Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Di saat yang sama, di kediaman reot Nyonya Martha di pinggiran kota, suasana sepi mendadak berubah menjadi panggung mencekam.
BRAKKK!
Pintu kayu yang lapuk itu dihantam hingga hancur berkeping-keping. Tiga orang pria berbadan tegap melangkah masuk dengan aura membunuh yang amat pekat. Dua di antaranya adalah pengawal berdarah dingin berpakaian serba hitam, sementara pria di tengah... tak lain adalah Perdana Menteri Oberon sendiri.
Nyonya Martha yang sedang merajut di sudut ruangan seketika menjerit histeris, tersungkur ke lantai dengan tubuh gemetar hebat saat mengenali sosok pria paruh baya yang kini menatapnya dengan pandangan dingin dan menjijikkan.
"Lama tidak berjumpa, Martha," ucap Oberon dengan suara berat dan tenang, namun sarat akan ancaman maut. Pria itu menyapu ruangan sempit tersebut dengan pandangan menghina. "Anak buahku baru saja mendapat laporan menarik dari mata-mata di lorong ini... Katanya ada orang asing yang bertamu ke tempat kumuhmu kemarin."
"S-Saya tidak tahu apa-apa, Tuan Perdana Menteri! Tolong ampunilah saya!" ratap Martha tersedu-sedu, membenturkan dahinya ke lantai kayu.
Oberon melangkah perlahan, lalu menghentakkan sepatu boots kulitnya tepat di atas jemari tangan Martha yang keriput.
"AAAAAHHHH!" jerit Martha kesakitan saat tulang jemarinya tertekan keras.
"Jangan berbohong padaku, Tua Renta!" bentak Oberon, matanya berkilat kejam. "Aku baru tahu dari dokumen lama Ratu bahwa ada satu kamera pengawas yang hilang saat malam kematian wanita itu... dan chip memori cadangannya berada di tanganmu! Di mana benda itu sekarang?!"
"S-Saya tidak punya... AAAKKH!"
Salah satu pengawal Oberon langsung mencengkeram rambut Martha, menariknya ke atas hingga wanita tua itu kesulitan bernapas. Sebuah belati beracun ditempelkan tepat di urat lehernya yang bergetar.
"Sebutkan di mana benda itu atau keluarga serta cucumu di kota sebelah akan kutumpas malam ini juga!" ancam Oberon tanpa belas kasihan.
Ancaman terhadap keselamatan keluarganya menjadi pukulan mematikan bagi pertahanan Martha. Dengan air mata yang mengalir deras dan napas terengah-engah, wanita tua itu akhirnya menyerah pada rasa takutnya.
"G-Gadis... Ada seorang gadis muda yang datang kemarin!" isak Martha terbata-bata. "Dialah yang mengambil chip itu! Saya dipaksa menyerahkannya!"
"Gadis?" Oberon menyipitkan matanya. "Siapa dia?"
"Saya tidak tahu namanya! T-Tapi dia mengenakan gaun kusam pelayan!" jawab Martha pasrah.
Oberon mendesis gusar. Ia memberi isyarat pada anak buahnya untuk melepaskan Martha yang langsung terkulai lemas di lantai. Pria licik itu segera berbalik dan melangkah keluar menuju mobil mewahnya di ujung lorong, di mana seorang peretas kepercayaan sedang mengoperasikan komputer portabel yang terhubung ke jaringan CCTV jalanan permukiman kumuh tersebut.
"Periksa seluruh rekaman CCTV di sekitar lorong ini dalam 24 jam terakhir!" perintah Oberon dingin.
Jemari peretas itu bergerak lincah di atas papan ketik. Beberapa saat kemudian, potongan gambar dari kamera pengawas di persimpangan gang sepi muncul di layar monitor.
Gambar itu memperlihatkan dua orang yang baru saja keluar dari rumah Martha.
Oberon mendekatkan wajahnya ke layar. Sosok pertama adalah seorang gadis bergaun sederhana yang sedang membenarkan letak syalnya. Wajah cantiknya menghadap agak ke atas, sehingga fitur wajahnya terekam dengan amat jelas dan tajam oleh kamera CCTV.
