Indonesia
NovelToon NovelToon
Danum Mahesa [KLITIH]

Danum Mahesa [KLITIH]

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Diam-Diam Cinta / Kelahiran kembali menjadi kuat / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Khinanti Nomi

PERHATIAN! Karya ini alur ceritanya lambat, kalau reader gak sabar mending skip aja gak papa.
•••
Pada malam naas ketika pulang berjualan kue leker, Danum di cegat oleh komplotan [Klitih] yaitu sekelompok orang yang membawa senjata tajam.

Tak bisa menghindari pertarungan karena lawan tak sebanding membuat Danum terluka parah, hingga menyebabkan pemuda ini di ambang kematian.

Saat di ambang kematian datang sang utusan Sultan Agung yang bernama Amerta yaitu keabadian memerintahkan Danum untuk menumpas kejahatan yang semakin merajalela...

Yuk ikuti keseruan, ketegangan dan intrik dalam kisah ini...

***
Catatan author:
Jangan lupa dukungannya kawan.
Supaya karya ini tetap lancar.

Terimakasih yang sudah singgah
Semoga kalian suka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelapor jadi tersangka

Danum menghela nafas mendengar peringatan yang seperti peluit panjang dari wasit. Ia akhirnya mengalah, dan duduk di kursi tunggu. Pandangan mata orang-orang yang berada di dalam ruangan ini juga terlihat menyeramkan melebihi kelopak mata genderuwo tadi, seperti akan menelannya hidup-hidup.

"Selanjutnya.." seru petugas polisi untuk memanggil giliran bagi masyarakat yang ingin melapor.

Akhirnya selama setengah jam lamanya Danum menunggu, kini gilirannya. Setelah duduk, di depan petugas polisi. Tanpa basa-basi ia langsung menyampaikan hasil temuannya hari ini.

"Pak polisi, saya menemukan markas yang dijadikan tempat penyimpanan pil ekstasi,"

Polisi ini merasa ragu dengan apa yang disampaikan oleh seorang pemuda yang berpenampilan lusuh nan kusut. "Jangan bercanda di kantor polisi!"

"Soleh." Danum membaca dalam hati nama yang tertera di baju polisi. "Pak Soleh, saya benar-benar serius Pak, saya enggak bohong, upahnya apa kalau saya bohong?"

Polisi yang bernama Soleh Prasetyo pada seragamnya ini terkejut mendengar pemuda di depannya mengetahui namanya, padahal jika diingat-ingat ia belum pernah bertemu dengan pemuda didepannya. "Darimana kamu tau namaku?"

Tertegun Danum mendengar polisi itu bertanya perihal nama, ia merasa seperti orang yang dungu.

"Itu," Danum menunjuk nama yang tertera di pakaian polisi.

Polisi Soleh melirik sekilas nama yang tertera di pakaiannya. Pikun atau bodoh nyatanya seorang polisi tetaplah manusia.

"Ehemm.." Polisi Soleh berdehem guna mengusir rasa malunya yang sudah kadung terlihat bodoh. Tanpa sedikitpun menurunkan dagunya, yang sengaja ia angkat sedikit untuk memperlihatkan wibawanya sebagai seorang polisi.

"Belum saja kamu menyampaikan benar atau tidaknya perihal laporan yang kamu sampaikan mengenai pil ekstasi, kamu sudah berani minta upah?" kata polisi Soleh mengingat kata upah yang disampaikan pemuda dihadapannya.

Danum menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya agak kasar, tatapan matanya malas menatap polisi berkumis tipis itu.

"Rasanya aku ingin menarik kumis tipis yang melambai-lambai dalam imajinasiku." seloroh Danum kesal karena polisi Soleh seolah sedang menguji kesabarannya.

"Begini Pak, saya melihat markas yang dijadikan tempat untuk menyimpan pil ekstasi. Saya rasa saya harus menyampaikan apa yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri Pak," Danum menjelaskan yang sekiranya dapat di terima dengan baik oleh polisi berkumis tipis yang memperkirakan berusia 28.

"Benarkah dengan jaminan apa jika apa yang kamu sampaikan ini benar?" polisi Soleh masih meragukan laporan karena menurutnya tidak ada bukti yang ditunjukkan selain lisan.

Danum merasa memang sedang di uji sebatas mana kesabarannya kini. Ia menatap polisi berkumis tipis itu dengan tatapan sukar.

"Ya Allah Pak Soleh, Bapak itu harus percaya sama saya, orang Bapak aja nyoblos presiden padahal 'kan Bapak enggak kenal mereka?" sungut Danum berbicara.

