Indonesia
NovelToon NovelToon
Selingkuhan Ayahku Ternyata Adik Kandung Ibu Ku

Selingkuhan Ayahku Ternyata Adik Kandung Ibu Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cerai / Pelakor / Keluarga & Kasih Sayang / Solo Leveling
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yo Blessy

Setega itu Ayah pada Kami.

Entah Iblis seperti apa jenisnya, yang kini merasuki Ayah.

Karena yang ada dalam pikiran Ayah, hanya wanita itu.

Tanpa perduli bahwa apa yang Dia perbuat tidak hanya menyakiti Ibu, tapi juga Kami Anak-anaknya.

Kini Kami benar-benar kehilangan Ayah.

Pergi selamanya bukan karena meninggal, tapi kabur bersama wanita lain yaitu Adik Kandung Ibuku sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yo Blessy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Perebut itu Siapa?

Eva pun pergi meninggalkan Ayah sendirian dikamar.

Dia pergi dan menangis menahan kekecewaan dan ketakutan yang teramat dalam.

"Aku tidak akan membiarkan Mas Heri berpaling dariku!"

"Awas saja jika selangkah saja dia menuju persidangan, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Eva kesal pada perbuatan Ayah.

"Enak saja tiba-tiba berucap ingin rujuk!"

"Dia pikir aku akan diam saja!" lagi dan lagi Eva mengucapkan kalimat yang penuh amarah.

Sementara Ayah dikamar, hanya terdiam tidak tau berbuat apa.

Perasaan takut jika Eva berbuat nekat, sangat membuat Ayah khawatir.

Tapi jika dia menuruti apa yang Eva ucapkan, maka gagal juga rencana Ayah menghancurkan pernikahan Ibu.

"Apa yang harus aku lakukan, agar semuanya bisa berjalan bersamaan?" Ayah mencoba mencari cara untuk melancarkan aksinya.

"Aku sebenarnya tidak benar-benar ingin kembali pada Maya. Hanya saja, jika dia menikahi orang lain, aku pun tidak rela!" ucap Ayah menyatakan apa yang dia rasakan.

"Atau begini saja, Aku tetap minta rujuk pada Maya, tapi tetap menjalin hubungan dengan Eva secara diam-diam!" ucap Ayah merencanakan niatnya.

"Aduhhh...! Sebenarnya apa sih yang sedang aku pikirkan!"

"Ini membuat aku pusing!"

"Bagaimanapun aku harus membuat rencana, agar pernikahan Maya itu berakhir!" ucap Ayah mantap dengan keputusannya.

Sungguh pikiran Ayah begitu kotor, seperti limbah pembuangan.

Bisa-bisanya berencana merusak kebahagiaan Ibuku.

*

*

*

Eva yang sedari tadi berdiri sambil mengomel seperti membaca mantra, tiba-tiba berniat untuk menghubungi Ibu.

"Aku harus hubungi Maya!"

"Agar dia tidak terpengaruh dengan niatan Mas Heri!" ucap Eva sambil melihat layar Handphonenya untuk mencari kontak Ibu.

Dia berusaha menelpon Ibu berkali-kali, tapi tidak sekalipun Ibu menjawab telponnya.

Tidak menyerah, Eva tetap berusaha terus untuk menghubungi Ibu.

Namun lagi-lagi, dia tetap gagal untuk berbicara langsung pada Ibu.

Karena tidak diangkat berkali-kali, hingga dia berpikir untuk menelpon Aku, agar disambungkan pada Ibu.

*

*

*

Aku yang sedang asyik menonton sendirian diruang tengah, dikejutkan dengan telpon dari Eva yang berbicara dengan penuh amarah.

"Ada apa?" aku langsung bertanya padanya setelah menjawab panggilan telponnya.

"Ibumu mana? Aku telpon berkali-kali tapi tidak diangkat!" jawabnya penuh emosi.

"Woy..! Santai donk bicaranya!"

