David terjerat benang merah dengan seorang gadis manja bernama Sindi.
David tak pernah mencintai Sindi, bahkan David lebih memilih berhubungan dengan Lina, sahabat sekaligus sepupu Sindi.
Sindi tak mendapatkan perlakuan selayaknya seorang istri hingga dia mengetahui kalau Lina hamil anak suaminya.
Bagaimana kehidupan benang merah Sindi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
David Menghilang
"Non Sindi sedang ada masalah?" terka bik Surti.
Sindi yang sedikit melamun menoleh, "Enggak kok, mungkin aku sedikit kecapekan, semalam juga kurang tidur."
"Kalau gitu Non Sindi istirahat saja dulu, biar bibik yang siapkan makan siang anak-anak." desak Surti sambil mendorong tubuh Sindi keluar dapur.
Sindi mengangguk pasrah. "Baiklah Bik!" ia pun menuju aula tempat dimana biasanya berkumpul bersama anak-anak, meluruskan kedua kakinya yang tampak linu-linu.
"Ada apa ya, nggak biasanya aku kayak gini?"
Surti datang sambil membawa segelas teh hangat, "Diminum Non mumpung masih hangat!"
"Iya Bik, kok repot-repot segala, entar aku haus bisa ambil sendiri."
Surti hanya tersenyum lalu kembali ke dapur.
Pikiran Sindi melayang pada suaminya yang sudah 5 hari ini ia cueki. Karena bosan dengan situasi saat ini ia pun menyalakan televisi yang baru ia beli kemarin. Tak sengaja chanel tv berhenti di salah satu acara buletin siang. Dalam berita tersebut seorang pembawa acara menerangkan diduga telah terjadi kasus kriminal dimana korban tidak ditemukan di dalam mobil hanya dompetnya saja. Dan pemilik dompet tersebut bernama David Setiawan.
Sungguh dunia ini terasa berhenti berputar. Sindi menjatuhkan gelas yang baru saja ia minum.
Surti dari arah dapur bergegas datang.
"Ada apa Non, kok bibi dengan suara gelas pecah?"
Sindi langsung menghambur dan menangis sejadi - jadinya.
"Suamiku mengalami kecelakaan,"
"Tenang Non, bibi ikut prihatin semoga suami Non baik-baik saja."
"Aku harus mengecek sendiri keadaan di sana." Sindi melepas pelukannya.
"Non mau pergi sekarang, di luar langit tampak mendung, sepertinya mau turun hujan."
"Enggak apa Bik, lokasi kejadian tidak jauh dari tempat kita."
Sindi berdiri dan bergegas menuju mobil. Mulai menyetir Sindi mengambil kesimpulan kalau suaminya sedang mengikuti dia, dan saat ada tikungan suaminya salah mengambil arah.
Saat tiba di tempat kejadian perkara, Sindi melihat garis kuning dan beberapa orang yang berkerumun.
Sindi mengecek secara langsung. "Saya istri pemilik mobil ini." ujarnya memberi tahu pada polisi.
"Apakah Anda yakin?"
Sindi mengangguk.
"Kalau begitu berikan keterangan di kantor polisi terkait dengan berita perampokan."
Sindi tak merasa keberatan dan memberikan keterangan.
Pihak polisi menyerahkan dompet David. Sindi segera mengecek dan hanya ada surat- surat penting, tak ada uang selembar pun. Itu artinya David murni di rampok. Lantas kemana David sekarang?
Pihak polisi meminta Sindi untuk bersabar menunggu sampai 24 jam, polisi sedang menyusuri daerah sekitar.
Adam dan Zahara datang.
"Kamu nggak apa-apa kan sayang?" tanya Zahara begitu khawatir.
"Aku baik Ma, tapi mas David menghilang."
"Apa sebelumnya dia tak memberi tahu kamu?" tanya Adam.
"Enggak Pa, sebenarnya aku beberapa hari ini sedang bertengkar dengannya, jadi kami tak saling bicara."
"Kamu kekanak -kanakan sekali, dia menghilang kamu baru merasakannya."
"Iya Pa, Sindi sadar sekarang kalau Sindi salah. Tolong Sindi Pa, temukan mas David."
"Sindi, kamu tenang saja, papa akan mengerahkan semua orang untuk mencari suami kamu, iya kan Pa?" setelah menghibur Sindi, Zahara menyenggol sikut Adam.
Adam hanya mengangguk. Meski tak diminta pun Adam sudah tahu harus berbuat apa.
Sementara di sebuah bangunan tua.
David merasakan kepalanya pusing, seperti terkena benturan benda keras. Tubuhnya pun terasa memar seperti habis dipukuli. Matanya yang terpejam semalaman pun mulai ia buka meski sedikit berat.
"Aku dimana ?" lirihnya sambil mengedarkan pandangan.
Setelah sepenuhnya matanya terbuka ia melihat kedua tangannya terikat dan dirinya dalam posisi berdiri tanpa memakai baju.
"Dia sudah sadar!" teriak seorang penjaga.
"Kamu siapa dan mengapa kamu menangkapku?" tanya David dengan membentak.