"Eliana...?" desis Oberon, mengernyitkan dahinya saat mengenali wajah pelayan tingkat bawah yang beberapa hari lalu dikabarkan mengundurkan diri dari istana karena hamil.
Pandangan Oberon lalu bergeser ke sosok kedua yang berdiri tepat di belakang Eliana. Sosok itu mengenakan mantel hitam panjang dengan tudung kepala rapat yang menutupi seluruh rambut dan sebagian besar wajahnya. Hanya terlihat postur tubuhnya yang tinggi tegap serta dagu tegasnya.
Sama sekali tidak terlintas di dalam otak licik Oberon bahwa pria bertudung itu adalah Pangeran Mahkota Lucien sosok yang ia yakini sudah tewas membusuk akibat dua tusukan belati beracun di peraduannya.
"Pria bertudung ini pasti pengawal atau pesuruh yang disewa oleh gadis ini," gumam Oberon penuh rasa percaya diri yang bodoh. "Gadis pelayan ini pasti suruhan salah satu fraksi oposisi di dewan untuk mencari kelemahanku!"
Oberon menghentakkan tangannya ke meja kendaraan dengan senyum kejam yang mengembang di bibirnya.
"Bawa sepuluh prajurit elit rahasia!" perintah Oberon tegas pada komandan pengawalnya. "Lacak keberadaan gadis bernama Eliana ini melalui jaringan kamera kota sampai ketemu! Tangkap dia hidup-hidup sebelum Pesta Dansa Musim Panas dimulai! Siksa dia sampai dia memberitahukan di mana benda itu disimpan, lalu habisi dia tanpa sisa!"
Malam puncak Pesta Dansa Musim Panas akhirnya tiba. Aula megah Istana Utama Valdoria didekorasi dengan sangat fantastis. Lampu-lampu gantung kristal raksasa memancarkan pendar keemasan yang menawan, memantul pada pilar-pilar marmer dan lantai porselen yang berkilau. Alunan musik orkestra klasik mengalun lembut, mengiringi derak langkah para bangsawan tinggi, menteri, dan diplomat asing yang hadir dengan busana serba mewah.
Di atas panggung kehormatan, Ibu Suri Seraphina berdiri anggun berbalut gaun beludru ungu gelap bertabur berlian. Di sampingnya, Raja Aurelius berdiri gagah meski garis kelelahan tampak di wajahnya. Tak jauh dari mereka, Perdana Menteri Oberon tersenyum culas sembari menyapa para pejabat tinggi, merasa berada di puncak kejayaannya. Di sudut panggung lain, Rosalie berdiri dengan gaun merah menyala yang menawan, memamerkan senyum anggun bak calon permaisuri masa depan, meski sesekali matanya mengedar penuh intrik.
Namun, di tengah kemeriahan itu, Putri Althea—adik kandung Lucien—berdiri mematung di dekat pilar utama. Mengenakan gaun hitam polos tanda duka terselubung, wajah cantiknya tampak pucat dan tanpa gairah. Baginya, pesta ini adalah lelucon yang menyakitkan. Kematian Lucien yang baru berlalu satu bulan lalu masih menyisakan luka dalam di dadanya, dan melihat Seraphina serta Oberon bersuka ria di atas duka keluarganya membuat Althea muak.
Tepat saat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, Raja Aurelius melangkah maju ke depan panggung. Suara dengung percakapan di aula seketika surut.
"Para bangsawan dan rakyat Kerajaan Valdoria yang kucintai," panggil Raja Aurelius dengan suara berat bergema melalui pengeras suara sihir istana. "Selamat datang di Pesta Dansa Musim Panas. Malam ini adalah malam perayaan bagi kemakmuran negeri kita. Meski hati kita masih diselimuti duka mendalam atas berpulangnya Pangeran Mahkota Lucien satu bulan yang lalu... kehidupan Valdoria harus terus berjalan. Malam ini, mari kita nikmati kebersamaan ini, karena tak lama lagi, pengumuman besar mengenai masa depan takhta kerajaan akan segera disampaikan!"
Gemuruh tepuk tangan membahana di seluruh aula. Oberon dan Seraphina saling bertukar kerlingan penuh kemenangan, meyakini bahwa pengumuman yang dimaksud adalah pengangkatan Valerius sebagai penerus baru.