"Memang kamu siapa, sampai Ibu harus repot-repot untuk menjawab telponmu!" seketika amarahku meledak mendengar ucapan Eva yang menurutku tidak pantas.

Jika pun harus marah, Ibu lah yang berhak bersikap seperti itu. Karena Ibu lah yang disakiti.

Tapi kenapa ini terbalik? Memang kalau namanya pelakor, ya kebanyakan tidak tau diri! ucap ku dalam hati yang tidak bisa aku katakan langsung.

Meskipun aku ada dipihak yang benar, memaki Eva secara langsung belum berani aku lakukan, karena Eva lebih seram dari yang dibayangkan.

Hanya kakaklah lawan yang sepadan, untuk bersaing kata-kata melawan Eva sang wanita Pelakor berlidah tajam.

Karena semenjak menjadi pelakor sejati dengan dukungan keluarga besar Ibu, dia semakin besar kepala dan bahkan berani untuk berbicara lantang kepada Ibu.

Memikirkan hal itu, akupun berlarian menuju kamar menemui kakak untuk meminta bantuan.

"Kenapa?" kakak terkejut dengan kedatanganku, hingga akupun memberi kode dengan jari menyentuh mulut agar kakak tidak bersuara.

Aku mulai membuka pengeras suara di handphone, agar kakak bisa mendengar perkataan Eva.

"Kamu ini lancang sekali berkata seperti itu!" aku ini masih tantemu, Yuna!" ucapnya padaku dengan nada kasar.

"Emang kamu ada perlu apa mencari Ibu?" ucapku memancing pembicaraan.

"Anak kecil gak usah banyak tanya!" cepat berikan telpon ini pada Ibu mu, aku ingin bicara!" lanjutnya masih dengan nada kasar.

"Wah..! Sinting ini orang..!"

"Emang dia siapa! Berani merintah kita pakai cara kasar seperti itu!" emosi kakak mulai meninggi.

"Sini dek berikan Handphonenya!"

"Biar kakak yang bicara!" ucap kakak yang sudah tidak sabar ingin menghardik Eva.

"Woy..! Emang kamu siapa main perintah-perintah Yuna seperti itu!" lanjut kakak yang berbicara ditelpon.

"Kamu ada kepentingan apa? Seenaknya main marah-marah aja!"

"Pelakor seperti kamu, apa masih pantas berbicara pada Ibu!"

"Setelah kamu sudah menghancurkan semuanya!" hardik kakak pada Eva, hingga membuat Eva malah semakin marah pada kakak.

Eva yang sudah tersulut emosi karena habis bertengkar dengan Ayah, malah begitu marah pada kami untuk melampiaskan emosinya.

Melihat tidak ada kesempatan untuk berbicara pada Ibu, Eva pun berpikir untuk menyampaikannya pada kami.

"Dengar ya!"

"Kalian bilang pada Ibumu!"

"Jangan berharap untuk rujuk kembali dengan Ayahmu ya!"

"Ayahmu hanya milikku!" ucapnya dengan nada tinggi.

"Awas saja kalau kalian semua berani mengambil kesempatan itu, aku tidak akan tinggal diam!"

"Aku akan pastikan, kalian semua akan hancur!" ancam Eva penuh amarah yang menggebu-gebu.

"Oh... Ternyata itu masalahnya!" bisik kakak pelan padaku.

"Sepertinya dia sudah masuk perangkap, kak!" aku balik berbisik pada kakak.

"Apa hakmu mengatur kami seperti itu?"

"Jika Ayah ingin kembali pada kami, apa hak mu melarangnya!" ucap kakak tidak mau kalah pada Eva.

"Liat saja senin depan nanti!"

"Saat persidangan nanti, jangan harap Ayah dan Ibu akan bercerai!"

"Kami akan bersatu kembali!" ucap kakak mengompori hingga membuat Eva semakin memanas.

"Kalian jangan mimpi!"

"Tidak akan aku biarkan, selangkah kakipun Ayahmu untuk pergi kepersidangan!"

"Keinginan kalian itu hanya khayalan belaka!"

