Indonesia
NovelToon NovelToon
My Husband The Mafia

My Husband The Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nabilah Tisyana

Takdir adalah kuasa Tuhan yang kerap membawa manusia menyusuri jalan berliku. Bagi Ruby Anastasya, rumah yang seharusnya menjadi tempat terhangat untuk pulang justru terasa begitu sesak dan menyiksa. Ironi menyelimuti hidupnya ketika orang tua yang mestinya menjadi pelindung utama, tega mengorbankan masa depannya demi tumpukan uang—melemparnya tanpa belas kasihan ke dalam neraka dunia. Di tengah luka dan impian yang dihancurkan, sanggupkah Ruby bertahan dan menemukan secercah kebahagiaan yang layak ia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabilah Tisyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Matahari belum sepenuhnya terbit saat mobil hitam Luca kembali meluncur masuk melewati gerbang besi mansion yang menjulang tinggi. Keheningan pagi masih membungkus halaman luas itu.

Luca melangkah masuk melalui pintu samping, langsung menuju ruang bilas pribadi di area bawah untuk membersihkan sisa-sisa aroma mesiu dan darah yang menempel pada tubuhnya. Air dingin menyiram bahunya yang tegap, membuang semua jejak dari pekerjaan gelap yang baru saja diselesaikannya di luar sana.

Beberapa saat kemudian, dengan kemeja putih segar yang lengannya tergulung rapi hingga siku, Luca berjalan menuju dapur utama untuk mengambil secangkir kopi hitam. Ia mengira mansion masih sepi, tetapi saat melangkah melewati lorong utama, matanya menangkap sosok familiar yang sibuk di ruang makan.

Ruby.

Gadis itu mengenakan pakaian pelayannya yang rapi, memegang kain lap dan sibuk membersihkan vas bunga besar di sudut ruangan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibandingkan kemarin siang, bahkan ada senyum tipis yang terukir di bibirnya saat ia bersenandung kecil.

Langkah Luca terhenti di ambang pintu. Kontras itu kembali menghantam dadanya begitu keras. Pria ini baru saja menghabisi nyawa seseorang di sebuah gudang kumuh beberapa jam lalu, namun kini berdiri menatap kepolosan seorang gadis yang seolah tak tersentuh oleh kejamnya dunia luar.

*Klek.*

Bunyi gesekan kain lap Ruby yang tak sengaja menyenggol wadah lilin membuat gadis itu berbalik kaget. Matanya beradu lurus dengan iris mata hitam milik Luca yang pekat.

"T-Tuan Luca!" Ruby terlonjak pelan, refleks merapikan gaun pelayannya dan menunduk hormat. "Maaf, saya... saya kira Tuan belum bangun."

Luca melangkah mendekat dengan ritme tenang yang selalu berhasil memicu desir halus di dada Ruby. "Kamu selalu bangun sepagi ini?" tanya Luca dengan suara berat khasnya yang agak serak karena kurang tidur.

"Iya, Tuan," sahut Ruby seraya mendongak pelan, memperhatikan raut wajah Luca yang tampak sedikit lelah namun tetap memancarkan aura dominan yang kuat. "Bi Ratna bilang Tuan suka kopi hangat sebelum jam tujuh, jadi saya berniat menyiapkan meja dulu."

Luca berhenti tepat di depan Ruby, memangkas jarak hingga aroma sabun mandi maskulin yang segar menggantikan bau udara pagi. Tatapannya menghujam lurus ke dalam mata Ruby, mencari-cari apakah ada sisa ketakutan dari kejadian kemarin siang. Tapi yang ia temukan hanyalah binar kepatuhan dan kehangatan yang samar.

"Kamu tidak perlu buru-buru," ujar Luca dingin namun dengan nada yang tak lagi sekeras biasanya. Tangannya terangkat pelan, jemari panjangnya menyenggol ujung rambut Ruby yang terlepas dari ikatannya.

Ruby menahan napasnya, merasakan sengatan hangat yang membakar pipinya hanya karena sentuhan kasual itu.

