Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Bab 22 Istri Polos Tuan Garra
Setelah penolakan kontrak pernikahan itu, suasana rumah semakin dingin. Ada ketegangan antara Anggara dan Elisa.
Dua hari Elisa tidak keluar kamar, hanya makan dari nampan yang diantar bibi. Sampai akhirnya pagi ini, ia memberanikan diri turun.
Selama dua hari ini, Elisa menyiapkan rencana yang matang untuk kabur dari Anggara.
Hari ini, dia berencana akan kabur. Sudah janjian dengan Susan dan juga dibantu abangnya. Elisa hanya butuh keluar sebentar dari tempat itu. Dan ini cukup sulit. Karena semua camera CCTV terlihat selalu memantau ruang geraknya.
"Aku gak boleh nunda-nunda. Sekarang saatnya."
Elisa menarik napas dalam-dalam, kemudian mencari Anggara pagi itu.
Di meja sarapan, Anggara duduk sambil menikmati kopi miliknya. Sudut matanya melirik ke sebelah, saat terdengar derap langkah kaki yang mendekat.
"Pak Anggara ...."
Pria itu menoleh. Wajahnya dingin. Mungkin gara-gara Elisa susah diatur belakangan ini.
"Saya... saya mau minta izin," Elisa menarik nafas dalam. "Saya mau ke kampus. Mengambil beberapa dokumen penting yang masih tertinggal."
"Tidak!" jawabnya singkat tanpa pikir panjang.
"Ini penting bagi saya!" sela Elisa.
"Aku bilang ... Tidak. Orang ku akan mengambilnya!" jawab Anggara tanpa kompromi.
Elisa melirik kanan-kiri, ia harus dapat cara untuk keluar. Minimal keluar dari gerbang rumah itu.
"Saya butuh udara segar ... saya bukan tahanan. Dan ada yang ingin saya katakan pada dosen saya juga!"
Anggara langsung berdiri, wajahnya galak. Menatap Elisa dari atas sampai bawah.
"Selama kau masih hamil anakku! Jangan harap bisa pergi bebas begitu saja!" gumam Anggara dengan tegas.
Elisa pun terdiam, bibirnya bergetar. Ia tidak menangis lagi. Ia hanya mengangguk pelan dan kembali naik ke kamar. Tapi di dalam kepalanya, sebuah rencana mulai terbentuk lagi. Satu gagal, masih ada rencana yang lain.
Siang itu, saat Anggara sudah berangkat ke kantor, Elisa mengunci kamar dan mengambil ponsel miliknya. Ia mencari satu nama, Susan.
"Halo? Lis? Bagaimana kondisi kamu sekarang? Kapan kamu bisa keluar dari sana? Aku sudah bilang mas Dimas. Bahkan Mas Dimas malah mau jemput paksa kamu. Ada kenalan pengacara. Gimana? Kamu setuju? Share saja lokasinya kamu sekarang!"
Elisa menatap pintu, suaranya berbisik. Takut ada yang dengar.
"Maaf, lagi-lagi aku membuat kalian kerepotan."
"Gak apa-apa, Lisa. Kita sudah kenal lama. Harusnya kamu bilang dari awal."
"Aku ... aku malu, San."
"Sudahlah, semuanya sudah lewat. Yang terjadi sudah terjadi. Jadi kapan kamu mau sharelok. Biar mas Dimas juga langsung hubungin kawannya!"
"Iya ... iya. Aku kirim lokasi ke nomor kamu ini. Oh ya, hati-hati, San. Pak Anggara bukan orang biasa."
"Jangan khawatir! Meskipun dia kaya, tetap saja ini melanggar hukum. Ngurung kamu tanpa persetujuan, itu namanya penculikan!" Susan menggebu-gebu.
"San, terima kasih. Aku tidak tahu harus minta tolong sama siapa lagi selain kamu."
"Jangan ngomong gitu lagi, kamu siap-siap saja. Aku mau langsung ngomong sama mas Dimas."
"Iya."
"Aku tutup telponnya dulu."
"Hem."
Mereka mengatur rencana cepat.
Jam tiga sore.
Tempat tinggal Anggara kedatangan tiga tamu tak diundang. Satu perempuan masih muda, dua pria dewasa.
Pos pengaman, pos security. Satu keluar untuk memeriksa ke depan pagar, satunya lagi berjaga.
"Cari siapa?" suaranya tegas, garang dan kelihatan sangat tidak ramah.
"Saya mencari seseorang di rumah ini!" Dimas maju.
"Anda mencari siapa? Apa sudah membuat janji?"
"Saya cari Elisa! Kawan kampus saya. Sudah beberapa hari dia menghilang. Saat saya telepon, yang bersangkutan mengaku ditahan di dalam rumah ini!" Susan nyerocos. Abangnya dan pengacara yang ada di sebelahnya cukup menatap saja.
"Maaf, anda salah tempat. Ini kediaman Tuan Garra. Tidak ada penghuni yang seperti anda sebutkan! Silahkan pergi."
"Jangan bohong!!! ELISA!!!! ELISA!" teriak Susan kencang.
Dari dalam sana, jantung Elisa berdegup kencang. Samar-samar ia dengar namanya dipanggil. Elisa lantas turun ke bawah.
Ia mengendap dan keluar lewat pintu samping sebelah kolam renang.
"Mereka sudah di depan. Saatnya aku ke sana, kalau diam di sini. Pasti mereka tidak boleh masuk!"
Elisa menoleh ke sekitar. Terlihat kandang guk-guk yang tertutup. Ia pelan-pelan, biar tak memancing guk-guk itu bereaksi.
Sayang, baru beberapa langkah saja, ia langsung di gonggong in. Kaget, Elisa langsung lari. Halaman yang luar dan panjang, membuatnya lari kencang. Tapi dia sedang hamil, tak bisa sekencang seperti dulu.
Ada tiga guk-guk, dua dikandang, satu lagi pas dimandikan oleh penjaga. Melihat Elisa lari-larian, guk-guk itu langsung ikut lari. Ia mengejar Elisa.
"GUK!! GUK!!!"
Elisa panik, di belakang ada anjay mengejar dan bersambung.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,