Anyara menikahi Juned, pria dari keluarga berkecukupan, tapi hidupnya jauh dari nyaman — suami pelit karena terlalu penurut pada ibunya, mertua cerewet tak henti mencela, tetangga sibuk menggosip. Di balik itu, Juned diam-diam membiayai wanita lain.
Takdir mempertemukan Anyara dengan Hans, pria kaya yang ia selamatkan dari preman dengan cara kocak yang justru membuat Hans jatuh hati diam-diam. Ketika Hans kelak balas menyelamatkan Anyara dari bahaya, kedekatan mereka tumbuh perlahan — hingga kebohongan Juned akhirnya terbongkar, dan Anyara harus memilih jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Saran Pak Bram soal kemandirian finansial terus terngiang di kepala Anyara. Beberapa hari setelah pertemuan itu, ia mulai diam-diam membuka lowongan pekerjaan di ponselnya setiap kali ada waktu luang, mencari posisi yang sesuai dengan pengalamannya dulu sebagai kasir toko baju.
Ia menemukan sebuah lowongan di sebuah butik kecil tidak jauh dari rumah, mencari staf penjualan dengan jam kerja paruh waktu—cocok dengan kondisinya yang masih harus mengurus rumah dan Ratih.
Dengan hati berdebar, ia mengirimkan lamaran sederhana lewat pesan WhatsApp yang tertera di iklan lowongan itu, menyertakan sedikit pengalaman kerjanya dulu sebelum menikah.
Balasan datang keesokan harinya, mengundangnya untuk wawancara singkat di butik tersebut. Anyara merasa campuran antara gugup dan bersemangat—sudah tiga tahun ia tidak pernah lagi merasakan sensasi melamar pekerjaan, sensasi yang dulu selalu ia asosiasikan dengan kemandirian yang kini terasa begitu jauh darinya.
Hari wawancara tiba, bertepatan dengan waktu Ratih pergi ke rumah Bude Tuti untuk membantu persiapan acara keluarga. Anyara berpamitan dengan alasan pergi ke pasar, lalu bergegas menuju butik yang dimaksud.
Pemilik butik, seorang wanita bernama Bu Sari, menyambutnya dengan ramah. "Jadi, Mbak Anyara pernah kerja di toko baju sebelumnya?"
"Iya, Bu, sekitar dua tahun sebelum saya menikah. Kerjaan saya waktu itu jadi kasir sekaligus bantu-bantu display barang."
"Kenapa berhenti kerja setelah menikah?"
Anyara terdiam sesaat, memilih jawaban yang tidak terlalu membuka detail kehidupan pribadinya. "Suami saya minta saya fokus urus rumah tangga, Bu."
Bu Sari mengangguk mengerti, tidak mendesak lebih jauh. "Baik, kalau soal jam kerja, saya butuh orang yang bisa masuk sore sampai malam, sekitar jam dua sampai jam delapan malam, enam hari seminggu. Apa itu memungkinkan buat Mbak Anyara?"
Anyara berpikir sejenak, menghitung dalam kepala bagaimana ia bisa mengatur waktu antara pekerjaan rumah dan jadwal kerja baru ini, sekaligus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan hal ini kepada Ratih dan Juned tanpa menimbulkan konflik besar terlalu cepat.
"Bisa, Bu. Tapi saya mungkin butuh waktu sekitar seminggu buat atur-atur dulu di rumah."
"Nggak masalah, Mbak. Kalau Mbak berkenan, saya bisa mulai anggap Mbak diterima, tinggal koordinasi soal tanggal mulainya aja."
Anyara pulang dengan perasaan campur aduk antara senang dan cemas. Ia sudah mendapatkan pekerjaan baru, langkah pertama menuju kemandirian yang selama ini hanya menjadi angan-angan. Tapi ia juga tahu, mengumumkan keputusan ini ke Juned dan Ratih tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Sore harinya, ia menceritakan kabar baik itu kepada Hans, yang responsnya penuh semangat dan dukungan.
"Selamat, Mbak! Ini langkah besar banget. Saya bangga sama Mbak."
"Makasih, Pak. Tapi saya masih deg-degan gimana caranya bilang ke Mas Juned sama mertua saya."
"Menurut saya, Mbak nggak perlu minta izin, cukup kasih tau aja keputusan Mbak. Ini hak Mbak buat kerja lagi, apalagi kalau memang buat kebaikan Mbak sendiri ke depannya."
"Bener juga sih, Pak. Tapi tetep aja saya masih ngerasa nggak enak."
"Wajar, Mbak. Tapi inget, selama ini Mbak selalu ngalah demi orang lain. Sekarang waktunya Mbak mikirin diri sendiri juga."
