Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

Pagi harinya, setelah kejadian di ruang sidang banding yayasan, suasana SMA Garuda tidak lagi sama. Berita mengenai skor 98 yang berhasil diraih Kirana melalui pembuktian data otentik menyebar cepat dari mulut ke mulut. Nama Kirana Amanda, yang sebelumnya hanya dikenal sebagai siswi tenang di balik divisi Mading, kini menjadi perbincangan utama di kalangan murid kelas XII.

Namun, di balik riuk tepuk tangan dan pujian para sahabatnya, Kirana malah merasa tidak tenang.

Di dalam ruang kelas XII IPA 2, Kirana duduk menatap lembar verifikasi nilai nasional yang baru saja dibagikan oleh Pak Suryo. 

Maya yang duduk di sampingnya tak henti-hentinya tersenyum lebar sambil mengamati lembar jawaban Kirana.

"Sumpah ya, Kir," bisik Maya seraya menyenggol lengan Kirana. "Gue masih gak nyangka lo sama Kenan bisa skakmat Mas Gabriel di depan penguji yayasan kemarin. Clarissa aja sampai hari ini gak berani masuk sekolah gara-gara malu drafnya ketahuan hasil duplikasi."

Kirana tersenyum tipis, merapikan sudut kertasnya. "Bukan soal menang atau kalahnya, May. Gue cuma mau nilai yang jujur aja. Kasihan kan kalau usaha kita belajar tiap malam digantikan sama data palsu?"

"Tapi jujur deh, Kir," Maya menopang dagunya, menatap Kirana dengan mata menyelidik. "Pas Kenan berdiri di samping lo kemarin... tatapan dia itu bukan cuma tatapan Ketua OSIS yang lagi membela anggotanya. Ada sesuatu yang beda banget. Gue rasa Kenan emang punya perasaan lebih sama lo."

Kirana tersentak pelan. Ia buru-buruk meminum air mineralnya untuk menutupi raut wajahnya. "Ngomong apa sih, May? Kenan kan emang profesional kalau urusan integritas sekolah."

"Iya deh, profesional," goda Maya seraya tertawa kecil. "Tapi inget ya, ujian nasional tinggal hitungan minggu. Kalau kalian berdua makin dekat kayak gini, siap-siap aja Mas Gabriel makin nyari celah." Ucapan Maya ada benarnya. Kirana tahu betul bahwa Gabriel bukanlah tipe pria yang mudah menyerah begitu saja setelah satu kali kekalahan akademis.

Saat bel istirahat kedua berbunyi, Kirana dipanggil oleh Pak Bambang menuju ruang kearsipan Mading di lantai tiga. Ruangan yang penuh dengan tumpukan koran lama dan dokumen sejarah sekolah itu sepi dari lalu lalang murid.

Saat Kirana mendorong pintu kayu ruangan tersebut, ia terkejut melihat Gabriel sudah berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di rak buku tua sambil memegang sebundle berkas rekam medis dan data pendaftaran universitas. Kirana menghentikan langkahnya di ambang pintu, berniat untuk berbalik arah.

"Tunggu" panggil Gabriel dengan suara tenang namun tegas.

Kirana membalikkan badan, berdiri dengan jarak aman di dekat pintu yang disengaja dibukanya lebar-lebar. "Ada apa kak? Apa perlu bantuan terkait berkas Mading?” 

Gabriel meletakkan berkas di tangannya ke atas meja kayu. Ia berjalan kearah Kirana dan menatap Kirana dengan sorot mata yang sarat akan kekecewaan dan tidak puas.

"Kamu berubah banyak, Ran," ucap Gabriel pelan. "Kirana yang gue kenal di Jerman dulu adalah gadis yang selalu jujur pada mimpinya sendiri. Lo ingin kuliah di jurusan komunikasi terbaik, meraih beasiswa penuh, dan melihat dunia luas tanpa dibatasi oleh siapa pun."

"Gak berubah kok, gue masih Kirana yang sama, Kak," jawab Kirana dengan suara jernih dan mantap.

"Gak, Lo berubah Kir" geleng Gabriel. "Lo mengorbankan impian beasiswa luar negeri Lo  demi melindungi pernikahan Lo sama Kenan. Lo pikir Kenan bisa menjaga Lo  selamanya? Dia cuman seorang remaja yang kebetulan menjabat sebagai Ketua OSIS gak lebih!"

Kirana mengepalkan jarinya di samping rok seragamnya. Keberanian yang tumbuh di dalam dadanya tidak lagi mengizinkannya untuk diam saat suaminya diremehkan.

"Kenan bukan sekadar Ketua OSIS bagi gue, Kak Gabriel," tegas Kirana, menatap mata mentornya tanpa kedipan. "Dia, suami gue. Cowok yang setiap malam ngajarin gue tanpa lelah, cowok yang berdiri di depan dewan penguji untuk membela hak gue, dan cowok yang buat gue paham arti tanggung jawab dan ketulusan yang sebenarnya."

Gabriel tertegun. Kata-kata Kirana menancap telak di dadanya, meruntuhkan anggapannya bahwa Kirana berada dalam posisi tertekan.

"Pilihan gue untuk berkuliah di Bandung sama Kenan bukan karena gue terpaksa atau terikat," lanjut Kirana dengan intonasi yang begitu anggun dan kokoh. "Itu adalah impian baru yang gue pilih sendiri. Jadi gue mohon sama Lo kak... berhentilah memakai alasan masa lalu untuk mengusik rumah tangga gue"

Sebelum Gabriel sempat memberikan balasan, langkah kaki yang tegap dan berirama cepat terdengar dari koridor luar. Tiba-tiba Kenan muncul di ambang pintu. Jas almamater OSIS-nya terpasang rapi, dan raut wajahnya terpancar aura dingin yang menuntut penghormatan. Tanpa ragu, Kenan melangkah masuk, memotong jarak dan berdiri tepat di depan Kirana melindungi istrinya dari pandangan Gabriel.

