Setiap orang pasti punya masa lalu apapun bentuknya, kali ini seorang gadis cantik yang terkenal periang,baik hati, manis, dan manja kini berubah 360 derajat dari sifat nya yang dulu.
Rasa sakit yang selalu ia terima membuatnya ingin selalu berusaha mengakhiri hidupnya, ia takut mempercayai orang-orang, ia takut untuk jatuh cinta, dan ia tak percaya akan semua keindahan ia membencinya, ia merasa Tuhan tak adil akan hidupnya.
Akankah gadis ini akan kembali menjadi dirinya yang dulu ?
Akankah gadis ini akan menemukan pria yang mencintainya dengan tulus ?
Apakah kali ini waktu akan berpihak padanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi Kato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Pak Dokter VS CEO
Jika dengan pura-pura tak melihatnya itu bagian dari menghindarimu, maka kali ini aku tak ingin menjauh darimu bahkan melepaskan mu. Karena aku sadar bahwa kamulah yang sebenarnyan hati ini butuhkan. -
Sejak kejadian di mobil malam itu setiap berangkat kerja dan pulang kerja Sean menjemput Senna, sebenarnya Senna tak ingin seperti ini kasihan dengan Sean tapi Sean kekeh untuk tetap menjemput Senna.
Pagi ini sebelum kekantor Sean dan Senna mampir ke kedai kopi untuk sarapan pagi , seperti biasa kopi hangat dan crossant butter favorite Senna.
Pagi kali ini seperti biasa Senna akan di sibukan dengan beberapa naskah untuk majalah yang akan terbit bulan ini, sedangkan Sean sedang sibuk-sibuknya. Hari ini adalah hari jadwal Senna kontrol di RS Senna sudah janjian dengan suster Nina untuk kontrol dengan dokter Refal siang ini sepertinya ia akan pergi sendiri karena Sean begitu sibuk.
Saat itu Senna sedang di Teahouse salah satu kafe di kantor , sedang meeting dengan beberapa team untuk membahas edisi terbaru majalah yang akan terbit kali ini.
Setelah meeting Senna bertemu Sean di Teahouse sedang meeting dengan beberpa bos dan client dari luar, tiba-tiba Sean menghampiri Senna yang sedang menunggu pesanannya yang akan dia bawa.
"Jadi hari ini kontrol ke RS ?"
"Jadi bang, bentar lagi kesana."
"Bagamana kalau abang anter ?."
"Udah abang disini aja selsain rapat biar Senna pergi sendiri aja."
"Ga apa-apa ?."
"Ga abang, setelah dari sana Senna mau ke coffee shop ada meeting sama penulis yang buat cerita dongen bang."
"Oke kabari abang terus ia." Ucap Sean sambil mengantarkan Senna ke dalam taxi online yang ia pesan.
Selama perjalanan Senna sibuk dengan beberapa bahan yang akan dia bahas bersama clientnya nanti di salah satu coffee shop, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah sakit.
Senna sudah tiba di rumah sakit tempat Senna biasa control saat ini. Tadi ia sudah daftar ulang di tempat pemeriksaan dia nomer urut 28.
Ketika tiba di rumah sakit Senna baru saja selesai berbicara dengan Sean lewat telfon , kali ini ia sedang menunggu antrian di ruang tunggu poli untuk masuk di ruang pemeriksaan.
Di dalam ruangan Senna menemukan dokter lain bukan dokter Refal.
"Selamat siang dokter." Ucap Senna ramah.
"Siang mba, dengan mba Senna ?."
"Ia dokter."
"Baik mba Senna , saya dokter Aira saya sedang mengantikan dokter Refal yang sedang ada acara keluarga."
"Hmm,baik dokter Aira."
"Mari saya periksa." Ucap dokter Aira , yang saat ini sedang memeriksa Senna.
Setelah pemeriksaan tadi dokter bilang keadaan Senna sudah semakin membaik hanya saja hanya saja jangan terlalu capek. Saat ini Senna sedang menebus obat yang di resepkan tadi oleh dokter.
Taxi online yang di order oleh Senna sudah tiba di lobi rumah sakit. Dalam perjalanan Senna sedang sibuk menyiapakan pembahasanyang akan ia sampaikan dengan clientnya nanti.
Setelah beberapa jam Senna meeting dengan client Senna akhirnya memilih pulang sebelum pulang ada cafe buku yang namanya "Book Stories" , karena tampilannya yang unik membuat Senna ingin kesana.
Ketika disana Senna menikmati suasananya yang terkesan minimalist dan aesthetic , apalagi uniknya sangat terlihat jelas. Saat itu Senna sedang memilih beberapa buku yang ia beli dan beberapa buku yang akan ia baca di cafe ini tiba-tiba saja ponsel Senna bunyi dan nama yang tertera adalah nama Sean.