Melihat pemuda dihadapannya menaikkan pita suaranya, polisi Soleh terkejut matanya membulat dan merasa tidak terima.

"Lah kenapa situ jadi sewot, pake ngomong nyoblos presiden segala lagi. Kan saya tanya, mana buktinya kalau kamu lihat tempat yang dijadikan markas pil ekstasi dengan mata kepala mu sendiri?" tak kalah suaranya, Polisi Soleh meninggikan suaranya, sampai rekan kerjanya tertarik untuk melihat dan ingin tahu perihal apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.

"Ada apa si Sol?" seorang polisi yang sejak tadi sibuk pada laptopnya kini melihat rekan kerjanya yang sedang berhadapan dengan seorang pemuda.

"Nih anak bikin laporan kayak mau ngajak berantem!" balas polisi Soleh pada rekannya, yang bernama Tama.

Danum tertegun mendengar perkataan Polisi didepannya. "Lah Pak, siapa yang ngajakin ribut Bapak. Memang saya udah gila ngajak ribut polisi di markasnya?"

Polisi Soleh semakin geram dengan cara bicara pemuda di depannya yang semakin dirasa ngelunjak. Ia lantas beranjak dari duduknya, dan menggebrak meja di depannya hingga menimbulkan bunyi keras.

Brak

"Hey pemuda tak berakhlak, jangan berani-berani nya menantang saya..." Polisi Soleh berkata seraya menunjuk pemuda di depannya. "hoo... atau jangan-jangan kamu memakai narkoba ya, kenapa kamu sampai tau kalau ada tempat yang dijadikan markas pil ekstasi?!" tuduhnya beralasan, karena memang pemuda ini melaporkan tidak menyertakan barang bukti.

"Ya Allah, drama apa lagi ini?" mendengar tuduhan yang dilayangkan polisi di depannya membuat darahnya serasa mendidih, tak perduli apa jabatan dan pangkat pria berkumis tipis itu. Danum beranjak dari duduknya, tanpa sadar ia ikutan menggebrak meja di depannya.

Brak

"Bapak jangan sembarangan menuduh saya, seumur hidup saya saja enggak tau bentukan dari narkoba, gimana saya yang jadi pemakainya. Mau melaporkan malah jadi tersangka, ini gimana sih?!" Danum bersungut-sungut dalam menyampaikan apa yang ia tidak suka.

Keributan yang terjadi membuat ruangan yang dijadikan sebagai tempat melapor bagi masyarakat mendadak riweh.

Sampai terdengar jelas di dalam ruangan seorang pria yang berpangkat sebagai perwira. Pria ini membuka pintu dan mendatangi ruangan yang berada di sebelah ruangan kantornya.

"Ada apa ini ribut-ribut?!" polisi berpangkat perwira ini bertanya dengan nada tegas. Netranya melihat pria yang menjadi bawahannya dan melihat seorang pemuda yang tak asing dalam ingatannya.

Polisi Soleh dan rekan-rekan kerjanya yang lain langsung berdiri dan memberi hormat pada sang atasan.

"Siap komandan." balas polisi Soleh. "Ini komandan, pemuda ini datang melapor tapi dia tidak membawa bukti dan dari tadi ngajakin ribut," lanjutnya lagi tanpa melirik sekilas kearah pemuda didepannya.

"Eh enggak yah, mana ada saya ngajakin ribut," sergah Danum tanpa rasa takut jika ia sekarang berada di sarang polisi, ia menampik tuduhan Polisi Soleh yang dialamatkan padanya.

"Sudah-sudah," jawab sang perwira melerai perdebatan yang sengit di depannya. Ia baru ingat, jikalau pemuda itu adalah adik ipar dari teman masa kecilnya.

"Kamu adiknya Damar 'kan?" ucap perwira polisi ini seraya menunjuk pemuda yang ia lupa siapa namanya.

Danum menyadari jika polisi berpangkat bintang satu itu menyebut nama Kakaknya. "Iya, saya adiknya Mas Damar?"

"Kamu lupa sama saya?" perwira ini malah balik bertanya pada adiknya Damar.

Danum diam, ia menatap dan mencoba mengingat siapa polisi berpangkat bintang satu itu. "Maaf, Bapak siapa yah, saya lupa nama Bapak?"

"Farhan, saya Farhan temannya Wulan," ucap sang perwira polisi dalam menyebutkan namanya.

Sekilas Danum mengingat nama itu, tapi mungkin sudah lama, jadi sedikit mengabur di otaknya.

"Oh temannya Mbak Wulan," Danum manggut-manggut paham. Ia berpikir Kakak iparnya termasuk orang yang hebat mantan seorang Intel, maka tidak heran bisa berteman dengan seseorang yang cukup mempunyai pangkat tinggi di kepolisian.

