Indonesia
NovelToon NovelToon
Cinta Yang Berbahaya

Cinta Yang Berbahaya

Status: tamat
Genre:Mafia / Balas Dendam / Konflik etika / Identitas Tersembunyi / Obsesi / Tamat
Popularitas:94.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rimza

Diana Maharani yang biasa di panggil Ana adalah gadis belia yang baru lulus SMA dari desa. Untuk bisa melunasi hutang keluarganya, dia di ajak sepupunya pergi ke Bali untuk bekerja sebagai Housekeeping di sebuah Resort terkenal di Bali

Selama sebulan menjadi Housekeeping di Bali semuanya berjalan baik-baik saja. Hingga suatu hari sepupunya menjebaknya melalui temanya sendiri untuk menjadi wanita penghibur, dan yang di layani nya adalah ternyata seorang Mafia.

Keduanya terjebak dalam hubungan yang rumit, ketika mengetahui kedua keluarga ini terlibat konflik masa lalu yang melahirkan dendam, membuat Ana di buat semakin menderita.

Di tambah orang-orang di masa lalu yang kembali hadir di tengah konflik mereka.

Bagaimana Ana bertahan dari siksaan Pria Mafia itu?

Terus ikuti jalan cerita "CINTA YANG BERBAHAYA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rimza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal Penderitaan

Ana masih terus menangisi kejadian tadi. Hatinya terluka, harga dirinya seperti telah di injak-injak oleh Felix. Ana terduduk di atas ranjang sambil mendekap tubuhnya sendiri. Wajahnya terus tertunduk dengan perasaan emosi yang ia tahan.

"Kenapa dia begitu kurang ajar padaku, apa hanya karena dia sudah merasa telah membeliku, dia berhak menyentuhku semaunya. Aku bukan pelacur..!!" batin Ana dengan air matanya yang luruh.

Ana masi mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ada rasa keinginan dalam hatinya untuk melarikan diri. Namun ia masi ragu karena resiko yang akan dia hadapi jika ia melakukanya. Lama ia menangis sampai ia tertidur karena kelelahan.

Menjelang sore, Ana baru bangun dari tidurnya. Ia merasakan kepalanya sakit dan matanya sembab karena terlalu lama menangis. Ia segera bangun dan membersihkan dirinya.

Di ruang makan terlihat para pelayan yang sedang menyajikan hidangan untuk makan malam. Nampak di atas meja telah tersaji beberapa makanan mewah seperti daging steak, lasagna khas itali, makanan appetizer dan menu makanan lainya, serta buah-buahan segar di atasnya. Di sana terlihat Felix yang duduk sedang menikmati makanannya.

"Di mana gadis itu?" tanya Felix pada Ester yang membantu menyiapkan makan malam.

"Sedang ada di kamarnya Tuan" jawab Ester

"Suruh dia turun untuk makan malam!" perintah Felix pada Ester.

"Baik Tuan" jawab Ester

Segera Ester menuju kamar Ana. Di kamar Ana terlihat duduk di sebuah sofa di dekat jendela. Ia menatap ke arah luar sambil memikirkan sesuatu, termenung menatap langit malam yang sunyi.

Terdengar suara pintu terbuka. Mendengar itu, Ana langsung mengarahkan pandanganya ke arah pintu dan disana sudah ada Ester.

"Ada apa Tuan Ester?" tanya Ana dengan memasang wajah sendu.

" Tuan Felix menyuruh Anda untuk turun ke ruang makan Nona" jawab Ester.

Mendengar ucapan Ester, Ana langsung mengalihkan pandanganya lagi ke arah luar jendela.

"Bilang padanya saya lelah, saya tidak bisa menemuinya" jawab Ana dengan suara yang dingin.

"Tapi Nona? Tuan Akan marah kalau Nona menolak permintaan Tuan Felix. jawab Ester yang memperingatkan Ana.

"Biarkan saja, Saya tidak peduli. Lebih baik saya mati dari pada menuruti pria itu" jawab Ana, yang tak terasa bulir air mata jatuh dari mata cantiknya.

Ester yang mendengar itu merasa iba pada gadis belia itu. Segera Ester keluar dari kamar Ana dan turun menemui tuanya.

"Maaf tuan, nona Ana tidak mau keluar kamar" ucap Ester.

Mendengar itu, Felix menghentikan kegiatan makanya, sedikit membanting sendok dan garpunya. Ia beranjak dari meja makan menuju kamar Ana. Ia melangkah dengan langkah yang lebar dan cepat dengan perasaan kesal. Sesampainya di depan pintu kamar Ana, Felix membuka pintu itu dengan kasar. Tanpa mengucap sepatah katapun, Felix langsung mengangkat tubuh Ana seperti karung beras.

"Apa yang kau lakukan, lepaskan Aku!! teriak Ana yang meronta-ronta sambil memukuli punggung Felix yang berusaha melepaskan diri.

