Indonesia
NovelToon NovelToon
Bayangan Cermin

Bayangan Cermin

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Dokter Genius / Cinta Seiring Waktu / Tumbal / Horor / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Dita adalah seorang psikolog yang bekerja di rumah sakit jiwa, menangani pasien bernama Arga, yang mengklaim dihantui oleh sosok mirip dirinya yang muncul di cermin. Saat menyelami kisah Arga, Dita menyadari bahwa ada kesamaan antara pengalaman Arga dan kehidupannya sendiri. Perlahan, Dita mulai mengalami kejadian serupa, membuatnya terjebak dalam misteri psikologis yang membuatnya mempertanyakan kewarasannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Pelet

Dr. Firman duduk di dalam mobilnya yang terparkir di sebuah lahan kosong yang gelap dan sepi. Hanya suara jangkrik dan deru napasnya yang terdengar di dalam mobil. Matanya menatap kosong ke depan, tetapi pikirannya penuh dengan amarah dan kekecewaan. Ia meremas setir dengan erat, tangannya bergetar karena emosi yang tertahan. "Sial! Kenapa Dita terus saja menolak aku?!" desisnya dengan suara tertahan.

Giginya bergemeletuk, dan dadanya naik turun cepat. Semua usahanya selama ini selalu gagal. Pesan-pesan yang ia kirim tak pernah dibalas dengan antusias, hadiah-hadiah yang ia berikan hanya dianggap angin lalu. Yang lebih membuatnya marah adalah keberadaan Rangga, yang selalu muncul untuk menghalangi rencananya.

"Kalau cara biasa nggak berhasil, aku harus cari cara lain," gumam Firman, matanya memancarkan kegilaan.

Ia meraih ponselnya, mengetik sebuah pesan singkat kepada seseorang. Tak butuh waktu lama, ponselnya bergetar menerima balasan. Firman tersenyum miring, lalu menyalakan mesin mobil dan melaju menuju sebuah tempat terpencil di pinggiran kota.

Di dalam sebuah rumah kayu tua yang gelap dan remang-remang, Firman duduk berhadapan dengan seorang pria tua berwajah keriput. Dukun itu mengenakan jubah hitam, dan ruangan itu dipenuhi bau dupa yang menyengat. "Jadi, kau ingin perempuan itu berpaling darinya dan datang padamu?" tanya dukun itu dengan suara parau. Firman mengangguk. "Iya. Aku sudah mencoba segalanya, tapi dia selalu menghindar. Aku ingin dia jatuh cinta padaku, menyerahkan dirinya padaku."

Dukun itu menyeringai, menunjukkan gigi-gigi kuningnya yang berantakan. Ia mengambil sebuah kotak kayu kecil, membukanya, dan mengeluarkan sebuah gelang hitam dengan manik-manik merah berkilau seperti darah beku. "Gelang ini bukan sembarang gelang," kata dukun itu pelan. "Begitu dia menyentuhnya, pikirannya akan mulai berubah. Dia akan melihatmu sebagai pria yang paling diinginkannya, dan lambat laun dia akan melupakan suaminya."

Firman menatap gelang itu dengan penuh antusias. "Bagaimana caranya?" "Tinggal dekatkan saja gelang ini padanya. Kalau bisa, biarkan dia menyentuhnya atau letakkan di tempat yang sering dia gunakan. Jika dia terkena pengaruhnya, kau hanya tinggal menunggu," jelas sang dukun. Firman mengambil gelang itu dengan hati-hati. Jemarinya merasakan permukaan manik-manik yang terasa sedikit panas. Ia menelan ludah, lalu bertanya, "Berapa harganya?"

Dukun itu menyipitkan matanya. "Pelet seperti ini butuh pengorbanan. Aku tak butuh uang. Yang kubutuhkan adalah kesetiaanmu pada ilmu ini. Sekali kau masuk, tak ada jalan keluar." Firman menyeringai. "Aku tak peduli. Aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Dita." Dukun itu tertawa kecil, lalu meniupkan sesuatu ke arah gelang itu. "Kalau begitu, mulai dari sekarang, Dita adalah milikmu. Tapi ingat, semakin kuat seseorang bertahan, semakin besar pengorbanan yang harus kau bayar." Firman menggenggam gelang itu erat. Dalam hatinya, ia tahu bahwa tidak ada yang akan menghalanginya lagi.

"Dita... sebentar lagi kau akan jadi milikku.

