesaikan apa yang dimulai seratus tahun lalu oleh leluhur kita.”

Agung melingkarkan lengannya erat di bahu istrinya, berusaha memberikan kehangatan dan perlindungan meskipun ia tahu ancaman kali ini jauh lebih besar dari apa pun yang pernah mereka hadapi.

“Kita akan menyelesaikannya, Laras. Bersama. Dan kali ini… kita akan memastikan tidak ada lagi dendam yang diturunkan ke generasi berikutnya. Lala dan Bagas tidak perlu mewarisi beban ini selamanya. Kita akan mengakhirinya di tangan kita.”

Namun di dalam hatinya yang paling dalam, Agung menyimpan ketakutan besar. Ia tahu perang seperti ini tidak akan pernah ada pemenangnya yang sesungguhnya. Pasti ada harga yang harus dibayar. Pasti ada luka yang tidak akan pernah sembuh. Dan ia hanya berdoa semoga harga yang harus mereka bayar nanti tidak terlalu mahal untuk ditanggung oleh keluarga yang paling ia cintai di dunia ini.

Di tempat yang jauh, di kamar hotel mewahnya, Viktor Reinhard membuka sebuah kotak kayu tua peninggalan kakeknya. Di dalamnya terdapat foto hitam putih kakeknya yang berdiri di depan tanah perkebunan Kopi Melati dengan wajah penuh kebencian, dan selembar surat wasiat tua yang ditulis dengan tinta yang sudah memudar:

“Cucu cucuku, jika kau membaca ini, berarti aku sudah mati dengan membawa dendam yang belum terbalas. Hancurkan keluarga Saraswati sampai ke akar-akarnya. Ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kita. Jadikan mereka menderita selamanya. Itu adalah satu-satunya tugasmu sebagai penerus darah keluarga Reinhard.”

Viktor tersenyum dingin membaca surat itu. Ia menutup kotak kayu itu perlahan, lalu menatap ke arah gedung pencakar langit tempat kantor pusat Saraswati Group berdiri tegak di kejauhan.

“Tenanglah, Kakek,” gumamnya pelan penuh kebencian. “Aku akan menyelesaikan apa yang gagal kau lakukan. Dan aku akan membuat mereka menderita dengan cara yang bahkan tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!