"Ada urusan dinas OSIS yang belum selesai di ruangan ini, Mas Gabriel?" tanya Kenan dengan suara bariton rendah yang amat mematikan.

Gabriel menatap Kenan, lalu tertawa kecil dan berkata sinis. "Li selalu datang sebagai pahlawan di saat yang tepat, Kenan. Tapi ingat... sidang banding kemarin cuma kemenangan kecil di ruang tertutup. Ujian Nasional dan verifikasi berkas kelulusan minggu depan berada di bawah kendali penuh panitia pusat. Satu laporan anonim soal status pernikahan kalian akan membatalkan kelulusan kalian berdua."

Kenan tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Ia menyandarkan badannya dengan tenang, menatap Gabriel.

"Silakan laporkan kalau Lo merasa memiliki bukti sah" balas Kenan sangat tenang. "Tapi perlu Lo ketahui, pihak yayasan dan kepala sekolah sudah menerima surat rekomendasi resmi dari keluarga besar kami terkait status hukum pernikahan kami yang sah di mata negara sejak semester pertama. Alasan kami merahasiakannya di antara murid hanyalah demi menjaga kondusivitas lingkungan belajar."

Mata Gabriel terbelalak kaget. "Apa... kepala sekolah sudah tahu?"

"Tentu saja," pangkas Kenan dengan senyum tipis yang sarat akan kemenangan mutlak. "Gue gak bodoh buat membiarkan posisi Kirana terancam oleh aturan sekolah. Segala alibi dan prosedur OSIS yang gue jalankan selama ini berada di bawah pengetahuan resmi kepala sekolah. Jadi, ancaman laporan Lo  sama sekali tidak berlaku"

Gabriel membeku di tempatnya. Seluruh strategi dan kartu as yang disimpannya selama bertiga bulan ini ternyata telah diantisipasi oleh Kenan sejak awal. Cowok di depannya bukan hanya Ketua OSIS yang cerdas, melainkan seorang suami yang telah melindungi istrinya dengan sangat ketat dan teliti. Kenan berbalik, mengulurkan tangan kanannya ke arah Kirana di depan mata Gabriel.

"Ayo, Kirana. Pak Bambang sudah menunggu draf Mading akhir di ruang OSIS," ajak Kenan lembut.

Kirana menyambut uluran tangan Kenan tanpa ragu sedikit pun. Jemari mereka saling bertaut erat di balik lipatan folder dokumen, melangkah keluar dari ruang tersebut meninggalkan Gabriel yang berdiri mematung dalam kekalahan telak.

Sore harinya, matahari senja menyinari kompleks sekolah dengan warna jingga yang hangat. Hari itu adalah hari terakhir bimbingan belajar sebelum minggu tenang Ujian Nasional dimulai.

Kirana dan Kenan berjalan menyusuri selasar koridor utama yang sudah mulai sepi. Suara gemerisik daun kering yang tertiup angin sore menemani langkah kaki mereka yang berdampingan.

"Lo beneran udah ngomong ke Kepala Sekolah dari semester pertama, Ken?" tanya Kirana penasaran sambil mendongak menatap suaminya itu.

Kenan melirik Kirana, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis. "Tentu saja. Gue gak akan biarin lo berada dalam risiko dikeluarkan dari sekolah cuma gara-gara status kita. Ayah dan Papa udah mengurus surat izin khusus dengan syarat kita tetap menjaga prestasi akademis di peringkat teratas."

Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya dengan rasa kagum yang meluap-luap. "Gue bener-bener gak tahu harus ngomong apa lagi... Lo selalu mikirin semuanya jauh ke depan."

Kenan menghentikan langkahnya tepat di depan tangga utama lobi sekolah. Tempat di mana mereka pertama kali berinteraksi secara kaku sebagai Ketua OSIS dan siswi biasa beberapa bulan lalu.

Kenan membalikkan badannya, menggenggam kedua tangan Kirana di tengah terpaan angin senja.

"Gue melakukan semua ini karena gue sayang sama lo, Kirana," ucap Kenan dengan suara yang teramat tulus dan dalam. "Gue mau lo meraih semua cita-cita lo tanpa perlu merasa takut atau terbeban oleh status kita."

Mata Kirana berkaca-kaca menahan haru. Ia merapatkan genggaman tangannya pada jemari Kenan yang hangat.

"Satu minggu lagi Ujian Nasional selesai, Ken," bisik Kirana dengan senyuman paling manis di wajahnya. "Dan setelah itu... kita resmi lulus."

"Iya," jawab Kenan mantap, menatap manik mata istrinya dengan cinta yang melimpah. "Setelah itu kita pindah ke Bandung. Rumah kita di dekat kampus udah siap, dan kita gak perlu lagi berpura-pura asing di depan orang lain."

Kirana mengangguk dan tersenyum haru. Dia masih tak menyangka ternyata menjadi istri seorang Kenan adalah yang terbaik. Ia menyesal sebelumnya membenci Kenan bahkan melontarkan kata-kata kasar saat pertemuan keluarga. “Ternyata pilihan orang tua itu memang terbaik, biarpun dijodohkan di usia dini gue gak nyesel jadi istri pak ketos” Batin Kirana bahagia.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!