Hari-hari berikutnya, sesuatu yang aneh mulai terjadi pada Dita. Ia yang biasanya menghindari Dr. Firman kini justru lebih ramah dan terbuka.Di rumah sakit, saat istirahat siang, Firman mendekati Dita di ruang dokter. “Dita, kamu kelihatan lebih ceria hari ini,” ucapnya dengan senyum penuh arti.

Dita menoleh, lalu tersenyum kecil. “Iya, Dok. Mungkin karena suasana hati lagi baik aja.”

Firman menahan senyum kemenangan. Dalam hatinya, ia berpikir, Pelet ini memang ampuh.

Ia mencoba mengetes reaksinya lebih jauh. “Kalau gitu, mungkin nanti kita bisa makan siang bareng?”

Dita biasanya akan langsung menolak atau mencari alasan untuk menghindar, tapi kali ini ia justru ragu sejenak sebelum menjawab, “Eh... mungkin lain kali, Dok.” Jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi Firman. Baginya, ini adalah tanda bahwa pelet mulai bekerja.

Namun, perubahan Dita tidak hanya terlihat di rumah sakit. Di rumah, ia sering melamun dan terlihat mudah marah tanpa alasan jelas. Ia bahkan mulai mengabaikan Rangga. Suatu malam, saat mereka makan malam, Dita terus saja menatap layar ponselnya, sesekali tersenyum sendiri saat mengetik pesan.

Rangga yang memperhatikan hal itu akhirnya tak bisa menahan diri. “Adek lagi ngobrol sama siapa?” tanyanya hati-hati. Dita menutup layar ponselnya dengan cepat dan mendesah kesal. “Cuma teman di rumah sakit, Bang.”Rangga mengernyit. “Firman?” Dita mendelik. “Kenapa sih, Bang? Curiga terus! Nggak bisa aku ngobrol sama siapa aja?”

Nada suaranya meninggi, sesuatu yang jarang terjadi sebelumnya. Rangga menatap istrinya dengan cermat. Ia tahu ada sesuatu yang salah. Dita bukan orang yang mudah marah seperti ini. “Bukan gitu, Dek. Aku cuma khawatir.” Dita meletakkan sendoknya dengan kasar. “Khawatir atau nggak percaya?”

Suasana di meja makan semakin tegang. Rangga menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Adek,aku yakin ini bukan kamu.” Dita tertawa sinis. “Jadi sekarang aku salah? Kenapa sih, Bang? Aku capek! Aku nggak mau bahas ini lagi.” Ia berdiri dari kursinya, membawa ponselnya, lalu masuk ke kamar dan membanting pintu. Rangga tetap duduk di kursinya, menatap piringnya yang sudah dingin. Perasaan aneh semakin kuat di hatinya. Ini bukan Dita yang ia kenal. Dengan berat hati, Rangga bangkit, mengambil jaketnya, lalu keluar rumah. Ia butuh waktu untuk berpikir.

Malam itu, dengan hati yang dipenuhi amarah dan kebingungan, Rangga memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya, tapi ia tak peduli. Tangannya menggenggam setang erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Kenapa sikapnya berubah? dia tdak pernah seperti ini sebelumnya"

Rangga menggigit bibirnya, menahan gejolak emosinya. Ia merasa dikhianati oleh sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Di sebuah jalanan sepi, ia menghentikan motornya dengan kasar, lalu turun. Dengan penuh amarah, ia meninju tangki motornya berkali-kali.“Si*l! Kenapa ini terjadi?! Kenapa?!” teriaknya di tengah malam, suaranya menggema di jalan yang lengang. Tangannya berdenyut sakit, tapi ia tak peduli. Ia mengatur napasnya yang memburu, mencoba menenangkan diri. Namun, pikirannya tetap gelap, dipenuhi rasa sakit dan ketidakpastian.

Setelah beberapa saat, Rangga akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu ia tak bisa pulang dalam kondisi seperti ini. Jika ia kembali, ia hanya akan memperburuk keadaan. Tanpa pikir panjang, ia mengambil ponselnya dan menghubungi ayahnya. "Ayah, aku mau menginap di rumah malam ini."

Ayahnya tidak banyak bertanya, hanya menjawab dengan tenang, "Baik, Nak. Hati-hati di jalan."

Rangga kembali naik ke motornya dan melajukan kendaraan menuju rumah orang tuanya. Di hatinya, ada keinginan kuat untuk mencari jawaban. Ia tak akan diam saja melihat rumah tangganya hancur tanpa alasan yang jelas.