"Aku salut sama Mbak Wulan." monolognya dalam hati, memperhatikan penampilan polisi yang menyebutkan nama Farhan.

"Saya, Danum Pak," jawab Danum memperkenalkan dirinya.

"tapi maaf Pak, mungkin saya lupa siapa nama Bapak, maklum lagi banyak yang saya pikirkan. Apalagi sempat berdebat sama polisi berkumis tipis ini,"

Danum mengatakan apa yang kiranya dapat di pahami, karena tidak semua orang yang ia jumpai dapat disimpannya dalam memori ingatan. Ia sekilas melirik polisi Soleh yang sedang mendelikkan mata kearahnya.

"Oke baiklah, tak masalah kalau kamu tidak mengingat saya," kata Farhan merasa tak keberatan jika ia tidak diingat oleh semua orang yang pernah berjumpa dengannya, karena setiap orang punya kapasitas memori penyimpanan dalam ingatannya seperti halnya memori pada telepon seluler.

Farhan melihat kebelakang Danum, dan beberapa pasang mata sedang menatapnya. Sedetik kemudian kembali melihat Danum. "Kamu datang ke sini sama siapa?"

"Sendiri," singkat Danum menjawab karena ia memang datang sendiri.

Farhan manggut-manggut.

"Jadi apa yang mau kamu laporkan?" tanyanya pada Danum. Farhan juga penasaran apa yang membawa adik temannya datang ke kantor polisi sendirian dengan penampilan lusuh.

"Maaf Pak bisa bicara di ruangan lain, saya nggak mau melapor dan dipahami orang lain seolah saya ini tersangka," jawab Danum sedikit memberi cibiran pada polisi berkumis tipis yang terus memperhatikannya dengan tatapan sinis. Namun Danum tak menggubris tatapan sengit itu.

"Baiklah, mari ikut saya." Farhan mempersilahkan Danum untuk melaporkan hal yang ingin disampaikan di dalam ruangan kantornya.

Farhan berbaliknya arah menuju kantornya.

Danum melihat polisi Farhan sudah jalan terlebih dahulu, sebelum ia mengikuti kemana langkah polisi itu pergi. Ia menolehkan wajahnya dan menatap polisi berkumis tipis yang menatapnya sinis.

Wlek...

Danum menjulurkan lidahnya pada polisi Soleh sampai polisi berkumis tipis itu melemparkan buku kearahnya dan beruntung ia bisa menghindari.

"Nggak kena, nggak kena!" ejek Danum pada polisi Soleh, lalu berlari kecil meninggalkan ruangan pelapor.

"Pasti tuh polisi nyogok, soalnya nggak sabaran. Habis berapa duit tuh kumis tipis? Kasihan ck ck ck.." gerutu Danum lirih membersamai dengan gelengan kepala, sampai pada ia berdiri di depan pintu kayu.

...•••...

Bersambung...

1
Julay Huut
Luar biasa
Abi Uung
lanjt
Cat's
apakah masih lanjut?
yoo ajah
nah sip, kia slamet akhrnya...😄
yoo ajah
ya elah thor, giliran yang penting malah gagal
yoo ajah
btw thor, itu pnculik nya gmn? koq mlh jdi pacaran
Susi Susilawati
Luar biasa
Waspray Aja
nyari info secara sembunyi-sembunyi udah dapat malah bikin ulah si danum.. 😇😇😇
Rohad™
Izin jejak thor, 10 Maret 2024 | 09.04 @RS
Hemuch🤔
Danum, aku ikutan nangis berjamaah ni. siuman dong /Cry/
M H
gass thor
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
M H
jadi perkedel kau num😂😂🤣🫢🫢
mantap lanjut thor
Sumantri
teruslah berbuat baik danum.
🧭 Wong Deso: sip...
total 1 replies
Rhiedha Nasrowi
tak ada yang sempurna, , , semua punya kesalahan masing2 hanya saja banyak yang percaya diri ketimbang sadar diri
🧭 Wong Deso: cerdas dan bijak 👍🏽
total 1 replies
Uswatun Fidayati
💪💪
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
Waspray Aja
👍👍👍👍👍
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
Hemuch🤔
seru... lanjut Thor
🧭 Wong Deso: sip...
total 1 replies
Rhiedha Nasrowi
maaf ya Thor baru hadir 😁😁🙏
🧭 Wong Deso: Santuy aja Mbak'e
total 1 replies
Hemuch🤔
/Good/
Hu la
lanjutkan
🧭 Wong Deso: siap laksanakan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!