"Hei, berani sekali kamu membentakku, kamu nggak kapok kami pukuli!"
David terdiam, ia berpikir jumlah orang yang menangkapnya mungkin lebih dari satu.
Suara langkah sepatu yang begitu elegan dan terdengar kejam mendekat. "Tinggalkan aku sendiri!"
"Baik Bos!" penjaga pun langsung beranjak pergi.
David terperangah dengan kedatangan seorang pria berkacamata dan berkumis tebal.
"Siapa kamu dan apa motif kamu ingin menangkapku?"
Pria berkumis tebal itu tertawa, "Kamu tak perlu tahu siapa aku," pria itu mengeluarkan selembar kertas dan meminta David untuk tanda tangan di atasnya.
"Cepat tanda tangani ini!"
David membaca sekilas kalau kertas itu adalah surat cerai.
"Cih, kamu memintaku menceraikan istriku! Siapa pun kamu aku tidak takut, dan sampai kiamat pun aku tak kan menceraikan istriku, dengarkan itu !" teriak David sambil meludahi surat itu.
Pria berkumis tampak geram dan tidak sabaran. Tangannya mengepal dan menjatuhkan pukulan ke perut David hingga membuat dia terbatuk.
"Kamu berani padaku, hah!" pria berkumis melepas kacamatanya. "Aku Leo, pria yang disegani di daerah ini, dan tak ada satu orang pun berani membantah perintahku."
Tak lama kemudian ponsel Leo berbunyi.
"Hallo, katakan padaku, aku harus apakan dia?"
"Hallo Paman, terserah Paman ingin melakukan apa padanya. Yang jelas, aku membutuhkan surat itu secepatnya."
"Baiklah, serahkan padaku."
Kemudian panggilan berakhir.
Leo memanggil penjaga.
"Pegangi dia!"
"Baik Bos." kedua penjaga memegang tubuh David.
"Lepaskan tangan kotor kalian!"
"Apa yang ingin kamu lakukan padaku!"
Leo mengeluarkan jarum dari sakunya sambil tertawa jahat.
"Cara kasar tidak mempan ya rupanya, baiklah kita lihat sekarang, setelah aku menyuntikkan narkoba ini padamu apa yang akan terjadi?" Leo mendekat.
"Keparat kamu! Singkirkan benda itu dariku!"
"Oh, tidak bisa! Tanda tangani surat itu!"
"Aku nggak mau!" tolak David.
Leo langsung menancapkan jarum di lengan David.
David menjerit dan beberapa menit kemudian dia tertidur.
Leo tertawa puas.
"Jaga dia, kabari aku jika sudah sadar!"
"Baik Bos."
***
"Sony, katakan dimana David?" desak Lina yang tahu rencana Sony.
"Kamu tenang saja Lina, dia aman kok."
"Kamu bilang rencana kamu berhasil, tapi kok aku nggak langsung mendapatkan dampaknya."
"Lina, sesuatu itu butuh proses, kamu diam dan tenang dulu, aku pasti kan kamu akan bersama David selamanya."
"Kamu janji melulu!"
"Eits, kamu jangan salah, aku sedang berusaha mendapatkan surat cerai dan tanda tangan David, setelah berhasil aku akan menyerahkan David padamu."
"Kamu nggak melakukan sesuatu yang kasar kan padanya?"
"Tenang saja, apa aku terlihat kejam di matamu?"
Lina menelisik penampilan Sony dan tak menemukan kebohongan di sana.
"Iya, aku percaya padamu."
"Nah gitu dong, sekarang kamu pulang dan biarkan urusan David aku yang menanganinya. Kamu dekati Sindi lagi, bujuk dia untuk menerima aku kembali."
"Membujuk dia?"
"Katakan pada Sindi, aku khilaf dan akan memperbaiki kesalahanku."
"Kamu!" Lina tahu sekarang apa makna khilaf tanpa harus diterangkan.
"Sudah, sana cepat pergi!"
Lina meninggalkan cafe dan secercah harapan menerpa dirinya. Ponselnya berdering dan saat melihat layar ponselnya, itu dari Sindi.
Ry kagum ama sikap Sindy bnr2 Cinta ama Dave
Lina udh jd Pelakor masih aja blm sadar
Perjuangan Ucup Mampir
Perjuangan Ucup Mampir
Ry nunggu Up nih novel
Perjuangan Ucup Mampir
Semoga Lina di perkosa ama Leo
Perjuangan Ucup mampir
Sony Jahat banget sih
Pa2 Adam pasti bs menyelesaikan semuannya
Perjuangan Ucup mampir
Perjuangan
Perjuangan Ucup mampir
Up lagi dong
Linda Dan Sony pasti akan berencana menghancurkan rmh tangga Davit dan Sindy
Perjuangan Ucup mampir
Davit bertanggung jawab lah kepada Lina
Dy udh hamil anak Davit
Sindi jauh lebih baik dr Lina
Perjuangan Ucup mampir
Jgn bertahan pertahanan rmh tangga ama David
Bagus Sindi jd Donatur Panti Asuhan itu
Perjuangan Ucup mampir