Berawal dari pertemuan tidak sengaja, membawa ketiga gadis dengan sifat yang berbeda dalam satu lingkar pertemanan.
Mungkin terlihat mustahil dengan sifat mereka yang saling bertolak belakang, tapi nyatanya mereka bisa bersahabat dengan erat. Hubungan mereka layaknya bianglala yang terkadang menyenangkan ketika berada di puncak tapi tak jarang pula penuh liku.
Tapi akankah hubungan mereka terus seperti itu?
Saat orang asing masuk dan terlibat dalam lingkar pertemanan mereka?
Cover credit by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhainika96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8.1 [Rhea] Ribut
Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini kegiatan gue nggak jauh dari kuliah, ikut Kak Eza, ngawasin Mei latihan, nugas. Kayaknya selama kerjasama Rumah Belajar Aksara sama Komunitas Goresan Pena belum beres gue nggak akan lepas sama Kak Eza. Sudah berasa kayak asisten pribadi dia, mending kalau dibayar.
"Kenapa lo? Pagi-pagi udah cemberut aja?" tanya Aga
"Bosan gue tuh, dari seminggu yang lalu harus ngikutin Kak Eza mulu. Kenapa nggak lo aja?"
"Kenapa jadi gue? Kan tugas gue cuma ngurusin sponsorship sama Bang Bryan dan kadang nontonin Mei sambil jemput dia sekalian," ujar Aga santai.
"Iya, lo jemputin Mei mulu sampai lupa sama sahabat sendiri, untung kemarin ada Kak Eza. Padahal Mei nggak dijemput juga udah ada gebetan yang siap antar pulang " ketus gue yang entah kenapa tiba-tiba merasa sebal karna Aga membicarakan Mei dan juga teringat perihal Aga yang tidak menjemput gue kemarin.
"Lo tuh kenapa sih, tiba-tiba ketus kayak gitu. Lagi pula, mau jemput Mei atau nggak kan itu urusan gue. Kalau lo nggak suka ya udah, lagi pula kemarin gue jemput tapi lo udah bareng Bang Eza."
"Terserah lo deh, gih sana pergi aja jemput tuh si Mei. Ngapain malah jemput gue." Gue benar-benar marah sekarang karna ucapan Aga barusan. Apa-apaan dia itu.
"Lo tuh kenapa sih, Rhea? Gue salah mulu sama lo. Jemput lo malah diusir, nggak jemput lo ntar lo ngamuk, protes bilang gue nggak anggap lo dan lebih mentingin Mei."
"Emang gitu kan? Sejak kenal dia, lo selalu duluin dia. Gue pasti lo lupain. Lanjut aja deketin dia, nggak usah peduliin gue."
Iya, gue cemburu sama Mei karena lebih banyak mendapatkan perhatian Aga daripada gue, sahabatnya. Apa mungkin aku mulai menyukai Aga, bukan sebagai sahabat melainkan sebagai laki-laki?
"Percuma gue jelasin, lo nggak mau dengarin. Sekarang terserah lo mau berangkat sama gue apa nggak, gue tunggu di mobil."
Selesai berucap seperti itu Aga langsung keluar rumah dengan sedikit membanting pintu. Aga sudah benar-benar marah sekarang. Sepertinya akan butuh waktu lama untuk meredakannya.
~
Gue sampai kampus dengan selamat dan tidak perlu jalan kaki atau naik gojek, karena gue tetap berangkat bersama Aga. Walaupun sepanjang perjalanan kami berdua hanya diam seribu bahasa. Kami sama-sama memilih diam dan sibuk dengan pikiran sendiri.
Sekarang gue harus cepat-cepat menuju kelas kalau tidak mau di keluarkan dari kelas lagi. Karena kami tiba di kampus sudah sangat terlambat dan itu karena perdebatan tidak penting tadi pagi.
"Eits, mau kemana lo?"
Tiba-tiba Kak Eza menghadang gue di lorong, padahal gue lagi buru-buru untuk ke kelas.
"Kak, ntar aja. Gue ada kelas, gue nggak mau kayak waktu itu. Disuruh nutup pintu dari luar."
Gue memohon pada Kak Eza agar dibiarkan menuju kelas.
"Silahkan aja kalau lo mau dua kali disuruh nutup pintu dari luar." Ujar Kak Eza.
"Hah? Gimana Kak?"
Mendadak gue jadi lemot, otak gue nggak mau diajak mikir. Padahal ucapan Kak Eza juga bukan kata-kata yang susah untuk dipahami.
"Tadi gue ke kelas lo dan udah ada dosen. Berhubung lo belum datang, gue bilang sekalian aja kalau lo izin lagi sakit."
Gue hanya diam, menatap Kak Eza heran sekaligus takjub. Bisa-bisanya dia kepikiran ide aneh seperti itu. Bagaimana bisa dia membuat gue izin dengan alasan klise seperti itu.
"Terus sekarang gue gimana? Percuma dong gue buru-buru berangkat. Mana berantem dulu lagi sama Aga," ujar gue lirih diakhir kalimat.