Felix tak bergeming dengan ucapan Ana, ia terus mengangkat Ana menuju ruang makan. Beberapa pelayan yang melihatnya hanya bisa terdiam seolah tidak melihat. Sesampai di ruang makan, Felix langsung mendudukan Ana di kursi meja makan.

"Diam di sini!, dan segera makan!" perintah Felix dan kemudian duduk di kursinya.

Ana sangat kesal mendengar perintah Felix yang arogan padanya. Tiba-tiba Ana berdiri dan menarik alas meja makan hingga makanan yang ada di atas meja tumpah berceceran di lantai. Piring dan gelas pun pecah berserakan. Sontak perbuatan Ana menyulut kemarahan Felix.

"ANAAAA..!!! APA KAU BOSAN HIDUP..!!" teriak Felix yang suaranya begitu menggelegar ke penjuru ruangan. Pelayan yang berada di sana pun ketakutan mendengarkan teriakan Felix yang begitu menakutkan tak terkecuali Ester yang berada di sana. Semua orang ketakutan, tapi tidak untuk Ana. Ana malah balik menatap tajam Felix.

"YA...!! BIARKAN AKU MATI..!!" teriak Ana dengan suara yang sedikit bergetar sambil menahan air matanya. Amarah Felix semakin memuncak mendengar ucapan Ana.

Namun tiba-tiba Ana menyerang Felix. Ia memutuskan untuk melawan dengan sisa keberanian dan tenaga yang ia miliki. Perkelahian antara Ana dan Felix tak terhindarkan.

Ana mulai menyerang Felix, berusaha memukulnya namun serangan Ana dengan mudah dihindari Felix. Ana tak menyerah. Ia mengambil pisau steak yang ia temukan di lantai dan segera menyerang Felix dengan cepat namun Felix masih mampu menghindar.

Segera Felix mengakhirinya dengan meraih tubuh Ana, mengangkat tubuh kecil itu dan membantingnya di atas meja makan, sampai Ana merasakan sakit di punggungnya, kepalanya terasa pusing seperti ingin pingsan.

Demis dan beberapa pengawal yang mendengar keributan, segera menuju ke ruang makan dan mendapati Tuanya sedang membanting Ana.

Demis melihat itu segera menghampiri tuanya.

"Tuan, Anda tidak apa-apa?" tanya Demis sambil membawa pistol di tangannya.

Langsung saja Felix menatap Demis dengan tatapan tajam.

"Apa kau sudah mencari tahu informasi soal Ana!" tanya Felix dengan suara penuh penekanan.

"Sudah tuan!" jawab Demis

"Segera ke ruang kerjaku, dan bawa informasinya!" titah Felix

Sedangkan Felix menggendong tubuh Ana yang lemah menuju kamarnya. Di sana Felix langsung mengikat tangan dan kakinya serta menyumpal mulut Ana.

Segera Felix menuju ruang kerjanya, yang berada di samping ruang kamar tidurnya, dan ternyata pintu masuknya terhubung dari dalam kamar Felix. Demis menemui Felix di ruang kerja tuanya itu. Dan menyerahkan sebuah amplop coklat yang berisi informasi tentang Ana.

Felix membuka amplop itu dan betapa terkejutnya ia melihat informasi itu. Tiba-tiba hatinya di penuhi amarah, kebencian dan dendam yang teramat dalam. Wajahnya menegang hingga terlihat urat di leher dan sekitar wajahnya seperti menahan amarah. Matanya memerah dengan nafas kasar memburuh.

Demis yang melihat perubahan mimik wajah tuannya itu, mencoba menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

"Apa informasi ini bisa kau pertanggung jawabkan Demis!" tanya Felix dengan nafas yang memburu sambil menggertakkan giginya.

"Saya pastikan informasi itu semuanya benar Tuan" jawab Demis penuh keyakinan.

Segera Felix menuju kamarnya. Ia masih melihat Ana yang masi terikat dengan mulutnya yang tersumpal sambil meronta-ronta. Felix langsung mengangkat Ana menuju kamar mandi dan membenamkannya di dalam bathtub yang sudah di isi air. Wajah Ana di benamkan di dalam air hingga tak bisa bernafas. Dadanya terasa panas dan sesak. Air matanya mulai mengalir karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

"Kau ingin mati kan? aku akan berikan itu padamu! tapi sebelum aku membunuhmu, kau harus merasakan siksaanku" ancam Felix. Ana yang mendengar itu hanya pasrah dengan nasibnya saat ini.