Anyara merenungkan kata-kata itu, merasakan kebenaran di baliknya. Selama tiga tahun pernikahannya, ia memang selalu menempatkan kebutuhan Juned dan Ratih di atas kebutuhannya sendiri, hingga akhirnya kehilangan banyak bagian dari dirinya yang dulu mandiri dan percaya diri.
Malam itu, saat makan malam bersama, Anyara memberanikan diri mengumumkan keputusannya.
"Mas, Bu, saya mau ngomong sesuatu," ucapnya, suaranya sedikit gemetar tapi tetap tegas.
Juned dan Ratih menoleh bersamaan, menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Saya udah lamar kerja lagi, di sebuah butik deket sini. Saya diterima, dan rencananya minggu depan saya mulai kerja."
Hening sejenak, sebelum akhirnya Juned bersuara dengan nada tidak percaya. "Kerja? Sejak kapan kamu mikirin buat kerja lagi, Ra? Kenapa nggak bilang-bilang dulu ke aku?"
"Aku mikirin ini juga karena situasi kita sekarang, Mas. Aku rasa aku butuh punya penghasilan sendiri, apa pun yang terjadi ke depannya."
Juned terdiam, seperti menyadari maksud tersirat di balik kalimat itu—bahwa keputusan Anyara untuk bekerja bukan sekadar soal mengisi waktu luang, melainkan persiapan untuk kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi pada pernikahan mereka.
"Ra, kamu... kamu udah mikirin buat pisah dari aku ya?" tanya Juned, suaranya melemah.
Anyara menatap suaminya lurus-lurus, memilih untuk jujur meski belum sepenuhnya memberikan jawaban pasti. "Aku belum tau pasti, Mas. Tapi apa pun keputusan aku nanti, aku nggak mau lagi jadi orang yang sepenuhnya bergantung sama orang lain buat hidup aku sendiri."
Ratih yang sejak tadi diam mendengarkan, akhirnya angkat bicara. "Anyara benar, Juned. Harusnya dari dulu Ibu dukung kamu buat kerja lagi, bukan malah nyuruh kamu diem di rumah aja. Ibu yang salah soal ini juga."
Juned menatap ibunya, terkejut mendengar dukungan yang justru datang dari sosok yang selama ini paling keras menentang keinginan Anyara untuk bekerja. "Bu, kenapa Ibu malah dukung dia sekarang?"
"Karena Ibu udah sadar, Juned, selama ini Ibu dan kamu udah keterlaluan ngebatesin Anyara. Sekarang waktunya kita berdua yang belajar buat lebih ngehargain dia."
Anyara menatap mertuanya dengan perasaan haru, merasakan dukungan yang tidak pernah ia bayangkan akan datang dari sosok yang dulu menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dalam hidupnya.
Selesai makan malam, Juned mengikuti Anyara ke kamar, wajahnya masih menyimpan kegelisahan. "Ra, aku minta maaf kalau selama ini aku terlalu ngatur-ngatur kamu. Aku dukung keputusan kamu buat kerja lagi, beneran."
"Makasih, Mas," jawab Anyara singkat, tidak ingin memperpanjang percakapan yang bisa memicu emosi lebih jauh malam itu.
"Ra, aku juga mau tanya... apa keputusan kamu buat kerja ini ada hubungannya sama orang yang nolongin kamu waktu itu? Yang di gang?"
Pertanyaan itu membuat Anyara terdiam sejenak, jantungnya berdebar. "Kenapa Mas nanya soal itu?"
"Aku cuma ngerasa, akhir-akhir ini kamu kayak lebih percaya diri, lebih berani ambil keputusan. Aku jadi mikir, jangan-jangan ada pengaruh dari orang lain."
Anyara menimbang jawabannya dengan hati-hati, tidak ingin berbohong sepenuhnya, tapi juga tidak ingin membuka semua yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Hans. "Mas, aku cuma belajar buat lebih percaya sama diri sendiri lagi. Itu aja."
Juned menatapnya lama, seperti masih menyimpan kecurigaan, tapi akhirnya memilih untuk tidak memperpanjang topik itu malam itu. "Ya udah, aku dukung kamu, Ra. Semoga kerjaan barunya lancar."
Malam itu, setelah Juned tertidur, Anyara membuka ponselnya, menceritakan seluruh percakapan itu kepada Hans, merasa lega akhirnya bisa berbagi beban yang selama ini ia pikul sendirian, sambil diam-diam menyadari bahwa langkah-langkah kecil menuju kemandirian ini, perlahan tapi pasti, sedang membawanya menuju kehidupan yang jauh berbeda dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.