"Saya sudah terbiasa, Tuan," cicit Ruby pelan, salah tingkah hingga harus menundukkan pandangannya ke dada bidang Luca. "Lagi pula... berada di sini dan melakukan pekerjaan ini bikin saya merasa punya tempat untuk pulang."

Kata *pulang* bergetar di udara, menusuk tepat ke celah tersembunyi di hati Luca yang paling dingin. Pria itu menyipitkan matanya, menyunggingkan senyum samar yang tak terlihat oleh Ruby.

"Kalau begitu pastikan kopi saya sudah ada di meja kerja dalam sepuluh menit," perintah Luca seraya menurunkan tangannya dan berbalik pergi. "Jangan bikin saya menunggu."

"Baik, Tuan Luca!" jawab Ruby dengan suara yang jauh lebih ceria.

Luca berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah mantap. Ia tahu, dunia gelap yang ia jalani di luar sana akan semakin berbahaya setelah eksekusi semalam. Namun melihat Ruby aman di dalam rumahnya, Luca makin yakin dengan satu hal: ia akan membantai siapa pun yang berani mengusik kedamaian kecil yang baru saja tumbuh di mansion ini.

Sepuluh menit kemudian, ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja Luca.

"Masuk," sahut Luca tanpa mengalihkan pandangan dari berkas analisis pasar yang terhampar di mejanya.

Ruby melangkah masuk seraya membawa baki berisi secangkir kopi hitam yang masih berasap. Langkah kakinya begitu pelan, seolah takut mengganggu konsentrasi pria di depannya. Ia meletakkan cangkir porselen itu dengan hati-hati di sisi kanan meja Luca.

"Kopi hitam tanpa gula, sesuai pesanan Tuan," ujar Ruby lembut.

Luca menghentikan penanya, lalu mendongak. Iris pekatnya menatap cangkir kopi sejenak sebelum beralih mengunci iris mata Ruby. "Kamu sendiri sudah sarapan?"

Ruby sempat terpaku, tak mengira pria sedingin Luca akan menanyakan hal selazim itu. "S-sudah, Tuan. Tadi bersama Bi Ratna di dapur."

"Bagus," balas Luca pendek. Ia meraih cangkir kopi tersebut dan menyesapnya pelan.

Keheningan sejenak menguasai ruangan itu, namun bukannya canggung, suasana di antara mereka justru terasa begitu pekat oleh ketegangan tersembunyi.

Luca meletakkan cangkirnya kembali, lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit mahal itu. Pandangannya menyapu wajah Ruby yang bersih, meneliti setiap lekuk ekspresi gadis itu. "Mulai hari ini, tugas kamu tidak hanya membantu Bi Ratna."

Ruby mengerutkan dahi tipis, dadanya berdesir cemas. "Maksud Tuan?"

"Setiap sore jam empat, kamu harus ada di ruangan ini," lanjut Luca dengan suara rendah dan bernada perintah mutlak. "Kamu harus membaca dokumen-dokumen yang saya berikan dan menghafal nama-nama relasi bisnis Archelio. Saya tidak mau punya pemegang kunci yang buta peta pertempuran."

Ruby menelan ludah. Ada rasa takut yang menyengat ketika nama keluarga mantannya kembali disebut, tetapi melihat ketenangan dan proteksi tak tergoyahkan dari Luca, rasa takut itu perlahan surut.

"Saya paham, Tuan Luca," sahut Ruby mantap, menatap lurus mata elang di depannya. "Saya akan pelajari semuanya."

Luca menyunggingkan senyum tipis—sebuah ukiran dibibirnya yang selalu sukses membuat jantung Ruby serba salah.

"Jangan mengecewakan saya, Ruby," bisik Luca pelan, memangkas jarak secara verbal yang membuat pipi Ruby mendadak memerah. "Karena kalau kamu berhasil... saya akan pastikan nama Kavano Archelio tidak akan pernah lagi menjadi mimpi buruk di hidup kamu."

Ruby mengangguk pelan seraya meremas bajunya di balik baki. Di dalam hatinya, ia makin menyadari bahwa dirinya tak hanya sekadar berlindung dari Kavano, melainkan sedang menyerahkan seluruh rasa percaya dan hatinya pada sang penguasa mansion ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!