Kehidupan seseorang wanita yang sangat penuh drama dan air mata menguras tenaga dan pikiran dalam menghadapi problematika kehidupan.
Sejauh apakah ia mampun bertahan dalam menjaga hati dan perasaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herfika Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpesona
Penampilan Hanum sungguh membuat Davin terpesona, bagaimana tidak penampilan istrinya itu tampak lebih fresh dan tentunya sangat fashionable ditambah Hanum orangnya yang ramah dan murah senyum membuat penampilannya paripurna.
"Kalau seperti ini pantas saja tuan muda terpesona," ucap batin Arya saat melihat Hanum dengan tampilan barunya.
"Hmmm... kondisikan matamu," kata Davin berbisik ditelinga Arya.
Arya sontak terkejut dan segera memalingkan pandangannya kearah lain. Tentu tidak hanya Davin yang terpesona seluruh orang yang ada di kediaman Dirgantara juga terpesona akan kecantikan alami dari Hanum.
Ditambah sikap sopan dan santunnya juga membuat semua orang terkesima. Bagaimana seorang nyonya muda yang memiliki suami bergelimang harta masih hidup sederhana dan tidak angkuh apalagi sombong.
Hampir semua pekerja di kediaman Dirgantara ini sangat senang memiliki nyonya muda yang ramah, santun, dan tidak semena-mena terhadap bawahannya.
Sosok Hanum malah lebih mengayomi mereka laksana ibu peri, tidak ada bentakan, apalagi membanggakan diri sendiri. Hanum seperti apaa adanya dirinya saja.
Tak tak tak
Davin segera merangkul Hanum sesaat setelah keluar dari dalam mobil. Niat hati ingin menyambut suaminya dengan mengulurkan tangan justru Hanum langsung di rangkul.
"Bagaimana penampilan baruku mas?" tanya Hanum sedikit berbisik pada Davin.
"Hmm, lumyan," balas Davin.
"Apa mas menyukainya," tanyanya sekali lagi memastikan sesuatu pada apa yang barusan terjadi.
"Iya, jauh lebih baik," balas Davin.
Davin membawa Hanum masuk kedalam kediaman Dirgantara. Sembari berjalan Davin mengeluh ingin memakan sesuatu yang manis. Hanum sempat berhenti ditoko cake favoritnya ia juga sempat membeli cake coklat kesukaannya. Dan secara spontan Hanum pun menawarkan cake kesukaannya itu pada suaminya Davin.
"Benarkah, kalau begitu siapkan untuk ku. Aku ingin memakannya di kamar saja," ucap Davin ketika hanum menawarkan cake kesukaannya.
Tentu saja itu semua sudah Davin rencanakan masalah cake itu Davin sudah tahu dari Anta jika Hanum membeli cake dan itu sudah disusun sedemikian rupa olehnya agar kesempatan mengerjai istrinya adalah hal menyenangkan baginya.
Davin tersenyum senang saat menaiki lift, tentu saja ia senang lantaran sudah mengerjai istrinya untuk menyiapkan hal itu sendirian. Berbeda dengan Davin, justru Hanum senang melakukan hal tersebut karena sudah menjadi kebiasaannya sedari dulu.
"Gadis aneh kau sudah terlihat cantik," gumam Davin dalam lift.
Sadar tidak sadar Davin sudah membuka pintu hatinya untuk cinta pertamanya. Davin sangat speechless saat melihat Hanum dengan penampilan terbaiknya.
...................☘️...
Di lain tempat, Dania kini berada si sebuah apartemen miliknya. Dania bisa masuk apartemen ini tanpa harus memiliki kuncinya sebab kunci utama apartemen ini adalah sidik jarinya.
Dania melangkah memasuki apartemen yang tampak tak terurus dan ia sempat kaget dibuatnya saat melihat pemandangan sampah yang tidak pada tempatnya.
"Jorok sekali beb," gumamnya dengan sinis.
Dania semakin kaget lantaran mendengar suara yang membuatnya semakin naik darah. Ya, suara itu berasal dari kamarnya yang kini di tempati Teo pacarnya. Dania semakin penasaran dengan suara-suara aneh yang buatnya merinding.
Langkah kaki Dania semakin cepat ketika mendengar suara desahan perempuan dan suara erangan dari seseorang yang sangat ia kenal suara itu berasal. Dania masih berpikir positif tidak terbesit dipikirannya Teo akan melakukan hal yang memalukan itu.
Tapi semakin ia berpikir semakin ia tertampar oleh kenyataan saat ini yang ada di depan matanya. Dengan tidak segan Dania membuka pelan pintu kamarnya di apartemen ini dan alangkah kagetnya dia mendapati pacarnya berbuat memalukan seperti itu di ranjang miliknya.
"Teo," teriak Dania dengan marah.
...****************...
...****************...
...****************...