Sementara itu, beberapa kilometer dari kawasan istana, sebuah sedan hitam mewah terparkir sepi di lorong gelap dekat penthouse.
Lucien berdiri tegap di samping pintu mobil yang terbuka. Malam ini, Pangeran Mahkota itu tampak luar biasa tampan sekaligus mematikan berbalut setelan jas hitam resmi berukirkan benang emas kerajaan. Rambut peraknya yang tertata rapi dan mata birunya yang tajam memancarkan aura penguasa yang tak terbantahkan.
Di hadapannya, Eliana berdiri merapikan dasi kemeja Lucien dengan jemarinya yang sedikit gemetar.
"Sudah rapi, Pangeran," bisik Eliana pelan. Ia melangkah mundur satu tapak, memandang Lucien dari atas ke bawah sebelum menyunggingkan senyum hangat yang paling tulus. "Semoga sukses. Ingat rencana kita... tetap tenang dan pukul Oberon tepat di jantungnya."
Lucien tidak langsung melangkah masuk ke dalam mobil. Manik mata birunya mengunci iris mata Eliana dalam-dalam. Tatapan Pangeran Mahkota itu begitu intens, sarat akan emosi yang sulit diartikan campuran antara ketegasan seorang calon raja dan dorongan protektif yang amat mendalam terhadap gadis di hadapannya.
Lucien mengulurkan tangannya, mengelus pelan pipi Eliana dengan punggung jemarinya. Sentuhan dingin dari sarung tangan kulitnya terasa hangat di kulit Eliana.
"Tunggulah di penthouse bersama Kenneth," tutur Lucien dengan suara rendah yang amat dalam. "Setelah aku menyelesaikan tikus-tikus itu di istana... aku akan kembali menjemputmu."
Eliana terkekeh pelan, menepis canggung dengan mengangguk mantap. "Iya, Yang Mulia. Pergilah sekarang, Kenneth sudah menunggu di jalur pengawasan."
Lucien menatap Eliana sekali lagi selama beberapa detik yang terasa abadi, seolah merekam wajah gadis itu di dalam memorinya, sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke kursi penumpang belakang. Mobil sedan hitam itu perlahan bergerak menyusuri jalanan malam, melaju kencang menuju panggung pertempuran politik di istana.
Eliana berdiri di tepi jalan, menatap pendar lampu belakang mobil Lucien yang makin menjauh hingga menghilang di belokan. Ia menghela napas panjang, mengusap dadanya yang mendadak berdebar kencang.
"Bisa yuk, Lucien... Lu pasti menang," gumam batin Eliana memberi semangat.
Ia membalikkan badan, berniat menyusuri jalan kembali masuk ke dalam gedung penthouse untuk menunggu kabar dari Kenneth. Namun, baru saja Eliana melangkah tiga pijakan...
SREETT! BRUUKK!
Sebuah van hitam tanpa plat nomor mendadak memotong jalannya dan berhenti mendadak tepat di hadapan Eliana!
Pintu samping van terdorong buka dengan kasar. Sebelum Eliana sempat berteriak atau melarikan diri, tiga pria berbadan kekar dan berpenutup wajah melompat keluar. Salah satu dari mereka langsung membekap mulut dan hidung Eliana menggunakan kain tebal yang sudah dibasahi cairan kimia pembius berbau menyengat!
"Ugh... mmmpphh!" jerit Eliana tertahan. Tangannya memberontak secara histeris, berusaha memukul dan mencakar dada pria yang memeganginya.
Namun, rasa pusing yang amat berat dan pekat dengan cepat menyerang kesadarannya. Pandangan mata Eliana mendadak kabur dan memutar balik. Tubuhnya seketika menjadi lemas tak berdaya.
"Dapat! Bawa wanita ini ke lokasi Perdana Menteri sekarang!" perintah salah satu penculik dengan suara dingin.
Tubuh Eliana yang pingsan diseret kasar ke dalam van, pintunya dibanting rapat, dan kendaraan itu melaju kencang membelah kegelapan malam membawa Eliana tepat ke dalam genggaman ancaman Perdana Menteri Oberon.