Pagi itu, meski hatinya masih berat, Rangga tetap berangkat ke rumah sakit. Wajahnya tampak kusut, matanya sembab karena kurang tidur, tapi ia berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Namun, begitu sampai di rumah sakit, langkahnya terhenti di koridor. Matanya menangkap pemandangan yang langsung membuat darahnya mendidih Dita sedang berbicara dengan Dr. Firman.

Bukan sekadar berbicara biasa, Dita tersenyum, seolah nyaman dengan pria itu. Firman juga terlihat sangat percaya diri, berdiri dengan postur santai dan tatapan penuh kemenangan. Rangga mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri. Ia ingin maju dan menarik Dita pergi saat itu juga, tapi ia tahu itu hanya akan memperburuk keadaan di depan umum.Tanpa berkata apa-apa, ia mengalihkan pandangannya dan berjalan ke ruangannya. Namun, di dalam dadanya, amarahnya terus membara.

Saat jam pulang, Rangga sudah bersiap. Begitu Dita keluar dari ruangannya, ia langsung menghampiri dan menggenggam pergelangan tangan istrinya dengan kuat. “Ayo ikut aku,” katanya dengan nada tegas.

Dita menatapnya kaget. “Bang, lepasin! Ada apa sih?” “Udah. Ikut aja,” suara Rangga terdengar dingin dan penuh ketegasan.

Tanpa banyak bicara, ia menarik Dita menuju motornya dan membawanya pergi. Dita terus berusaha protes, tapi Rangga tidak menggubrisnya. Dalam pikirannya, hanya ada satu tujuan—membawa Dita ke rumah orang tuanya. Dita meronta saat motor mereka berhenti di depan rumah orang tuanya. “Bang, kenapa kita ke sini?”

Rangga menatapnya tajam, matanya menyiratkan kelelahan dan kemarahan yang terpendam. “Aku nggak tahu lagi harus gimana, Dita. Kalau kamu nggak bisa sadar sendiri, mungkin orang tuamu bisa nyadarin kamu.”

Dita membelalakkan mata. “Maksud Abang apa?!” Dita menepis tangan Rangga dengan kasar saat mereka baru saja sampai di depan rumah orang tuanya. Wajahnya penuh amarah dan kebingungan. “Kenapa sih, Bang? Kenapa harus bawa aku ke sini?” serunya, napasnya memburu karena perjalanan yang penuh emosi. Rangga menatapnya dengan mata penuh kekecewaan. “Aku mau kamu sadar, Dita. Kamu berubah. Aku nggak tahu kamu ini istriku atau bukan.”

Dita mendengus. “Aku berubah? Bang, aku cuma kerja! Aku dan Dr. Firman itu rekan kerja! Kenapa Abang jadi terlalu berlebihan?” Rangga mendekat, tatapannya tajam. “Rekan kerja?” ia tertawa kecil, namun sarkastik. “Dita, aku lihat sendiri kalian ngobrol mesra di rumah sakit. Aku lihat cara dia mandang kamu. Itu bukan sekadar rekan kerja.” Dita menatap Rangga penuh emosi. “Abang ini terlalu paranoid! Dr. Firman itu baik, dia selalu ngertiin aku. Sementara Abang?”

Mata Rangga semakin gelap mendengar nama Firman disebut dengan nada seperti itu. “Aku? Aku selalu ada buat kamu, Dita! Aku capek kerja seharian, tapi aku selalu pulang buat kamu, selalu ngedengerin kamu! Kamu yang malah sibuk sama laki-laki lain!” Dita tertawa sinis, matanya mulai berkaca-kaca. “Selalu ada buat aku? Bohong! Abang selalu sibuk dengan kerjaan Abang, dengan tugas-tugas Abang! Aku selalu di rumah sendiri, kesepian!”

Rangga menggeleng tak percaya. “Aku kerja buat kita, Dita. Buat masa depan kita. Kalau aku bisa, aku pasti lebih banyak di rumah sama kamu. Tapi kamu malah cari perhatian dari laki-laki lain?!” Dita terdiam sejenak, dadanya naik turun menahan emosi. Lalu, Rangga memperhatikan sesuatu yang membuatnya semakin sakit hati jari manis Dita.