"Udah pulang ?."
"Sudah bang,baru setengah jam yang lalu selesai."
"Masih di cafe yang tadi ? , biar abang jemput?."
"Emang abang lagi di luar ?."
"Ia kebetulan lagi di luar, sekarang dimana sayang ?."
"Di cafe buku yang baru buka namanya Book Stories."
"Oh di situ oke abang tau kok, tunggu abang disana."
"Oke bang."
Saat ini Senna sedang memilih buku yang ia baca baru saja ia memesan makanan dan minuman untuk ia pakai sambil membaca.
Ponsel Senna berdering dan panggilan itu dari dokter Refal dan Senna mengangkatnya.
"Halo kenapa dokter ?."
"Tadi kontrol ia ?."
"Ia, ketemu dokter Aira dok."
"Ga jam kerja panggil aja kak Refal."
"Ia kak."
"Bdw sendiri aja , kok ga di temanin ?."
"Lah emang tau, kalau Senna lagi sendiri."
"Tau lah nama nya juga sehati."
"Dih parah nii orang."
"Hahaha, lagian kak sok tau banget."
"Lah aku tau kamu, pakai baju kemeja warna abu kan celana jeans hitam."
"Lah kak dimana ? kenapa kaya cenayang sih."
"Coba puter balik." Setelah ucapan Refal tadi dan ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke Senna dan Refal menghampiri Senna yang sedang mentap datar Refal yang tiba-tiba ada di depan nya.
"Lah kok disini ?."
"Ga tau kenapa bisa disini."
"Bukanya dokter ada acara keluarga ia ?."
"Hmm, tapi entar sore lagi mager aja."
"Ini lagi di luar rumah sakit kenapa masih pakai dokter aja."
"Iye kak."
"Duduk yuk masa mau berdiri aja sih."
"Oke disana yuk kakak."
"Ayo."
"Kenapa kak mukanya kaya galau banget ?."
"Hmm, sebenarnya mau cerita tapi Senna ga lagi sibuk kan ?."
"Ga kok kak , kenapa cerita aja."
"Nanti sore kakak mau ketemuan dengan calon istri pilihan Mama kakak tapi.. "
"Lah bukan nya bagus,bdw kakak di jodohkan ia."
"Hmm, tapi kakak ga kenal cewek nya."
"Kak nikmati aja prosesnya kalau emang jodoh pasti kakak akan bersatu dengan dia, setau Senna pilihan orang tua ke anaknya pasti yang terbaik,toh juga kan baru perkenalan bukan lamaran."
"Ia kakak tau kok, bicara sama kamu kok bisa bikin tenang aja sayang punya nya CEO bucin bukan bucin aja tapi terlambat jatuh cinta haha."
"Hii , kakak ini bisa aja."
"Makasih ya udah bisa jadi tempat curhat ternyaman kakak."
"Senna doa kan semoga kakak dan calon satu frekuensi ia."
"Amiin."
Pembicaraan Senna dan Refal terjalin begitu hangat di tambah dengan lelucon yang membuat Senna tersenyum dan tertawa, tanpa menyadari kalau sebenarnya Sean sudah tiba di Book Stories, Sean begitu emosi melihat kedekatan sang kekasih dan dokter yang suka cari perhatian Senna.
Kedatangan Sean mengagetkan Senna dan Refal, tapi tidak membuat Refal merasa bersalah sudah tertawa dengan Senna.
"Hai bang , kenapa lama sekali datang nya?"
"Macet tadi, kenapa lu bisa di sini?."
"Oh ga apa-apa."
"Lah ini kan tempat umum bisa aja gue di sini kenapa lu yang sewot."
"Ya jelas gue marah lu dekat dengan Senna."
"Dih Bucin lo."
"Kenapa lu sirik aja, makanya cari cewek."
"Udah deh, bang kak jangan ribut melulu gak enak."
"Iya sayang." Ucap Sean sambil mengusap kepala Senna
"Dih bucin."
"Bawel LO."
Setelah beli buku dan makan di kafe baru akhirnya Senna dan Sean pulang, saat di perjalanan Senna ketiduran di mobil, saat lampu merah tiba-tiba turun hujan yang begitu keras disertai dengan hujan angin yang kencang musik di dalam mobil benar-benar suasana yang mendukung.
Sean menatap Senna yang sedang ketiduran sambil mengusap kepala dengan penuh cinta dan kasih.
"jangan pernah lari dari hadapanku karena aku takkan pernah bisa kehilangan mu dan aku tak ingin melepaskan mu karena aku ingin jadi satu-satunya orang yang ada di dunia mu." Sean