"Ya ikut gue lah, jangan pura-pura lupa. Kerjaan lo masih banyak."
"Itu kan kerjaan lo, Kak. Kerjaan gue udah beres kemarin," bantah gue.
"Buruan, nggak usah kebanyakan ngomong. Ikut gue sekarang," ujar Kak Eza sambil menyeret bagian belakang tas gue.
Gue hanya pasrah ketika Kak Eza menyeret gue seperti itu. Malu sih sebenarnya karna menjadi tontonan anak-anak satu jurusan, tapi gue malas protes dan berakhir debat dengan Kak Eza.
"Bang, lo ngapain seret Rhea kayak gitu?" tanya Zayn.
"Dia kelamaan."
"Gue udah bahas sama Kara soal perform-nya. Itu udah fix kan berarti?"
Sebentar, gue baru sadar kalau Kak Eza mengajak gue ke gedung sebelah, yang berarti ke fakultasnya Aga. Kalau tahu seperti ini, lebih baik gue dihukum dosen.
"Rhea, fokus. Catat semua yang saya diskusikan dengan Zayn tadi," ujar Kak Eza sudah berganti dengan mode formalnya.
"Iya Kak, maaf. Sebentar, gue catat dulu."
Gue segera mengeluarkan buku catatan khusus yang memang disiapkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan proyek kerjasama. Dengan cepat, gue mencatat semua hal yang tadi didiskusikan Kak Eza dan Zayn.
"Hari ini kalian latihan?"
"Nggak Kak, setelah ini kita ada kuliah dan latihannya udah tadi pagi."
"Ya sudah kalau gitu, kalian bisa mulai persiapan alat musik dan yang lainnya lusa. Nanti sebelumnya bisa menghubungi Kara atau Rhea."
"Kok gue sih Kak, sama Kara aja udah atau sama anak lain kan masih banyak."
Gue menolak tugas dari Kak Eza. Tidak profesional memang, menolak pekerjaam karena masalah pribadi. Tapi gue benar-benar sedang tidak ingin bertemu dengan Mei dan Aga.
"Nggak ada bantahan, Rhea." Kak Eza berucap dengan nada tegas tanpa bisa dibantah lagi.
"Kalau lo nggak mau, lusa nggak usah datang, nanti gue bisa kabarin Bang Bryan atau Kara aja," imbuh Zayn sedikit meringankan beban gue.
Tapi sekatika itu Kak Eza langsung memberikan tatapan tajamnya, itu artinya mau tidak mau lusa gue akan tetap mengurusi pekerjaan ini bersama Aga. Rasanya gue mau cepat-cepat menyelesaikan proyek kerjasama ini, biar nggak ketemu mereka.
Diskusi dengan Zayn sudah selesai, tapi gue masih tertahan di kampus. Kak Eza tidak membiarkan gue pulang dan malah menyuruh gue menunggu dia yang sedang mengajar, sangat menyebalkan.
"Maaf, saya terlalu lama. Kamu pasti bosan menunggu," ujar Kak Eza masih dengan mode formal.
"Iya lama banget, bosan gue nunggunya. Oh iya, udahan pakai mode formalnya, cuma berdua ini."
"Iya, iya, masih kebawa tadi di kelas " sahut Kak Eza, sudah mulai kembali berbicara santai, "Lo mau pulang sekarang? Ayo, gue anter pulang," lanjutnya.
"Em... kalau gue ikut lo pulang boleh nggak, Kak? Gue lagi malas pulang." Gue berucap ragu-ragu dengan suara yang semakin mengecil.
"Kenapa nggak mau pulang ke rumah? Lagi ribut sama Kara?"
Gue mengangguk, membernarkan tebakan Kak Eza. Gue memang sedang ribut denga Aga perkara tadi pagi dan gue malas untuk bertemu dengannya. Kalau gue pulang sekarang bisa dipastikan akan bertemu dengan Kara. Karena lelaki itu pasti sedang bersantai di balkon kamarnya sekarang.
"Ya udah ayo pulang."
Kak Eza kembali menyeret gue, tapi kali ini dia memengang tangan, bukan tas lagi. Setidaknya gue tidak akan seperti anak kucing.
Sepanjang perjalanan, kami berdua hanya diam dan menikmati lagu yang memang diputar oleh Kak Eza. Selera lagunya boleh juga.
Seperti permintaan gue, Kak Eza membawa gue pulang ke rumahnya. Dan mempersilahkan gue untuk bersantai di teras belakang, tempat favorit Kak Eza.
"Lo tunggu di teras belakang, gue mau ganti baju bentar."
Tak lama kemudian Kak Eza, sudah berganti dengan celana jeans pendek dan kaos polo berwarna hitam. Dia langsung duduk di kursi samping gue.
"Kak, ajarin gue main gitar "
"Boleh, sini pindah duduk di bawah."
Kak Eza benar-benar mengajari gue dengan telaten. Gue menikmati hari ini, setidaknya bisa sedikit mengalihkan pikiran gue dari masalah tadi pagi.
...~...
ngga ada sudut pandang dari Authornya?
"Membuat yang dari bawah mengagumi keindahan semu itu"