"Aku akan pastikan, Ayahmu akan membenci kalian seumur hidup!" ancam Eva dengan keras kepada kami, hingga dia langsung menutup panggilan telpon saat sudah selesai berbicara.

"Loh.. Dimatikan!"

"Padahal aku belum selesai memaki dia!" ucap kakak kesal karena Eva memutus panggilan tanpa permisi.

"Sudahlah kak. Yang penting masalah yang kita takutkan sudah beres."

"Eva sudah memastikan, agar Ayah tidak datang ke persidangan!" ucapku menenangkan kakak.

"Iya aku tau, dek. Tapi jika aku ingat lagi ucapan yang dia lontarkan barusan, sepertinya ada sesuatu yang salah."

"Ini sebenarnya, yang jadi perebut suami orang itu siapa?"

"Ibu atau Eva?"

"Kok seperti terbalik?" ucap kakak kesal dengan perkataan Eva ditelpon tadi.

"Dasar Pelakor tidak tau malu!"

"Bisa-bisanya dia malah memposisikan Ibu, sebagai orang yang akan merebut suaminya!"

"Ingin aku simpan dicobek saja itu orang."

"Biar aku buat dia seperti Ayam Geprek!" ucap kakak sambil mempraktikkan gaya mengulak sambal ditangannya.

Jiwa preman kakak kembali keluar dari sarangnya.

"Emang udah sinting aja itu orang, kak!"

"Lagian siapa juga yang mau Ayah kembali lagi sama Ibu?" cibirku seketika aku membayangkan wajah Eva.

"Ibu sudah mendapatkan Pria yang begitu baik, seperti Om Candra."

"Lalu untuk apa kembali ke masa lalu?"

"Pede sekali si Eva, Kak!" ucapku pada kakak.

Kakakpun lalu menjawab ucapanku:

"Emang dia pikir, Ayah itu masih pantas untuk dijadikan bahan rebutan?"

"Dulu mungkin, Iya!"

"Tapi tidak untuk sekarang!"

"Ibu sudah Move On, kali!" ucap kakak lantang.

Setelah puas berbicara, kami hanya saling menatap.

Dan kemudian tertawa lepas.

"Kesal sih. Tapi senang juga kak, kita berhasil membuat Eva ketakutan!" ucapku girang.

Karena ada kemungkinan, rencana menghentikan kehadiran Ayah dipersidangan akan berhasil.

"Semoga rencana kita berhasil, dek!" ucap kakak sambil mengajakku High Five.

"Semoga ya, Kak."

"Agar Ibu mendapatkan kebahagiaannya kembali," ucapku sambil tersenyum membayangkan pernikahan Ibu nanti.

...----------------...

Bagaimana dengan karakter si Pelakor?

Menguras Emosi, bukan?😁

1
Ummu Haris
bagus banget ceritanya
Blessy: Semoga suka😊
total 1 replies
Susi Soamole
lanjut
Rini Haryati
lanjut thor
semangat
Susi Soamole
lanjut
Dilla Fadilla
ngga punya otak nih tua bangke apa otaknya tertinggal diselangkangan si eva pantes waktu zinah ngga ingat istri ama anak enak benar mau minta tolong kemana aja bangke waktu senang baru segitu aja azab udah kocar kacir nikmatilah masa tua yg bahagia bersama jalangmu🤣😁
Susi Soamole
lanjut
Bene Diktus Tangkas
Caerita yang sangat menarik, lebih seperti yang sering terjadi dicerita kehidupan sesungguhnya
Dilla Fadilla
thor kapan duo durjana dapat balasannya ,,7thn hidup bahagia enak benar kakek plus jalang jgn kelamaan harus di putuskan hukuman apa yg cocok buat mereka 😁
Susi Soamole
lanjut
Sri Wahyuni
terlalu mudah anak2 nya maafin bpk nya ga ksian apa sm ibu y dri ank y msih kcil brjuang dah pda gede bpk y muncul lgian ank2 y oda goblog
Susi Soamole
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!