Cincin yang ia berikan tidak ada di sana. Ia menelan ludah, lalu bertanya dengan suara rendah namun penuh luka. “Cincinnya mana?” Dita tersentak, seolah baru menyadari bahwa ia tidak memakai cincin itu. Namun, bukannya menjawab, ia justru menatap Rangga dengan raut defensif. “Aku cuma lupa pake! Abang kok jadi kayak orang gila sih?”

Rangga menggeleng pelan, matanya mulai memerah. “Bukan, Dita. Kamu nggak lupa. Kamu sengaja nggak pake.” Dita menatapnya dengan tatapan marah. “Kalau iya? Memangnya kenapa? Apa bedanya? Apa pakai cincin artinya aku harus tunduk sama Abang? Harus terikat selamanya? Aku juga punya kehidupan sendiri, Bang!” Rangga terdiam. Napasnya berat.

Ia ingin marah, ingin berteriak, ingin mengungkapkan semuanya. Tapi hatinya terlalu sakit. Dan saat itulah Dita mengucapkan kalimat yang menghancurkan semuanya.“Aku nyesel nikah sama Abang.” Suasana langsung sunyi.Rangga menatap Dita tanpa ekspresi. Seolah kata-kata itu menusuknya lebih dalam dari belati mana pun.

Ayah Dita yang sedari tadi berdiri di teras segera turun dan mencoba menahan Rangga. “Nak, jangan pergi. Semua ini bisa dibicarakan baik-baik.” Namun, ibu Dita justru berkata dingin. “Biarkan saja, Pak. Dari dulu ibu juga nggak pernah setuju Dita nikah sama dia.” Rangga menatap ibu mertuanya dengan getir. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis,senyum penuh luka. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia membalikkan badan dan melangkah pergi.

Dita menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, tiba-tiba ada sesuatu yang terasa kosong di dadanya. Namun, pikirannya masih dikuasai emosi, dan ia tak bisa memahami perasaan itu. Yang ia tahu, malam ini, semuanya berubah.

Rangga memacu motornya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam yang sepi. Angin malam menerpa wajahnya, tapi tidak ada yang bisa meredakan gejolak di hatinya. Tangannya mencengkeram setang motor erat, seolah ingin melampiaskan semua amarah dan sakit hati yang menggerogoti jiwanya.

Sesampainya di batalyon, ia melihat beberapa anggota yang sedang bersantai di pos jaga. Mereka berbincang ringan sambil tertawa, tapi begitu melihat Rangga yang melintas dengan wajah dingin dan rahang mengeras, mereka langsung terdiam. Tidak ada yang berani menyapanya. Rangga langsung menuju rumah adiknya, Shila. Dengan kasar, ia memarkirkan motornya di depan rumah dan turun tanpa ragu. Ia mengetuk pintu sekali,dua kali,dan sebelum ketukan ketiga, pintu terbuka.

“Loh, Abang? Kok nggak bilang mau ke sini?” tanya Shila heran. “Mbak Dita mana?”

Rangga tidak menjawab. Tatapannya kosong, tidak ada senyum seperti biasanya. Ia hanya menatap adiknya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Suamimu ada?” suaranya berat, hampir terdengar seperti geraman. Shila mengernyit, kini ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. “Bang Gahar ada di dalam. Abang kenapa?” Tanpa menjawab, Rangga melewati Shila dan masuk ke dalam rumah, mencari sosok yang ia butuhkan saat ini, Gahar, adik iparnya yang dulu juga sahabat seperjuangannya.

Gahar sedang duduk di ruang tamu, memperbaiki sesuatu di tangannya. Begitu melihat Rangga, ia langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. “Bang Rangga? tumben malam-malam kesini” panggilnya pelan. Rangga menatapnya dengan mata merah. “Aku butuh bantuanmu.”

1
kaka_21
sip
OGLOST
ihh takutnyeee
novi
halo kak! semangat ya... baru awal tapi udah keren banget, pasti banyak nih misteri² yg bakalan muncul, aku ga sabar bacanya. btw salam dari "Jejak di Balik Kegelapan" mampir ya kak... thank you/Drool/
novi: oke kak sama sama
total 2 replies
novi
ini cerminnya yg bermasalah?
kaka_21: awalnya iya
total 1 replies
novi
hmzz arga indihome kah?
Ig : Author_fanie.liem
Halo ka
gabung di GC BCM u yu
buat belajar bareng. Kalau berkenan Follow me. Thank you
kaka_21: saya mau kakk
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!