Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum berangkat
“Emang Mommy nggak capek, apa?” tanya Kale begitu melihat ibunya yang sudah siap berangkat ke acara ulang tahun Kiara. Padahal ibunya baru saja pulang siang tadi dari Jogya setelah menjadi pemateri seminar sekaligus rapat akademik.
“Iya, Mom. Istrahat dulu aja. Kasihan badannya.” Ardan ikut menimpali begitu turun dari tangga menghampiri ibunya serta Kale yang sedang duduk di sofa ruang tengah.
“Bawel banget sih kalian berdua,” kekeh sang ibu, menanggapi kekhawatiran kedua putranya. “Mommy nggak setua itu kali. Masih 51 tahun, masih kuat dan sehat.”
“Nggak Resa nggak Mommy, kok perempuan di rumah ini kuat-kuat, ya?” Ardan terkekeh sembari menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping sang ibu. Ia melirik layar ponsel yang masih berada di tangan ibunya, lalu tanpa sadar ikut tersenyum melihat cara wanita itu memegang ponselnya, kacamata yang sedikit melorot di batang hidung, khas orang tua yang sedang asyik dengan gawainya.
“Ayo, kita berangkat. Yang lain udah pada di sana.” Sang ibu akhirnya mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian menatap kedua putranya yang kini duduk kanan dan kirinya.
“Duh, duh.” Sang ibu akhirnya menepuk pelan kedua pipi putranya dengan kedua tangannya. “Perhatian sekali, ya, kedua putra Mommy ini.”
Di ujung tangga, Naresa berhenti sebelum sempat benar-benar turun. Tubuhnya masih berada di balik tembok, hanya sebagian wajahnya yang terlihat dari sela dinding ketika pandangannya tanpa sengaja menangkap pemandangan di ruang tengah.
Naresa hanya melihatnya sekilas. Namun, entah kenapa, pemandangan sesederhana itu terasa begitu akrab sekaligus menyakitkan.
Punggungnya bersandar pelan pada dinding, sementara suara percakapan dari ruang tengah terdengar samar di telinganya.
Entah kenapa, pemandangan itu membuat dada Naresa terasa sesak.
Mendengar ucapan ibu mertuanya tadi, sesuatu yang selama ini ia simpan baik-baik kembali menyeruak ke permukaan. Rindu kepada ibunya datang begitu saja, begitu tiba-tiba sampai matanya mulai berkaca-kaca.
Kenapa Tuhan tidak membiarkan ibunya hidup lebih lama ketika akhirnya Naresa sudah mampu memberikan kehidupan yang layak untuknya? Bukankah seharusnya ia mendapatkan lebih banyak waktu?
Naresa menarik napas panjang, berusaha menahan perasaan yang memenuhi dadanya.
“Kita mau berangkat bareng?” tanya Kale masih bersandar nyaman di pundak ibunya, sama sekali tidak menyadari keberadaan Naresa di ujung tangga.
“Bareng aja,” sahut Ardan.
“Mana istrimu, Dan? Resa ikut, kan?” tanya sang ibu.
“Ikut, kok, Mom. Lagi siap-siap.”
Mendengar itu, Naresa segera mengusap pelan sudut matanya dengan tangan sebelum bulir air mata yang mulai menggenang sempat jatuh. Ia merapikan ekspresinya, menarik sudut bibir membentuk senyum kecil, lalu melangkah turun menghampiri mereka sambil membawa sebuah kado berukuran lumayan besar.
“Maaf, nunggu lama.” Katanya, berusaha terdengar biasa saja meski senyum yang terukir di bibirnya masih menyimpan sedikit kecanggungan.
Begitu melihat Naresa datang membawa kado itu seorang diri, Ardan langsung bangkit dan menghampirinya. Tanpa banyak bicara, ia mengambil kado tersebut dari tangan istrinya.
“Kan udah aku bilang, kalau udah beres panggil aku, sayang.” Nada suaranya terdengar seperti omelan kecil, tetapi wajahnya menunjukkan ketidaksenangan yang lebih banyak dipenuhi rasa khawatir. Ia masih tidak habis pikir dengan istrinya yang selalu saja merasa bisa melakukannya sendiri
Naresa tidak menjawab. Ia hanya mempertahankan senyum kecilnya, membiarkan Ardan mengambil alih kado yang sejak tadi dibawanya.
“Yaudah, ayo berangkat.”
Sang ibu bangkit dari sofa, kemudian merangkul Naresa dengan satu tangannya. Mereka berjalan lebih dulu menuju pintu, meninggalkan Ardan dan Kale beberapa langkah di belakang.
Naresa sempat melirik sekilas. Tatapannya jatuh pada tangan ibu mertuanya yang masih melingkar hangat di lengannya.
Melihat kepergian keduanya, barulah Kale berdiri dari duduknya. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana sebelum berjalan lebih dulu menuju mobil.
“Pusing nggak sih punya istri kayak gitu?” tanyanya santai, seolah tidak ada hal lain yang perlu dipikirkan selain kebiasaan Naresa yang selalu membuat kakaknya harus turun tangan.