Felix membuka paksa seluruh pakaian Ana, hingga seluruh bagian tubuhnya terlihat olehnya. Tubuh Ana yang menggoda dengan dua gunung kembarnya yang terlihat padat mulus, membuat Felix menelan ludahnya. Amarah yang merasukinya kini menjadi nafsu birahi yang teramat besar. Tak pikir panjang, Felix mulai menggerayangi tubuh Ana yang masih terikat. Di remasnya dua bulatan kenyal itu dengan kedua tanganya, kemudian ia mulai menyesap dan memainkan puting kecil yang berwarna pink itu dengan kedua jarinya. Memutarnya dan mencubitnya. Lalu ia melepaskan semua pakainya hingga keduanya sama -sama telanjang. Ana yang melihat itu terbelalak dengan senjata milik Felix. Ini pertama kalinya ia melihat benda milik Pria yang begitu besar dan panjang, yang membuatnya ketakutan.

Ingin sekali dirinya mencaci Felix dan mengutuknya, namun mulutnya masi tersumpal. Felix memulai permainannya. Di angkatnya Ana di atas meja wastafel, membuka ikatan kakinya dan merentangkan kedua kakinya. Terlihatlah goa milik Ana yang indah. Lidahnya mulai bermain di sana, sedangkan sebelah tanganya memainkan bulatan kenyal di atasnya.

Amarah Ana begitu memuncak pada Felix. Ia tak terima dirinya di perlakukan seperti seorang pelac*r. Ia mencoba berontak, tapi tak bisa. Air matanya tak bisa ia tahan lagi.

Di bawah sana, Felix masi menikmati milik Ana, lidahnya yang terus bermain. Sentuhan demi sentuhan Felix membuat tubuh Ana terasa panas, bagian intimnya mulai berdenyut dan basah. Ana sudah mulai menikmati sentuhan lidah Bos mafia itu. Hingga Ana melakukan pelepasan untuk pertama kalinya. Cairan basah keluar dari goa miliknya dan Felix menyesap dan menelan cairan itu sampai habis.

"Apa kau menyukainya Ana?" tanya Felix, sambil memandangi Ana dari bawah.

Felix kemudian membuka sumpalan mulut Ana. Terlihat mulut Ana yang terbuka karena merasakan pelepasan pertamanya. Melihat itu Felix langsung melumat bibir gadis itu. Di masukkan lidahnya dengan sangat dalam. Lidahnya menyusuri bagian dalam mulut Ana dengan rakus. Terbesit keinginannya untuk melakukanya lebih dari ini.

Felix kemudian mengarahkan benda besar miliknya ke bagian inti milik Ana, menggesek-gesek kan miliknya ke bagian intim milik gadis itu, sampai milik Ana semakin basah. Kemudian ia mencoba memasukinya, namun itu sangat sulit karena tempat itu terlalu sempit.

"Sial, apa milikku tidak muat. Ini sangat sempit" batin Felix

Ana yang merasakan miliknya seperti akan robek, langsung memohon pada Felix untuk tak melakukannya. Ana menangis histeris melihat perbuatan Felix.

"Tuan, saya mohon, jangan lakukan ini. Jangan renggut kehormatan saya!" sambil menatap dalam mata Felix meminta belas kasihnya.

Felix berusaha tak menghiraukan rengekan Ana. Ia masih berusaha memasukkan miliknya yang masih kesulitan masuk.

Suara tangisan Ana semakin keras hingga membuat Felix frustasi karena tak tega.

"AAAAAAAAGH...!!!! Brengsek..!! Felix berteriak sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Lalu ia menghentikan kegiatanya dan segera meninggalkan Ana sendiri yang terkulai lemas di lantai kamar mandi.

Ana masih saja terus menangis dengan tubuhnya yang masi telanjang dengan kedua tanganya masi terikat. Meratapi keadaanya yang begitu memilukan.

"Kakek, Ana ingin pulang. Hiks..! Hiks..!" tangis Ana yang begitu lirih.

1
Denis blora
mendengar isi hati ana ,aku ikut nangis Thor 😭😭
Sarita
gila dari siang sampe MLM apa ga dower Thor??
Mehfi Masambe
sampai Sejauh ini Penulisan karya nya sangat rapi, Alurx Maju dan Tidak Membosankan 💪💪💪 Dan sukses buat Karya nya
Widhy Aztt
ayo up thor
Elminar Varida
hmmm...🤔 menarik jg ceritanya Thor..
Kumbang 🐞
jadi inget tetangga yang hidup sama neneknya doang, batinnya kuat biarpun perempuan/Sob/
Kumbang 🐞
aku juga mau klo sama kembang desa mah thor!!!
Kiwi Edna
semoga Ana baik-baik saja, dan bertemu orang yang baik di Bali...🥺
Kiwi Edna: Hehehe In Sya Allah kuat Thor.../Smirk/
total 2 replies
Kiwi Edna
Aku mampir Thor...😁
Esperanza
Setiap kali baca cerita ini, pasti bikin aku ikutan senyum-senyum sendiri hehe 🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!